
**
Ardi kembali ke kantornya setelah lockdown berakhir dengan perasaan cerah.
Kantor masih sepi, dan cukup menyedihkan, karena ada beberapa pegawai yang terpapar covid19.
Meeting pertama juga hanya di hadiri oleh sepuluh orang.
Semua orang berusaha menyesuaikan kondisi saat ini.
Para direksi sepakat, bahwa pekerjaan konstruksi harus tetap berlanjut, supaya ke depannya perusahaan masih bisa survive.
Setelah pulang dari kantor, ardi mengajak arsya makan diluar, sebagai bentuk terima kasih karena sudah bekerja sangat keras selama pandemi.
Ardi mengajak arsya makan di tempat makan yang sangat istimewa untuk ardi.
Di restaurant yang ada di hotel santika.
Saat ardi masih di bangku SMP, ayahnya sering mengajak ardi makan di hotel santika, hanya berdua dengan ayahnya.
Sejak ayahnya meninggal, ardi sering melewati hotel santika saat ardi rindu pada ayahnya.
Ardi juga mengajak ibu untuk makan malam bersma, tapi ibu merasa lelah jadi menolak ikut bersama ardi dan arsya.
Begitu ardi dan arsya duduk di meja mereka, ardi langsung memesan makanan favoritnya di hotel santika, begitu juga dengan arsya.
Ardi sedikit cemas melihat arsya yang terlihat sangat lelah, lingkaran hitam juga menghiasi mata arsya dengan jelas.
Ardi kemudian memberikan amplop coklat kepada arsya.
Dia berhenti meminum jus srikayanya, lalu membuka amplop yang ardi sodorkan di depan arsya.
Mata arsya langsung melebar, dia tidak bisa menutupi kekagetannya.
"Serius ini mas", tanya arsya.
"Iya, maya yang menggugatku", jawab ardi sambil tersenyum pada arsya.
"Selamat ya mas", ujar arsya dengan wajah senang.
Arsya mulai menceritakan betapa tidak setujunya dia, saat ardi menyetujui untuk menikahi maya.
Arsya lega karena sekarang arsya bisa melihat ardi bahagia, dan terlepas dari beban di pundaknya.
"Sekarang kita fokus bayar utang", ujar ardi pada arsya.
Arsya langsung menyipitkan tatapan tidak senangnya pada ardi.
"Merusak suasana aja kamu mas", ujar arsya.
Ardi tertawa melihat raut muka arsya, lalu ardi merindukan ayahnya.
Di perjalanan pulang, ardi menceritakan soal sofi pada arsya.
Ardi hanya tidak ingin, kalau arsya berfikir, ardi tidak pernah bahagia.
Ardi pernah bahagia meski singkat, dan hatinya juga masih bahagia setiap ardi teringat sofi.
Begitu ardi menutup ceritanya soal sofi, ardi melihat ke arah arsya yang sedang menyetir.
Arsya terlihat mengusap air mata miliknya dengan tangannya.
Ardi tidak mengira, kalau adiknya yang sudah memasuki usia tiga puluh tahun, masih cengeng.
Ardi lalu menunjukkan foto sofi pada arsya, dan arsya langsung meminta foto sofi dikirimkan ke handphonenya.
Selain dengan arsya ardi juga menceritakan soal sofi kepada ibunya, juga mbak suti yang turut mendengarkan cerita ardi.
Ibu hanya menggengam tangan ardi dan meminta maaf.
Ardi menegaskan pada ibunya, kalau ibu tidak perlu meminta maaf karena tidak ada yang salah.
Ardi meminta ibunya untuk mendoakan ardi, supaya ardi bisa segera bertemu kembali dengan sofi.
**
Dua bulan setelah ardi kembali ke lokasi project, arsya memberi kabar pada ardi, kalau arsya diminta oleh senior di kampusnya, untuk bergabung dengannya di rumah sakit tikala manado.
__ADS_1
Ardi terkejut, dan juga senang untuk arsya.
Arsya kemudian meminta ijin pada ardi, untuk membawa ibu pergi ke manado dengannya.
Ardi menyetujui kemauan arsya, yang penting ibu bersedia dan senang ikut arsya ke manado.
Mbak suti juga memaksa ikut, meski dia juga harus mempertimbangkan suaminya.
Suami mbak suti bekerja sebagai driver ojek online di jogja.
Menurut ibu di telvon, setelah perdebatan panjang, akhirnya suami mbak suti setuju untuk ikut pindah ke manado.
Seluruh keluarga ardi kemudian pindah ke manado mengikuti arsya.
Rumah yang di jogja di sewakan, dan arsya membeli rumah yang cukup besar di manado, dengan cara mencicil.
Tentu saja itu menambah berat cicilan hutang ardi dan arsya, tapi perasaan aneh masuk ke relung hati ardi.
Ardi mendapati dirinya bahagia, meski hutangnya bertambah lagi.
Ardi kemudian mengatakan pada dirinya untuk bekerja lebih keras, supaya keluarganya bisa segera terbebas dari hutang.
Untungnya setelah perceraian dengan maya, tante keke meminta ardi untuk tidak terlalu memikirkan hutang pada almarhum ayah maya.
Tante keke bilang pada ardi, bahwa dia membebaskan hutang itu, tapi nurani ardi menolak, karena dia tidak bisa memenuhi janji almarhum ayah maya untuk menjaga maya.
Tante keke kemudian mengatakan kalau ardi bisa membayar hutang itu kapan aja, dan meminta ardi untuk tidak terlalu mempermasalahkan.
Pekerjaan arsya sebagai dokter, juga sangat membantu ardi untuk mencicil hutang mereka.
Sekarang ardi hanya tinggal mencari keberadaan sofi dengan tenang.
**
Awal tahun 2022, semuanya sudah kembali normal.
Pandemi sepertinya sudah berakhir, setidaknya itu menurut ardi.
Ardi masih sibuk dengan pekerjaannya, dan masih belum putus asa untuk mengetahui keberadaan sofi.
Ardi merasa sangat aneh, karena sofi seperti menghilang.
Ardi mengutuki dirinya sendiri karena tidak pernah bertanya alamat sofi di BSD, saat sofi masih dekat dengannya.
Tahun lalu, ardi dua kali ke BSD, dan berkesimpulan kalau ardi bisa melihat sosok sofi dengan mudahnya di BSD.
Bukan sofi yang ardi jumpai, tapi ardi yang menjumpai dirinya kehilangan arah, setelah berulang kali memutari wilayah BSD.
Selain perjalannya ke BSD, ardi juga membujuk pak imam untuk meminta contact bu maria, tapi pak imam menolak.
"Kamu ada masalah apa memang sama sofi di", tanya pak imam pada ardi di suatu sore.
Ardi menjawab dengan berbohong, kalau dia tidak ada masalah apapun dengan sofi.
"Aneh", gumam pak imam.
"Memang ada apa pak", tanya ardi.
Pak imam menjelaskan, kalau dia pernah di undang makan malam oleh perusahaan tempat sofi bekerja.
Bukan sekali, tapi dua kali, dan bu maria meminta pak imam untuk tidak menganggu ardi.
Saat itu pak imam meminta pak tono yang menggantikan ardi.
Pak tono sedikit heran mendengar permintaan pak imam, karena seharusnya ardi yang duduk dikursinya.
Ardi mengambil kesimpulan setelah mendengar cerita pak imam, kalau sofi mungkin menceritakan kepada bu maria, tentang apa yang terjadi kepadanya dan sofi.
Bu maria pasti mendukung sofi, ardi menghargai sikap bu maria yang ingin melindungi sofi.
Bagaimanpun ardi sudah menyakiti hati sofi, tapi ardi merasa itu tidak adil, karena bagi ardi tidakan bu maria sangat tidak professional.
Ardi menutup harinya dengan telvon dari arsya yang meminta ardi untuk cuti di bulan juni.
"Kenapa harus bulan juni", tanya ardi pada arsya di telvon.
"Udahlah, pokoknya bulan juni ya dateng ya, ibu sudah kangen", pinta arsya.
__ADS_1
Ardi mengiyakan arsya tanpa ada perasaan apapun yang menghinggapi ardi.
Ardi kemudian menutup telvon arsya, dan melihat kembali peta wilayah BSD sampai ardi tertidur.
**
Ardi mengambil cuti selama satu bulan, di bulan juni sesuai kemauan arsya.
Ardi terbang ke manado dengan jadwal penerbangan pagi dari jakarta.
Sesampainya di manado, suaminya mbak suti yang menjemput ardi.
"Gimana mas, betah nggak di manado", tanya ardi pada mas sigit, suami mbak suti.
"Betah mas, alhamdulillah rejeki kami sangat lancar disini", jawab mas sigit dengan sumringah.
Mas sigit menceritakan pada ardi, kalau dalam sehari, dia bisa membawa pulang tiga ratus ribu untuk mbak suti dan anaknya.
Ardi sangat senang mendengar hal itu, karena ardi sempat khawatir, mas sigit tidak bisa menyesuaikan hidupnya di manado.
Begitu sampai di rumah keluarga ardi di manado, ibunya menyambut ardi di teras rumah.
Ardi langsung turun dari motor mas sigit, lalu mencium tangan ibunya dan memeluknya.
Mbak suti bilang pada ardi, kalau ibu sudah menunggu ardi sejak suaminya berangkat, untuk menjemput ardi ke bandara.
Anaknya mb suti juga sudah besar, tahun ini dia akan lulus dari smp.
Ardi sangat mensyukuri keberadaan mbak suti yang menemani ibunya di manado.
Ardi juga tidak perlu khawatir ibunya akan kesepian, meski arsya sering tugas malam di rumah sakit.
Rumah yang arsya beli, berjarak dua puluh menit dari rumah sakit, dan sangat dekat dengan pantai yang dulu sering ia kunjungi dengan sofi.
Hari pertama ardi yang baru kembali lagi ke manado setelah sekian lama, di warnai dengan cerita mbak suti, dan pengalaman senangnya di manado.
Ibu juga bilang, keputusan pindah ke manado adalah yang terbaik, karena ibu sangat senang dan betah di manado.
Hati ardi langsung hangat melihat betapa bahagiannya keluarga ardi saat ini.
Arsya baru pulang ke rumah setelah dua hari bertugas di rumah sakit.
Begitu melihat kakaknya, arsya langsung meminta ardi untuk ke rumah sakit minggu depan di hari kamis.
Lima tahun telah berlalu setelah sofi menghilang, tapi cinta ardi untuk sofi, masih seperti baru kemaren sore bersemi.
*
Arsya meminta ardi untuk pergi ke rumah sakit sekitar pukul sembilan pagi.
Setelah melakukan checkup, ardi melihat jam di tangannya, dan waktu sudah menunjuk pukul satu siang.
Ardi kemudian menelvon arsya, dan mengatakan, kalau dia akan menunggu arsya untuk makan siang bersama.
Setelahnya, ardi duduk di ruang tunggu yang ada di lobby rumah sakit, sambil melihat struktur bangunan yang dulu ia bangun.
Tatapan ardi langsung terkunci saat ardi melihat ke arah lift di sebelah kanan ardi.
Ardi hampir memaki dirinya karena sudah berhalusinasi, ardi tidak bisa mempercayai penglihatannya.
Sofi berjalan ke arah ardi dengan anggunnya, senyum terpancar di wajah sofi, saat sofi menyapa pegawai rumah sakit.
Sofi masih sangat cantik di mata ardi, rambut panjang yang terikat rapi juga menghiasi wajah sofi.
Hati ardi langsung berdebar kencang, kemudian ardi berdiri untuk menyambut sofi.
Sofi masih belum melihat keberadaan ardi, dan sofi masih tersenyum setiap ada orang yang menyapanya.
Selama lima tahun ardi mencari keberadaan sofi kemana-mana, ternyata sofi ada di rumah sakit, tempat mereka pertama bertemu dahulu.
Begitu sofi melihat ardi, air mata ardi menetes di wajah ardi.
Saat sofi semakin dekat, ardi mengusap airmatanya
Sofi jelas melihat ardi, tapi sofi membuang padangannya.
Ardi langsung meraih tangan sofi, saat sofi berusaha melewati ardi.
__ADS_1
**