Happy Birthday

Happy Birthday
Chapter 5


__ADS_3

Saat aku pulang. Aku langsung menyusul ibu ke toko karena penasaran akan sesuatu dan ingin cepat bertanya pada ibu.


"Rasya? Tumben belum ganti baju" sapa ibu yang melihatku.


"Bu uang sekolahku katanya udah lunas dibayarin tante tapi Rasya gak tahu tante itu siapa"


"Istri Pak Jeon yang lunasin" jawab ibu santai.


"Loh om Jeon kan anaknya udah kerja di Jepang bu?" tanyaku bingung.


"Anak yang kedua katanya dulunya tinggal bareng kakeknya di Paris"


"Kelas berapa?"


"Ibu juga kurang tahu"


"Udah lama di sini atau baru kemarin-kemarin?"


"Gak tahu, emang kenapa sih?"


"Ada anak pindahan kebetulan dia juga dari Paris apa jangan-jangan,-?"


"Jangan-jangan itu ayahnya Alvin yang kamu ceritain kemarin terus kebetulan ayahnya yang menabrak ayah Rasya gitu dan kalian jatuh cinta?" ibu memotong ucapanku dan melanjutkannya lagi. "pliss Sya ini hidup bukan karangan seseorang"


"Tapi bu namanya berawal dari nama Jeon. Nama Jeon kan tidak banyak"


"Jika iyapun awas ya jangan dendam itu takdir ayahmu Rasya" tegas ibu.


"Iya bu iya. Tapi, kalau emang kita di kendalikan oleh seseorang seperti dalam novel atau film gimana?"


"Setidaknya berusahalah hidup sesuai keinginan kita"


"Bu ada obat sakit kepala?" tanya seorang ibu yang memotong membicaraanku dengan ibu.


"Ada, mau yang mana?" jawab ibuku melayani.


"Yang ini aja bu"


"Rp.3000 satu bungkus"


"Ini uangnya"


"Iya makasih"


"Ehh Rasya katanya Pak Rischeal masuk rumah sakit di Jepang?" tanya ibu yang tadi membeli obat.


"Pak Rischeal siapa bu?"


"Ituloh yang anaknya suka ke sini"


"Om Rischeal ayahnya Nazwa?"


"Iya"


"Masasih bu?"


"Iya katanya semua keluarga akan pindah ke Jepang hari ini"


"Makasih bu infonya" aku berterima kasih kepada ibu itu.


"Bu Rasya pergi dulu" akupun pamit kepada ibu dengan terburu-buru karena khawatir dan menelpon sesekali pada Nazwa namun tidak diangkatnya.


"Hati-hati" jawab ibu. Itu kata yang pasti diucapkan ibu bila aku pamit kemanapun itu.


Karena panik aku setengah berlari ke arah rumah Nazwa. Namun, jaraknya yang terlalu jauh mengharuskanku untuk naik angkutan umum karena lagi-lagi terhalang kendaraan.


Tiddidd


Suara klakson mobil yang hampir menabrakku. Aku yang kaget hanya bisa mematung dengan air mata yang tak terasa telah mengalir.


"Rasya kamu gakpapa?" tanya seorang laki-laki yang ke luar dari dalam mobil dengan panik.


"Alvin?"


"Ada yang luka?"

__ADS_1


Aku hanya menggelengkan kepalaku dan melanjutkan jalanku tanpa menjawabnya.


"Rasya aku anterin ya?" aku dituntun Alvin memasuki mobilnya.


"Kemana?" tanyanya ketika mobil siap berjalan.


"Nazwa" jawabku dengan tatapan mataku yang entah kemana.


Alvin melajukan mobilnya dengan sedikit kencang mungkin karena takut aku sedang terburu-buru.


Setelah sampai di depan gerbang rumah Nazwa yang sedang terbuka. Aku langsung berlari dan mengetuk pintu rumahnya.


"Rasya?" seseorang keluar dengan mata sembabnya.


"Nazwa lu mau pergi?" Aku langsung memeluknya.


"Cuma sebentar" jawab Nazwa.


"Tante mana?" tanyaku seraya melepaskan pelukanku.


"Udah duluan dari minggu kemarin"


Nazwa mempersilakanku masuk dan duduk di kursi ruang tamu.


"Terus lu?"


"Nanti malam" jawabnya sedih.


"Berapa lama"


"Secepatnya kok gue balik"


"Kenapa mendadak sih. Temen-temen udah tahu?"


"Belum, baru lu dan Sita yang tahu"


"Sendiri dong gue"


"Kan ada Sita ada Zio juga"


"Bantu Sita ya"


"Bantu apa?"


"Nanti juga lu tahu"


"Hem"


"Udah ah jangan cemberut gitu jelek tahu"


"Jangan lama ya?"


"Ihh bawel tadikan udah nanya gitu secepatnya Sya gue balik kalau bokap gue dah sembuh ya. Doain makannya"


"Udah lama di rumah sakit? Sakit apa?"


"Udah sebulan kena serangan jantung tapi katanya kali ini lebih parah"


"Yang sabar ya" aku kembali memeluk Nazwa menenangkan.


"Oh ya lu sendiri ke sini?"


"Ah gue lupa bareng Alvin" aku langsung bergegas ke arah Alvin.


"Alvin?" tanyaku heran yang melihat Alvin sedang mengobrol asik dengan Pak Satpam yang ada di rumah Nazwa.


"Eh Sya udahan mau pulang sekarang?" tanyanya padaku.


"Belum sih" cengirku.


"Terus kenapa kamu ke sini?"


"Maaf gue lupa ninggalin lu sendiri"


"Udah gakpapa lagian gue lagi ngomongin bisnis sama Pak Aam"

__ADS_1


Pak Aam adalah nama satpam rumah Nazwa.


"Bisnis apaan?" tanyaku penasaran.


"Khusus laki-laki ya pak" jawabnya sambil tertawa.


"Iya non, perempuan gak bakal ngerti" timbal Pak Aam


"Yaudah masuk gak?" tanyaku dengan nada judes.


"Gak usah aku tunggu di sini saja"


Aku kembali ke dalam Rumah Nazwa dengan kesal. Saat aku masuk Nazwa terlihat sedang membawa kopernya.


"Loh sekarang?" tanyaku bingung.


"Enggak aku cuma membereskannya"


"Aku bantuin ya" tawarku.


"Makasih"


Akupun membantu membereskan barang-barang yang akan dibawa Nazwa. Setelah jam menunjukkan pukul 19.00 WIB. Nazwa bersiap berangkat menggunakan taksi yang dipesannya.


"Sita kok gak ke sini?" tanyaku heran.


"Sita lagi ada keperluan katanya. Lagian dia udah ke sini kok"


"Sita kok gak beri tahu gue lu bakal pergi?"


"Yang penting lu udah tahukan sekarang, gue berangkat ya" Nazwa memelukku dengan lembut dan akupun membalas pelukannya.


"Hati-hati sering-sering kabarin ya" aku belambaikan tangan ketika Nazwa mulai memasuki taksi.


"Jangan berantem sama Sita ya" itulah kata yang terakhir terucap sebelum Nazwa berangkat ke Jepang.


"Udah jangan nangis lagi" Alvin mencoba menenangkanku.


"Siapa yang nangis"


"Yaudah ayo" ajaknya.


Aku melihat ke sana kemari mencari mobil yang tadi dikendarai Alvin. Namun nihil aku tak menemukannya. Alvin yang sadar dengan tindakanku mengarahkan kepalaku dengan kedua tangannya menuju rumah besar yang tidak jauh dari rumah Nazwa. Menjulang tinggi bak istana yang di dalamnya terdapat mobil yang tadi dipakai Alvin terparkir rapih di halamannya.


"Wow" ucapku seketika.


"Ayok" ajaknya dengan mengandeng tangaku.


Namun sebelum masuk ke gerbang aku mencegah tangan Alvin.


"Gak usah gue tunggu di sini saja"


"Ayok" Namun alvin mendorong bahuku dari belakang dengan kedua tangannya.


Setelah tepat di halamannya aku bertemu dengan seorang ibu yang nampak cantik dengan pakaian elegannya sedang menuju ke arah kami.


"Siapa?" tanyanya pada Alvin.


"Kenalin Bunda ini Rasya" ucap Alvin memperkenalkanku dengan ibunya.


"Ohh Rasya hallo" ibu itu memelukku dengan lembut.


"Hallo" jawabku canggung.


"Bunda mau kemana?" tanya Alvin kepada ibunya.


"Gak jadi, ada calon mantu di sini"


Aku membuka kedua mataku bulat karena terkejut dan memberi kode ke Alvin dengan menggerakan daguku ke kanan dan ke kiri berulang kali.


"Ah hahaha" tawa Alvin canggung dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal mungkin dia juga bingung harus berkata apa.


"Kenapa belum ada kepastian ya dari Alvin?" tanya ibu itu kepadaku.


"ah.." aku menggaruk leherku yang tak gatal karena gugup dan bingung juga.

__ADS_1


"Yaudah masuk dulu yuk" Ibu Alvin menggandeng tanganku memasuki rumah besar itu.


__ADS_2