
'Ya Halo...'
'Assalamu'alaikum....'
'Wa'alaikumussalam'
'Perkenalkan nama saya Bowo dari Yogyakarta.'
'Ya Pak Bowo, Saya Tania, ada yang bisa dibantu?'
'Saya dapat nomor ini dari akun Sosial media Natural Craft Borneo, saya mau mengundang perwakilan dari Natural Craft Borneo untuk mengikuti Pameran?'
'Ooo sebentar Pak Bowo ya...Saya sambungkan dengan Pak Doni, pemilik Natural Craft Borneo agar bapak bisa menyampaikan undangannya langsung'
'Baik...'
Aku pun memanggil suamiku yang sedang sibuk mengambil foto pembuatan anyaman rumput purun yang sedang dibuat oleh acil-acil yang berkumpul di beranda rumah Acil Otih, pemilik warung sekaligus pemimpin perkumpulan pembuat anyaman purun.
'Ada yang mau bicara dengan Ayah, pemilik Natural Craft Borneo. Namanya Pak Bowo dari Yogyakarta mau diundang ke acara pameran' ucapku menjelaskan sekilas sambil menyerahkan handphoneku.
Suamiku pun mengambil handphone dari tanganku dan berjalan menjauh menuju motor kami yang parkir di sudut halaman rumah Acil Otih, agar lebih nyaman berbicara.
'Cil...ini berapa lama ngerjain anyaman begini?'
'Oh ini palingan sehari selesai, Bu Ai...'
'Dalam satu hari bisa selesai berapa tas, Cil?'
'Biasanya sehari bisa dua sampai tiga tas, kalau tasnya tahalus. Kalau yang ganal sehari hanya satu aja'
'Oooo cepet juga sehari bisa sampe tiga tas. Berarti kalau saya pesan banyak dan perlu cepat, kira-kira satu minggu gitu, bisa selesai sampai 50 tas ga?'
'Kawa aja Bu ai....Kita kan ngerjain ya rame-rame. Nanti dibagi-bagi acil. Kalau satu minggu untuk 50 tas tahalus tiga hari kawa ai tuntung'
'Hmmm...lebih cepat berarti lah.'
'Saya mau ada pesan tas yang kecil, tapi memang perlu cepat. Sejumlah 50 tas, modelnya kayak gini aja....' aku menunjuk tas yang sedang dibuat oleh Acil Iyah.
'Tapi...ukurannya 15cm aja. Untuk souvenir'
'Kawa Bu ai.... InsyaAllah tuntung 3 hari lagi'
'Iya deh saya pesan ya, Cil....nomor telepon saya udah disimpan sama Acil Otih pas saya pesan tas yang besar kemarin'
Aku melanjutkan obrolan dengan Acil Iyah menanyakan perihal pembuatan tikar dan proses mengolah rumput purun sampai siap untuk dianyam. Sambil menunggu suamiku menyelesaikan teleponnya.
Sekilas aku melirik, suamiku masih asyik mengobrol. Dan akupun melanjutkan pembicaraanku bersama acil.
Aku memulai bisnis online ini sejak anak keduaku lahir. Awalnya seorang teman dari Jakarta memesan produk anyaman tikar untuk dijualkan ke seorang kenalannya yang sedang gandrung tikar anyaman. Untuk mengalasi ruang tamunya. Dia adalah seorang yang menyukai produk-produk alam.
Dari satu-dua pesanan berlanjut terus secara berkala. Hingga lahirlah anakku yang nomor tiga.
Berjalannya waktu, pesanan mulai menambah, dari hanya seputar tikar anyaman ke tas anyaman, hingga home decorations yang dibuat dari anyaman.
__ADS_1
Namun, beberapa tahun belakangan ini pesanan mulai berkurang. Karena mulai banyak yang jualan secara online juga. Bahkan pabrik tempat aku mengambil tikar anyaman dengan sentuhan modern pun mulai merambah pasar online.
Aku pindah haluan ke tas anyaman. Dan bertemulah dengan acil-acil ini saat sedang hunting mencari pembuat anyaman. Untuk memotong jalur dan harga kami mencari pembuat anyamannya.
Ternyata rumah tinggal mereka tidak terlalu jauh dari tempat aku tinggal. Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit naik motor dengan kecepatan 50-60km/jam maka tibalah disini, di tempat para acil membuat anyaman.
Mereka biasa membuat anyaman tikar, tapi belakangan mulai banyak yang memesan minta dibuatkan anyaman tas, tempat pohon, dan lain-lain.
Dan saat mereka sedang berkumpul menyerahkan hasil anyamannya yang dibuat dirumah masing-masing itulah aku lewat dan mulai mengenal para acil pembuat anyaman ini.
'Sudah selesai pesanannya?'
Suamiku tiba-tiba mendekati sambil menyerahkan kembali handphoneku yang sudah selesai digunakannya.
'Sudah. InsyaAllah tiga hari lagi balik kesini untuk ambil pesanannya.'
'iya kan, Cil? ucapku memastikan.
'Inggih, Bu ai.... InsyaAllah.'
'Bayarnya sekarang atau nanti nih?'
'Kena aja gin Bu lah...kalau sudah tuntung hanyar dibayar' sahut Acil Otih yang sudah ikut duduk di teras bersama acil lainnya.
'Oke deh...sipp.'
'Saya pamit ya, Cil. InsyaAllah nanti dikabari aja kalau sudah selesai yah.' pesanku sambil berpamitan.
'Wa'alaikumussalam'
Aku berjalan di belakang suamiku menuju motor kami di parkir.
'Obrolan sama Pak Bowo tentang undangan pameran dimana?' tanyaku sambil memakai sendiri helmku hingga bunyi 'klik'
'Ada tawaran dari beliau untuk ikut pameran di luar negeri.'
'Wah....serius?'
'Serius dong. Tapi banyak yang harus dipersiapkan. Mulai dari pengumpulan foto, pemilihan produk unggulan yang akan dilombakan dalam pameran itu dan membuat makalah berbahasa Inggris perihal produk yang diikutkan lomba.'
'Mulai dari proses pembuatan hingga akhir jadinya'
'Ayah mau ikut acara itu?' tanyaku sambil bersiap duduk di kursi belakang motor.
'Iya mau ikut....buat pengalaman.' jawab suamiku santai.
'Beneran?'
'Beneran. Makanya kita harus mulai persiapannya. Karena pamerannya dua bulan lagi.'
'Whuaa cepet banget.' Aku mulai memikirkan produk anyaman mana yang akan diikutkan dalam pameran itu nantinya.
'Lombanya dimana, Yah?'
__ADS_1
'Di Turki'
'MasyaAllah....pantesan mau ikut....'
Sambil tetap konsentrasi mengendarai motor menuju pulang kerumah, suamiku mulai terlihat serius membahas rencananya.
'Kayaknya Ayah harus belajar menganyam ke acil-acil disana. Supaya bisa menunjukkan prose pembuatannya. Karena itu jadi syarat yang dilombakan juga.'
'Kenapa kita yang dipilih sama Pak Bowo?'
'Kita kan pedagang, bukan pembuat kerajinan'
'Kalau kata Pak Bowo tadi, beliau milih kita karena dalam setiap postingan kita isinya bukan hanya jualan produk doang. Tapi ada dijelaskan proses pembuatannya. Filosofi dibalik motif anyaman dan lain-lain. Dan selama ini beliau belum pernah membawa pengrajin anyaman dalam pameran-pameran yang diikutinya'.
'Hmmm....gitu toh' sahutku sambil tersenyum simpul. Karena pembuat postingan itu adalah aku. Sumber informasi kuambil dari para penjual produk yang aku kenal dan acil penganyam. Dipadu dengan Informasi dari mesin pencari data yang sangat aku andalkan itu.
Setiap satu postingan dagangan, diikuti dengan dua postingan yang menjelaskan semua hal tentang produk dagangan itu. Mulai dari proses pembuatan hingga keterangan kisah dibalik motif anyaman dan lika-liku kehidupan yang tertuang didalam motif-motif anyaman itu.
'Trus yang mau kita ikutkan ke lomba itu yang mana nih?' tanyaku ke suami.
'Belum tau yang mana' sahut suamiku sambil tersenyum lebar dan turun dari motor setelah memarkirkan dengan posisi aman.
'Nanti kita diskusikan dulu mau produk anyaman yang mana.'
'Karena itu mempengaruhi harus belajar menganyam kemana nantinya.'
'Baiklah....baiklah...nanti kita diskusikan secara serius' ucapku dengan penuh semangat.
'Assalamu'alaikum....Ayah sama ibu udah pulang nih' ucapku sambil mengetuk pintu minta dibukakan.
'Wa'alaikumussalam.' sahut anakku yang tertua, dan segera membuka pintu diiringi oleh kedua adiknya yang mulai berlomba lari menuju ayahnya.
Bersambung..........
Acil \= Bibi
Ai \= tidak ada artinya hanya untuk memperhalus ucapan saja.
Tahalus \= Kecil
Ganal \= Besar
Kawa \= bisa
Tuntung \= Selesai
kena \= nanti
gin \= tidak ada arti baku, berfungsi sebagai penekanan kata saja.
hanyar \= baru.
__ADS_1