
'Anak-anak ibu sama Ayah pergi dulu ya...baik-baik sama Eyang dirumah. InsyaAllah Ibu hanya tiga hari aja' satu persatu anak-anak salim tangan secara bergantian berpamitan dengan kedua orangtuanya.
'Doakan Ayah setiap hari ya...doakan juga supaya pamerannya sukses, lancar dan berkah'
'Eyang kami pamit dulu, titip anak-anak'
'Assalamu'alaikum'
'Wa'alaikumussalam'
Kami berangkat ke bandara menggunakan jasa mobil online. Sengaja memilih yang kursinya paling banyak untuk membawa barang-barang pameran yang lumayan besar ukurannya dan banyak.
Aku masih belum merasakan mual di pagi hari, masih terasa biasa saja. Semenjak hasil testpack nya menunjukkan garis dua, aku mulai menambah vitamin zat besi dan memperbanyak makan buah. Terus menerus mencoba tidak terlalu memikirkan agar rasa mual tidak muncul saat sekarang-sekarang ini.
'Pak Bowo nanti dari Yogyakarta langsung ke Jakarta juga berarti ya?' tanyaku saat mobil sudah mulai berjalan menuju bandara.
'Iya. Beliau baru nanti malam berangkat dari Yogyakarta, naik kereta ke Jakarta. Jadi besok malam janjian di checking bagasi ketemuannya.'
'Barang-barang tambahan yang dirumah Mama juga sudah Ibu minta siapkan sama Papa. Kita tinggal packing aja.'
Kami harus menginap dulu dirumah orangtuaku di Jakarta. Ada beberapa barang pameran disana. Sekaligus minta didoakan sama Papa dan Mama supaya pameran suamiku berjalan lancar dan berkah'.
'Kira-kira over bagasi ga ya?
'InsyaAllah enggak. Ini ringan kok, cuma besar'
'Ga pakai hitungan volumetrik kan ya?'
'Enggak.....ini pesawat, bukan jasa pengiriman barang'
Ini sudah kode kalau begini, suamiku mulai kurang fokus.
'Tenang....tarik napas....keluarkan...' ucapku sambil menggenggam tangannya untuk sedikit mengurangi kegugupannya.
'Dua tahun lagi ikut yah....nanti ibu jadi pengrajin juga deh' ucapku sambil melempar senyum kearah suamiku.
'Mudah-mudahan dua tahun lagi diundang lagi....' sahut suamiku.
'Berdua......aamiin'
Tiba di bandara Syamsudin Noor kami harus menggunakan tiga trolly untuk bisa mengangkut semua barang-barang yang dibawa. Aku mendorong satu trolly dan suamiku mendorong dua trolly.
Kami melewati satu persatu pos pemeriksaan. Beberapa kali ditanya oleh Petugas, barang apa yang dibawa sampai banyak begini. Dan suamiku menjawab dengan santai, 'Barang untuk pameran, mohon doanya lah supaya lancar dan berkah' ke semua Petugas yang bertanya.
Inilah kelebihan di Kalimantan, rasa kekeluargaannya masih sangat kental. Nuansa itu yang sudah menjadi hal langka di Ibukota.
Saat suamiku pertama kali harus menjalani pelatihan selama sepuluh hari di Jakarta dan bolak balik naik angkot serta bis, dia mengeluhkan bahwa wajah orang Jakarta kaku sekali. Sebagian menutup dengan masker dan mayoritas hanya diam dan tidak memandang sekitar.
Aku hanya menanggapi dengan senyuman saja waktu itu. Aku sih sudah terbiasa begitu. Bagi suamiku itu sangat tidak biasa.
Namun lama kelamaan dengan seringnya bolak-balik ke Jakarta, akhirnya suamiku memahami karakter kesibukan Ibukota yang memang seringkali memaksa seseorang untuk tampil dengan muka es alias wajah dengan ekspresi cuek, karena lelah pulang bekerja maupun berangkat dengan jarak perjalanan yang lumayan.
Di Kalimantan, aku bahkan hanya sesekali saja naik angkot. Disana menyebutnya taxi, dan yang taxi disebut taxi argo. Karena seringkali kemana-mana ada saja yang mengantar atau berangkat bareng. Kalau suami sedang tidak bisa mengantar atau menjemput. Kadang teman kakaknya suamiku, kadang temanku.
__ADS_1
Suamiku anak nomor dua dari tiga bersaudara. Dan dia adalah anak laki-laki satu-satunya. kakak dan adiknya perempuan, tinggal di Kalimantan juga bersama suaminya masing-masing.
Sementara aku, aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku laki-laki dan perempuan. Semuanya tinggal di Jakarta. Tidak berani jauh dari Mama, katanya, cukup aku saja yang jauh keseberang pulau.
'Panggilan untuk penumpang pesawat.......'
'Bu...Ayo kita siap-siap.'
'Iya Yah....'
Aku pun bersiap membawa tas tanganku dan mengikuti langkah suamiku menuju gate 3 untuk memasuki pesawat yang Aman membawa kami terbang ke Jakarta.
.
.
'Assalamu'alaikum.....'
'Wa'alaikumussalam'
Aku langsung mencium punggung tangan Mama juga pipi kanan dan kirinya, Mama yang sedang duduk santai di ruang tamu dengan pintu ruang tamu yang sudah terbuka, sambil menemani Papa yang sedang merapikan sangkar burung peliharaannya ke tempat yang lebih tinggi di depan rumah.
'Mas Doni...gimana sehat?' tanya Papa saat suamiku menyapa dan mau mencium punggung tangan Papaku.
'Alhamdulillah, Pa....sehat'
'Jadi anak-anak sama Eyang di Kalimantan?'
'Iya Ma. Mau dibawa khawatir nanti Tania kerepotan pas pulang sendiri ke Kalimantan. Anak-anak juga sekolah' Ucap suamiku sambil mencium punggung tangan Mama.
'Jam 8 malam, Pa'
'Oo...berarti kita ke Bandara habis shalat 'Ashr ya...'
'Iya'
'Di bandara nanti Mas Doni berangkat bareng sama Pak Bowo, dari Yogyakarta. Pak Bowo itu yang ajak Mas Doni ikut Pameran ini' aku ikut menjelaskan.
'Jadi berapa orang perwakilan dari Indonesia?'
'Cuma kami berdua aja, Pa. Saya dan Pak Bowo aja'
'Ooo... alhamdulillah.'
'Nia mau makan ga? Mama lagi masak pepes tahu tuh sama ikan Peda goreng'
'Mau bangettttt......pepes tahu lagi.....'
Aku langsung beranjak ke dapur. Mencuci tangan dengan sabun dan tak sabar untuk mencicip pepes tahu bikinan Mama. Pasti sedap nih...
Hal yang paling dirindukan anak perantauan setelah melihat kedua orangtuanya adalah masakan orangtuanya....kalah deh wisata kuliner diluar sana.
'Ayah....Ayo makan dulu....' aku memanggil suamiku yang masih asyik mengobrol bersama Papa.
__ADS_1
'Ada sambal terasi nih....'ucapku sambil senyum-senyum.
'Hmmm....tumben Nia mau makan sambel, pasti lagi hamil deh' Mama langsung menebak.
Mama paling tahu seleraku yang tidak suka sambel. Tapi setiap hamil aku berubah jadi pecinta sambal. Bahkan level pedasnya melebihi selera Mama yang suka makan sambal.
'Iya Ma.... alhamdulillah minggu lalu di test pakai testpack ada dua garis.'
'InsyaAllah bulan depan baru mau periksa ke Dokter. Kalau diperiksa sekarang masih belum keliatan' ucapku menjelaskan.
'Doain lancar, sehat dan berkah ya....'
'Aamiin'
.
.
Baru kali ini aku Memasuki ruang checking bagasi di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Dulu saat masih kecil dan ikut mengantar Papa dinas keluar negeri, kami tidak pernah diperkenankan masuk ke dalam checking bagasi. Biasanya kami akan naik ke tangga atas untuk bisa melihat pesawat-pesawat yang akan melakukan take-off maupun landing. Ternyata memang baru saja dibuka untuk umum, sebagai daya tarik untuk menarik wisatawan.
'Sambil nunggu foto dulu yuk.' aku meminta suamiku untuk berfoto bareng. Untuk ditunjukkan ke anak-anak saat kangen sama Ayahnya nanti.
'Assalamu'alaikum Mas Doni'
'Eh Wa'alaikumussalam Pak Bowo'
'Sudah lama?'
''Enggak barusan aja kami sampainya. Pak Bowo sudah lama?'
'Baru sampai juga saya...'
'Ma...Pa...ini Pak Bowo'
'Pak Bowo...ini mertua saya'
'Dan ini istri saya'
'Tania' aku mengatupkan kedua tangan didepan dada.
'Bowo' mengikuti mengatupkan tangan juga di depan dada.
'Yuk kita foto dulu sebelum kalian masuk ke dalam' Papa memberi perintah ke semuanya.
'Pak, boleh kami minta difotokan bersama?' kebetulan ada Petugas bandara yang sedang lewat didekat kami.
'Boleh Pak...mari-mari'
Dan kami pun berfoto didepan tumpukan bantal besar yang menjadi ikon para travelers pada masa lampau.
'Kami pamit ya mohon doanya... Assalamu'alaikum'
'Iya...mudah-mudahan lancar semuanya dan dapat berkah yang banyak dari Allah. Wa'alaikumussalam'
__ADS_1
Bersambung.....