Happy Birthday

Happy Birthday
Chapter 12


__ADS_3

"Jelasin apa?" tanya Alvin yang bingung.


"Lu marahin Shinna?"


"Iyalah lagian dia ngejar-ngejar kamu gitu"


"Hah?"


"Kok hah? Harusnya kamu terima masih dong"


"Ck ck bikin malu"


"Kamukan jadi gak dibully lagi"


"Siapa yang dibully sih hah?"


"Kamu dong siapa lagi"


"Enggak tuh"


"Terus ngapain tuh si Singa ngejar kamu?"


"Cuma minta promot sosial media kok"


"Hah?"


"Cuma gue gak mau jadi ya gue lari"


"Cuma itu?" tanyanya tak percaya.


"Iya"


"Yah malu dong"


"Makannya jangan sok pahlawan"


"Iya deh maaf"


"Bukan ke gue tapi Shinna"


"Iya maaf Shinna"


"Lah Shinna gak ada di sini Alvin"


"Siapa tahu dia denger suara hati gue"


"Serah lu lah"


"Sya emm.." ucap Alvin ragu.


"Apalagi" jawabku masih kesal.


"Soal ulang tahun"


"Ulang tahun?"


"Gimana kalau kita sembuhin trauma kamu?"

__ADS_1


"Trauma? Siapa? Rasya?" tanya Zio yang tiba-tiba muncul di depan pintu.


"Zio lu ngapain?" tanyaku bingung melihat Zio yang tiba-tiba muncul.


"Jenguk lu dong Sya, nih gue bawa buah" Zio membawa berbagai macam buah seperti apel, jeruk, dan pir.


"Lu bolos?" tanyaku lagi melihat jam menunjukkan pukul 12.00 WIB yang bertanda sekolah belum waktunya untuk pulang.


"Pak Roni gak hadir, daripada nganggur di kelas mending gue ke sini" Zio masuk dan duduk di sebelahku memberikan buah yang dia bawa kepadaku.


"Ehh ngapain duduk di sana?" tanya Alvin.


"Ehh kakak kelas ada di sini" ledek Zio melihat Alvin.


"Udah jangan mulai" cegahku karena aku tahu jika tidak begitu mereka akan terus berdebat tanpa kenal waktu.


"Gimana keadaan lu?" tanya Zio khawatir.


"Mendingan" jawabku.


"Lu gak diapa-apain kan?" tanyanya lagi.


"Heh maaf ya aku ini cowok baik-baik" timbal Alvin tak terima.


"Terus Sita sendiri gimana? Lu gak ajak?" tanyaku pada Zio untuk mencegah keributan lagi.


"Sita tadi gue lihat bareng Shinna" jawab Zio.


"Kok Shinna?"


"Itu loh Sita lagi deketin si ketua osis"


"Heem"


"Kok gue gak tahu?"


Zio hanya mengangkat kedua bahunya dan menceritakan awal mula Sita dekat dengan Raysan. Katanya berawal dari pertempuran pada saat Sita bolos belajar di kantin waktu itu. Aku tidak tahu bahwa ada kejadian seperti itu karena pada saat itu aku pergi menemui pak Wahyu di TU. Rayhan sangat taat aturan dan ketika melihat orang bolos atau tidak menaati peraturan dia akan menegurnya layaknya guru. Seperti cerita dalam novel atau drama. Cinta berawal dari permusuhan. Aku tahu sekarang Sita sering buru-buru ke luar kelas waktu istirahat itu mungkin untuk menemui Raysan. Namun, aku masih tidak tahu tentang Sita yang menyembunyikan fakta bahwa ada lomba cipta puisi dan aku yang hampir alpa tapi aku berpikir positif mungkin saja Sita lupa.


"Terus ngapain waktu itu Sita nangis depan-" tanya Alvin yang ternyata setia mendengarkan obrolan aku dan Zio. Namun, terpotong oleh lemparan jeruk yang aku bawa di atas meja pemberian dari Zio dan berhasil ditangkap Alvin. Aku menggelengkan kepala bertanda jangan membicarakannya.


"Sita nangis?" tanya Zio kepadaku.


"Gak itu.. emm.." jawabku sedikit gugup karena aku tidak mau kalau Zio tahu aku melihatnya saat itu di halaman belakang sekolah.


"Rasya lihat Sita yang nangis depan kamu" lanjut Alvin tanpa ragu.


"Vin" cegahku namun tidak dihiraukannya.


"Dimana?" tanya Zio lagi.


"Sok lupa" jawab Alvin.


"Apasih nyambung mulu. Lagian cowok mana yang nyebut kamu ke cowok lagi jijik" kesal Zio pada Alvin.


"Kan Alvin masih baru tinggal di Indonesia jadi ya wajar aja" belaku.


"Kok kamu tahu?" tanya Alvin kaget.

__ADS_1


"Eh Zio jadi gimana?" aku menghindari pertanyaan Alvin karena malas menceritakannya.


"Apanya yang gimana?" Zio menanggapi dengan bingung.


"Itu loh yang di halaman belakang sekolah" akhirnya akupun membahasnya karena penasaran.


"Oh jadi yang waktu itu? Jadi nih Sita nangis karena gue tinju tuh ketua osis"


"Hah? Kenapa?" tanyaku dan Alvin yang tidak sengaja berbarengan. Mungkin Alvin juga kepo.


"Gue lihat Sita lagi nangis depan si ketua osis"


"...." Aku dan Alvin hanya mendengarkan Zio berbicara tampa niat untuk memontongnya.


"Gue kira Sita nangis karena disakiti makannya gue tarik Sita ke halaman belakang sekolah agar menjauh dari si ketua osis"


"Terus?" tanyaku lebih penasaran.


"Eh ternyata Sita nangis karena bahagia. Sita kan anaknya cengeng terus Sita jadi nangis beneran deh karena gue tinju si ketua osis"


"Ck ck ck makannya jangan sok tahu" timbal Alvin berdecak.


"Hahaha astaga lu berdua cocok" tawaku tak menyangka dan menunjuk Zio dan Alvin secara bergantian. Bagaimana tidak keduanya bersikap seolah pahlawan yang satu memarahi Shinna yang satu lagi langsung meninju Raysan tanpa tahu awal ceritanya bagaimana.


"Lu tahu dari mana gue dan Sita waktu itu?" tanya Zio mungkin karena kaget juga aku dan Alvin bisa tahu ada kejadian itu.


aku hanya mengangkat kedua bahuku tidak menjawabnya. Kami bertiga mengobrol hingga matahari terlihat mulai turun dengan mereka berdua yang terkadang adu mulut tidak mau kalah. Terasa asing namun terasa nyaman karena terbiasa jika aku sakit dulu pasti bakal ada Nazwa yang membawa bubur, Sita yang banyak bicara mengkhawatirkan aku, dan Zio dengan buahnya. Entah itu kebiasaan atau bingung Zio selalu membawa buah jika menjenguk orang sakit. Tapi sekarang berbeda tidak ada Nazwa dan Sita tapi seolah terisi oleh kehadiran Alvin yang mengisi kekosongan ini.


"Ehh Sya jadi lu masih trauma?" tanya Zio di tengah obrolan kami.


"Iya" timbal Alvin karena melihatku yang enggan untuk menjawab.


"Bukannya kamu selalu tertawa bahagia ketika merayakannya?" tanya Zio lagi.


"Terus gue harus gimana? Ngamuk karena melihat temannya mengingat hari ulang tahunnya?" jawabku disertai pertanyaan.


"Setidaknya lu bilang Sya" Zio merendahkan suaranya.


"Gue menghargai dan gak mau ngehancurin rencana kalian" ungkupku menahan tangis.


Setelah aku berbicara begitu. Kami semua terdiam hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Bagaimana kalau kita sembuhin trauma kamu?" tawar Alvin.


"Udah berapa kali gue coba tapi hasilnya tetap sama berujung sakit" keluhku.


"Setidaknya kita coba cara aku. Dulu aku juga trauma seperti kamu"


"Trauma merayakan ulang tahun? Gimana caranya?" tanyaku.


"Yang penting kamu setuju dulu" jawab Alvin.


"Gue mau ikut tapi jika Rasya sakit gue gak akan lepasin lu" timbal Zio.


"Oke" aku menerima tawaran Alvin karena aku juga mau tahu rencana apa yang dibuatnya untuk menyembuhkan traumaku ini.


"Yaudah aku pamit ya Sya udah kelamaan di sini" pamit Alvin.

__ADS_1


"Oh iya" jawabku.


"Adik kelas juga harus pulang" ucap Alvin menarik kerah baju kemeja sekolah yang dipakai Zio.


__ADS_2