
Rooftop Sekolah
Aku langsung menuju rooftop begitu bel berbunyi. Namun setelah sampai aku tak melihat Alvin.
"Hei" sapa seseorang dari belakang.
Sontak aku berbalik seketika dan dihadapkan dengan sosok laki-laki yang berdiri tegak dihadapanku.
"Sini duduk" ajaknya.
Aku mengikutinya dengan duduk di pinggir rooftop dengan kaki yang berjuntai ke bawah.
"Kamu ulang tahun?" tanyanya lembut.
Aku hanya menganggukkan kepala menandakan iya.
"Maaf aku gak tahu" ungkapnya.
"Gakpapa"
"Selamat ulang tahun"
"Iya makasih" aku membalas dengan senyuman.
"Senyummu palsu" jawabnya yang melihat ke arahku dengan senyuman.
"Hah?"
"Kamu gak suka hari ulang tahunmu?"
"..." Aku tak menjawabnya karena ragu.
"Syukurlah aku gak ikut merayakannya"
"Kenapa?"
"Aku tak mau melihatmu tersenyum di atas rasa sakitmu"
"..."
"Aku tahu rasanya" dengan helaan napas dia menjawabnya dan melihat langit yang tanpak cerah.
"Vin.." panggilku ragu.
"Hem"
"Kenapa?"
"Aku tak mau merasakan apa yang kurasa" dia berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi
"Aku merasa bersalah dengan seseorang"
"Kenapa?"
"Bukan hal yang pantas untuk diceritakan. Namun, aku sangat berterima kasih kepadanya"
Aku menganggukkan kepala tanda mengerti dan tidak mau bertanya lebih lanjut.
"Kalau kamu?" tanyanya.
"Ayah meninggal"
"Hah?"
__ADS_1
"Sakit bukan? mereka merayakannya tanpa tahu perasaan ini. tapi gue tahu mereka melakukannya untuk menghilangkan trauma ini"
Dia memegang bahuku dengan hangat mungkin karena dia melihat air mataku hampir terjatuh.
"Vin matamu indah seperti ayahku" ucapku pelan namun masih terdengar olehnya.
"Kamu bisa melihat mataku jika rindu ayahmu" jawabnya sebari menjauhkan tangannya dari bahuku.
Aku tersenyum menanggapinya.
"Btw lu pindahan mana?" tanyaku agar suasana berubah.
"Sangat jauh" jawabnya tersenyum.
"Sangat jauh?" Ulangku dengan nada bertanya.
"Iya jauh"
"Emang masih bisa kelas 12 pindah sekolah?"
"Bisa dong inikan baru awal semester"
"Iya juga"
'Ishh sial perutku mules lagi malu dong kalau ketahuan alvin' ungkapku dalam hati sambil memegang keperut dengan kedua tanganku.
"Vin gue ke bawah bentar ya" izinku dan langsung berdiri.
Namun sebelum aku melanjutkan langkahku. Aku mendengar suara sepatu yang berjalan ke arah kami semakin dekat.
Tuk tuk tuk
Alvin yang menyadari itu langsung menarikku ke belakang tumpukkan batu bata yang sudah tak terpakai. Karena tahu semua murid tak boleh datang ke tempat ini. Apalagi jika sampai kami ketahuan bisa gawat ceritanya dan mungkin akan dituduh macam-macam karena di sini kami hanya berdua.
Pak Asep adalah guru bagian kesiswaan namun dia juga mengajar di kelasku sebagai guru geografi. Aku tak mendengar apa yang dikatakan Alvin karena menahan sesuatu yang hendak keluar ini.
"Kenapa?" tanyanya pelan khawatir melihatku yang bercucuran keringat.
Aku hanya menggelengkan kepala.
Pak Asep hanya melihat-lihat sekitar dan sesekali melihat ke bawah.
Aku yang sedikit melihatnya merasa kesal karena Pak Asep tak kunjung pergi. Aku menahan mules yang kian memuncak ini.
Namun...
Dutt, brett...
'Ishh sial' ungkapku dalam hati.
Pak Asep yang mendengarnya melihat ke sana kemari sambil memegang perutnya. Mungkin dia pikir dia yang mengeluarkan suara ini dan kembali ke bawah setelah yakin di sini tidak ada orang.
"Hahahahaha" Alvin tertawa kencang menggulingkan badannya dengan wajah yang memerah mungkin karena menahan tawanya tadi.
"Apa?" tanyaku sinis.
"Pak Asep kentut" jawabnya disertai tawa yang masih belum reda dan memegang perutnya karena kelamaan bahagia.
Aku beranjak pergi menjauhi Alvin. Namun, Alvin mendahului jalanku dan berjalan tepat di depanku. Aku yang malu di sepanjang jalan menutupi seluruh wajahku dengan rambut yang terurai panjang mengikuti langkah Alvin.
"ASTAGHFIRULLAH" kaget Alvin yang melihatku dalam keadaan ini.
"Kamu ngapain?" tanyanya
__ADS_1
Aku memalingkan wajahku dan berjalan lurus ke arah gerbang sekolah.
"Kemana?" tanyanya bingung.
"Pulang" jawabku lemas.
"Aku antar"
"Gak usah"
"Udah gakpapa"
Akhirnya aku naik ke motor Alvin dengan wajah yang masih kututupi dengan rambut. Alvin menjalankan motornya seperti biasa dengan kecepatan rata-rata. Sepanjang perjalanan aku hanya menghelakan napas Berkali-kali. Bayangkan seseorang kentut di depan aishh gak bisa dibayangkan betapa malunya.
Setelah sampai di depan rumah aku turun dan hendak langsung pergi ke rumah. Namun lagi-lagi tangan Alvin berhasil mencegahku.
"Tunggu" ucapnya. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah kado dengan bentuk kotak yang dihiasi pita merah muda diberikannya padaku.
"Bukan merayakan kepergian ayahmu. Ini kuberikan untuk tanda pertemanan kita jangan terbebani dengan pemberianku ini" ungkap Alvin lembut sebari berapikan rambutku yang dari tadi menutupi wajah.
"Jangan kaya gini lagi aku takut kamu melayang" lanjutnya.
"Emang gue HANTU" jawabku sinis dan langsung berlari ke arah rumah.
Setelah yakin Alvin pergi aku kembali ke luar melihat punggungnya yang mulai menjauh pergi.
'Makasih' terucap begitu saja di dalam hati.
Aku memasuki rumah yang kosong karena ibu masih bekerja. Saat aku hendak memasuki kamarku aku melihat catatan ibu yang ditempelnya di depan pintu kamarku.
'Pak Joen udah transfer uang ke rekening nanti kamu ambil ya buat biaya sekolah' tulisnya.
Pak Joen adalah orang yang menabrak ayahku dan dia setiap bulan mengirimiku uang untung biaya sekolah. Aku mencabutnya dan kuremas dengan perasaan marah namun aku sadar itu hanya takdir.
Setelah aku berganti baju aku kembali ke luar menghampiri ibu yang masih berjaga di toko.
"Bu tadi di desa aku melihat banyak orang" ucapku kepada ibu yang masih sibuk melayani pembeli.
"Oh ya?" tanyanya.
"Emang Bu Pebri gak tahu lagi ada pembagian loh" ibu-ibu yang sedang berbelanja menimpali.
"Pembagian apa?" tanya ibu lagi kepada pembeli.
"Sembako" jawabnya.
"Kok kita enggak bu?" tanyaku heran karena kami termasuk orang yang tidak mampu dan rumah kami cukup dekat dengan kantor desa.
"Bukan rezekinya" jawab ibu lembut.
"Yaudah aku pergi ya bu"
"Hati-hati"
"Iya"
"Rasya kamu masih ada uang?"
"Ada bu, tenang aja"
Setelah pamit aku pergi untuk mengambil uang ke ATM menaiki sepeda karena jaraknya cukup dekat menurutku sekalian olahraga juga. Namun di tengah perjalanan aku melihat Alvin sedang membonceng seorang perempuan cantik.
'ternyata dia udah punya pacar' ungkapku dalam hati terasa sakit namun tak kurasa.
__ADS_1