Hati Untuk Sofi

Hati Untuk Sofi
Sofi untuk Ardi


__ADS_3

**


Begitu bulan madu sofi dan ardi usai, mereka langsung menempati rumah baru mereka.


Papa meminta ardi dan sofi untuk menetap di BSD.


Ardi tidak masalah, karena bagi ardi yang penting sofi bahagia.


Papa membeli rumah yang memang sudah di persiapkan untuk masa depan sofi.


Rumah yang dibelikan untuk sofi dan ardi, masih satu komplek dengan rumah kakak sofi dan orang tua sofi.


Minggu terakhir ardi di rumah sebelum harus kembali bekerja, diisi dengan sofi yang terlihat riang, dan rajin memasak.


Sofi masih sering berbicara tentang desa yang yang ia dan ardi kunjungi di eropa.


Sofi ingin suatu saat nanti bisa kembali kesana.


Sofi sangat menikmati perjalanan mereka, dan ardi sangat menikmati bersama sofi setiap saatnya.


Hari jumat pagi, ardi pergi ke bank untuk mengatur pembayaran hutang keluarganya.


Pihak bank menyatakan bahwa semua sudah lunas di bulan desember lalu.


Ardi terkejut, dan menanyakan siapa yang melunasinya pada pihak bank.


Pihak bank lalu memberikan dokumen pada ardi, dan mengatakan bahwa itu copy berkas pelunasan.


Setelah melihat semua dokumen yang diberikan oleh pihak bank, ardi langsung kembali ke rumah.


Ardi menemukan sofi sedang di dapur, dan dia sedang sibuk membuat kue.


Ardi duduk di meja makan, dan melihat kembali berkas-berkas pelunasan hutang dari bank, dan tertera nama sofi yang tandatangan di bawahnya.


Memang setelah melamar sofi, ardi menceritakan mengenai kondisi keuangannya.


Ardi tidak ingin membuat sofi buta akan kondisinya lagi.


Ardi juga tidak memaksa sofi untuk melanjutkan ikatan yang sudah ardi berikan pada sofi.


Setelah mendengar cerita ardi, dan memberikan rincian pengeluaran yang ardi harus bayarkan setiap bulannya, sofi terlihat biasa saja dan tidak keberatan, atau mempermasalahkan permasalahan hidup yang menimpa ardi.


Ardi lega saat itu, tapi hati ardi menjadi berat saat ini, karena sofi melunasi semua hutangnya.


Ardi memasukkan kembali berkas yang dia lihat ke dalam amplop coklat.


Ardi kemudian melihat ke arah sofi, lalu mengangkat amplop coklat ditangannya.


Sofi menghampiri ardi, dan mengambil amplop dari tangan ardi, lalu melihat isinya.


"Ooh", ujar sofi dengan mulut bulatnya.


Sofi meletakkan berkas di meja, lalu kembali ke kesibukannya.


"Jadi kamu udah tau", ujar sofi, terlihat biasa saja.


Ardi bisa melihat jelas kesibukan sofi dari tempat duduknya, ardi kemudian menghampiri sofi dan menarik tangan sofi, supaya dia memperhatikan ardi.


Setelah ardi meminta penjelasan dari tatapannya, sofi berkata kalau dia tidak ingin memulai pernikahannya dengan hutang, jadi dia membayar semua hutang ardi dengan tabungan deposito yang sofi miliki.


Ardi keberatan, karena sofi tidak membicarakannya terlebih dahulu pada ardi, sebelum melunasi hutang ardi.


"Kalau mas nggak senang, tinggal mas cicil aja sama aku setiap bulan", ujar sofi dengan santai.


Melihat wajah polos sofi, dan raut muka sofi, membuat amarah ardi hilang.


Ardi hanya menghembuskan nafasnya dengan keras, lalu menarik sofi untuk mendekat pada ardi dan menciumnya.


Ardi langsung melepaskan apron sofi dan mengajak sofi ke kamar.

__ADS_1


Begitu ardi menutup pintu kamar, ardi langsung menciumi sofi.


Melepas baju sofi satu persatu dan membawa sofi ke tempat tidur mereka.


"Masih jam sebelas mas", ujar sofi parau.


Ardi tersenyum pada sofi, lalu kembali melakukan apa yang ardi inginkan.


Ardi ingin melepas semua kekesalannya pada sofi, dengan terus menciumi sofi.


Erangan sofi yang sebelumnya terdengar lirih, menjadi begitu jelas di telinga ardi.


Sofi menciptakan api yang kembali berkobar di hati ardi.


Ardi mencumbu sofi, dan menyentuh sofi di semua titik tubuh sofi.


Ardi akan menunjukkan semua sisi liarnya pada sofi.


Kelembutan yang biasa ardi perlihatkan pada sofi, menjadi keliaran yang ardi harap sofi bisa rasakan, karena sudah membuat ardi kesal.


Ardi memeluk tubuh sofi begitu mereka usai, menciuminya dan merekatkan tubuhnya pada sofi.


Sofi berkata pada ardi, kalau ardi harus bersiap, karena sofi akan membuat ardi kesal setiap saat.


Ardi hanya tertawa mendengar ucapan sofi.


Ardi kemudian membuka laci di samping tempat tidurnya, dan menyerahkan seluruh buku tabungan ardi, dan kartu debit ardi pada sofi.


Sofi terlihat senang saat menerimanya.


"Ada jatah ibuku juga disitu sof, tolong sisihkan untuknya setiap bulan", ujar ardi sambil memeluk tubuh sofi yang tanpa busana dibawah selimut.


"Siap", jawab sofi senang.


"Lain kali, kalau mau melakukan sesuatu tolong diskusikan dulu denganku ya sof", ujar ardi lembut.


Sofi hanya tersenyum, lalu mencium pipi ardi.


Sofi mencium ardi, dan berpindah ke atas tubuh ardi.


**


Sofi berkata tidak ingin langsung memiliki anak, dan ingin menundanya selama satu tahun.


Hal itu sofi utarakan ketika dia mengunjungi ardi di lokasi konstruksi.


Ardi tidak punya hak untuk keberatan karena itu hak sofi, dia yang akan membawa bayi itu selama sembilan bulan.


Pertemuan dengan sofi di sela-sela pekerjaan ardi, adalah hal yang selalu ardi nantikan.


Sofi juga masih bekerja, dan mereka mengupayakan untuk bertemu sebulan sekali selama satu minggu.


Anak pertama ardi dan sofi lahir, dua belas bulan setelah sofi berkata ingin menundanya.


Sofi menyalahkan ardi, karena tidak menggunakan pengaman dengan benar.


Ardi hanya tertawa dan menerimanya, ardi dengan jujur berkata pada sofi, kalau ardi memang tidak ingin berpikir tentang pengaman saat mereka bertemu.


Sofi sendiri juga keberatan untuk menggunakan KB, karena dia khawatir akan efek sampingnya.


Pak tono menugaskan ardi di project yang ada di tangerang, hal itu membuat ardi lega karena bisa menemani sofi selama masa  kehamilannya.


Di masa kehamilannya, sofi terlihat selalu menginginkan ardi.


Sebelumnya sofi juga menginginkan ardi, tapi saat sofi hamil, hasrat sofi seperti tidak ada habisnya.


Sofi sering marah saat ardi tidak tepat waktu untuk meladeni keinginanya.


Sofi juga menyewa apartment di dekat lokasi pekerjaan ardi, dan selalu memaksa ardi untuk menghabiskan jam makan siang bersamanya.

__ADS_1


Meski sangat menyukai sisi sofi yang selalu bergairan, tapi ardi selalu kelelahan di penghujung hari.


**


Anak kedua ardi dan sofi lahir, dua tahun setelah anak pertama mereka lahir.


Gairah ardi akan Sofi tak pernah padam, meski sofi sudah melahirkan dua anak untuknya.


Di mata ardi, sofi bahkan terlihat semakin seksi setelah melahirkan.


Sayangnya pekerjaan ardi tidak bisa membuatnya menikmati tubuh indah sofi setiap hari.


Setelah anak kedua mereka lahir, sofi memilih untuk berhenti bekerja, dan sofi berjanji pada bu maria, akan kembali bekerja setelah anak-anaknya lulus SMP.


Sofi yang awalnya selalu malu saat berhubungan dengan ardi, mulai mengikuti ritme permainan ardi.


Sofi semakin sering menunjukkan keinginannya.


Ada saat ardi harus menahan diri, selama hampir empat bulan, karena sofi baru saja melahirkan, tapi hal itu tidak mengecewakan ardi, karena saat sofi hamil, dia memberi ardi kepuasan tanpa henti.


Mencintai sofi, dan menikahinya adalah hal yang selalu ardi banggakan.


Bukan karena sofi berasal dari keluarga konglomerat, tapi karena sofi mencintai ardi dengan seluruh gairah yang ardi miliki.


Senyum manis yang sofi tawarkan, berhasil membuat ardi melupakan setiap luka dari masa lalunya.


Mencumbu sofi setiap malam, adalah kado istimewa yang ardi miliki, dan akan ardi rawat sampai kapanpun.


Cinta sofi yang berhasil ardi raih, akan menjadi bagian paling indah yang ardi miliki di hidupnya.


*****


*****


Cinta sofi untuk ardi, kekal sampai mereka tua.


Janji ardi untuk mencintai sofi dengan seluruh gairah yang dia miliki juga ardi penuhi.


Ardi sudah mendekati usia senjanya, tujuh puluh sembilan tahun.


Ardi membungkus seluruh cerita cintanya untuk sofi dalam catatan coklat miliknya.


Sofi dan ardi yang sudah senja, baru saja melihat panti perawatan lansia, yang akan menjadi rumah mereka selanjutnya.


Mereka memang memiliki dua anak laki-laki, tapi jaman sudah semakin maju, sudah banyak sekali panti perawatan dengan kualitas dan fasilitas yang sangat bagus.


Ardi dan sofi tidak ingin, anak-anak mereka harus khawatir mengurus mereka di hari tua mereka.


Ardi dan sofi memiliki anak, bukan untuk menjadikan anaknya asuransi di hari tua mereka.


Ardi dan sofi memiliki kedua anaknya, karena mereka ingin anaknya juga bisa melihat dunia yang indah, dan menambah kebahagian mereka.


Kedua anak ardi juga punya pekerjaan dan keluarga yang menjadi tanggung jawab utama mereka.


Keputusan yang ardi dan sofi miliki, memang sudah menjadi keputusan mereka saat mereka menikah.


Mereka ingin anak-anak mereka bebas, dan menjalani kehidupan mereka tanpa rasa khawatir.


Sofi memilih rumah perawatan lansia yang di kelola oleh keluarga sofi.


Rumah perawatan eksklusif dengan perawat yang standby dua puluh empat jam setiap harinya, serta fasilitas yang sangat bagus untuk mereka habiskan bersama disisa-sisa hari mereka.


Cinta ardi untuk sofi masih akan selalu hidup meski raga ardi akan segera pergi.


Jiwa ardi juga akan selalu mengingat betapa manisnya mencintai sofi.


Jika suatu saat nanti ardi kembali bertemu sofi di kehidupan selanjutnya, ardi dengan keyakinan penuh, akan kembali mencari sofi, dan mencintainya.


**

__ADS_1


-Selesai-


__ADS_2