
**
Begitu mendengar kenyataan bahwa ardi merupakan pria beristri.
Pikiran sofi menjadi gelap, hati sofi tidak siap dengan kabar itu.
Sofi menemukan dirinya berjalan seperti orang tersesat.
Sofi bingung harus kemana, sofi tetap berjalan, meski sofi tidak tahu tujuannya.
Sofi kemudian duduk sejenak, setelah sofi menemukan bangku kecil untuk bersandar.
Sofi mencoba memberikan dirinya waktu untuk memproses semua yang terjadi di paginya.
Sofi berusaha memahami apa yang terjadi.
Ardi membohongi sofi, pikir sofi dalam benaknya.
Sofi kemudian menyadari kalau selama ini, tidak pernah ada percakapan yang cukup jelas mengenai kondisi ardi.
Sofi berusaha membenarkan diri, dan menganggap semua ini salah ardi.
Ardi tidak pernah memberitahu sofi mengenai keadaannya.
Sofi sadar, kalau sofi memang tidak pernah menanyakan secara jelas, siapa ardi sesungguhnya.
Sofi akhirnya menyalahkan dirinya sendiri.
Kenapa sofi tidak pernah berfikir sampai sejauh itu, sofi memang pernah memikirkan kemungkinan ardi adalah pria milik perempaun lain, tapi sofi mengabaikan pemikiran itu.
Sofi memilih untuk larut dalam perhatian yang ardi berikan.
Sofi merasa bodoh, marah dan tentu saja merasa sakit yang luar biasa menusuk hatinya.
Sofi berusaha mengendalikan dirinya, dan berfikir semua ini hanyalah murni kebodohannya.
Rasa sakit akan kenyataan kalau dia tidak mungkin memiliki ardi, memenuhi seluruh jiwa sofi.
Sofi kemudian memeluk dirinya sendiri, dan menangis sejadi-jadinya, menyalahkan diri sofi sendiri, karena merasa terkhianati.
Bukan hanya fisik sofi yang menangis, tapi jiwa sofi juga berduka.
Setelah sofi merasa sedikit tenang, sofi menghapus air matanya.
Sofi berjalan kembali ke paviliun, yang ternyata sangat jauh dari tempat sofi menangis.
Saat sofi hampir sampai di paviliun, sofi melihat bibi berdiri di pagar paviliun.
Wajah bibi terlihat cemas dan melihat ke kanan dan kiri, seperti orang bingung.
Begitu bibi melihat sofi, bibi langsung menghampiri sofi dan memeluk sofi.
"Bibi sudah masak sop kepala ikan buat kamu sof", ujar bibi lembut setelah melepas pelukannya.
Ternyata sofi yang bibi tunggu, bibi kemudian menuntun sofi masuk ke dalam paviliun.
Bibi masuk ke dapur setelah membuat sofi duduk di meja makan, lalu bibi keluar dengan membawa sapu tangan, dan memberikannya pada sofi.
Sapu tangan yang bibi berikan terasa basah dan hangat di tangan sofi.
Sofi menaruh sapu tangan pemberian bibi untuk mengompres matanya.
Sofi sudah menangis di bangku itu selama dua jam, mungkin karena itulah sofi merasa sangat lapar.
Bibi kemudian mendorong mangkuk berisi sop ikan ke depan sofi.
Bibi memberi sofi kenyamanan, dan bibi juga mengatakan kalau sofi tidak perlu merasa khawatir.
Tidak satu katapun keluar dari mulut bibi tentang ardi dan kepergiannya.
__ADS_1
Sofi kecewa pada dirinya, karena ternyata dia masih mampu menghabiskan seluruh makan siangnya.
Setelah merasa lega dan kenyang, sofi kembali ke kamarnya.
Sofi kemudian berfikir kalau ini adalah hal yang sepele buat sofi, dan sofi akan mampu melupakannya esok pagi.
Setelah berfikir dengan cukup percaya diri, kalau sofi akan cepat melupakan ardi, sofi berbaring di tempat tidurnya, kemudian matanya menangkap sebuah kotak yang ardi berikan pada sofi minggu lalu.
Isinya adalah coklat kesukaan sofi.
Sofi mencoba menguasai diri, tapi sofi tidak mampu, sofi akhirnya kembali menangis.
Sofi merasakan sakit yang luar biasa di hatinya, kepalanya juga pusing karena menangis sepanjang pagi, dan tentu saja sofi lelah.
Sofi menghabiskan sisa hari minggunya, dengan menangis dan tertidur dengan tissu di tangannya.
**
Dua puluh hari berlalu setelah ardi pergi dari manado, tapi sofi masih belum bisa melupakan ardi.
Semua hal yang terjadi di lokasi project dan di pavilliun, mengingatkan sofi akan ardi.
Rasanya baru kemaren secara terus menerus ardi memberikan perhatiannya pada sofi.
Sekarang, sofi membenci semua perhatian yang pernah ardi berikan.
Air mata sofi dengan mudahnya menetes saat melihat pudding coklat favoritnya ada di kulkas.
Sofi memang tidak menangis tersedu-sedu seperti sebelumnya, tapi sofi selalu meneteskan air mata, setiap teringat akan ardi dan sikap manisnya pada sofi.
Mulai dari memakan udang, meminum teh pucuk, memakan puding, bahkan motor sewaan darko juga membuat sofi menangis saat dia mengingat kenangannya dengan ardi.
Sofi menjalani hari-hari di project seperti biasa, tapi sofi menjadi lebih pendiam.
Sofi hanya menjalankan semua tugasnya di lapangan, lalu pulang ke paviliun.
Bercanda dengan bibi dan pak dante, pergi makan dengan mila atau dito, adalah hal yang selalu sofi lakukan.
Sofi bertekad untuk menghapus sosok ardi dari benaknya.
Sofi juga pergi ke pantai yang berbeda dengan yang biasa sofi kunjungi bersama ardi.
Usaha sofi membuat dirinya sibuk, ternyata tidak berhasil, sofi masih selalu menemukan dirinya menangis.
Sofi tak henti berusaha untuk membiarkan dirinya tidak terlarut dengan kesedihan.
Hanya saja, sofi sering mendapati dirinya bangun esok harinya dengan air mata yang menetes.
Jika kondisi sofi terus menerus berlanjut, mungkin sofi akan collaps dan bisa depresi karena patah hati.
Sofi tidak menginginkan itu, sofi masih ingin bahagia dan memiliki kesempatan untuk bisa mencintai pria lain.
Sofi kemudian menghubungi bu maria dan membujuk bu maria untuk memindahkan sofi.
Bu maria terdengar keberatan saat sofi meminta di pindahkan, tapi akhirnya bu maria setuju.
Sofi diminta oleh bu maria untuk tinggal seminggu lagi, sementara bu maria akan mengatur pengganti sofi.
Sofi tidak sanggup harus sering merasakan sakit di hatinya, jika sofi tetap ada di manado, dan terus menerus di bayangi oleh sosok ardi.
Sofi hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu.
Sofi pikir seminggu sangatlah cepat, ternyata berjalan cukup lama.
Sofi merasa waktu dan takdir berusaha bekerja sama untuk menyikasa sofi setiap hari.
Sofi memberi tahu darko menjelang tiga hari sebelum kepindahannya.
Darko terlihat sedih, tapi berusaha untuk tetap professional.
__ADS_1
Bagaimanapun, darko sudah merasa dekat dengan sofi, jika sofi akan di gantikan, otomatis darko harus menyesuaikan lagi dengan pengganti sofi.
Hari terakhir sofi di manado, darko mengajak sofi untuk pergi dengannya.
Mereka makan malam, lalu pergi ke pantai.
Setelah duduk dan bercanda akan berbagai hal, darko mulai membuka pembicaraan mengenai ardi.
"Kamu kenapa berhenti makan puding coklat sof", tanya darko pada sofi.
Sofi terdiam dan hanya tersenyum.
"Aku minta maaf kalau tidak memberitahumu mengenai mas ardi yang sudah menikah", ujar darko, sambil melihat ke arah sofi.
Air mata yang sudah sofi tahan selama seminggu, kembali tumpah saat darko mengingatkan sofi akan ardi.
Darko hanya bilang pada sofi, kalau itu hak ardi untuk mengatakan pada sofi, darko tidak ingin ikut campur.
Darko juga meminta maaf, karena darko pikir, sofi tidak memiliki perasaan untuk ardi.
Darko melihat sofi dan merasa sedih karena sofi mengeluarkan air matanya tanpa henti.
Darko akhirnya hanya diam, dan merangkul sofi, berusaha untuk membuat sofi tenang.
Darko mungkin tidak tahu kalau perasaan sofi sudah terlalu dalam untuk ardi.
**
Sofi meminta ijin cuti dua minggu dari kantor begitu pulang ke BSD.
Sofi tidak ingin kembali ke kantor dengan keadaan yang buruk.
Sofi memilih untuk ada di rumah selama dua minggu.
Dia banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya.
Usaha sofi untuk menyembuhkan lukanya, dengan lebih sering bermain dengan keponakannya, ternyata berhasil mengurangi tangis sofi.
Sehari setelah kepergian ardi, sofi berharap ardi akan menghubunginya, dan memberi penjelasan pada sofi.
Sayangnya sampai terakhir sofi di manado, ardi tidak menghubungi sofi, akhirnya sofi memutuskan untuk memblokir ardi dari kontak sofi, seminggu sebelum sofi pergi dari manado.
Semenjak pulang dari manado, tidak ada banyak hal yang bisa dengan mudah, membuat sofi sedih karena ardi.
Sofi mengganti puding coklatnya menjadi puding strawberry.
Pergi ke mall dengan papanya, dan bermain dengan keponakannya, perlahan membuat sofi menjadi lebih baik.
Bahkan sofi meminta mamanya untuk tidur dengan sofi.
Sofi baru kembali bekerja setelah dua minggu cuti, dan seketika sofi mulai bekerja, rasa rindu akan ardi kembali lagi.
Sofi mencoba mengabaikan semua perasaannya dan tetap fokus bekerja.
Bu maria menempatkan sofi di project yang ada di jakarta timur.
Jarak antara rumah dan lokasi pekerjaan baru sofi, bisa di tempuh dalam waktu dua jam sekali jalan.
Sofi tidak ingin kelelahan, jadi sofi menyewa appartement terdekat.
Baru tiga hari di appartement, sofi mulai menyadari, kalau dia telah membuat keputusan yang salah.
Karena semakin sofi sendiri, semakin sering ardi melintas di benak sofi.
Kerinduan sofi untuk ardi, sulit untuk sofi abaikan.
Sofi akhirnya pasrah, dan membiarkan rindunya untuk ardi mengisi hari-harinya di lokasi konstruksi.
**
__ADS_1