Happy Birthday

Happy Birthday
Chapter 11


__ADS_3

Aku berbaring ditempat tidurku memegang boneka kelinci pemberian Alvin yang kuberi nama ibe karena cocok untuknya yang manis.


Hari yang melelahkan mengingat pengalaman seru yang terjadi hari ini. Aku memegang ponselku membuka foto-foto bersama yang dikirimkan Alvin. Terlihat lucu dengan beberapa foto yang dipenuhi wajah mereka karena hasil dari saling rebut.


'Selamat tidur jangan lupa mimpi indah bersamaku' Alvin mengirimi pesan singkat.


Akupun tertidur tanpa membalas pesannya.


"Aca aca ini ayam" tunjuk seorang anak laki-laki yang umurnya sekitar 5 tahunan pada gambar yang dipegangnya.


"Kak Ibe ini bukan ayam, ini dinourus" ucap cadel anak perempuan yang bisa dipastikan namanya Aca yang berumur 3 tahun.


"Ini kerbau" tunjuk lagi anak laki-laki yang dipanggil Kak Ibe itu.


"Baubau" ucap perempuan bernama aca menuruti.


"Ker bau" anak laki-laki itu mengajarkan anak bernama Aca.


"Kebau"


"Pinguin"


"Ngingin"


"Ular"


"Aca gak uca ual"


"Yaudah kalau Aca ketemu ular tinggal panggil Ayah"


"Kak ibe akut?"


"Kak ibe bukan takut tapi gak berani"


"Ohh" Aca menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Aca mau kemana?" tanya anak laki-laki itu yang melihat Aca mulai berada di tepi tebing.


"Aca jangan bahaya"


"Aaaaaa" aku bangun berteriak berbarengan dengan anak perempuan yang jatuh terpeleset.


"Rasya?" Ibu berlari dan memelukku yang melihatku bercucuran keringat.


"Gakpapa bu, cuma mimpi" jawabku melihat ibu yang panik dan ternyata ada kompresan yang sudah menempel di keningku.


"Kamu demam Sya" ibu memegang keningku memeriksa.


"Jam berapa bu?" tanyaku yang melihat hari mulai siang.


"Ibu udah titip surat ke Zio kamu hari ini istirahat di rumah ya" ibu membaringkan aku lagi.


"Makan dulu" ibu menyuapiku dengan bubur.


"Sya ibu izin gak ke toko ya?" tanya ibu yang khawatir melihatku.


"Gak usah bu" jawabku.


"Tapi kamu.."


"Nanti juga Rasyat sehat setelah bangun tidur"


"Yaudah Rasya hati-hati di sini ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi ibu"


"Iya bu"


Setelah aku sudah kenyang makan. Ibu menutup pintu kamarku dan aku kembali terlelap tidur.


Terik matahari mulai memancarkan sinarnya. Aku bangun dengan keadaan lebih mendingan. Aku berdiam diri mencoba mengingat mimpi yang tanpak nyata itu.


Who are you?


Cause you're not the girl I fell in love with, baby. (Nada dering handphone Rasya)


Aku tersadar dari lamunanku karena handphone berbunyi tanda telpon masuk dan kulihat itu adalah Alvin. Akupun langsung mengangkatnya.


"Hallo? Rasya kamu gakpapa?" Terdengar suara Alvin yang lembut dari jauhnya jarak kami.

__ADS_1


"Mendingan"


"Emm mau nasi goreng?"


"Boleh"


"Pedas atau gak pedas?"


"Pedas deh"


"Yaudah buka"


"Buka apa?"


"Aku ada di luar"


"Luar?" aku langsung ke luar kamar dan mengecek seperti biasa lewat jendela dan benar saja Alvin sudah berada di luar rumah. Akupun membukakan pintu untuk dan mempersilakan masuk.


Alvin masuk dengan masih memakai seragam sekolah namun tertutup jaketnya dan membawa kresek yang ku yakini itu makanan.


"Nih" Alvin memberikan makanan yang dia pegang untukku.


"Duduk" aku mempersilakannya duduk.


Alvin duduk dengan posisi kami saling berhadapan yang terhalang meja.


"Thanks cepet amat" ucapku seraya membuka kotak berisi makanan. Benar saja itu adalah nasi goreng, akupun langsung memakannya sedangkan dia hanya tersenyum tidak menjawabku.


"Dari tadi? Sejak kapan lu beli?" tanyaku.


"Barusan" jawabnya singkat.


"lu gak beli?"


"udah kenyang"


"Gak pedas?" tanyaku lagi setelah memakan sedikit nasi gorengnya.


"Masa ia orang sakit dikasih pedas"


"Terus ngapain nanya"


"Ck, lu mau?" Aku menyodorkan sendok yang berisi nasi kepadanya. Dengan ragu dia mulai membuka mulutnya dan aku langsung membalikan sendokku mengarahkannya ke mulutku.


"Kalau ngasih tuh gak boleh diambil lagi blee" ledekku.


"Untung cantik" jawabnya kesal.


"Emang" aku membentuk huruf v dengan tanganku dan berpose seolah sedang berfoto.


"Sya emm..." ucapnya seperti ragu.


"Eh lu bolos?" tanyaku memotong omongannya.


"Ah iya" cengirnya.


"Ck ck ck lu tuh mau lulus masih aja bolos"


"Lagian kamu kenapa sakit segala, kan jadi khawatir"


"Sok khawatir"


"Emang aku khawatir"


"Kenapa bawanya nasi goreng?" tanyaku heran karena biasanya kalau orang sakit pasti dibawakannya bubur bukan nasi goreng.


"Kalau bubur kamu pasti udah makan iyakan?"


"Ah iya juga"


"Sya emm.." ucapnya lagi seolah ragu.


"Apasih ikut ke toilet?" tebakku asal.


"Hehe iya" jawabnya sembari menggaruk lengannya tak gatal.


"Ck kirain apa. Kamar mandinya di sana" tunjukku ke arah dapur.

__ADS_1


Alvinpun berjalan mengikuti arah yang aku tunjukan tadi.


Who are you?


Cause you're not the girl I fell in love with, baby. (Nada dering handphone Rasya)


Terdengar suara telpon masuk dari tertulis nama Sita.


"Hallo Sya?" suaranya terdengar khawatir setelah aku mengangkatnya.


"Hallo"


"Lu gakpapa?" tanyanya.


"Gakpapa"


"Maaf ya gue kali ini gak bisa ke sana"


"Iya tenang aja"


"Syukur deh kalau gitu. Yaudah gue tutup ya ada guru dah"


Sita menutup telponnya. dan aku masih memakan nasi gorengku yang tinggal sedikit.


"Siapa?" tanya Alvin yang sudah berada di depanku.


"Sita"


"Oh kirain"


"Emang kamu pikir siapa?"


"Batu giok"


"Batu giok?" Aku memikirkan siapa yang dimaksud Alvin. "Zio?" tebakku.


"Siapa lagi" jawab Alvin dengan kesal.


"Hahaha dasar" tawaku


"Astaga Vin sorry gue lupa" aku tersadar akan kekurangan sebagai tuan rumah.


"Lupa apa?" tanyanya bingung.


"Lu belum gue kasih minum" cengirku dan langsung berjalan ke arah dapur membawakan Alvin minum.


"Maaf ya gak ada jus" aku membawakannya air putih dan beberapa cemilan.


"Apaan sih jadi gak enak" jawabnya.


"Masa tamu gak disediain apa-apa"


"Santai aja kali calon ini"


"Calon apa? Calon mati" jawabku asal


"Astaghfirullah belum siap" istighfarnya.


"Hahaha" aku tertawa dan membuka handphoneku iseng membuka sosial mediaku.


Beberapa pesan masuk. Memang aku jarang membuka pesannya. Itupun aku memakai sosial media hanya untuk keperluan saja. Karena isinya hanya beberapa orang yang modus dan sering aku abaikan. Namun, entah kenapa aku memencet tanda pesannya terlihat nama-nama yang tidak aku kenal dan ada satu yang menarik perhatianku dengan nama Shinna Alsina Zoa.


Aku membuka pesannya karena tidak biasanya Shinna mengirim pesan padaku. Walaupun di sekolah dia selalu mengejarku hanya karena satu alasan namun dia tidak akan mengerim pesan lewat sosial media karena dia tahu aku tidak akan membukanya.


'Sya, gue tahu lu gak akan buka ini chat'


'Tapi gue susah ketemu lu di sekolah'


'gue mau ngadu'


'Masa gue dimarahin pacar lu.'


'Gue dikira suka membully lu'


'Astaga pacar lu pikir ini zaman apa kali ya ada pembullyan segala sampai menghapus kontak lu di hp gue'


'untung kak Alvin ganteng'

__ADS_1


itulah beberapa pesan panjang dari Shinna.


"ALVIN, JELASIN" kesalku pada Alvin.


__ADS_2