Hati Yang Terpendam

Hati Yang Terpendam
AMANAH TAMBAHAN


__ADS_3

'Ya Tuhan.....dua garis merah lagi' aku menarik napas dalam dengan berat. Sebenarnya hal ini sudah bisa aku duga saat haid tak kunjung datang selama beberapa minggu ini. Belum ada sejarahnya aku terlambat haid. Selalu tepat di tanggal sama, kadang maju beberapa hari kalau sedang banyak kegiatan dan kecapekan.


Bukannya aku tidak mensyukuri amanah yang diberikan-Nya ini, namun saatnya yang tidak tepat. Itu menurutku. Bisnisku sedang dalam posisi yang kritis. Menurun tajam sejak tahun lalu. Persaingan semakin banyak, peniru bisnis yang menyerobot supplierku semakin bertambah. Meskipun aku memiliki pelanggan setia, namun pelanggan baru tidak kunjung bertambah. Kondisi finansialku sedang diuji.Akupun hanya bisa menarik napas dalam-dalam beberapa kali sambil bergumam, 'insyaAllah setiap anak akan membawa rezekinya sendiri'.


Aku sudah memiliki lima anak dengan jarak yang hanya berselang kurang lebih dua tahun. Yang paling besar baru saja memasuki sekolah menengah pertama, masih ada tiga anak berseragam merah putih dan satu anak paling kecil yang baru saja lepas pampers, usianya baru beranjak dua tahun di tahun ini. Rasanya akan semakin berat jika bertambah satu lagi, apalagi dalam kondisi sekarang.


Namun, amanah ini tak bisa aku tolak. Sudah terjadi, dan harus aku terima. InsyaAllah akan membawa kebahagiaan baru ke tengah-tengah keluarga kecilku yang mulai tidak kecil lagi.


.


.


Suamiku hanya diam saat aku tunjukkan hasil test pack malam itu. Lengannya merengkuhku dan kemudian mencium keningku dengan lembut sambil berbisik, 'InsyaAllah amanah ini baik untuk kita.'


Aku memahami rasa berat yang dirasakan suamiku. Sudah setahun ini dia tidak bekerja. Pengurangan pegawai dari perusahaan tempatnya bekerja yang dilakukan dua tahun belakangan ini, akhirnya tahun lalu memasukkan nama suamiku didalamnya. Jadilah suamiku dirumah, membantu bisnis onlineku yang belum seberapa ini.

__ADS_1


'Ya, benar. InsyaAllah ini adalah amanah yang baik untuk kita.' gumamku sebelum akhirnya kami tertidur.


.


.


'Halo...selamat sore. Perkenalkan nama saya Iwan dari Bali. Saya lihat toko online Anyaman Natural di Facebook, saya mau mengajak Anyaman Natural untuk menghadiri undangan event international di Azerbaijan. Apakah kira-kira pihak Anyaman Natural bisa memenuhinya?' sebuah telepon di waktu senja tiba-tiba saja menawarkan untuk menghadiri sebuah acara internasional. Aku tidak pernah mengikuti acara apapun sebelum ini. Aku hanya penjual online aneka kerajinan anyaman yang ada di daerah tempat tinggalku. Bantu-bantu tetangga kampung sebelah untuk menjualkan hasil karyanya. Dan saat menerima telepon itupun aku sedang berada di salah satu rumah pengrajin anyaman tikar dan tas yang sedang aku pesan memenuhi permintaan pelangganku.


'Sebentar ya, Pak. Saya sambungkan langsung ke pemilik Anyaman Naturalnya saja ya. Supaya pembicaraannya lebih klop, karena saya hanya bagian marketingnya aja.' ujarku sambil mencolek lengan suamiku yang sedang mengambil beberapa foto dari ibu-ibu yang sedang menganyam.


Sejak suamiku tak lagi bekerja dan banyak membantu bisnis onlineku, aku memang memposisikan suamiku sebagai pemilik usaha online ini. Biarlah aku bagian 'dapur' nya saja. Perlahan-lahan karena sering menemaniku mondar-mandir kesana kesini untuk memenuhi permintaan pelanggan, akhirnya suamiku mulai memahami seluk beluk dari produk yang aku jual.


'Apa yang dibicarakan Pak Iwan tadi?' tanyaku dalam perjalanan menuju rumah dari tempat pengrajin anyaman.


'Beliau sudah sering diundang ikut event internasional untuk ukiran, kali ini beliau ada undangan lain dan tidak bisa menghadirinya. Oleh panitia beliau diminta untuk membawa serta satu atau dua pengrajin lainnya. Untuk mewakili Indonesia.' Jelas suamiku sambil tetap fokus menyetir motor yang kami naiki.

__ADS_1


'Ayah mau ikut?' tanyaku dengan keheranan.


'Mau. Buat pengalaman. Ayah kan sedang tidak terikat dengan pekerjaan yang mengharuskan untuk tetap ditempat. Kita coba aja ambil peluang ini' ujarnya dengan mantap tanpa keraguan.


'Beneran?' sahutku tak percaya. Biasanya suamiku tak terlalu menggubris tawaran-tawaran acara pameran semacam ini. Karena merasa hanya penjual online saja, bukan seorang pengrajin, seniman atau lainnya yang biasa diajak dalam acara-acara pameran, perlombaan dan sejenisnya.


'Iya beneran. Tapi ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dulu. Kita harus nyiapkan foto produk dan proses pembuatannya beserta ayah yang sedang membuatnya. Harus bikin tulisan dalam bahasa inggris untuk menjelaskan produk yang diunggulkan dan yang akan dilombakan. Bismillah aja, mudah-mudahan ini baik. Rezeki dede' ujarnya sambil senyum sumringah.


'Jadi, acara Itu adalah pameran kebudayaan, bazar sekaligus lomba. Setiap partisipan menyerahkan satu produk andalannya yang diunggulkan untuk dilombakan. Dalam acara itu partisipan memamerkan semua hasil karyanya untuk dijual, dan menunjukkan proses pembuatan dari produk-produk yang dilombakan maupun yang dipajang di pameran itu. Ayah harus belajar banyak tentang anyaman.' suamiku menjelaskan inti pembicaraannya dengan Pak Iwan di telepon tadi.


Aku masih keheranan dengan sikap suamiku, tumben dia berani mengambil peluang tiba-tiba begini. Perubahan yang cukup drastis menurutku dan baru kali ini aku melihat suamiku keluar dari daerah nyamannya. Mudah-mudahan ini baik.....doaku dalam hati sambil mengeratkan peganganku ke pinggangnya.


Senja menjelang maghrib kala itu menjadi terlihat lebih cerah. Matahari yang hampir terbenam masih memancarkan sinar terang cahayanya dengan cahaya yang lebih redup namun masih sanggup menerangi jalanan kami. Hembusan angin yang mulai berubah lebih sejuk, karena menjelang malam, menjadi kawan yang menemani perjalanan pulang kami menuju rumah.


Rumah yang dibelikan oleh mertua untuk kami setelah tanahnya di daerah pedesaan sekitar 300km dari tempat kami tinggal ini laku terjual. Kami tak diijinkan untuk mengontrak rumah saat baru menikah dulu. Meski aku berkali-kali meminta untuk mandiri membentuk keluarga kecil dengan mengontrak, namun tak kunjung mendapatkan ijin. Hingga akhirnya setelah tanah mertua laku terjual, maka dibelikanlah rumah ini untuk kami. Sebuah rumah sederhana di kawasan yang nyaman, jauh dari hiruk pikuk dan keramaian jalanan. Rumah yang sangat cocok dengan pribadi suamiku, penyuka ketenangan.

__ADS_1


Dirumah inilah kami tinggal, rumah sederhana dengan dua kamar yang cukup besar dan halaman belakang yang luas cukup untuk suatu saat nanti dibangun empat kamar lagi disana. Dirumah ini membentuk keluarga kecil kami dan menikmati susah senang bersama, tawa, tangis, yang bergantian menghampiri didalamnya. Mulai dari memasukinya dengan satu anak dan anak kedua didalam kandungan, hingga sekarang sudah ada lima anak dan anak keenam yang sedang dalam kandungan. Banyak kenangan sudah kami ukir di rumah ini.


Bersambung


__ADS_2