
Aku berada di sebuah meja makan dengan ukuran panjang dan beberapa buah dan cemilan di atasnya.
"Kamu udah makan?" tanya ibu Alvin.
"Kayanya belum deh bunda soalnya tadi aja dia langsung kemari pake baju seragam mungkin ikut mandi di rumah temennya" jawab Alvin panjang lebar.
'Ah iya aku hanya ikut mandi dan gak ganti seragam karena takut ngerepotin Nazwa' ungkapku dalam hati.
"Ah iya kamu masih pakai seragam ya. Mau ganti baju?" tawar ibu Alvin.
"Rasya gak-"
"Bunda ada banyak baju yang bisa kamu pake" tawar ibu Alvin memotong perkataanku.
"Gak usah tante"
"Udah sana bunda bagus-bagus kok bajunya" Alvin ikut menimpali.
"Iya gak usah sungkan kalau sama bunda" tawar ibu Alvin lagi.
"Tapi tante-"
"Bunda" ucap ibu Alvin mengajarkan.
"Bunda?" tanyaku.
"Kamu panggil bunda aja ya lebih nyaman kayanya"
"Iya bunda" aku menurutinya dengan kata bunda yang hampir tak terdengar.
"Kamu kaya bunda dulu pemalu" gandeng bunda padaku menuju kamarnya.
"Bohong Sya jangan percaya orang bunda yang deketin ayah duluan" Alvin setengah berteriak dan masih duduk di kursinya.
Setelah sampai di kamar bunda. Aku sedikit takjub melihatnya. Ruangannya luas dan megah dengan dekorasi sederhana namun elegan.
Bunda memperlihatkan semua bajunya dan memperlihatkannya badaku. Jujur aku suka semua bajunya karena baju pilihan bunda sangat bagus dan sesuai dengan dirinya.
"Wah kayanya yang di ini cocok" kata bunda menunjukkan dress lengan pendek dengan panjang selutut dan ikat pinggang coklat berwarna hitam polos.
"Tapi bunda-" sebelum aku melanjutkan ucapanku terdengar suara handphone berbunyi. Itu adalah suara handphoneku.
Who are you?
'Cause you're not the girl I fell in love with, baby. (Nada dering handphone Rasya).
'Ah ibu, marah gak ya aku lupa gak ngabarin' suara hatiku yang sedikit panik.
"Siapa?" tanya bunda melihatku yang sedikit panik.
"Ibu" jawabku.
"Biar bunda yang angkat" bunda mengambil handphone yang dipegangku dan sedikit menjauh dariku.
"Kamu cepet ganti baju, bunda gak terima penolakan" kata bunda di tengah pembicaraannya di telpon bersama ibuku.
Akupun berganti baju menuruti kata bunda. Saat bunda sudah selesai menerima telpon dari ibu. Bunda kembali dengan tatapan kagum.
"Rasya kamu cantik" kata bunda dengan melepaskan ikatan rambutku.
Aku memang sering mengikat rambut panjangku. Karena menurutku rambut diikat itu adalah gaya ternyaman.
Aku sedikit didandaninya. Memakai bedak juga lipstik yang tidak terlalu tebal. Dandanannya terlihat alami.
Setelah selesai aku dituntunnya menuju ruang makan tadi terlihat berbagai macam makanan berjajar dengan rapih.
"Udah?" tanya Alvin yang menuruni tangga dengan pakaian yang santai. Celana pendek coklat dengan kaos putih polos.
Seketika mata kami bertemu saling pandang. Dimataku Alvin terlihat sangat keren. Namun, aku tak tahu seperti apa aku dimatanya.
"Kamu duduk di sini sama bunda ya" kata bunda yang membuyarkan pikiranku dan menuntunku duduk di dekatnya.
Aku duduk di samping bunda dengan Alvin yang duduk berhadapan denganku.
__ADS_1
Aku memakan steak daging sapi dengan kentang dan sayuran terlihat menghiasinya.
"Gimana enak?" tanya bunda padaku.
"Enak bunda" jawabku.
"Enak dong orang bukan pasakan bunda" ucap Alvin menimpali.
"Bunda bukan gak mau masak tapi bunda malu sama Rasya" ungkap bunda dengan lesu.
"Malu kenapa bunda?" tanyaku heran.
"Takutnya Rasya gak suka" ungkap bunda
"Rasya pasti suka kok bunda. Lagian Rasya bukan pemilih makanan" ujarku.
"Yaudah lain kali kamu ke sini lagi ya bunda akan masak khusus buat kamu" ucap bunda dengan semangat.
Namun, sebelum aku menjawabnya suara handphoneku berdering lagi.
Who are you?
'Cause you're not the girl I fell in love with, baby. (Nada dering handphone Rasya).
"Ibu lagi?" tanya bunda.
"Zio" jawabku melihat nama di layar handphoneku.
"Zio siapa?" tanya bunda lagi.
"Temannya" jawab Alvin sinis.
"Bentar ya bunda" aku meminta izin dan mengangkat telpon dari Zio.
'*Hallo Sya'
'Hallo'
'Dimana?'
'Dimana gue ke sana ya?'
'Gak usah'
'Lo gak diapa-apain kan?'
'Apaan sih jangan ngaco udah ya dah*'
Karena takut terlalu lama aku menutup telponnya.
"Ada masalah?" tanya bunda lagi setelah aku menutup telpon dari Zio.
"Gak ada bunda"
Kami melanjutkan makan dengan sesekali bunda bercerita tentang masa kecil Alvin yang menurutnya lucu.
"Pernah Alvin nangis berhari-hari karena pindah ke luar negri" ungkap bunda.
"Kenapa bunda?" tanyaku
"Katanya dia gak pamit sama cinta pertamanya" jawab bunda.
"Hahaha" aku tertawa bersama bunda bahagia.
"Udah ah apasih ngomongin yang gak penting" ungkap Alvin sedikit kesal.
"Dia nih kecil-kecil udah pinter pilih cewek" lanjut bunda disertai tawanya.
Aku yang mendengarnya hanya tersenyum dan tertawa pelan. Namun ada yang aneh dari percakapan ini. Aku merasa tak asing dengan apa yang dibicarakan bunda.
Setelah puas berbincang dengan bunda aku pamit pulang yang diantarkan Alvin yang sudah berada dalam mobilnya yang dipakainya tadi
"Bajunya buat kamu aja ya Sya. Kaya lebih cocok dipakai kamu" ucap bunda.
__ADS_1
"Tapi bunda..." jawabku ragu.
"Gak terima penolakan" tegasnya.
"Iya makasih ya bunda" aku tersenyum dan memasuki mobil yang siap dijalankan Alvin.
"Hati-hati sering-sering ke sini ya" bunda melambaikan tangannya setelah aku masuk mobil.
"Iya bunda" akupun membalas lambaiannya dengan membuka kaca mobil yang mulai melaju dan menutupnya kembali setelah berada jauh dari bunda.
Jam menunjukan pukul 20.30 WIB. Langit gelap dengan lampu gedung pencakar langit menghiasi indahnya malam. tidak ada percakapan sepanjang perjalanan kami hanya terhanyut dengan pikiran dan hati masing-masing. Siapa sangka aku yang orang biasa bisa mempunyai pengalaman seperti ini.
"Sya" ucap Alvin membuyarkan lamunanku.
"Mikiran apasih sampai senyum begitu" lanjutnya
"Eh udah sampai?" tanyaku dan langsung ke luar mobil tanpa menjawabnya.
"Makasih ya" lanjutku dan langsung menuju rumah tanpa menungguku balasan Alvin.
"Rasya" Panggil seseorang tepat di kursi yang berada di depan rumahku.
"Zio?" tanyaku kaget. dan melihat kearah Alvin yang terlihat masih ditempatnya.
"Bareng Alvin?" tanyanya pelan.
"Iya" aku menjawab dengan mata yang masih menuju kearah Alvin dan tidak lama dari itu Alvin melajukan mobilnya pergi.
"Suka?" tanyanya lagi.
"Apaan sih. Udah malem jangan ngelantur aku masuk ya"
"Tapi-"
"Udah malem Zio kamu pulang gih" aku memotong perkataannya dengan menyuruhnya pergi.
"Yaudah sana masuk. Besok aku jemput kamu ya Sya"
"Gak usah"
"Dah" Zio menaiki motor dan dilajukannya mulai menjauh.
Aku terdiam sejenak melihat punggungnya yang mulai tak terlihat. Namun, aku menyadari kata yang tak biasa diucapkannya.
'kamu? Tumben' tanyaku dalam hati
Akupun memasuki rumah dengan perasaan bingun dengan sikap Zio yang tak biasa.
''Baru pulang Sya'' tanya ibu yang sedang menonton tv.
"Iya bu"
"Udah makan"
"Udah"
"Loh baju siapa? Nazwa?" tanya ibu yang heran melihatku yang memakai dress hitam ini.
"Baju bunda" jawabku.
"Bunda?" tanya ibu lagi. Namun aku tak menjawabnya dan langsung pergi ke kamar karena lelah.
Saat aku sedang tersenyum berbaring membayangkan lagi kejadian tadi aku mendengar suara handphoneku berdering bertanda pesan masuk.
Ting
Bertanda Alvin yang mengirim. Karena penasaran akupun membukanya langsung.
'Hari ini cantik'
Tiga kata yang mampu membuatku tersenyum bahagia.
'Bajunya'
__ADS_1
Namun setelah pesan kedua masuk wajahku berubah kesal. Tiga kata yang sirna hanya dengan satu kata itu. Akupun langsung menutup mataku seraya meletakkan ponselku tanpa membalasnya.