
Aku masih bersama Alvin berdua di sini taman kota yang masih banyak pengunjung.
"Zio ninggalin kamu sendiri?" tanya Alvin.
"Dia ada urusan mendadak."
"Ya setidaknya anterin kamu pulang dulu kek."
"Ya biarinlah."
"Aku janji tidak akan meninggalkan kamu sendiri dalam senang maupun duka."
"Lu ngomong apa sih."
"Janji seorang-"
"Udah" potongku.
"Ck" Alvin berdecak kesal.
"Kamu masih temenan sama Fara?" tanyanya.
"Fara?"
"Enggak ya? Kenapa? Padahalkan Fara baik."
"Fara baik? Lu kenal darimana?"
"Farakan temen kamu dari kecil?"
"Hah?"
"Iya waktu di puncak itukan ada Fara juga."
"Fara juga ada?" tanyaku sedikit bingung karena sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
"Tapi setelah kamu kenal aku, kamu cuekin Fara kan? Kamu tidak menganggapnya temen lagi."
"Gue gitu?"
"Mungkin kamu gak inget tapi kamu pernah ngusir Fara loh sampai jatuh dan setelah aku tanya siapa Fara, kamu hanya bilang tidak kenal."
"Astaga gue jahat banget."
"Yang penting kamu gak gitukan sekarang?"
"Ya enggaklah buat apa"
Kami terdiam beberapa menit. Aku terhanyut dalam pikiranku sendiri. Aku tidak percaya dengan perkataan Alvin tapi itulah kenyataannya. Fara ternyata ada dalam beberapa kenangan yang tidak aku ingat. Kenapa bisa aku tidak mengingatnya bahkan saat TK dan SD. Jika memang aku dan Fara berteman kenapa kita tidak saling sapa saat masuk TK dulu? Tidak bersahabat saat SD? Tidak saling mengenal saat SMA? Apa hubungan kami begitu buruk? Atau hanya aku yang bersikap buruk padanya? Aku benar-benar bingung kali ini.
"Vin kayanya gue harus minta maaf deh" ungkapku pada Alvin yang saat kulihat dia tengah memandang 2 anak laki-laki berumur 7 tahun dan 3 tahun sedang bermain mobil mainan.
__ADS_1
"Itu bagus" jawabnya namun wajahnya seperti sedang melamun.
"Kenapa?" tanyaku sedikit khawatir karena wajahnya kini terlihat sedikit pucat.
Namun Alvin tidak menjawabku dia hanya terus memandang sedih ke arah 2 anak tadi.
"Alvin pulang yuk?" ajakku menariknya yang tengah duduk santai yang dijawabnya dengan anggukkan.
Saat Alvin sudah naik ke motor ninja warna kuningnya, Alvin melihatku yang tengah bersiap menaiki motornya dia seperti memikirkan sesuatu.
"Ngapain?" tanyanya seperti serius.
"Hah?"
"Ikut?" tanya Alvin lagi namun dengan nada ledekan.
"Enggak gue pulang sendiri" jawabku sedikit bentakkan dan bersiap melangkah pergi namun tanganku tercegah Alvin.
"Bercanda cepet naik" cengirnya.
"Gak lucu" sinisku.
Kami menikmati suasana kota setelah duduk di taman berjam-jam lamanya mengobrol dengan dia yang tidak kusangka akan menjadi seperti ini. Nyaman saat bersamanya, saat kutatap matanya memang seperti ayahku namun entah kenapa aku berpikiran itu bukan mata ayahku padahal aku yakin itu hasil dari donor mata ayahku.
Indah perkotaan dengan lampu warna warni menghiasi mulai dinyalakannya karena hari sudah mulai gelap. Toko-toko berjajar dengan kekhasan mereka menjadikannya berbeda namun tetap satu dalam kata indah.
Aku melihat sekeliling menikmati indahnya perkotaan yang berselimut gelap namun indah karena terang lampu yang menghias. Saat aku lihat ke dalam restoran yang cukup terkenal di sana aku mempertajam penglihatanku melihat orang yang tidak asing.
"Terus kenapa?" tanyanya.
"Kok Rasya sama Fara ya? Kan dia lagi deket sama Sita."
"Jangan negatif mulu mungkin dia saudaranya, waktu itu juga aku dan Jimin kamu kira kita pacarankan?"
"Iya juga sih" aku menggaruk leher tak gatal.
"Tunggu kamu tahu darimana aku berpikir kalian pacaran?" tanyaku.
Alvin hanya mengangkat kedua bahunya dan melajukan motornya lagi karena macet sudah mulai berjalan lancar.
Saat sampai depan rumah dengan jam menunjukkan pukul 19.30 WIB. Ibu tiba-tiba datang melihat aku dan Alvin dengan sinis.
"Turun" sinis ibu melihatku.
"Rasya udah di sini ibu." jawabku.
"Bukan kamu tapi dia." ibu menunjuk Alvin dengan matanya.
Alvin yang mengerti langsung turun dari motornya dengan sedikit gugup.
"Masuk" sinis ibu lagi dan berjalan dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
__ADS_1
Aku lihat Alvin mengkodeku dengan dagunya seolah bertanya 'kenapa?' aku yang melihatnya hanya menggelengkan kepala bertanda tidak tahu dengan sikap ibu yang tiba-tiba berubah. Aku dan Alvin mengikuti ibu dari belakang.
Setelah sampai di ruang tamu dengan ibu yang masih menyilangkan tangannya di dada dia memperhatikan Alvin dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aku melihat Alvin yang gugup dan sesekali menggaruk lehernya yang mungkin tidak gatal.
"Jadi kamu Alvin?" tanya ibu.
"Iya tante" jawab Alvin.
"Udah lama kenal Rasya?"
"Alvin kenal Rasya udah lama tapi baru ketemu lagi beberapa bulan ini" jawab jujur Alvin.
"Orang tua kamu ada?" tanya ibu lagi dan aku hanya diam mematung melihat keduanya.
"Ada."
"Kamu tinggal bareng orang tua?"
"Udah bu." aku berusaha menghentikan suasana tegang ini.
"Sama bunda sepupu." jawab Alvin gugup.
"Bunda sepupu? Bundanya sepupu kamu?" tanya ibu yang mungkin tidak mengerti.
"Sama bunda dan sepupunya bu" jawabku memegang lengan ibu untuk memberhentikannya.
"Kalau ditanya itu jawabnya yang tegas dong, laki-laki kok lembek" ibu dengan senyuman sinisnya.
"Terus ayah kamu?"
"Ayah lagi kerja di Paris."
"Nah gitu dong jawabnya tegas."
"Terus kamu nerima Rasya apa adanya?" tanya ibu yang berhasil mengejutkanku.
"Ibu apaan sih?" Kini aku lebih berusaha menghentikannya.
"Alvin nerima Rasya karena ada apanya" jawab Alvin yang membuatku lebih terkejut.
"Vin maksud kamu apa?" tanyaku.
"Terus kamu lihat apanya dari Rasya?" lanjut ibu mungkin sama terkejutnya sepertiku.
"Cantik" jawab Alvin dengan matanya yang melihat ke arahku.
"Alvin yakin hatinya juga cantik, bukan Alvin yang nerima apa adanya Rasya tapi harusnya Rasya yang nerima kekurangan Alvin dengan apa adanya karena dimata Alvin Rasya sudah terlalu sempurna." lanjutnya lagi.
Seketika wajahku panas. Penuturan Alvin mampu membuatku tidak karuan, panas juga dingin tercampur menjadi satu.
"Mau duduk dulu apa pulang?" tawar ibu yang menyadari Alvin yang dari tadi hanya berdiri dan mungkin sudah puas dengan jawaban Alvin.
__ADS_1
"Pulang aja tante" jawab Alvin.