
"Alvin" ucapku pelan.
"Loh terus anak cewek ini siapa?" tanya bunda.
"Rasya" jawabku.
"Ini dimana ya, kok bunda gak tahu?"
"Ini di puncak."
"Puncak?" bunda berpikir sejenak.
"Ah iya anak cewek yang berminggu-minggu bikin Alvin nangis itukan?"
"Nangis?"
"Iya sehabis liburan di puncak kita pulang dan sepanjang perjalanan Alvin nangis karena bunda membawanya pulang saat dia masih tidur dan ketika bangun ya gitu nangis terus sampai matanya bengkak"
"Ohh"
"Jadi cinta pertama Alvin kamu?"
"Hah?" seketika pipiku memerah dengan pertanyaannya.
"Mungkin takdir yang mempersatukan kembali."
Aku hanya tersenyum malu mendengarnya.
"Oh iya diminum dulu"
"Iya bunda" aku meminum jus jeruk yang disediakan.
Kami menceritakan cerita masing-masing, bunda yang menceritakan tentang masa kecil Alvin dan aku menceritakan masa kecilku dimana tidak ada Alvin di dalamnya karena pada waktu itu karena syok hampir terjatuh di tepi tebing aku kehilangan ingatan dan terbangun di ruang rawat rumah sakit, kami hilang kontak dengan keluarga Alvin.
"Oh iya bunda, terus Alvin eh kak Alvin kenapa waktu itu dipanggil Ibe?"
"Kalau itu bunda juga gak tahu."
"Gak tahu?"
"Bunda juga heran kenapa dia memperkenalkan yang bukan namanya pada kamu"
"Bukan namanya?"
"Kamu tanyain sendiri deh sama Alvin ya."
"Iya bunda kalau gitu Rasya pamit ya"
"Ehh tunggu dulu tungguin Alvin ya"
"Gak usah bunda"
"Gakpapa nanti kamu pulang biar dianterin"
"Tapi-"
"Gak terima penolakan"
__ADS_1
Akhirnya akupun menyerah dan duduk bersama bunda melanjutkan cerita yang disertai tawa. Bunda orangnya sangat ramah berbeda dari orang kaya lainnya, dia menyambutku dengan sangat baik tanpa mengenai status sosialku. Jika dipikirkan malu memang, melihatnya yang jauh dari perekonomian keluargaku seperti langit dan bumi. Terkadang aku berpikir jika nanti aku bersama Alvin, apa pantas berada di sampingnya?
"Aunty eodiya?"
(Tante dimana)
Terdengar suara yang tidak asing berasal dari arah dapur dengan bahasa yang tidak aku mengerti.
"Yeogi."
(Di sini)
Bunda menjawabnya dan munculah seorang remaja perempuan dengan memakai kemeja pink dengan daleman kaos putih dan celana jeans warna hitam. Terlihat sangat cocok dengannya.
"Jimin?" ucapku kaget.
"Rasya?" dia juga sepertinya kaget melihatku.
"Loh saling kenal?" tanya bunda kepada aku dan Jimin.
"Iya satu kelas" jawabku.
"Oh jadi cewek yang diceritain bunda waktu itu Rasya?" tanyanya Jimin yang masih terkejut.
"Bunda cerita apa?" tanyaku pada bunda.
"Gak cerita apa-apa kok" jawabku bunda.
"Hanya sedikit" cengir bunda.
"Jadi jimin lu-"
"Sepupu?"
"Iya" jawab Jimin.
"Aunty aku pergi dulu" pamitnya pada bunda.
"Yaudah jangan sampai malam"
"Iya dah bunda dah Rasya" paminya lagi melambaikan tangan.
Itulah pertemuan singkat aku dan Jimin. Terasa lega karena kini aku tahu Jimin bukannya pacar Alvin melainkan sepupu. Pantas saja wajahnya sedikit mirip.
Bunda menjelaskan bahwa Jimin tinggal di sini bareng keluarga Alvin dan orang tua Jimin saat ini tinggal di Jerman karena bisnisnya. Jimin yang tidak mau berpindah-pindah sekolah mengikuti pekerjaan orang tuanya akhirnya memutuskan untuk tinggal di Indonesia namun masih dibiayai oleh orang tuanya. Kebutuhan Jimin juga selalu terpenuhi.
Perasaan iri di dalam diriku muncul, bukan karena harta tapi melihat Jimin yang mempunyai keluarga seperti bunda yang sangat menyukainya sedangkan tanteku malah menganggapku musuh. Namun, aku masih bersyukur dibanding Jimin yang jauh dari orang tuanya walaupun bergelimang harta aku lebih senang berada dekat ibuku walaupun dalam keadaan ekonomi yang masih kurang. Jalan manusia memang berbeda-beda dan aku yakin dibalik kekurangan pasti terdapat kelebihan yang mampu menutupi segala gelap yang terasa.
Terdengar langkah yang kian mendekat ke arah kami dan ternyata itu adalah Alvin. Setelah sekian lama akhirnya Alvin datang dengan masih memakai seragam.
"Rasya?"
"Udah lama?" tanya Alvin yang langsung duduk di samping bunda.
"Kamu mandi dulu sana bau" ungkap bunda yang menutup hidungnya.
Alvinpun nurut dan langsung menaiki tangan mungkin menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Aku menunggunya dan sesekali bertanya pada bunda tentang Alvin.
__ADS_1
"Bunda, Alvin pernah operasi mata?" tanyaku begitu saja memastikan karena teringat akan ayahku.
"Kok kamu tahu, Alvin cerita?" tanya bunda yang terkejut.
Dalam hati aku terasa tertusuk sebuah benda tajam yang menusuk-nusuk hatiku terasa sakit dan pedih. Benar dugaanku tentangnya, tentang seseorang yang menabrak ayahku hingga tewas dan aku dengar ayahku mendonorkan matanya untuk anak yang menabraknya.
"13 Januari 4 tahun lalu?" tanyaku memastikan karena masih tak percaya akan kenyataan ini.
"Iya pas hari ulang tahunnya"
"Ulang tahun?"
"Makannya pada saat itu dia trauma karena kecelakaan yang menimpanya dan dia kehilangan kakaknya"
"Kak Alvin punya kakak?"
"Sya pulang sekarang atau-" tanya Alvin yang sudah siap mengantarkanku dengan jaket jeans yang dipakainya.
"Sekarang aja" jawabku.
"Aku pamit ya bunda" pamitku pada bunda.
"Kapan-kapan ke sini lagi ya" jawab bunda.
Aku pulang bersama Alvin dengan menaiki mobilnya. Langit terlihat senja, matahari pamit dengan kesan indah yang menghiasi langit berwarna oranye.
"Suka senja?" tanyaku pada Alvin yang sedang mengendarai mobilnya.
"Aku lebih suka kamu" jawabnya.
"Gombal"
"Loh emang tadi aku bilang apa?"
"Suka kamu"
"Makasih"
"Ck"
Tertipulah aku dengan gombalan recehnya.
"Kamu punya kakak?" tanyaku.
"Hah?" Alvin terlihat sangat kaget mendengarnya.
"Gakpapa kalau gak mau cerita"
"Dia sudah meninggal"
"Hah?"
"Waktu itu kami mengalami kecelakaan dan-"
"Udah gak usah dilanjutkan" potongku melihatnya seperti tidak kuat untuk berbicara lebih lanjut lagi.
Seperti biasa setelah sampai, aku turun dari mobilnya dan Alvin langsung pergi begitu dia pamit kepadaku.
__ADS_1
Aku memasuki rumah dengan berjalan gontai tidak habis pikir tentang aku dan dia. Takdir mempertemukan dengan sakit yang selama ini terpendam. Aku harus apa? Ikhlas atau menjauhi dirinya?
ketika aku melihat ibu yang sedang duduk menbaca buku majalah. Aku langsung memeluknya menangis dan menceritakan tentang Alvin. ibu berusaha menghiburku dengan nasihat bahwa kematian ada di tangan tuhan, mungkin jalan ayah yang harus begitu dan aku harus terima. Tapi apa mungkin jika aku bersamanya aku akan menerima takdir bahwa karena dia ayahku meninggal? atau aku harus berpindah hati dan merelakannya? Entahlah saat ini aku hanya menjalaninya biarlah hari esok menjadi rahasia yang maha kuasa dan akan terbuka pada saatnya tiba di waktu yang tepat untukku juga untuknya.