Hati Untuk Sofi

Hati Untuk Sofi
Hati Sofi 1


__ADS_3

**


Malam setelah sofi pergi dengan ardi di hari liburnya, sofi mengobrol dengan mamanya.


"Ma, mau punya menantu orang jogja nggak", ujar sofi pada mamanya.


Sekarang ini, sofi sudah ada di kondisi dimana sofi meyakini kalau ardi menyukai sofi lebih dari sebatas rekan kerja.


Sofi juga sangat menyukainya, dan mulai tidak ingin kehilangan ardi.


"Kalau orangnya sayang sama kamu, single dan tidak malas, tentu saja mau sof", jawab mama tika dengan santai.


"Ada yang kamu taksir di manado", tanya mama tika lagi, terdengar mulai penasaran.


"Minta doanya aja ma", jawab sofi pada mamanya.


Sofi kemudian menceritakan kegiatannya di manado, juga sedikit menceritakan tentang ardi pada mamanya.


Hampir satu jam sofi mengobrol dengan mamanya, sofi menyudahi obrolan dengan mama tika karena sudah mulai mengantuk.


Sebuah rencana terlintas di benak sofi, sebelum sofi tidur.


Mungkin sofi harus mengatakan perasaannya terlebih dulu, karena sepertinya ardi tidak tahu bagaimana harus memulai semuanya.


Satu minggu lagi ardi akan cuti, sofi dengan tekad bulatnya, akan mengungkapkan perasaannya terlebih dulu pada ardi.


Keraguan akan kemungkinan ardi menolak sofi, juga sofi pertimbangkan.


Keraguan datang saat sofi ingat sikap ardi yang terlalu diam, ardi juga tidak pernah mengatakan apapun yang membuat sofi lebih yakin kalau ardi menyukainya.


Bagaimana kalau ardi hanya ingin memberi perhatian kepada rekan kerjanya saja, dan tidak lebih dari itu, itu yang sofi putar di benaknya setiap dia merasa yakin dengan perasaan ardi.


Sofi mencoba mengingat-ingat enam bulan belakangan.


Sofi tidak pernah melihat ardi memberikan perhatian yang berlebih pada mila, yang usianya tidak jauh dari sofi.


Mamang sofi tidak bisa memberikan banyak perbandingan, karena hanya sofi dan mila yang masih lajang.


Sofi juga tidak berani bertanya pada darko mengenai ardi, karena darko sangat sibuk akhir-akhir ini.


Perhatian ardi ke dito atau darko juga terlihat seperti umumnya pertemanan.


Dengan sinta, ardi juga tidak banyak berbicara.


Ardi hanya banyak bicara, saat dia berbincang dengan pak imam atau pak tito, itupun hanya soal pekerjaan.


Ardi tidak pernah memberikan perhatian kepada orang lain, sebanyak perhatiannya untuk sofi.


Benak sofi bimbang, kalau ardi tidak menyukai sofi, lantas apa maksud dari semua perhatian ardi, telur kukusnya, tatapan sayunya, sikap manisnya, dan hal lainnya.


Sofi kemudian sulit tidur karena menjadi galau.


Hari setelahnya sofi berubah menjadi lebih diam.


Pikiran sofi sedang berperang tentang berbagai kemungkinan mengenai perhatian ardi untuknya.

__ADS_1


Sofi tidak ingin malu, kalau dia hanya salah mengira.


Dua malam terakhir sebelum ardi pulang ke jogja, ardi hanya menatap sofi yang hanya diam setelah makan malam.


Ardi tidak tahu apa yang ada di benak sofi, ardi hanya berfikir kalau sofi sedang punya masalah yang sofi tidak bisa ceritakan pada ardi.


Ardi kemudian berkesimpulan untuk mendukung sofi dan membuat sofi nyaman dengan memberikan extra perhatian untuk sofi.


"Udah malam sof, kamu harus tidur", ujar ardi lembut.


Sofi hanya tersenyum dan mengangguk, lalu menuju kamarnya.


Ardi melihat sofi yang berlalu dengan mata sayunya, lalu membereskan sisa cemilan yang sofi tinggalkan.


**


Sabtu minggu ini, adalah hari terakhir sebelum ardi pulang ke jogja.


Sofi menghabiskan sehari penuh dengan ardi.


Ada banyak hal yang ingin sofi ucapkan, tapi sofi selalu menemukan dirinya lebih banyak terdiam.


Sorenya sofi hanya berjalan-jalan di pinggiran pantai dengan ardi.


Sofi sedang berfikir bagaimana sofi akan memulai secara singkat dan tak memalukan.


Pagi ini ardi membuat sofi sangat yakin untuk sofi mengutarakan perasaannya.


Sofi yakin ardi juga memilki perasaan yang sama dengannya.


Sofi dan ardi sudah menghabiskan waktu cukup lama di pantai, tapi tidak banyak hal yang di bicarakan.


Hanya sekedar menikmati sunset lalu makan.


Ketika sofi dan ardi sedang dalam perjalanan menuju mobil untuk kembali ke paviliun, sofi mulai mengungkapkan perasaannya pada ardi.


Sofi menahan tangan ardi, menatapnya, lalu mengecup bibirnya.


Tidak banyak kalimat, tapi sofi mengatakan kalimat yang sudah cukup jelas akan maksud hati sofi.


Sofi berjalan kembali ke parkiran setelahnya, karena hatinya hampir meledak.


Hanya saja ardi terdiam sepanjang perjalan menuju paviliun, sofi sendiri sibuk dengan perasaannya.


Ardi mengecewakan sofi dengan tidak langsung merespon ungkapan hatinya.


Sofi langsung turun dari mobil, dan berjalan ke kamarnya ketika mereka sampai di paviliun.


Sofi merasa seperti baru keluar dari sauna, seluruh badannya terasa panas dan hatinya berdebar kencang, sofi baru tertidur setelah menenangkan hatinya.


**


Esoknya, sofi bingung bagaimana menghadapi ardi, dan kecewa, karena ardi masih belum mengucapkan apapun.


Ardi tidak meninggalkan pesan apapun untuk sofi.

__ADS_1


Keraguan kembali muncul di benak sofi, sofi yakin ardi menyukainya, tapi sofi juga ragu dan merasa, kalau mungkin sofi salah mengira, dan mungkin hanya sofi yang memiliki perasaan untuk ardi.


Sofi tidak mau terlalu banyak memiliki prasangka, sofi kemudian mandi, dan berusaha untuk memakai pakaian yang tidak terlihat berlebihan.


Lalu sofi keluar dari kamarnya, di meja makan sudah cukup ramai, tapi sosok yang sofi cari, tidak terlihat.


Ada rasa lega yang menyelimuti sofi, sofi kemudian memakan sarapannya.


Ardi datang, dan duduk di ujung meja di tengah sarapan sofi.


Sofi berusaha terlihat biasa saja, meski hatinya berdetak sangat kencang.


Sofi berusaha berbasa basi tanpa melihat ke arah ardi.


Sofi memilih untuk menghalau detak jantungnya, dengan kembali berbincang dengan mila dan darko.


Sepuluh menit setelah semua orang di meja makan tertawa karena cerita dito, darko melihat ke arah parkiran, lalu mengenali sosok tamu yang sedang berjalan ke arah mereka.


Ucapan darko langsung membuat sofi melihat ke arah yang darko maksud.


Dua perempuan sedang menuju ke arah mereka, yang satu masih cukup belia, mungkin di awal dua puluh tahun, yang satunya lagi paruh baya, lebih muda dari mama tika.


Ibu paruh baya tersebut terlihat anggun dan cantik, sementara si gadis belia terlihat sibuk dengan handphonenya.


Itu memang tamunya ardi, sesuai ucapan darko, karena sofi melihat kilasan mata ardi yang sangat terkejut dengan kedatangan tamu tersebut.


Mereka kemudian memperkenalkan diri, ternyata si perempuan belia itu adalah istri ardi.


Sofi berharap bahwa dia salah mendengar, tapi ternyata tidak.


Gadis belia bernama maya, adalah istri ardi.


Sofi menjadi bingung harus bereaksi seperti apa.


Sofi juga tidak terlalu peduli dengan ekspresinya saat mendengar kenyataan kalau ardi adalah suami orang.


Detak jantung sofi yang semula hangat dan penuh harapan, berubah menjadi gemuruh petir yang gelap dan sangat dingin.


Sofi akhirnya memahami kenapa ardi tidak mengatakan apapun semalam.


Sofi melihat ke arah ardi, dan sofi melihat ardi menatapnya dengan tatapan terluka.


Mata cerah yang biasa ardi perlihatkan pada sofi, berubah menjadi mendung, tapi itu semua membuat sofi semakin marah pada ardi.


Sofi kemudian berfikir kalau ardi memang hanya memainkan perasaannya selama ini.


Kemarahan sofi, seketika berubah menjadi kebencian pada ardi.


Sofi hanya tersenyum sinis pada dirinya sendiri, kemudian sofi berusaha mengendalikan dirinya.


Sofi langsung tersenyum dan menyalami kedua tamu ardi.


Setelahnya, sofi tidak tahu apa yang terjadi, karena sofi langsung pamit pada mila untuk berolah raga pagi.


**

__ADS_1


__ADS_2