Happy Birthday

Happy Birthday
Chapter 14


__ADS_3

Aku duduk bertiga dengan Alvin dan Zio di perpustakaan. Dimana aku dan Zio duduk bersebelahan dan Alvin duduk di depanku.


Kami membicarakan rencana Alvin yang ditawarkannya kemarin.


"Jadi kita mulai dari mana?" tanyaku serius.


"Kita mulai dari umur 3 tahun" jawabnya


"3 tahun?" tanyaku bingung.


"Sebuah perjalanan waktu" mantapnya.


Aku dan Zio yang mendengarnya hanya menautkan kedua alis kami secara tak sengaja berbarengan menandakan tidak mengerti.


"Sebuah perjalanan waktu, PERJALANAN WAKTU HAHAHA HAHAHA" Alvin mengucapkannya lagi namun lebih dramatis dengan tawa yang dibuatnya seakan menakutkan.


"Vin, Alvin" aku berusaha menyadarkannya dengan menggerakkan lengannya karena semua mata tertuju pada kami yang berada di perpustakaan dengan orang yang mulai banyak karena waktu istirahat telah tiba.


Saat Alvin terdiam dan sepertinya mulai sadar diapun melihat semua mata tertuju padanya di sekelilingnya. Seketika itu wajahnya memerah mungkin karena malu.


Kami akhirnya diusir oleh mengawas perpustakaan karena dianggap pengganggu.


"Ck ck ck" aku melihat Alvin dan menggelengkan kepalaku. Aku berjalan mendahului mereka menuju halaman belakang sekolah karena menurutku itulah tempat yang cocok untuk berdiskusi dan takutnya Alvin kehilangan kesadarannya seperti tadi. Sedangkan Alvin dan Zio mengikutiku di belakang dengan saling dorong yang aku tidak tahu apa masalah mereka hingga melakukan itu.


"Jadi kapan kita mulai?" tanyaku setelah sampai di halaman belakang.


"Sekarang" jawab Alvin dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Bolos mulu" aku menjitak kepala Alvin pelan dengan tangan yang dikepalkan.


"Ck ck kakak kelas gak mau lulus" ledek Zio dengan berdecak.


Alvin yang mendengarnya langsung menyodorkan sikutnya ke arah Zio bercanda.


"Yaudah kita mulai setelah pulang sekolah, gimana?" Ajakku kali ini tidak berusaha mencegah keduanya.


"Setuju" jawab Zio yang dianggukkan oleh Alvin bertanda dia juga menyetujuinya.


Aku kembali ke kelas masing-masing karena bel masuk sudah berbunyi nyaring. Aku berjalan bersama Zio karena arah kelas Alvin berbeda dengan kami.


Aku dan Zio memasuki kelas yang mulai ramai dan melihat Sita yang duduk dengan handphone yang dimainkannya. Namun, saat Sita melihatku dia berdiri dan membawa tasnya.


"Jimin gue duduk bareng lu ya?" tanya Sita kepada Jimin yang sedang duduk di bangkunya.


"Hah?" Jimin melihat ke arahku. "Gak ah gue sama Rasya aja, yuk Sya?" ajak Jimin padaku dan akupun yang bingung hanya bisa terdiam dan mengambil tasku dan kantong kresek berisi makanan untuk memindahkannya ke bangku Jimin.


"Sita lu kenapa?" aku berusaha bertanya.


"Maaf ya, kalau gue ada salah tolong tegur bukan gini caranya, guekan jadi bingung" lanjutku.


"Jangan sok baik" sinis Sita.


"Rasya lu pulang sekolah kemana?" tanya Jimin tiba-tiba mungkin untuk mencairkan suasana.


"Gue ada rencana" jawabku.


"Sama siapa?" tanyanya lagi.


"Temen"


"Temen?"


"Iya cuma temen kok gak lebih beneran deh"

__ADS_1


"Apasih pacar juga gakpapa kali santai aja"


"Temen kok"


"Iya iya temen gue percaya"


Mana mungkin aku terus terang bahwa akan pergi bersama Alvin. Walaupun tidak hanya Alvin, melainkan ada Zio juga tapi membicarakannya dengan Jimin yang jelas-jelas menurutku lagi dekat dengan Alvin mungkin juga sudah berpacaran membuatku ragu untuk membicarakannya.


Setelah guru masuk untuk mengajar, aku dan Jimin hanya fokus belajar menyampingkan urusan pribadiku namun juga aku sesekali melihat Sita yang kulihat tidak lepas dari handphonenya.


"Sita simpan di meja ibu" suruh bu Tuti yang sedang mengajar matematika melihat ke arah Sita.


"..." Sita diam tak menjawab.


"Sita kamu yang ke sini simpan hpnya atau ibu yang ke sana?" tawar bu Tuti dengan tatapan tajamnya.


Akhirnya Sitapun mengalah dan menyerahkan handphonenya dan duduk kembali di bangkunya.


Setelah pembelajaran bu Tuti selesai dengan matematikanya bergantilah pelajaran dengan bu Nuni dengan ekonominya. Habis matematika munculah ekonomi yang bertemu dengan hitung-menghitung lagi walaupun ekonomi tidak selama menghitung tapi pelajaran ekonomi menurut lebih sulit daripada matematika.


Setelah sekian lama terjerumus dengan rumus dan membuka pemikiran yang luas untuk mempelajari akhirnya belpun berbunyi menandakan waktu pulang telah tiba yang disambut antusias dengan siswa khususnya di kelasku.


Aku, Alvin, dan Zio berkumpul di sebuah mobil sedan merah milik Zio dengan aku yang seperti biasa duduk di belakang namun bedanya kali ini Zio yang mengendarai karena Alvin tidak membawa mobil melainkan motor, dia berniat meninggalkan motornya di sekolah.


"Jadi gimana?" tanyaku.


"Kita harus menuju tempat kamu merayakan ulang tahun waktu umur 3 tahun" jawab Alvin.


"Mana aku ingat" jawabku.


"Ibumu kan ada" jawab Alvin.


"Ah iya bentar" aku menelpon ibu untuk menanyakannya.


'*Hallo bu'


'kenapa?'


'Bu ingat gak waktu Rasya merayakan ulang tahun waktu umur 3 tahun?'


'Ohh yang waktu di puncak itu, kenapa?'


'Puncak apa bu?'


'Puncak yang dekat desa ayahmu itu loh'


'Oh iya bu, Rasya ingat makasih ya'


'kenapa emang?'


'Enggak bu*'


Setelah ibu memberitahunya dan aku minta izin karena takutnya aku pulang saat malam tiba. Kami langsung menuju ke sana ke puncak ketika aku merayakan ulang tahunku dulu. Kami sampai ketika matahari tak sejajar kepala karena hari mulai sore. Kami melihat-lihat ke sana kemari untuk mencari jawaban, namun nihil kami tidak mendapatkannya karena aku tidak ingat apapun ketika waktu itu. Setelah hampir dua jam kamipun menyerah dan berniat untuk pulang karena takut aku pulang terlalu malam karena jaraknya yang lumayan jauh dari tempat aku tinggal.


Ketika kami melihat tebing yang cukup curam akupun teringat sesuatu seorang anak yang hampir jatuh dengan seketika akupun merasa pusing dan jatuh begitu saja.


Alvin dan Zio yang melihatku berusaha membantuku untuk berdiri.


"Sya lu kuat jalan?" tanya Zio khawatir.


Aku menganggukkan kepala mengiyakannya.


"Gue inget mimpi" ucapku.

__ADS_1


"Mimpi?" tanya Zio dan Alvin berbarengan.


"Tidak bukan mimpi tapi nyata" ucapku lagi.


"Maksud kamu?" tanya Alvin bingung.


"Nanti gue jelasin sekarang kita pulang untuk bertanya pada ibu dan memastikannya" jawabku.


Dan kamipun kembali pulang dengan rasa lelah karena berjam-jam di sana.


'*Hai aku Ibe' ucap anak laki-laki yang mengajak berkenalan pada anak perempuan yang sedang main pasir di sebuah halaman vila.


'Aca' jawab anak perempuan itu.


'Mau main bareng?' ajak anak laki-laki.


'Au' jawab cadel anak perempuan*.


"Sya?" Panggil Alvin membangunkanku.


Ternyata aku tak terasa tertidur sepanjang perjalanan dan bermimpi itu lagi dua anak itu yang tidak terlihat wajahnya olehku. Akupun turun dari mobilnya dan pamit dengan Alvin dan Zio lalu memasuki rumahku. Karena hari sudah malam aku yakin ibu pasti sudah berada di rumah, dan benar saja Ibu sedang asik menonton tv.


"Ibu?" aku memeluk ibu dengan manja.


"Itu makanan dari mana?" tanya ibu heran yang melihatku membawa banyak makanan.


"Hehe" aku hanya menjawabnya dengan cengiran.


"Makan dulu" lembut ibuku dan membalas pelukanku.


"Ibu ingat aca dan ibe?"


"Aca kan kamu, Rasya"


"Rasya?" tanyaku memastikan.


"Iya"


"Terus kenapa Rasya gak dipanggil Aca lagi?"


"Kamu sendiri yang tiap kali nangis di panggil Aca"


"Kenapa?"


"Gak tahu orang Rasya susah ditanya"


"Terus Ibe siapa?"


"Anak laki-laki yang dikenalkan Rasya pada ibu dan ayah pada di puncak itu?"


"Gak tahu Rasya gak ingat juga"


"Kenapa emang?"


"Enggak sih cuma ingin tahu aja"


"Ibu tahu alamat yang namanya ibe dimana?" lanjutku menanyakan.


"Gak tahu udah lama, tapi ibu coba cari ya"


"Sekarang kamu mandi terus makan sana!"


"Siap bos" aku memberi hormat pada ibu dan masuk ke kamarku.

__ADS_1


__ADS_2