
**
Sabtu yang sofi habiskan satu hari penuh dengan ardi, bukan sabtu terakhir kebersamaan mereka.
Sofi berencana pergi di hari sabtu minggu ini dengan ardi lagi, atau mungkin sofi mulai menyebutnya mas ardi sekarang.
Sofi sedikit tertawa ketika ardi meminta sofi untuk memanggilnya mas ardi.
Tawa sofi bukan bermaksud untuk menyinggung ardi, hanya saja, bagi sofi itu terdengar aneh jika keluar dari mulut sofi.
Sofi tidak menyangka kalau ardi merupakan sosok yang menyenangkan, dibalik wajah dinginnya.
Menurut sofi, ardi adalah pendengar yang baik, sedikit perhatian dengan sofi, juga sangat pendiam.
Bagi sofi, ardi merupakan sosok yang terlihat biasa saja, tidak tampan, tapi ardi punya sisi misterius, yang membuat ardi terlihat berbeda di mata sofi.
Lesung di kedua pipi ardi, dan senyum tipisnya, membuat ardi terlihat manis di mata sofi.
Sofi juga bisa merasakan ketulusan ardi untuknya.
Ardi masuk ke office kit, seolah-olah dia mengetahui kalau sofi sedang memikirkan soalnya.
"Sudah makan sof", tanya ardi pada sofi.
"Sudah mas baru aja selesai", jawab sofi sambil membereskan sisa makan siangnya.
"Ini makan dulu pudingnya", ujar ardi, sambil menyerahkan puding favorit sofi pada sofi, setelah ardi membuka tutupnya.
Sofi mengambilnya tanpa prasangka apapun.
Sofi kira selama ini ardi menjauhi hubungan pertemanan dengan perempuan, tentu saja sofi tidak ingin berburuk sangka, kalau ardi tidak menyukai perempuan.
Pernah terlintas di benak sofi kalau mungkin ardi penyuka sesama jenis, dan ketika sofi menyampaikan hal itu pada ardi, ardi hanya tertawa.
Sofi juga beberapa kali menanyakan soal ardi pada bu maria, menurut bu maria ardi sangat pendiam, dan hanya berbicara hal yang menyangkut pekerjaan.
Bu maria sangat jarang melihat ardi terlibat perbincangan selain tentang pekerjaan.
Darko juga mengatakan ardi hanya fokus dengan pekerjaannya.
Ardi jarang bergaul, dan hanya berbicara seperlunya, menurut mila.
Sofi tidak ingin terlalu banyak ingin tahu soal kehidupan ardi.
Sofi hanya punya pemikiran, kalau ardi ingin sedikit berbagi cerita tentang hidupnya, sofi siap untuk menjadi pendengar yang baik, sama seperti ardi pada sofi.
Perlahan tapi dengan pasti, ardi menjadi sedikit terbuka dengan sofi.
Ardi tidak terlihat menghindari sofi lagi, setelah banyaknya sabtu sore yang mereka habiskan bersama.
Sofi juga lebih sering melihat ardi ada di sekitarnya, dibanding sebelumnya, yang bahkan hampir tidak terlihat oleh sofi.
Darko, ardi, sofi, dito, mila dan pak tito merupakan penghuni tetap office kit, karena tempatnya kecil dan sempit, membuat mereka menjadi lebih mudah akrab.
Jangka waktu pekerjaan masih lama, jadi mereka berusaha untuk selalu berbaur, berdiskusi, dan bercanda.
Friendship sistem seperti itu, menurut sofi, yang sering membuat jalannya sebuah konstruksi, berlangsung dengan baik, cepat dan berkualitas.
"Mila excavator untuk pindahin pasir kapan masuk", tanya sofi pada mila.
"Senin nanti baru bisa masuk", jawab mila.
Mila kemudian kembali ke pekerjaannya, beginilah di konstruksi, semua harus sesuai jadwal dan detail.
Jika ada satu keterlambatan, maka yang lainnya pun akan terlambat.
Biasanya seusai jam kerja habis, sofi makan malam, lalu menonton film terbaru, atau menonton drama korea yang di mainkan oleh aktor favorit sofi.
Sebelumnya, di paviliun ada sudut ruangan di dekat kamar sofi yang kosong.
Pak tito kemudian membuat ruangan itu menjadi ruang santai.
__ADS_1
Pak tito juga membeli sofa sekaligus memasang televisi di sudut ruangan paviliun tersebut.
Internet di paviliun juga sangat kencang.
Sofi sangat mensyukuri dukungan fasilitas yang tersedia di paviliun.
Meski sofi lebih sering menonton di kamar, tapi tak jarang, sofi juga menonton di ruang santai.
Jam lima sore biasanya sofi sudah di paviliun.
Begitu sofi masuk ke kamar, sofi melihat ada pesan masuk di handphonenya.
Ternyata dari papanya, papa alex memberi kabar kalau minggu depan dia akan ke manado.
Papa alex juga mengajak sofi untuk pergi ke bunaken.
Sofi langsung membalas pesan papa alex dengan tanda love dan jempol tanda setuju.
**
Selama bulan september sampai oktober, sofi menyadari dan merasakan perhatian yang di berikan oleh ardi mulai sedikit berlebihan.
Hal itu membuat sofi sedikit mengerutkan alis, tapi sofi tidak ingin menanyakan langsung pada ardi, karena sofi khawatir, itu hanya prasangka sofi saja.
Sofi tidak ingin terlihat salah menangkap perhatian ardi, yang mungkin itu sifat asli ardi, dan mungkin ardi juga memberikan perhatian ke rekan kerja yang lainnya juga.
Rutinitas perhatian yang ardi berikan untuk sofi memang sangat berlebihan, ardi selalu terlihat ada di office kit setiap pukul satu siang.
Padahal jadwal ardi di shift malam, mulai masuk di jam dua siang.
Darko selalu datang tepat jam dua siang sampai di konstruksi, saat dia dapat jadwal di shift malam, dan dulu ardi juga selalu datang di jam yang sama.
Meski ardi kadang datang lebih awal lima sampai sepuluh menit, tapi tidak pernah datang sampai satu jam lebih awal.
Jam satu siang adalah waktu saat sofi baru selesai makan siang, dan biasanya sofi sendiri.
Darko selalu bergegas kembali ke lapangan setelah makan siang.
Ardi selalu membuka pintu kulkas begitu dia sampai di office kit.
Mengambil puding, membuka tutupnya, dan memberikannya pada sofi.
Tanpa ucapan apapun, atau hal lainnya, ardi hanya tersenyum saat menyerahkan puding favorit sofi.
Selain itu, ardi selalu datang ke office kit pukul 04.45 sore, lima belas menit sebelum sofi pulang.
Ardi melaporkan proggres pekerjaannya, dan mengambilkan jaket sofi, lalu memakaikannya pada sofi.
"Aku bisa pakai sendiri mas", ujar sofi setiap ardi membantunya.
"Aku bantu aja, mungkin kamu capek", jawab ardi.
"Semua orang lelah disini mas, kamu bantu mereka semua", ujar sofi, dengan sedikit menggoda ardi.
Ardi hanya tersenyum lalu pamit kembali ke lapangan.
Selain itu, ada sebuah bangku yang terletak di tengah-tengah perjalanan ke paviliun, tepat di bawah pohon akasia.
Bangku itu muat untuk duduk dua orang, dan ada sandarannya.
Sofi selalu melewati bangku itu ketika sofi pulang ke paviliun.
Sofi sering melihat ardi duduk disitu, di sore hari, ketika shift pagi ardi berakhir.
Sofi tidak begitu menaruh perhatian pada ardi, dan selalu berjalan pulang seperti biasa.
Hal yang membuat sofi merasa aneh, ardi selalu sampai di paviliun, tidak berselang lama setelah sofi tiba di paviliun.
Sofi merasa kalau ardi selalu menunggunya dan mengawal sofi pulang.
Sofi juga menyukai keberadaan bangku itu, biasanya sofi duduk disitu, saat ingin bersantai sejenak, tapi tidak sesering ardi.
__ADS_1
Setiap hari sabtu pagi, saat sofi libur, begitu sofi membuka kamar, ardi selalu sudah terlihat di meja makan, rapi dan tentu saja wangi.
Sementara sofi masih dengan baju tidurnya, kelaparan, dan lupa, mandi itu apa.
"Sofi, aku bikin telur kukus, cobain deh", ujar ardi di suatu pagi.
Ardi kemudian menyodorkan telur di mangkok kecil ke depan sofi.
"Wah, aku juga mau dong mas", ujar sebuah suara yang terdengar seperti mila, dan memang mila yang sedang berusaha menarik kursi dari bawah meja.
"Kok saya nggak di tawarin, padahal dari tadi saya duduk disini", ujar pak tito sambil melipat korannya.
Ardi kemudian memberi mereka satu persatu telur kukus buatannya.
"Enak juga ini", ujar pak tito.
"Itu resep ibu saya pak", jawab ardi.
Ardi menatap sofi sekilas setelah menjawab pertanyaan pak tito.
"Makasih mas ardi", jawab sofi saat sofi menangkap tatapan ardi untuknya.
Saat sofi sibuk dengan semua sarapannya, sofi merasa kalau ardi tak henti menatap sofi.
Sofi hanya bisa tersenyum, saat matanya bertemu dengan tatapan ardi.
Tak lama dito bergabung dengan sofi dan yang lainnya.
Dito juga ingin mencicipi telur kukus buatan ardi.
Setelah selesai sarapan, dito dan mila kembali ke kamar mereka, sementara pak tito pergi dengan pak dante.
Tinggalah sofi dan ardi sendiri di meja makan.
Karena tidak tahu mau mengobrol apa dengan ardi, sofi memutuskan untuk makan sambil menonton.
"Sofi suka telurnya", tanya ardi dengan pelan.
"Suka kok, ini sisa satu lagi aku makan ya", jawab sofi.
Sofi melihat sekilas ke arah ardi, saat menjawab pertanyaan ardi, sofi kemudian tersenyum, dan kembali menonton drama koreanya.
"Sofi hari ini mau kemana", tanya ardi lagi.
"Aku paling sore nanti pingin ke pantai", jawab sofi.
Beberapa menit kemudian, ardi pamit pada sofi untuk kembali ke kamarnya.
Setelah menonton episode terakhir dari drama korea yang sudah sofi tonton sejak dua minggu terakhir, sofi merasa lelah.
Lalu sofi melihat jam di handphonenya, dan sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Sofi bergegas untuk mandi, lalu bersiap-siap pergi ke pantai.
Ardi sedang berdiri di dekat meja makan, saat sofi keluar dari kamar.
Ardi memakai kaos putih, dan celana olah raga panjang berwarna abu-abu.
Ardi terlihat masih menelvon, tapi begitu ardi melihat sofi berjalan kearahnya, ardi langsung menutup telvonnya.
"Sof, aku bisa bareng nggak, mau ada yang ku beli", ujar ardi, begitu sofi sampai di dekatnya.
Sofi menyetujui, dan mereka membawa motor darko keluar dari paviliun.
Sofi mencium aroma segar dan wangi dari tubuh ardi, sofi menyukai aroma parfum yang sofi sering cium saat ardi ada di dekatnya.
Sofi ingin sekali menanyakan, apakah ardi sudah punya kekasih atau istri, saat ardi sedang berdua dengan sofi, tapi sofi selalu mengurungkan niatnya untuk bertanya, karena sofi merasa itu bukan urusan sofi.
Sofi tidak ingin melompat dengan tidak sopannya ke privasi ardi, jadi sofi hanya menduga kalau ardi masih single.
**
__ADS_1