Happy Birthday

Happy Birthday
Chapter 10


__ADS_3

Kebahagian menurutku sederhana asal hanya ada mereka yang selalu bersama tanpa ada niat menusukmu.


Aku, Alvin dan Zio kini memasuki area permainan trans studio yang berada jauh dari tempat kami tinggal. Berawal dari Zio yang hanya mengajakku dan berakhir Alvin yang terus mengikuti kami. Aku tahu Zio takut ketinggian makanya setiap aku, Sita dan Nazwa mengajaknya ke sini. Zio hanya akan menunggu dan membeli beberapa cemilan itu juga dia ikut jika kami memaksanya.


Aku membayangkan beberapa adegan yang bisa romantis bersama Alvin karena aku tahu Zio tidak akan ikut.


"Naik itu yuk Vin?" aku mengajak Alvin menaiki yamaha racing coaster salah satu wahana yang terdapat di trans studio.


Alvin tidak langsung menjawabku dia diam beberapa detik.


"Penakut lu" sinis Zio dan menggandeng tangan kananku untuk mengantri menaikinya yang diikuti Alvin dibelakangku dengan memegang tangan kiriku. Akhirnya aku terlihat seperti anak kecil yang dijaga kedua orang tuanya apalagi tubuhku yang kecil diapit kanan kiri oleh tubuh keduanya yang terlihat kekar.


"Vin lu sakit?" tanyaku melihat wajah Alvin yang sedikit pucat.


Alvin hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


"Mundur aja udah mundur nanti lu pingsan lagi" ledek Zio.


"Lu yakin ikut naik Zio?" tanyaku pada Zio yang terlihat lebih pucat.


"Mundur aja mundur nanti lu pingsan lagi" ledek Alvin memeragakan Zio namun dengan bibir yang dimanyun-manyunkannya.


Zio yang mendengarnya hampir meninju wajah Alvin namun tercegah olehku. Akupun menarik tangan keduanya menaiki wahana.


Aku duduk berdua bersama orang lain karena mereka berebut duduk di sampingku dan akhirnya merekalah yang duduk berdampingan di belakangku. Aku yang berharap duduk di samping Alvin akhirnya merelakan keinginanku itu.


"Aaaaaaa...." saat wahana mulai melakukan aksinya semua orang berjerit begitu juga aku. Aku berteriak membuang beban pikiranku dengan puas. Namun, terdengar samar suara jeritan Alvin dan Zio keduanya terdengar ketakutan.


Setelah wahana berhenti bertanda permainan selesai, aku melihat Alvin dan Zio saling berpegangan tangan layaknya sepasang kekasih dan sudah berdiri lumayan jauh dari wahana yang tadi kami coba.


"Ciee baikan" godaku melihatnya.


"Aishh" mereka sadar dan saling melepaskan pegangan tangannya.


"Hahaha" aku tertawa melihat tingkah mereka apalagi saat sadar bahwa tangan mereka saling menggandeng satu sama lain dan dengan refleks membuang muka seolah tak terjadi apa-apa.


Kini aku tahu keduanya takut akan menaiki wahana. dan akhirnya terbesit di otakku untuk mengerjai mereka. Aku mengajak Alvin dan Zio untuk menaiki beberapa wahana seperti giant swing, vertigo, negeri raksasa dan masih banyak lagi. Keduanya seperti biasa berebut duduk bersamaku, aku yang melihatnya hanya menggelengkan kepala tak percaya.


yang terakhir kami mencoba masuk ke area dunia lain dengan Zio yang memimpin kami sedang Alvin berada di sampingku katanya sih buat jaga-jaga agar aku tidak takut. Namun, lagi-lagi mereka yang lebih menikmati kebersamaan keduanya berpelukan jika hantu mulai muncul dan melewatinya dengan perpegangan tangan sedangkan aku ditinggalkannya.


Aku keluar dari area dunia lain sedangkan mereka sudah berada di luar area sejak tadi dan lagi-lagi saling membuang muka mungkin karena sadar dan malu. Entahlah aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan


"Lu gakpapa?" tanya Zio melihatku yang baru ke luar.


"Ck ck ck" aku berdecak melihat tingkah mereka dan menggelengkan kepala seraya menyilangkan kedua tanganku di dada. Mereka yang melihatku secara berbarengan menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal.

__ADS_1


"Ati-ati jodoh" ucapku disertai tawa.


"Ishh amit-amit" Zio meggelengkan kepalanya cepat.


"Untung jodohnya sama kamu" timbal Alvin menggandengku.


dan terjadilah kembali aksi saling rebut tanganku dengan menyingkirkan tangan lawannya di lenganku.


"Aishh" aku melepaskan keduanya secara paksa. "Pada kenapa sih?" lanjutku kesal.


Namun dijawab oleh mereka dengan aksi saling memelotopi satu sama lain.


"Haus" ungkapku karena kesal. dan keduanya langsung pergi dengan aksi saling dorong.


Aku duduk menunggu mereka dan membuka handphoneku terdapat beberapa pesan dengan nama pengirim Alvinku mungkin tadi pagi dia berniat mengajakku ke luar namun aku tak sempat membukanya. Aku mengganti nama Alvin dan memikirkan nama apa yang cocok dan akhirnya aku menggantinya menjadi Alvinlibe karena menurutku cocok dengan kepribadiannya. Aku memikirkan kapan aku menyimpan kontaknya yang berujung buntu tidak ada jawaban.


"Nih" keduanya muncul berbarengan.


Aku menjatuhkan handphoneku karena kaget dengan kedatangan mereka. Bagaimana tidak mereka berdua memberiku es krim coklat dan es cappucino tepat di depan wajahku.


Alvin yang membeli dua es krim coklat dan Zio membeli dua es cappucino. Aku yang kesal akhirnya mengambil es krim dan es cappucino yang diberikan mereka dan mengambil kembali handphoneku yang terjatuh.


"Rasya tuh haus ngapain lu beli es krim" ledek Zio.


"Lapar" ungkapku lagi untuk memisahkan mereka. dan dengan sigap mereka bergegas pergi untuk membeli makanan namun aku mencegah Zio karena takut akan membuang makanan nantinya karena terlalu banyak.


Alvin mulai tidak menampakan punggungnya dan aku bersama Zio duduk menunggu.


"Lu sama Sita.." ucapku ragu.


"Gue sama Sita?"


"Gak deh"


"Ngomong aja"


"Lu cocok bareng Alvin" aku berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Dih najis" ungkapnya.


"Gimana dong habis cocok banget" ledekku.


"Cocokkan sama lu"


"Siapa?"

__ADS_1


"Pak Asep" jawabnya kesal.


Mendengar kata Pak Asep aku jadi teringat kejadian memalukan di rooftop sekolah bersama Alvin. Alhasil wajahku memerah karena malu.


"Sya lu sakit?" tanya Zio dan menempelkan tangannya di keningku mungkin sadar akan wajahku yang mulai memerah.


"Eh apaan" Alvin tiba-tiba datang dan menyingkirkan tangan Zio yang berada di keningku.


"Kamu sakit Sya?" dia menaruh makanannya dan memegang kedua pipiku dengan tangannya namun dalam sekejap menjauh karena didorong oleh Zio.


"Gakpapa" jawabku menghindari tatapan Alvin.


"Yaudah nih makan dulu" Alvin memberiku dua buah burger. Dia membeli tiga burger dengan satu untuknya dan dua untukku sedangkan Zio tidak dibelikannya.


"Eh gue mana?" tanya Zio pada Alvin tak terima.


"Blee" Alvin hanya menjulurkan lidahnya bertanda jahil.


Aku langsung memberikan satu burgerku untuk Zio.


"Gak usah" tolak Zio lembut.


"Itukan buat kamu" ungkap Alvin tak terima aku memberikannya pada Zio.


"Itukan buat kamu" ledek Zio menirukan Alvin namun dilebih-lebihkannya.


"Ishhh" kesalku dan memaksa Zio untuk menerima burger dariku.


Setelah puas bermain dan kadang mengabadikannya dengan kamera yang dibawa Alvin kami pulang dengan mobil yang dibawa Alvin. Alvin mengendari mobilnya dengan Zio yang di sampingnya sedang aku duduk sendiri di belakang. Karena Zio masih tak terima aku duduk di samping Alvin.


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan diantara kami. Kami hanya terhanyut dalam pikiran masing-masing. Alvin terlihat beberapa kali melihat ke arahku dengan kaca spion tengahnya. Zio yang menyadari tindakan Alvin mengubah kaca spion mobil tengah ke arah berbeda.


"Mulai" ungkapku sinis dan mereka hanya saling membuang muka lagi.


"Alamat?" tanya Alvin sinis pada Zio.


Namun Zio yang tidak mengerti tidak menjawabnya.


"ALAMAT" bentak Alvin menyundulkan kepala Zio.


"Wah apaan sih lu" Zio membalas dengan menyundulkan kepala Alvin.


Dan meraka bertengkar lagi dan lagi. Kami hanya berputar-putar di jalan yang sama karena Zio tidak mau menyebutkan alamatnya sedangkan Alvin dengan keras kepalanya akan mengantarkan Zio dan terakhir mengantarkanku. Namun, mungkin Zio tak terima karena takut aku akan pergi lagi bersama Alvin. Aku yang sudah lelah memutuskan mengalah untuk pulang lebih awal karena hari mulai gelap.


Setelah sampai depan rumah aku ke luar dari mobil dan melambaikan tanganku pada mereka berdua yang duduk seolah saling menjauh. Aku yang melihatnya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2