Hati Untuk Sofi

Hati Untuk Sofi
Hati Ardi 2


__ADS_3

***


Sabtu di bulan sepetember cukup cerah, dan udara juga sangat sejuk.


Langit manado memang selalu cerah di pagi hari, jarang tertutup kabut karena polusi.


Di hari libur biasanya ardi pergi ke pantai.


Jarak pantai hanya dua puluh menit dari paviliun, tapi sabtu ini, ardi berencana hanya akan santai di paviliun.


Sebelum sofi hadir di hati ardi, biasanya pagi di hari libur, hanya ardi isi dengan sedikit olah raga, sarapan, dan baru mandi di sore hari.


Kemudian ardi ke pantai, atau pergi mencicipi kuliner khas manado di sekitar lokasi konstruksi.


Setelah sofi hadir di hati ardi, di usia ardi yang memasuki awal tiga puluh tahun, ardi kembali seperti remaja yang selalu ingin terlihat keren dan wangi.


Pagi hari di hari libur, ardi mulai dengan mandi, memakai parfum favorit ardi, lalu keluar dari kamar untuk mencicipi masakan bibi.


Kalau ardi beruntung, dia akan melihat sofi di pagi hari sedang sarapan di hari liburnya.


Pagi ini adalah hari keberuntungan ardi, karena sofi sedang duduk di kursi, di meja makan paviliun, sambil bermain handphone, dan mengunyah sarapannya, saat ardi keluar dari kamar.


Ardi tidak membuang waktu, dan berjalan ke arah sofi, tak lupa ardi membawa senyum cerahnya.


"Pagi sofi", sapa ardi ramah.


Sofi tidak menjawab, ardi langsung duduk di depan sofi, kemudian ardi mengambil roti bakar yang sudah tersedia di piring.


"Oh, pak ardi, pagi, udah agak siang by the way", ujar sofi yang akhirnya menyadari ada orang lain di depannya.


Sofi kembali menjelajah halaman instagram miliknya, setelah menyapa ardi.


Instagram adalah hal baru untuk ardi, ardi masih belum bisa mengikuti cepatnya perkembangan sosial media, tapi untuk seusia sofi dan darko, itu adalah hal yang menyenangkan.


"Pak ardi punya instagram", tanya sofi pada ardi.


"Aku nggak main sosial media sof, mainnya di lokasi konstruksi", jawab ardi.


Sofi langsung tertawa mendengar jawaban ardi.


Setelah selesai dengan sarapannya, sofi beranjak dari kursi dan mengemasi tasnya.


"Mau kemana sof siang-siang", tanya ardi yang baru menyelesaikan gigitan pertama roti bakarnya.


"Pengen liat air terjun kima atas", jawab sofi sambil memakai jaket dan memasukkan handphonenya ke dalam tas.


"Dimana itu", tanya ardi sedikit penasaran.


"Katanya sih tiga puluh menit dari sini, di instagram keliatannya bagus, makanya aku penasaran", jawab sofi sambil tersenyum.


"Kesana sama siapa", tanya ardi lagi.


"Naik motor sewaan darko, sendiri fyi", jawab sofi masih sambil memamerkan senyum di sudut bibirnya.


"Bahaya sof, aku temenin ya", pinta ardi.


Ardi sendiri kaget dengan ucapan yang sangat cepat dia sampaikan ke sofi.


Sofi hanya melihat ardi dengan tatapan tidak percaya.


"Yakin pak ardi, panas loh, kalau aku kan bisa pakai skincare sama sunblock", jawab sofi dengan halus menolak tawaran ardi.


Ardi merasa seperti orang yang baru mendapat lottery, tanpa tahu bahwa sofi sebenarnya menolak tawarannya.


Tanpa menjawab pertanyaan sofi, dan mengabaikan keberatan sofi, ardi bergegas ke kamarnya, mengambil jaket, dompet dan topinya.


"Aku bisa tutupin pakai topi", ujar ardi begitu ardi sudah kembali ke meja makan.


Ardi mengambil kunci motor darko yang tergeletak di depan sofi, dan berjalan menuju parkiran.


Sofi mengikuti ardi, memakai helmnya tanpa bantuan ardi, meski tangan ardi ingin sekali membantunya.


Ardi memulai hal yang selalu ardi nantikan, dan sofi membiarkan ardi yang terlihat senang.


Selama tiga bulan, belum pernah sekalipun ardi terbuka meminta sofi untuk pergi dengannya, atau menemani sofi pergi.


Pertama kali dalam hidup ardi, hati ardi berdetak sangat cepat, dan ardi hanya melakukan yang hatinya inginkan.


Ardi kesampingkan semua pikiran yang berpotensi membuat hati ardi sedih.

__ADS_1


Ardi ingin merasa bahagia, setelah sekian lama ardi hanya bisa menatap sofi, kini sofi melingkarkan tangannya di pinggang ardi.


Hal lumrah yang biasanya orang lakukan saat berboncengan motor, ternyata membuat ardi sangat senang.


Hal yang mungkin sepele bagi sebagian orang, tapi terasa seperti hangatnya sinar matahari, menyinari malam yang sangat dingin di hati ardi.


Tiga puluh menit berlalu, tidak banyak perbincangan di perjalanan.


Hanya suara sofi yang memberi arahan untuk ardi melalui google maps.


Rerimbunan pohon terlihat, begitu motor yang ardi bawa memasuki lokasi air terjun kima atas.


"Parkir motor aman nggak ya sof", tanya ardi, sambil melihat sekeliling.


"Aman pak ardi, itu ada yang jagain", ujar sofi sambil menunjuk ke arah anak laki-laki yang masih terlihat belia.


"Dek, air terjun masih jauh nggak ya", ujar sofi, bertanya ke anak yang menghampiri sofi.


"Enggak kak, ikutin aja jalan setapak itu, nanti sampai", jawabnya.


Setelah ardi dan sofi menaruh helm, mereka menyusuri jalan setapak yang tunjukkan oleh anak tadi.


Jalan ke arah air terjun ternyata masih jalan setapak dari bebatuan bercampur tanah.


Untungnya semalam tidak hujan, jadi tidak terasa licin


"Kamu kalau beneran sendiri kesini nekat ya", ujar ardi membuka pembicaraan.


"Kata siapa sendiri, orang nungguin pak ardi bangun kok", ujar sofi menggoda ardi.


"Bisa aja kamu sof", ujar ardi, menahan diri untuk tidak merasa tersipu.


"Kamu kalau libur selalu jalan ya", tanya ardi pada sofi.


"Kadang sih, kalau bosan, tapi seringnya cuma kepantai, atau makan sama darko", jawab sofi.


Sofi berjalan di depan ardi, jalan setapak menuju air terjun, sangat sempit untuk mereka berdua lalui.


Mereka bisa berjalan berdampingan, tapi sofi harus berjalan berdempetan dengan ardi.


Ardi tidak ingin mengambil resiko kehilangan kendali dirinya, jadi ardi meminta sofi untuk berjalan di depan ardi.


Meski hanya punggung sofi, tapi ardi ingin sofi tetap terlihat di pandangan matanya.


"Pacar darko nggak cemburu sama kamu sof", tanya ardi pada sofi.


"Enggaklah, kita kan rekan kerja aja, jadi cuma saling menguatkan, dan mendukung, lagian dia juga harus support dengan pekerjaan darko, yang harus sering keluar kota dan ketemu banyak orang baru", jawab sofi, yang membuat ardi langsung tersenyum.


Percakapan berlanjut, dimana sofi menjelaskan pada ardi, kalau dia tidak akan semudah itu menaruh hati dan bersikap tidak professional.


"Aku kerja di posisi ini baru dua tahun pak ardi, sebelumnya masih jadi sekertaris bu maria, lalu bu maria menawarkan aku untuk jadi pengawas project, masih belajar sih, tapi aku tidak ingin menyerah", ujar sofi optimis.


Ardi hanya terhanyut dengan suara sofi, sampai dia tidak sadar kalau mereka sudah sampai di air terjun kima atas.


Beberapa anak yang masih berusia tujuh tahun sedang berenang.


Sofi hanya tertawa saat mereka baru sampai, kemudian sofi meraih handphonenya.


"Kenapa sof", tanya ardi yang melihat sofi tertawa.


"Liat deh pak, ini yang di instagram fotonya udah di edit kayaknya", ujar sofi sambil memperlihatkan sebuah foto di halaman instagram pada ardi.


Ardi akhirnya mengerti tawa sofi, perbedaan bisa terlihat jelas dari foto instagram dan lokasi aslinya.


Meski berbeda, tapi tempatnya masih sangat asri, cukup indah dan menyejukkan.


Sofi juga tetap tersenyum, dan menikmati percikan air yang terbawa oleh angin.


"Mau renang nggak pak", tanya sofi dengan wajah isengnya.


"Nggak bawa baju ganti sof, nanti pulangnya masuk angin lagi", jawab ardi sambil bercanda.


Mereka kemudian berjalan-jalan di sekitar air terjun, sambil bercanda dan mengambil gambar dengan sudut-sudut yang menurut sofi instagramable.


Lebih seringnya, ardi di minta sofi membantu sofi untuk memotret dirinya.


Hanya dua foto yang ardi ambil berdua dengan sofi menggunakan handphonenya.


Setelah dua jam mereka ada di air terjun kima atas, ardi menawarkan sofi untuk turun dan mencari makan siang.

__ADS_1


Sofi setuju dengan ardi, dan mereka makan siang di warung sederhana yang tidak jauh dari kima atas.


Ardi enggan untuk menyudahi harinya dengan sofi, ardi kemudian menawarkan sofi untuk berjalan sore di pantai, sambil melihat matahari terbenam, dan sofi menyetujui untuk ke pantai dengan ardi.


"Aku juga sering kesini", ujar sofi begitu mereka tiba di pantai.


Ardi menjawab sofi dengan senyumnya.


Mereka kemudian berjalan di pinggir pantai, lalu mencari tempat untuk duduk saat langit mulai merah.


Ardi duduk di samping sofi, hal sepele yang membuat ardi sangat senang, dan juga membuat hati ardi tak berhenti berdebar.


Bagi sofi, mungkin dia hanya pergi dengan rekan kerjanya, tapi bagi ardi, ardi pergi dengan cinta di hatinya.


Sofi terlihat menikmati semilir angin pantai, sambil sesekali menyeruput es kelapa yang ardi belikan untuknya.


Wajah bulat sofi, mata lebar sofi, rambutnya yang hanya sebahu, serta riasan sederhana yang terlihat sangat natural, membuat sofi terlihat sangat cantik di mata ardi.


Bagaimana bisa masih belum ada yang memetik gadis ini, pikir ardi dalam benaknya.


"Kok kalau kepantai nggak pernah ajak yang lain pak, selalu sendiri", tanya sofi pada ardi.


Sofi memberi pertanyaan untuk ardi sambil tetap memandangi pantai dengan langitnya yang sangat memukau.


Ardi memang menceritakan pada sofi, kalau ardi suka pergi ke pantai di hari liburnya.


"Kalau hari sabtu jarang ada yang libur sof, kamu juga kadang di project, sementara minggu aku harus ke project", ujar ardi, yang hanya di balas dengan anggukan kepala oleh sofi.


"Kirain pak ardi nggak suka bergaul dan kaku", ujar sofi sambil tersenyum.


"Aku kaku sama kamu aja sof, bukan karena benci, tapi aku selalu kehilangan suara dan nyaliku begitu kamu menatapku", jawab ardi di benaknya.


"Mungkin karena bagimu aku tak terlihat sof", ujar ardi, memilih jawaban yang berbeda dari hatinya untuk dia ucapkan pada sofi.


Sofi tersenyum saat mendengar jawaban ardi, kemudian sofi menatap ardi.


"Kelihatan kok, cuma takut aja kalau mau ngajak pergi, takut ditolak", jawab sofi.


Ardi langsung menelan ludahnya mendengar ucapan sofi, dan hatinya semakin berdebar dengan kencang.


Sepanjang sore, sofi menceritakan bagaimana dia bisa masuk di perusahaan bu maria, dia juga cerita mengenai sedikit tentang perusahaan tersebut, dan lebih banyak sofi bercerita mengenai pengalamannya saat bekerja.


Ardi lebih memilih untuk mendengarkan cerita sofi dan terdiam sambil menatap sofi.


Ardi hanya sedikit menanggapi celotehan sofi.


"Sof bisa nggak manggil aku dengan kata ganti mas bukan pak", pinta ardi pada sofi, dan ardi berharap sofi setuju.


Mendengar itu sofi tertawa sambil melihat ke arah ardi.


"Panggilan mas, emang pak ardi umurnya berapa", tanya sofi sambil tersenyum.


"Mas ardi sofi, tahun depan udah mau tiga puluh dua", jawab ardi.


"Oke deh mas ardi", ujar sofi, dengan raut imutnya, kemudian sofi tertawa lagi.


Ardi bahagia karena melihat tawa sofi yang hanya ditujukan untuknya seharian ini.


Memang benar ucapan darko saat itu, mengenal sofi sebentar saja, bisa terasa sudah mengenalnya selama puluhan tahun.


Tiga bulan sofi bersama ardi dan timnya, tapi baru sekali ini sofi pergi berdua dengan ardi.


Sofi selalu memberikan kenyamanan pada semua orang, termasuk pada ardi, dan hal itu membuat ardi semakin menginginkan sofi.


Ardi mulai berfikir, kenapa dia selalu menahan diri, dan menahan keinginannya untuk mengajak sofi jalan dengannya.


Ardi juga ingin mengenal sofi lebih jauh, ardi ingin bisa mendengarkan setiap cerita sofi, atau bercanda dengan sofi, dan menikmati setiap gurauan dan godaan darinya.


Ardi merasa kalau dia sudah membuang begitu banyak waktu untuk menghindari semua kesenangan yang bisa membuat hatinya terus berdebar.


Ardi mulai punya keinginan untuk menunjukkan cintanya pada sofi.


Ardi memutuskan untuk mengajak sofi kembali ke paviliun, karena sofi sudah membuat ardi semakin mencintainya.


Malam memang belum terlalu larut, tapi ardi hanya ingin menjaga diri, supaya tidak terlarut dengan cintanya untuk sofi menjadi semakin dalam.


Berdua bersama sofi sepanjang hari, sudah cukup mengacaukan hati dan pikiran ardi.


Ardi mengakhiri malam dengan perasaan yang membuat ardi semakin berharap, sofi bisa mencintainya.

__ADS_1


**


__ADS_2