Happy Birthday

Happy Birthday
Chapter 2


__ADS_3

Setelah tepat depan rumah aku pamit pada alvin yang siap melajukan motornya.


Sebenarnya aku tidak mudah percaya pada orang namun entah kenapa menurutku dia berbeda.


Duarrr


Suara letusan balon muncul tiba-tiba saat aku masuk rumah.


"Happy birthday Rasya"


Benar saja itu adalah teman-temanku yang setiap tahun memberi kejutan ulang tahun. Mereka berkumpul riang dengan ibu yang tersenyum hangat disampingku.


Mereka teman baikku Sita, Nazwa, dan Zio.


Aku menghargai usaha mereka. Kejutan ini tak hanya diberikan saat di rumah namun juga di beberapa tempat lainnya seperti sekolah, taman, dan rumah makan. Kami silih berganti memberikan kejutan setiap tahunnya karena kami berempat sudah berteman dari sejak SMP. Tak seperti Zio yang selalu sekelas denganku Sita dan Nazwa baru sekelas lagi denganku setelah 2 tahun terakhir.


Melihat mereka antusias setiap tahunnya membuatku sedikit bahagia walau sakit memendam perih yang tak kurasa.


Mereka tertawa riang melihat wajahku yang diolesi kue. Aku membalas mereka dengan penuh semangat yang ku buat. dan terjadilah aksi kejar-kejaran layaknya film India tanpa ada lagunya.


Setelah semua terasa puas kami bergegas membersihkan diri dan makan masakan ibu yang sudah berjajar rapih di bawah dengan beralas tikar.


"Sya" ucap Zio tiba-tiba disela kami makan.


Aku hanya menolehkan kepala kearahnya.


"Tadi lu bareng siapa?" tanyanya


"Alvin"


"HAH" sontak mereka bertiga


"Alvin siapa?" tanya Zio tak tahu


"Alvin? Kak Alvin idol?" ucap Nazwa memastikan


"Kak Alvin pangeran drama?" Sita dengan semangat ikut menimpali


" Idol? drama? Apasih?" lanjut Zio tak mengerti


Aku hanya menaikan kedua bahuku yang menandakan malas untuk menjawab pertanyaan mereka.


"Sudah nanti lagi bicaranya lanjut makan pamali" timbal ibuku sang penyelamat karena jika tidak begitu mereka akan terus memberi beribu-ribu pertanyaan.


Sehabis makan aku membantu membereskan piring dan membawanya ke dapur.


"Sudah tuan putri diam saja biar pangeran yang bereskan" Zio datang dengan nada lebaynya bak pangeran kampung. Dia membawa piring yang sudah terkumpul di tanganku

__ADS_1


Aku yang malas menimpali berbalik ke arah kedua sahabatku yang duduk di ruang tamu. Aku duduk dekat Nazwa karena posisi mereka berhadapan sebari mengambil semangka yang sudah terpotong di atas meja.


"Jadi?" tanya mereka berdua.


"Jadi?" tanyaku bingung.


"Lu udah kenal kak Alvin? Sejak kapan? Udah lama? Sebelum pindah atau sesudah pindah? Terus-" lanjut Sita yang terpotong olehku karena mulutnya kumasukan buah yang dari tadi kumakan.


Ishh aku lupa dengan mereka yang super kepo ini. Kalau tahu gini mending bantuin ibu di dapur cuci piring.


"Baru tadi" jawabku mengerti dengan ocehan mereka.


"Rasyaaa" panggil Nazwa manja.


"Dih apaan sih jiji tahu" aku beranjak pindah tempat duduk ke arah Sita.


"Rasyaaa" panggil Sita meniru apa yang dilakukan Nazwa namun lebih lebay dengan bibir cemberutnya.


"Ishh kenapa sih kalian berdua" aku beranjak dari kursi namun tercegah oleh tangan Zio yang menarikku ke hadapannya.


"Sya lu ada hubungan apa sama dia?" tanya Zio dengan wajah seriusnya.


"Ahh lupakan gak usah jawab" lanjut Zio disertai cengirannya dan melepaskan cengkraman tangannya di lenganku.


"Jadi?" tanyaku kepada mereka.


"Dahh Sya nanti kita lanjut introgasi oke" Nazwa menaiki mobilnya yang diikuti Sita karena rumah mereka searah. dan Zio dia pergi sendiri karena membawa motor dan rumahnya tak jauh dari rumahku.


"Dah hati-hati" aku melambaikan tanganku ke arah mereka yang semakin tak terlihat adanya.


Aku berbalik kearah rumah namun tercegah oleh omongan tanteku yang tak sengaja kudengar.


"Lihat anak sok kaya mainnya aja sama anak bermobil" ucap tanteku di rumahnya karena rumah kami berdampingan jadi terdengar jelas di telingaku. Entah sengaja atau tidak mereka membicarakan sebari melihat ke arahku. Aku yang melihatnya sudah terbiasa dengan sifat mereka. Toh semua orang bebas berpendapat asalkan jangan menyakiti ibuku.


 


\*


 


Aku berdoa di tengah malamku teringat ayah yang dulu berada disisiku. Kini tak ada lagi. Mengapa semua orang merayakan kepergianmu? Sakit melihatmu saat terbaring tak bernyawa dengan balutan kain kafan. Semua berkumpul menangisi kepergianmu. Teringat keinginannya untuk memenuhi cita-citaku. Mengorbankan hidupnya demi aku.


Yah memang kita tak terlalu dekat karena jarak yang selalu memisahkan karena sebuah pekerjaanmu. Namun aku bersyukur terlahir sebagai anakmu yang tak bisa apa-apa ini. Yah dengan segala kemampuanku aku berjanji melindungi ibu menjauhinya dari hinaan tetangga dan keluarga karena statusnya sebagai janda. Kadang omongan keluarga itu lebih menyakitkan daripada ocehan tetangga. Sampai tanganku kadang bergetar bila bertemu dengan kakak dari ibuku namun aku tak bisa menunjukannya karena khawatir ibu akan cemas.


Tak terasa aku terlelap tidur sampai pagi hari. Aku terbangun dengan hidung yang sudah mencium bau makanan enak namun mataku masih sulit terbuka. Setelah beberapa saat mengumpulkan jiwa yang belum keluar semua aku berhasil membuka mataku dan melakukan aktifitas setiap pagi.


Seperti biasa setelah pamit pada ibu aku berangkat ke sekolah dengan menaiki angkutan umum. Namun, saat menunggu angkot aku bertemu Alvin yang menaiki motor ninja milikinya. Dia berhenti tetap di depanku.

__ADS_1


"Gak usah repot-repot" aku yang mengerti langsung terucap begitu saja.


"Maaf jalan mawar ke arah mana ya?" tanyanya


Aku yang malu langsung menundukan kepalaku. dan kebetulan angkot sudah datang dan aku bergegas menaikinya namun tercegah oleh tangan Alvin yang menggenggam lenganku.


"Canda, ayo naik" tawarnya.


"Maaf mas di daerah sini gak ada yang namanya jalan mawar" aku menjawab dan menaiki motornya.


Dia melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata dan terlihat jelas dia tersenyum pada spion motornya melihat ke arahku. Tidak ada bercakapan sepanjang perjalanan hanya saja detak jantung ini semakin lama semakin kencang.


Kami tiba tepat waktu di sekolah dengan semua pandangan yang menuju ke arah kami. Mungkin karena heran tapi tatapan mereka seperti ungkapan kebencian.


"Ada aku di sini" ungkap Alvin.


"Kaya judul lagu" jawabku bercanda.


"Aku anterin ya" tawarnya.


"Ke mana?"


"Ke hatiku"


Aku yang mendengarnya langsung memutarkan bola mataku sinis.


"Ngapain ikut?" tanyaku melihatnya berjalan ke arah yang sama denganku yang jelas bukan menuju kelasnya.


"Nona geer ini ya selalu saja begitu" jawabnya yang berjalan lebih cepat dan berbalik sengaja membungkukkan badannya sehingga mata kami bertemu beberapa detik.


"Ter-" belum sempat aku melanjutkan kalimatku dia berjalan pergi ke arah yang berbeda denganku. Aku yakin itu menuju ke kelasnya karena arahnya yang berlawanan denganku.


Aku berjalan dengan kesal menuju kelas namun di tengah perjalanan ada dua orang yang menggandeng tanganku yang pastinya mereka adalah Sita dan Nazwa. dan melakukan rutinitas setiap hari yaitu belajar. Namun di tengah pembelajaran dan guru masih mengajar aku mendapatkan notice hp menandakan pesan masuk. Aku langsung membukanya karena penasaran.


'Pulang nanti aku tunggu di rooftop sekolah'


Pesan singkat namun jelas itu tertulis nama Alvinku.


Aku yang heran melihat namanya menggosok kedua mataku untuk memastikan. Namun nihil semua nyata namanya tertulis Alvinku.


'Sejak kapan aku menyimpan kontaknya' tanyaku dalam hati.


"Astaga ALVINKU" teriak Nazwa melihat Alvin yang berjalan melewati kelasku. Aku yang kaget langsung menutup ponselku.


"NAZWA" bentak bu Rina yang sedang mengajar.


"Ehh maaf bu" cengir Nazwa tanpa dosa.

__ADS_1


'Untunglah Nazwa tidak membaca isi ponselku kalau dia lihat mungkin heboh semua orang karena suaranya yang sangat nyaring'


__ADS_2