Hati Untuk Sofi

Hati Untuk Sofi
Penyatuan 1


__ADS_3

**


"Hai, apa kabar", ujar sofi, yang memaksa dirinya melihat ardi.


Sofi tak lupa memamerkan senyum terbaiknya, untuk pria yang sudah menghancurkan hatinya.


Ardi hampir tertawa mendengar sapaan dari sofi.


Hai, apa kabar, pikir ardi dalam benaknya.


"Tentu saja aku tidak baik-baik saja", ujar ardi dalam benaknya pada sofi.


Sofi kemudian meminta ardi melepaskan tangannya.


"Bisa ngobrol sebentar", pinta ardi pada sofi.


"Aku harus balik buru-buru ke bandara", ujar sofi berbohong.


"Lima menit aja sof, please", pinta ardi sambil meraih tangan sofi kembali.


Setelah sofi menyetujui, ardi mengikuti sofi, dan berjalan di belakang sofi.


Sofi membawa langkahnya ke taman yang ada di samping rumah sakit, kemudian dia duduk di kursi yang ada di taman tersebut.


Ardi menyusul sofi untuk duduk di sampingnya.


"Sof, kenapa kamu pergi begitu aja, tanpa meninggalkan pesan apapun untukku", ujar ardi, membuka pembicaraan.


Ardi berusaha berbicara selembut mungkin.


"Memang pesan apa yang bisa aku tinggalkan untuk suami orang", jawab sofi.


Meski dengan suara rendah, tapi ada nada ketus dari sofi yang bisa ardi tangkap.


"Kalau kamu masih punya nomer aku, aku boleh minta kamu untuk membuka blokirnya", pinta ardi.


Sofi hanya diam, dan tidak menjawab.


"Saat ini aja sof, aku mohon, kamu bisa blokir nomer aku lagi setelahnya", ujar ardi, tapi sofi tetap terdiam.


"Aku ingin kamu kasih aku kesempatan, untuk menjelaskan yang terjadi lima tahun lalu", ujar ardi dengan nada memohon.


Sofi tidak menatap ardi, hanya terdiam, kemudian sofi mengeluarkan handphone dari tasnya.


"Sudah", ujar sofi dengan nada seperti ingin segera menyudahi percakapannya dengan ardi.


Ardi mengabaikan sikap dingin sofi, kemudian mengirimkan surat perceraian ardi ke nomer sofi.


Ardi melihat senyum tipis terukir di bibir sofi, saat sofi membaca dokumen yang ardi kirimkan.


Sofi meletakkan handphonenya, dan kembali memasang wajah tidak peduli untuk ardi


"Aku mencarimu sof, kemana-mana", ujar ardi mulai menjelaskan.


"Aku ke kantor kamu, juga cari rumah kamu di BSD", ujar ardi lagi.


"Sesudah atau sebelum surat ini", tanya sofi, terdengar sedikit melunak.


"Sebelum dan sesudah sof, aku berutang penjelasan ke kamu sof", jawab ardi.


"Silahkan di jelaskan", ujar sofi kembali dengan nada dingin.


Ardi mulai menjelaskan semua hal pada sofi.


Mulai dari saat pertama kali ardi melihat sofi, sampai akhirnya ardi pergi meninggalkan sofi.


Ardi menjelaskan bahwa perasaannya untuk sofi nyata.


Awalnya ardi hanya ingin menyimpannya sendiri, tapi akhirnya, tanpa sadar ardi mulai menunjukkan perasaannya untuk sofi.


"Aku cuma ingin cintai kamu sof, aku tidak berharap kamu membalasnya", ujar ardi.


"Aku sakit hati banget saat aku balik ke manado, tapi kamu sudah pergi", ujar ardi lagi sambil menatap sofi.


Ardi menjelaskan betapa dia sangat mencintai sofi, perasaan ardi juga sangat tulus untuk sofi.


"Selama lima tahun aku cari kamu sof, perasaanku untuk kamu, tidak pernah berubah sedetikpun, tetap besar dan nyata", ujar ardi dengan sedikit putus asa.

__ADS_1


Sofi terlihat mengusap air matanya begitu ardi selesai berbicara.


Ardi tidak tahu, kalau sofi juga mencintai ardi sama besarnya.


Rasa yang sofi pikir sudah hilang di terpa waktu, ternyata masih bersembunyi dengan indahnya di hati sofi.


Rindu yang sofi pikir sudah terkikis, ternyata masih utuh terbungkus.


Sofi masih belum berani menatap ardi, sofi hanya menanyakan kenapa ardi tidak pernah memberitahu sofi kalau dulu dia sudah menikah.


"Aku ingin sof, tapi aku juga tidak ingin kehilangan kamu saat itu juga", ujar ardi.


Ardi lalu meraih tangan sofi dan menatap sofi.


"Sof, boleh nggak, untuk sekali ini aja, aku memelukmu", ujar ardi dengan sedikit memohon.


Sofi akhirnya melihat ardi, tersenyum pada ardi, dan menyetujui ardi untuk memeluknya.


Sofi tenggelam dalam tangis bahagiannya di pundak ardi.


Ardi tidak akan pernah tahu betapa bahagiannya sofi saat ini, mengetahui dia bisa memiliki orang yang dulu sofi cintai dengan sangat dalam.


Perjalanan sofi menyembuhkan luka hatinya karena kondisi ardi, berakhir dengan bahagia, karena ardi sekarang ada di peluk sofi, dan ardi baru saja mengatakan seluruh isi hatinya untuk sofi.


Sofi tidak menyangka, meski lima tahun telah berlalu, tapi cinta ardi untuk sofi, masih belum pudar.


"Kamu jahat sekali mas, kamu nggak tau betapa susahnya aku ngelupain kamu", ujar sofi sambil terisak.


"Sekarang jangan pernah berusaha untuk lupain aku lagi ya sof, aku miliki kamu seutuhnya, dulu dan untuk selamanya", ujar ardi, sambil mengelus rambut sofi.


Sofi melepaskan pelukannya dari ardi saat dia sudah kembali tenang.


Ardi kemudian mengusap wajah sofi yang penuh air mata dengan sapu tangannya.


Ardi lalu mengecup pipi sofi dengan sangat tulus


"Aku harus kembali ke semarang mas, aku terbang jam lima sore, ujar sofi.


Ardi menarik tangan sofi, mengenggamnya, lalu mengecup tangisnya kembali, mencium keningnya, pipinya, lalu bibirnya.


Ardi mencium sofi dengan segala kerinduan yang ia miliki untuk sofi.


Sofi tersenyum sangat cantik saat ardi melepaskan ciumannya.


"Aku akan antar kamu ke bandara", ujar ardi sambil mengusap bibir sofi.


"Oke", jawab sofi.


Ardi masih enggan untuk melepas sofi, ardi kemudian kembali mencium sofi, dan menyalakan api gairah di tubuh sofi.


Sofi menanyakan kenapa ardi ada di rumah sakit, setelah ardi melepas ciumannya.


Ardi langsung teringat akan arsya, ardi kemudian berfikir, mungkin arsya sedang mencarinya.


"Checkup sof, adikku kerja di rumah sakit ini", ujar ardi sambil mengambil handphone dari saku jaketnya.


"Siapa", tanya sofi pada ardi.


"Arsya", jawab ardi sambil mencari nomer arsya.


Bola mata sofi langsung melebar, dan terkejut karena dia mengenali arsya.


"Dokter arsya, dari bedah paru-paru", ujar sofi, dan di sambut anggukan oleh ardi.


"Pantas saja dia terlihat mirip kamu mas", ujar sofi.


"Setiap aku kesini aku berusaha hindari dia, karena sangat mirip kamu", ujar sofi lagi sambil tersenyum dan menatap ardi.


Ardi kemudian meminta sofi untuk menunggu, dan ardi langsung beranjak untuk menelvon arsya.


Arsya terdengar santai, saat menjawab telvon dari ardi, dan arsya bilang, dia akan masuk ruang operasi sebentar lagi.


Arsya juga mengatakan, kunci mobil sudah arsya titipkan pada suster lika di lantai dua.


Ardi langsung berlari ke lantai dua, karena ardi tidak ingin membuat sofi menunggu terlalu lama.


Ardi mengajak sofi untuk pergi makan siang terlebih dulu, sebelum mengantarkan sofi ke bandara.

__ADS_1


Dulu ataupun sekarang, ardi masih ingin mengungkapkan cintanya untuk sofi.


Ardi mengelap peralatan makan sofi dengan tisu, sebelum sofi mulai makan, seperti dulu.


Ardi juga mengelap bibir sofi, saat ardi melihat ada sedikit noda di sudutnya, seperti dulu.


Ardi juga membuka bungkus permen yang sofi selalu bawa, dan sofi selalu hisap, setelah sofi makan, seperti dulu.


Selesai makan, dan menciumi sofi kembali di mobil, ardi mengantar sofi ke bandara.


Ardi baru bisa melepas sofi, setelah menciumi sofi berulang kali.


Ardi berjanji akan menemui sofi tiga hari lagi, karena ardi masih memiliki cuti panjang.


Sofi mengiyakan dan berjalan menjauh dari ardi.


Melihat sofi menjauh, dan hilang dari pandangan ardi, membuat ardi kembali merindukan sofi.


Senyum masih belum pergi dari wajah ardi, saat ardi membawa mobil arsya menuju rumahnya.


Perjalanan ardi mencari sofi selama lima tahun, di balas dengan ciuman yang sangat hangat dari sofi.


Ardi tidak bisa lebih bahagia lagi, karena cintanya sudah kembali ke pelukannya.


**


Paginya, arsya terus menatap ardi sepanjang sarapan.


Ardi hanya bisa menanyakan tingkah arsya melalui tatapannya.


Arsya tersenyum dan tidak bisa menahan diri lagi untuk menggoda ardi.


"Ibu sebentar lagi mantu nih", ujar arsya, sambil melirik ardi yang enggan berhenti tersenyum.


Ibu langsung keluar dari dapur dengan wajah penasaran.


"Kamu sudah melamar siapa sya", tanya ibu pada arsya.


"Bukan aku loh bu", jawab arsya sambil melirik ke arah ardi.


"Sopo sek arep mbojo", tanya mbak suti sambil membawa dua teh manis untuk ardi dan ibu.


"Siapa sya, jangan bikin ibu penasaran", tanya ibu lagi sambil menepuk pundak arsya.


"Anak ibu loh cuma dua, kalau bukan aku, ya itu tuh, yang lagi nyendok bubur", jawab arsya sambil melihat ke arah ardi.


Ardi hanya tersenyum pada ibu, dan menendang kaki arsya secara pelan.


Semua orang langsung melihat ke arah ardi, begitupun dengan miko, anak mbak suti yang sarapan di samping ardi.


Akhirnya ardi menceritakan kalau kemaren ardi bertemu sofi.


"Apa, sofi siapa to yang", tanya miko yang terlihat tidak puas dengan cerita ardi, dan bertanya pada ibu ardi, yang memang selalu dipanggil eyang oleh miko.


"Orang kemaren pelukan lama banget di taman, apa nggak tahu adikknya udah kelaparan", ujar arsya, dengan mimik muka lucu.


Ibu hanya tersenyum melihat ardi dan arsya.


Mbak suti kemudian melihat jam di dinding, lalu pamit pada ibu, dan bergegas mengantar miko sekolah, karena hampir telat.


"Makasih ya sya", ujar ardi.


"Itulah fungsi adek mu mas, makanya mas harus lebih sayang lagi sama aku", ujar arsya, sambil memasukkan roti coklat ke mulutnya.


"Sesama saudara harus saling sayang", pinta ibu, sambil menarik mangkuk berisi bubur ke hadapannya.


Arsya menceritakan pada ibu dan ardi, kalau dia melihat sofi selalu berkunjung setiap bulan ke rumah sakit.


Arsya kemudian mencari informasi mengenai kunjungan sofi setiap bulannya.


Begitu arsya sudah mendapat semua informasi, arsya langsung meminta ardi untuk cuti, dan meminta ardi tepat ada di manado sebelum tanggal sembilan juni.


Ardi langsung berterima kasih pada arsya karena sudah sangat mendukungnya.


Ardi kemudian meminta ijin pada ibu untuk pergi ke semarang di hari sabtu, dan akan kembali ke manado, minggu terakhir sebelum cutinya selesai.


Tidak ada satupun yang keberatan, bahkan ibu langsung menyetujui.

__ADS_1


**


__ADS_2