
**
Pak giman sudah bersiap untuk mengantar ardi pulang ke jogja.
Ardi memilih untuk pergi setelah makan siang, supaya sore sudah sampai di jogja.
"Kerjaan lancar mas", tanya pak giman, mencoba membuka perbincangan, saat mereka sudah dalam perjalanan ke jogja.
"Lancar pak", jawab ardi, dengan ramah.
"Kali ini dimana to mas kerjannya", ujar pak giman, dengan wajah penasaran.
"Di manado pak", jawab ardi, singkat.
"Jauh ya mas, saya belum pernah ke sana, ujar pak giman.
Ardi hanya tersenyum, karena tidak antusias untuk berbincang.
Benak ardi penuh, dan seluruhnya terisi tentang sofi.
Ardi sangat merindukan sofi, bayangan akan sofi sudah menyiksa ardi selama dua minggu terakhir.
Ardi mencintai sofi adalah hal yang mutlak, tapi tanpa sengaja menyakiti hati sofi adalah hal yang paling ardi takutkan selama ini.
"Sofi kamu sedang apa, aku minta maaf", gumam ardi dalam hati.
Ardi dengan sikap pengecutnya tidak berani menghubungi sofi, ardi beralasan pada dirinya, dia tidak tahu harus mulai dari mana.
Ardi tahu sofi butuh penjelasan, ardi juga ingin jujur dari awal, tapi kalau ardi jujur, sofi tanpa berpikir dua kali, pasti akan langsung menjauhi ardi.
Ardi dengan keserakahannya, menginginkan meski hanya sesaat, menikmati keceriaan sofi, dan memperlihatkan rasa cintanya pada sofi, tanpa harus melihat keberatan dari pihak sofi.
Kecupan sofi juga masih terasa di bibir ardi.
"Laki-laki macam apa aku ini, menikmati semua manis yang dia tawarkan, tapi ku balas dengan menyakitinya", gumam ardi dalam hatinya.
Sofi pasti terluka, tapi ardi ingin sofi memahaminya.
Ardi ingin sofi mengetahui perasaannya, dan keserakahan ardi juga mengharap sofi untuk membalas cintanya.
"Sofiku pasti sedang bersedih karena luka yang kusebabkan", pikir ardi dalam benaknya.
Ardi sangat ingin jujur, jika saja sofi bertanya tentang kondisinya, tapi sofi tidak pernah bertanya.
Sofi hanya membiarkan ardi memujanya, melindunginya dan mencintainya.
Ardi ingin sekali saat ini memeluk tubuh mungil sofi, dan menciumi sofi dengan seluruh hasrat yang ardi miliki, tapi ardi harus menunggu dua minggu lagi untuk bisa bertemu dengan sofi.
Kebencian sofi tidak masalah bagi ardi, selama ardi masih bisa melihat sofi.
"Pak sudah sampai", ujar pak giman, dan langsung membuyarkan lamunan ardi.
"Nginep di jogja aja ya pak", pinta ardi pada pak giman.
"Waduh mas, nggak bisa, besok pagi harus anter ibu ke kantor", ujar pak giman.
Ardi tersenyum dan memahami pak giman, tapi ardi meminta pak giman untuk istirahat terlebih dahulu sebelum berangkat ke solo.
Ketika ardi hendak membuka pagar, ardi melihat ibunya sedang menyirami tanaman.
Ibunya langsung berlari ke arah ardi, ketika melihat ardi masuk ke dalam rumah, dia kemudian memeluk ardi dan menanyakan kabar ardi.
"Ibu sendiri aja di rumah", tanya ardi setelah ibunya melepaskan pelukan ardi.
"Ada mbak suti lagi masak di belakang", jawab ibu.
"Pak giman, monggo masuk", pinta ibu, sambil menggandeng tangan ardi untuk masuk ke dalam rumah.
"Mas ardiii", teriak mbak suti riang, dan dia juga langsung memeluk ardi.
"Mas ardi apa sudah lupa sama rumah, sampai enam bulan gak pulang", ujar mbak suti.
Ardi hanya membalas dengan senyumnya.
"Arsya belum pulang bu", tanya ardi pada ibunya yang sedang mengambil tas dari punggung ardi.
"Mas arsya baru aja pulang semalam, katanya pulang lagi nanti hari kamis", ujar mbak suti dari arah dapur.
"Mbak suti sekarang jadi juru bicara ibu juga", bisik ardi pada ibunya, sambil bercanda.
"Ah kamu ini, kayak nggak tau orang yang membantu ibumu merawatmu dari kecil aja", ujar ibu sambil mengusap kepala ardi.
Mbak suti datang ke ruang tamu dengan membawa dua teh hangat dan sepiring pisang goreng.
"Mas ardi libur berapa lama", tanya mbak suti lagi.
"Dua minggu mbak", jawab ardi.
"Lah kok cuma sebentar", ujarnya.
__ADS_1
"Sebulan mbak suti, tapi yang dua minggu udah di habiskan di rumah maya", ujar ardi pada mbak suti.
Mbak suti hanya membentuk mulutnya dengan bentuk bulat, lalu kembali ke dapur.
Andai saja mbak suti tahu, bahwa ada orang yang sangat ardi rindukan di manado, yang membuat ardi ingin segera menyelesaikan cutinya.
Ardi ingin sekali membicarakan tentang sofi pada mbak suti, tapi ardi tidak berani dan hanya menghembuskan nafas beratnya.
Ardi ingin segera kembali ke manado dan menjelaskan semuanya pada sofi.
Ardi akan memberi sofi waktu, dan ardi juga siap menerima semua amarah sofi nanti.
Ardi kemudian mengesampingkan keresahannya tentang sofi sejenak, ardi ingin membuat ibunya senang.
Ibunya sekarang sudah sangat sehat, ibu juga sudah ikhlas akan kepergian ayah.
Malamnya, mbak suti sudah memasak aneka masakan favorit ardi di meja makan.
Ardi juga sudah menyerahkan oleh-oleh titipan mbak suti,.
Ibu ardi memeluk ardi berulang kali, ibu juga mengatakan kalau dia sangat rindu pada ardi.
Setelah makan malam, ibu meminta ardi untuk menemaninya menonton sinetron yang dia tonton akhir-akhir ini.
Pak giman pamit untuk pulang ke solo sekitar pukul sepuluh malam.
Ibu sudah tidur dan mbak suti juga sudah pulang ke rumahnya.
Ardi mengantar pak giman sampai depan pagar, dan meminta pak giman untuk menyetir dengan hati-hati.
Begitu semua pintu sudah ardi kunci, ardi langsung masuk ke kamarnya.
Ardi melihat handphonenya sebelum tidur, tapi masih belum ada pesan dari sofi.
**
Seminggu berlalu waktu ardi di jogja, ardi menghabiskan seluruhnya dengan membuat keluarganya senang.
Mengantar ibu ke pasar, membantu mbak suti memasak, dan juga makan di raminten dengan arsya.
Ardi juga di minta mbak suti untuk melakukan perbaikan rumah.
"Mas, besok checkup ya", pinta arsya saat makan malam.
Arsya memang sudah beberapa hari libur dari rumah sakit.
Selain itu, arsya memang sangat perhatian akan kesehatan keluarganya.
"Jam berapa sya", tanya ardi setelah menyetujui permintaan arsya.
"Jam sembilan ya mas", jawab arsya.
Mereka kemudian melanjutkan makan, sambil memdengar arsya bercerita tentang kegiatannya di rumah sakit pada keluarganya.
Besoknya arsya mengajak ardi untuk ke rumah sakit tempat dia bekerja, tepat pukul sembilan pagi.
"Mas kamu sampai kapan dimanado", tanya arsya sambil menyetir mobilnya.
"Kurang lebih ada enam bulan lagi", jawab ardi.
"Nanti aku ajak ibu kesana ya, kalau aku libur", ujar arsya
"Mbak suti sama keluarganya juga dibawa", pinta ardi.
"Tiketnya mas yang bayarin", pinta arsya sambil meringis.
"Kamu itu dokter loh sya, jangan pelit lah", jawab ardi.
"Kan masih tahun pertama mas", ujar arsya.
"Yaudah, nanti kabarin kalau mau ke manado", ujar ardi menyetujui permintaan arsya.
Ardi memang tidak banyak bicara seperti biasanya, dan arsya mulai sedikit merasakan perubahan ardi.
"Mas, aku ini adikmu satu-satunya, kalau ada apa-apa aku juga mau dibagi", ujar arsya.
Ardi hanya tersenyum dan meminta arsya untuk fokus menyetir.
Sesampainya mereka dirumah sakit, ardi langsung melakukan prosedur medical checkup, sementara arsya menunggu ardi sambil di temani seorang perempuan.
Begitu arsya melihat ardi selesai, perempuan itu langsung pamit, dan arsya langsung mengajak ardi pulang.
"Kalau belum yakin jangan di kasih harapan", ujar ardi pada arsya, sedikit menggoda arsya.
"Apa to mas, orang masih berteman aja kok", ujar arsya sewot.
Mereka kemudian terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing, sambil di iringi oleh lagu fix you dari coldplay, yang menemani perjalanan mereka.
**
__ADS_1
Minggu terakhir di jogja, ardi senang karena sebentar lagi bisa bertemu sofi, tapi sedih karena harus berpisah kembali dengan keluarganya.
Ardi sadar sofi tidak akan mau berbicara secara pribadi pada ardi lagi.
Ardi berfikir kalau mungkin sofi sudah sedikit lebih tenang.
Ardi kemudian memiliki keberanian untuk menghubungi sofi, tapi tidak terdengar nada sambung.
Ardi mencoba menelvon sofi berkali-kali, tapi sepertinya sofi sudah memblokir nomer ardi.
Ardi kemudian mengirim pesan pada sofi, tapi hanya garis satu.
Ardi menjadi panik, tapi ardi berusaha menenangkan diri.
Ardi ingin memaklumi hal itu, dan memahami situasi sofi.
Ardi langsung berfikir kalau dia akan menjelaskan semuanya pada sofi saat mereka bertemu nanti.
Ardi memilih untuk pergi tidur, tapi selama dua jam di tempat tidur, pikiran tentang sofi tetap tidak mau meninggalkan benak ardi.
Sudah lewat tengah malam, tapi ardi masih kesulitan untuk tidur.
Tiga hari tanpa tidur yang cukup, dan mata ardi yang enggan terpejam sebelum jam lima subuh, membuat ibu khawatir karena ardi terlihat lelah.
"Bu, kalau ardi balik ke manado lusa bagaimana", ujar ardi saat sarapan.
"Kenapa buru-buru, di sana kan sudah ada yang handle", ujar ibu pada ardi.
Ardi hanya tersenyum, tapi hatinya terasa sesak karena tidak bisa menghubungi sofi.
"Kenapa to mas, kok keliatan cemas", tanya arsya menangkap kekhawatiran di mata ardi.
"Nggak tau nih, perasaanku nggak enak", jawab ardi.
Kesulitan menghubungi sofi, membuat hati ardi terasa seperti tertusuk-tusuk jarum yang sangat runcing.
Ardi tidak sabar untuk bertemu sofi, memeluk sofi jika sofi bersedia, bahkan menciumnya kalau perlu, untuk meredakan amarah sofi.
Melihat ardi yang terlihat cemas dan muram seharian, ibunya menjadi khawatir.
Ibu akhirnya membiarkan ardi untuk berangkat ke manado sesuai permintaan ardi.
Perasaan cemas, dan khawatir yang menyelimuti hati ardi selama tiga hari terakhir, menjadi semakin parah setiap harinya.
Ardi sangat ingin menangis tapi ardi tahan, karena ardi tidak ingin membuat keluarganya cemas.
Lima hari ardi lalui dengan sangat berat.
Selesai ardi melapor ke kantor, untuk menginformasikan kalau ardi sudah aktif kembali, ardi langsung bergegas ke bandara.
Begitu sampai di manado, hati ardi sedikit lega saat melihat pak dante, dia melambaikan tangan ke arah ardi, dan hati ardi mulai sedikit cerah.
Bersamaan dengan ardi datang ke manado, pak dante juga mengantar darko ke bandara untuk memulai cutinya.
Mereka bertegur sapa selayaknya kawan lama, yang sudah lama tidak bertemu.
Begitu darko berlalu, ardi langsung masuk ke dalam mobil dan meminta pak dante untuk menyetir sedikit lebih cepat.
Pak dante hanya tersenyum, melihat ardi yang terlihat tidak sabar.
Sesampainya ardi di pavilliun, ardi langsung pergi ke lokasi project.
Bertegur sapa dengan beberapa pekerja.
Ardi kemudian mencari keberadaan sofi, tapi sofi tidak terlihat di sudut manapun di lokasi project.
Akhirnya ardi kembali ke paviliun, ardi melihat orang lain yang keluar dari kamar sofi.
Namanya aldi, dan dia memperkenalkan diri dari tim investor sebagai pengawas.
Ardi melihat bibi yang baru keluar dari dapur, ardi kemudian menghampiri bibi, dan bertanya soal sofi.
"Loh, pak ardi nggak di kasih kabar kalau sofi sudah berangkat ke jakarta tiga hari yang lalu", ujar bibi.
Perkataan bibi, membawa petir untuk menyambar hati ardi.
Ardi tidak hanya kaget, tapi ardi juga merasa sangat patah hati.
Harapan untuk bisa menebus kesalahannya pada sofi lenyap.
Ardi kemudian berjalan ke kamarnya seperti orang lunglai.
Ardi mencoba menghubungi sofi lagi, tapi tidak pernah ada nada tersambung.
Ribuan pesan ardi kirim, menanyakan keberadaan sofi dan meminta maaf, tapi hanya garis satu yang terlihat.
Ardi langsung menumpahkan air mata yang sudah dia tahan selama lima hari, sambil melihat foto sofi di handphonenya, dan menciumi foto sofi.
"Maafin aku sof", gumam ardi lirih.
__ADS_1
**