
**
Semua yang menimpa ardi bukanlah petaka, hanya takdir yang harus ardi jalani.
Pertemuan ardi dengan sofi bukanlah karena mereka terlambat bertemu, hanya waktu yang dengan liciknya mempertemukan mereka, membuat mereka jatuh cinta, di saat yang tidak tepat.
Semua cerita takdir yang harus ardi jalani, bermula saat ayah ardi dan ayah maya bertemu di kampusnya dulu.
Pertemanan tetap terjalin sampai mereka lulus dari universitas.
Ayah ardi sudah pergi lebih dahulu meninggalkan dunia, dan genap dua tahun yang lalu ayah maya menyusul sahabat karibnya.
Kanker yang ayah maya derita selama dua tahun, akhirnya mengambil raga dan kehidupan ayah maya.
Tante keke, ibu mertua ardi, saat ini berusia empat puluh tahun.
Tante keke menikahi ayah maya, ketika dia masih belia, baru memasuki usia dua puluh tahun.
Tante keke adalah istri kedua ayah maya.
Ayah maya bernama hans, atau biasa ardi sapa dengan panggilan om hans.
Om hans menikahi ibu maya setelah istri pertamanya meninggal.
Istri pertama om hans, tidak bisa memberikan keturunan untuk om hans, karena sakit yang di deritanya.
Maya adalah anak tunggal om hans, om hans memiliki maya saat usianya memasuki empat puluh tahun.
Om hans merupakan orang yang sangat kaya di solo.
Dia memiliki dua belas pom bensin yang tersebar di solo dan jogja.
Selain itu, keluarga om hans juga memiliki pabrik cat di ungaran dengan omset milyaran dalam satu tahun.
Selain kaya, om hans juga sangat terpandang di solo, dia memiliki saham di beberapa yayasan sekolah yang ada di solo.
Ayah ardi dulunya hanyalah pegawai di kantor percetakan, tapi setelah dua tahun bekerja, om hans meminjamkan modal pada ayah ardi untuk membuka percetakannya sendiri.
Percetakan milik keluarga ardi berkembang sangat pesat selama dua puluh tahun, dan om hans juga menjadi orang yang sangat dekat dengan keluarga ardi.
Pernikahan maya dan ardi adalah atas initiatif ayah maya.
Sekitar empat tahun yang lalu, saat om hans di vonis terkena kanker, om hans meminta ardi untuk menjaga maya, dan om hans berjanji semua hutang keluarganya pada om hans akan di anggap lunas.
Biaya berobat ibunya ardi juga akan di tanggung oleh om hans.
Ibu hanya bisa menangis mendengar tawaran dari om hans, sementara rasya, adiknya ardi menolak.
Rasya bahkan tidak hadir di pernikahan ardi dan maya.
Ibu maya tidak senang dengan keputusan itu, sementara maya hanya bisa menangis.
Tangis maya membuat ardi merasa seperti orang jahat.
Saat itu maya baru lulus sekolah menengah atas, tapi om hans bersikeras meminta ardi untuk menjaga maya.
Om hans mengatakan akan menyumbangkan kekayaannya untuk panti asuhan saat om hans meninggal, jika tante keke, ibu maya menolak pernikahan ardi dan maya.
Tante keke tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, karena dia tidak ingin kehilangan harta dari suaminya.
Sementara om hans, meminta dengan sangat kepada ardi untuk menikahi maya.
Ardi tidak ingin menolak permintaan om hans, tapi ardi menyampaikan pada om hans, kalau ardi tidak akan menyentuh maya sampai dia berusia dua puluh lima tahun.
Setidaknya sampai maya cukup bijaksana untuk mengemban tugasnya sebagai seorang istri.
Om hans setuju dengan keputusan ardi, dan ibu maya terlihat lega.
Pernikahan terlaksana dengan sangat sederhana, hanya di hadiri keluarga terdekat ardi dan maya.
Hanya pak imam dan pak tono yang hadir mewakili kantor, tapi seluruh orang kantor sudah mengetahui bahwa ardi adalah pria beristri.
__ADS_1
Setelah kepergian ayah maya, semua bisnisnya di kelola langsung oleh ibu maya, mertua ardi.
Tante keke dengan tegas menyatakan dan meminta ardi untuk tidak ikut campur dengan bisnis yang ayah maya tinggalkan.
Ardi menyetujui dengan senang hati, karena ardi memang tidak tertarik dengan harta yang di miliki oleh maya.
Tante keke juga tetap menghitung hutang ardi pada om hans, setelah om hans meninggal.
Tante keke beralasan bahwa perjanjian itu tidak tertulis secara sah, dan hanya ucapan suaminya tanpa saksi.
Ardi tidak ingin berdebat atau membuat keributan, ardi menyetujui kemauan tante keke.
Semenjak itu, hubungan keluarga ardi dan keluarga maya menjadi renggang.
Rasya sangat membenci tante keke, begitu juga dengan ibunya ardi.
Ayah ardi sendiri meninggal saat ardi masih menjalankan ujian akhir nasionalnya.
Ardi baru saja menyelesaikan ujian nasional hari terakhir, dan baru saja membuat rencana untuk liburan ke bali dengan teman-teman SMA, setelah pengumuman kelulusan.
Ardi kemudian pulang ke rumah, dengan harapan bisa makan masakan ibu, tapi bukan senyum ibu yang menyambut ardi, bendera berwarna kuning yang ardi jumpai di depan rumahnya.
Sudah banyak orang berdatangan, saat ardi masuk ke rumah, dan waktu sudah menujukkan pukul satu siang.
Ardi hanya melihat sosok yang terbujur kaku di tengah ruangan di dalam peti, ibunya menangis di samping peti, dan rasya adiknya, memeluk ibunya.
Mbak suti asisten keluarga ardi langsung berlari ke arah ardi, ketika mbak suti melihat ardi di pintu masuk.
Ardi shock berat, karena yang di dalam peti adalah ayahnya.
Mbak suti menghampiri ardi, dan memeluk ardi sambil menangis.
Mbak suti mengatakan, kalau dia tidak bisa memberitahu ardi, karena ardi sedang menjalani ujian nasional.
Keluarga ardi tidak ingin ardi gagal menyelesaikan ujian nasionalnya, jadi mereka sepakat untuk tidak memberitahu ardi.
Ardi masih tetap berdiri kaku saat mbak suti memeluk ardi dan menjelaskan kondisi ayah sebelum ayah meninggal.
Menurut dokter, kematian ayah ardi di sebabkan oleh serangan jantung.
Ayah ardi di makamkan di sore hari, pikiran ardi menjadi sangat kosong setelah mengebumikan ayahnya.
Ardi masih belum bisa menerima kematian ayahnya.
Pagi sebelum ayahnya meninggal, ardi masih sempat berpamitan dengan ayahnya dan meminta doanya.
Ayah ardi hanya bilang, dia akan terus mendoakan ardi, dan percaya kalau ardi pasti akan berhasil.
Ayahnya tersenyum pada ardi, dan meminta ardi untuk bergegas biar tidak terlambat.
Ardi tidak menyangka, bahwa itu adalah senyum terakhir ayahnya untuk ardi.
Perasaan aneh memang menyelimuti ardi sebelum ardi berangkat sekolah, tapi ardi tidak menghiraukannya.
Siapa sangka, hari itu ardi kehilangan orang yang paling berarti di hidupnya.
Om hans, sering mengunjungi ardi dan keluarganya setelah kepergian ayah ardi.
Setiap om hans ke jogja, dan mampir untuk menemui keluarga ardi, om hans selalu menghibur ardi dan rasya adiknya.
Setelah seharian mengajak rasya dan ardi jalan, om hans selalu memberi ibu uang belanja sebelum pulang.
Seminggu setelah kepulangan ayah ardi, pihak bank datang ke rumah ardi, mereka memberi tahu ardi dan keluarganya, kalau ayahnya meninggalkan mereka hutang yang sangat banyak.
Tiga milliar katanya, itu adalah kali pertama ardi mendengar uang sebanyak itu.
Semenjak kedatangan pihak bank, ibunya menjadi sakit-sakitan.
Ardi terpaksa menjual rumahnya, usaha ayah ardi ternyata sudah bangkrut selama setahun terakhir.
Ardi dan keluarganya tidak mengetahui itu, karena ayahnya tidak pernah memberitahu mereka, ayahnya menyimpan beban itu semua sendiri.
__ADS_1
Ardi tidak marah pada ayahnya, karena dia pergi dengan meninggalkan beban yang sangat banyak kepada mereka.
Ayahnya sudah memberikan kehidupan untuk keluarganya lebih dari cukup, bahkan semenjak ardi masih belum bisa mengucapkan namanya.
Fasilitas kehidupan yang ayahnya berikan untuk keluarganya, semasa ayahnya masih hidup, menurut ardi cukup mewah.
Akhirnya keluarga ardi pindah ke daerah minomartani, rumahnya tidak seluas rumah mereka di jalan cik di tiro, tapi halamannya sangat luas.
Ternyata hasil penjualan rumah tidak cukup untuk menutupi hutang ayahnya.
Ardi akhirnya menandatangani pernyataan pada bank untuk menyicil selama dua puluh tahun, dengan cicilan sembilan juta perbulan.
Untungnya, Ibunya ardi masih punya tabungan untuk membiayai hidup mereka dan sekolah rasya adiknya.
Om hans membayar cicilan keluarga ardi selama sepuluh tahun, tapi itupun di bebankan sebagai hutang untuk ardi dan keluarganya.
Ardi tetap harus membayar hutangnya, saat ardi lulus kuliah, dan mulai bekerja.
Selain cicilan yang sudah di bayar om hans selama sepuluh tahun, om hans juga membantu keperluan rumah tangga keluarga ardi, sampai ardi bisa menghidupi keluarganya.
Kebutuhan untuk rasya sekolah juga selalu di bantu oleh om hans.
Keluarga ardi sangat berterima kasih oleh bantuan dari om hans, dan itu semua membuat ardi dan keluarganya memiliki hutang budi yang sangat besar pada om hans.
Ardi bekerja selama setahun sebelum masuk kuliah, hasilnya lumayan, tapi ibunya meminta ardi untuk tetap kuliah.
Ardi akhirnya setuju, dan mendaftar beasiswa.
Selama kuliah, ardi tetap menjalaninya sambil bekerja.
Ardi bekerja di malam hari dan di hari libur untuk membantu ibunya memenuhi kebutuhan mereka.
Ibunya berusaha untuk berjualan, tapi ibunya tidak berbakat, dan sering merugi.
Akhirnya ardi meminta ibunya untuk berhenti dan di rumah saja.
Ardi dan rasya bekerja di sela-sela sekolah mereka, setidaknya rasya bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.
Tabungan ibu ardi memang cukup banyak, karena ibunya tidak boros saat ayahnya masih hidup, tapi ardi tidak tenang jika hanya mengandalkan tabungan ibunya.
Hari-hari yang sebelumnya begitu santai untuk ardi, berubah menjadi hari yang sangat padat.
Rasya masih sekolah di tempat lamanya, di SMU 6 jogja.
Malam harinya rasya bekerja sebagai operator warnet.
Sementara ardi, malam hari ardi bekerja di pom bensin, dan menjadi tutor matematika saat ardi ibur kuliah.
Sebetulnya keluarga ardi sudah tidak mampu untuk membayar gaji mbak suti, tapi mbak suti bersikeras untuk tinggal.
Ardi senang dengan keputusan mbak suti, tapi ardi juga sedih, karena hanya bisa ala kadarnya membayar mbak suti.
Dua tahun setelahnya, mbak suti menikah dengan laki-laki yang masih terhitung tetangga ardi.
Mbak suti ijin untuk memakai halaman belakang rumah keluarga ardi, untuk membangun rumahnya.
Keluarga ardi dengan senang hati membiarkan mbak suti membangun rumahnya di tanah belakang milik mereka.
Bagaimanpun, keluarga ardi berhutang banyak sama mbak suti.
Bagi ardi dan keluarganya, mbak suti juga sudah seperti keluarga mereka.
Arsya memilih untuk mengambil kuliah kedokteran begitu lulus SMA, dia mendaftar beasiswa, karena tidak ingin membebankan biaya kuliahnya pada ardi.
Butuh enam tahun untuk ardi menyelesaikan studinya, sangat lama memang, karena banyak hal yang menghambat ardi untuk lulus dengan cepat, terutama faktor keuangan keluarga ardi.
Begitu ardi mulai bekerja, ardi mulai mencicil hutang ayahnya, dan hutang keluarganya pada om hans.
Lambat laun kehidupan mereka berjalan dengan baik, ardi juga bisa membayar upah mbak suti dengan baik dan bisa memberikan sedikit tambahan untuk uang jajan anaknya mbak suti.
**
__ADS_1