
Untuk pertama kalinya aku malas pergi ke sekolah hanya karena satu orang yang saat ini aku tidak mau menemuinya untuk sementara. Aku kini berada di rooftop sekolah seorang diri dengan bel pulang yang sudah berbunyi beberapa menit lalu dengan susah payah aku menghindari Alvin karena perasaan yang tidak menentu ini. Aku memutuskan untuk mencari jawabanku sendiri tentang trauma yang aku alami ini.
Aku berusaha mengingat ulang tahunku yang ke 4 tahun. Sekilas potongan puzzle yang masih belum tersusun rapi. Aku teringat dimana aku sedang merayakan ulang tahun di kolam renang yang berada di rumahku dulu. Saat itu perekonomian keluargaku cukup bagus dan sejak ayah meninggal perusahaannya bangkrut karena ulah tante dan omku yang berebut kepemimpinan perusahaan. Untuk mengingatnya lebih aku harus ke rumah itu lagi dan melihat kolamnya yang saat ini aku tahu rumah itu telah ditempati oleh Sita.
Aku memikirkan cara untuk memasuki rumah itu, dimana Sita harus sedang di luar bagaimanapun caranya karena jika Sita sedang berada di dalam rumah maka aku tidak akan diizinkannya masuk. Sita masih dingin padaku walaupun aku tidak tahu masalahnya apa.
Aku menemukan ide namun tidak bisa kulakukan sendiri yang akhirnya aku menelpon Zio untuk meminta bantuannya.
'Hallo Sya, lu dimana sih?' jawabnya tidak lama setelah dering telpon berbunyi untuk kedua kali.
'Zio dimana?' tanyaku balik.
'*Ck malah balik nanya'
'Lu masih di sekolah?'
'Masih'
'Dimana?'
'Parkiran'
'Oke gue ke sana sekarang*'
Aku turun dari rooftop dan berjalan melewati tangga dan koridor sekolah yang kini hanya terisi oleh orang-orang yang sedang melaksana ekskul di sekolah. Aku melihat Jimin yang sedang berkumpul di ruangan osis, siswa laki-laki yang sedang ekskul basket, dan beberapa orang lainnya yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Aku melihat Zio yang sedang memainkan handphonenya dengan bersandar pada dinding di samping motornya.
"Sya kemana aja lu?" Zio langsung menutup handphonenya begitu dia sadar akan kedatanganku.
"Ada deh" jawabku.
"Rasya?" panggil seseorang di belakangku.
"..." aku tidak menjawabnya dan hanya memperhatikan dia yang melangkah mendekat ke arahku. Orang itu adalah Alvin.
Sejauh apapun aku berlari sepintar apapun aku bersembunyi akhirnya aku bertemu dengannya dan tidak boleh terlihat seperti menjauhinya.
"Kemana aja?" tanyanya.
"Ah gue ada banyak tugas" jawabku.
"Tugas apa?"
"Ya banyak."
"Kata orang itu gak ada tugas kok" ucapnya menunjuk Zio dengan dagunya.
"Ziokan orangnya males mana mungkin dia memikirkan tugas" jawabku mencari alasan yang tepat dan terlihat masuk akal.
Aku melihat Zio takutnya dia marah. Aku tahu sebandel apapun Zio, dia tidak akan meninggalkan satupun tugas karena sedang masa hukuman yang waktu kelas 10 dia hampir tidak naik kelas karena sering bolos dan sekarang jika dia tidak mengerjakan tugas dari sekolah maka dia terpaksa harus pindah sekolah jika tidak mau tinggal kelas.
"Ohh" Alvin menganggukkan kepalanya.
"Terus sekarang mau kemana?"
"Gue mau lanjutkan misi."
__ADS_1
"Aku ikut ya."
"Gak usah biar gue sama Zio."
"Kenapa?"
"Ya karena lu tidak akan membantu."
"Yaudah kalau nanti kamu-"
"Iya" jawabku memotong Alvin.
"Yuk Zio."
Aku menaiki motor Zio dan meninggalkan Alvin yang kulihat masih memandang ke arah aku dan Zio yang sudah berada jauh darinya.
Merasa bersalah melihatnya seperti itu tapi bagaimana lagi. Aku masih belum menerima kenyataan ini.
Aku menjelaskan kepada Zio apa yang aku rencanakan dan ketika kami sampai dekat rumah Sita, dia menelepon Sita untuk mengajaknya bertemu jika Sita sedang berada di dalam rumah dan jika sedang tidak ada maka aku dan Zio akan masuk rumah itu karena asisten rumah tangga yang ada di rumah Sita sudah kenal dengan kami dan pasti akan mengizinkan kami masuk.
"Sita gak ada di rumah" Zio menutup handphonenya. Namun, untuk memastikan benar tidak adanya dengan Zio masuk terlebih dahulu ke rumah itu dan aku menunggunya di dekat rumah Sita sedikit bersembunyi.
Dan benar Sita sedang tidak ada setelah Zio masuk dan bertanya kepada pelayan di sana. Aku memasuki rumah Sita yang tampak mewah walaupun tidak semewah rumah Alvin bersama Zio yang dilayani oleh pelayanan di sana.
"Kemana aja non udah lama gak ke sini?" tanya bi Ria yang merupakan asisten rumah tangga.
"Iya bi, Sitanya masih lama?" tanyaku lebih memastikan setelah masuk ke rumah itu.
"Kayanya masih lama deh mau nunggu apa gimana?" tanyanya lagi.
"Tunggu aja deh bi" jawabku.
"Apa aja bi" jawabku dan Zio hanya melihat-lihat.
Karena bi Ria sudah kenal dan percaya pada kami menjadikan kami mudah masuk ke rumah Sita.
Setelah bi Ria sudah mulai tidak terlihat. Aku bersama Zio memasuki halaman belakang yang terdapat kolam renang. Walaupun tempatnya banyak yang berubah, aku masih terbayang kolam yang dulu.
Aku berusaha mengingat beberapa kejadian pada masa itu.
"Waktu itu aku mengadakan ulang tahun di sini" aku menunjuk tempat-tempat yang terlindas dalam bayangku meski posisi dan tempatnya kini sudah jauh berbeda
"Kuenya berada di ini" tunjukku.
"Orang-orang datang dari sini, dan beberapa meja untuk makanan"
"Terdapat panggung berukuran kecil di sana" aku menunjuk taman bunga yang ada di sekitar kolam.
"Gue melihat semua anak tertawa dengan riang bersama"
"Ah gue melihat anak yang diam sendiri di sini"
"Waktu itu gue samperin dan dia malah terlihat sangat kesal"
"Terus?" tanya Zio yang kini mulai penasaran.
"Gue datang lagi membawa kue ke anak itu, tapi ada anak laki-laki yang tiba-tiba lari ke arah kami dan mendorong kami hingga jatuh ke kolam dan akhirnya tenggelam"
__ADS_1
"Tunggu Sya gue teringat sesuatu" ucap Zio yang mendengarkanku.
"Hah?"
"Kayanya gue deh anak laki-laki itu"
"Maksud lu?"
"Gini tiba-tiba gue teringat setelah lu nunjukan beberapa posisi pada masa itu dan terbayang diingatan gue seolah gue juga ada di sana."
"..."
"Bukan anak laki-laki yang lu maksud ngedorong lu. Intinya bukan gue yang mendorong lu'
"Terus?" tanyaku penasaran.
"Mungkin lu gak ingat karena masih 4 tahun sedangkan gue udah 5 tahun"
Benar aku berbeda satu tahun dengan Sita dan Zio karena aku masuk sekolah dasar pada umurku 6 tahun sedangkan dengan Nazwa berbeda 1 bulan dimana Nazwa lebih dulu lahir dari pada aku.
"Gue melihat lu yang pegang kue dan diwaktu yang bersamaan gue melihat anak yang tadi lu bilang sendirian itu yang mendorong lu di saat gue lari untuk menolong lu" Jelasnya lagi.
"Bentar jadi... lu liat niat anak itu dan berusaha menolong gue tapi pada akhirnya lu yang dituduh karena tepat pada saat lu datang anak itu ikut nyebur karena panik" tebakku.
"Tepat sekali Rasya. Gue sampai dihukum bokap gara-gara kejadian itu"
"Kita harus menumukan anak cewek itu"
Kami kembali ke ruang tamu dengan pamit kepada bi Ria.
"Kayanya Sita masih lama ya bi. Kalau gitu Rasya pamit ya"
"Emangnya enggak di telpon dulu gitu non Sitanya karunya atuh udah nunggu lama" ucap bi Ria dimana bahasa daerahnya ke luar. Memang bi Ria berasal dari Tasikmalaya yang dimana masyarakatnya menggunakan bahasa Sunda.
"Iya bi lupa Rasya pikir Sita gak akan lama" jawabku sedikit mengeluh agar kelihatan natural.
"Yaudah atuh non hati-hati"
"Iya bi makasih"
Ungkapku sembari berjalan ke luar.
"Eleuh siah bibi hilap teu ngasih minum non" ungkap bi Rian menepuk keningnya.
"Gakpapa bi santai aja" jawab Zio.
"Maafin ya"
"Iya bi" jawabku.
dan kamipun pergi dari sana karena takut Sita akan segera pulang.
Zio memberhentikan motornya di sisi jalan raya untuk menungguku menelpon ibuku menanyakan anak yang waktu itu tenggelam bersamaku. Setelah mendengar jawaban dari ibu kami sedikit bingung karena ibu lupa nama dan alamatnya dia hanya tahu nama ibu dan ayahnya serta perusahaan yang dimiliki keluarganya.
Kamipun akhirnya memutuskan pergi menuju perubahannya mencari petunjuk karena jarak perusahaannya tidak begitu jauh. Setelah sampai kami tidak bisa masuk begitu saja ke dalam karena terjaga ketat oleh security. Aku tahu perusahaan itu cukup ketat keamanannya siapapun yang masuk akan diperiksa identitasnya terlebih dahulu baik itu karyawan maupun tamu.
Kami hanya terdiam di sebrang jalan memandang dari jauh dan saat itu aku terkejut dengan remaja perempuan yang menggandeng lelaki yang sudah berumur kira-kira 50 tahunan sedang berjalan ke luar dari gedung perusahaan itu.
__ADS_1
"Fara?" ucapku refleks ketika melihat itu.