Hati Yang Terpendam

Hati Yang Terpendam
MENDAPATKAN KEMENANGAN


__ADS_3

'Hari ini ada seremonial terakhir acara pameran, pengumuman para pemenang akan diumumkan di acara ini. Doain yah' tulis suamiku dalam pesan onlinenya.


Komunikasi kami selama 9 hari terakhir ini memang hanya lewat online saja. Anak-anak sangat antusias saat kami Videocall dan ayahnya memperlihatkan sebagian pemandangan di Azerbaijan yang unik dan penuh sejarah, sambil menjelaskan nama gedungnya, nama lukisan yang terpampang di dindingnya dan beberapa benteng peninggalan masa lalu yang masih cukup terawat.


Setiap hari suamiku selalu mengirimkan foto makanan yang dimakan. Mulai dari menu breakfast dengan roti keras, susu dan butter yang berdampingan dengan sajian khas lokal disana yang hanya difoto tanpa mau disentuh oleh suamiku karena terlihat agak aneh dan sepertinya tidak bisa dimakannya. Sajian makanan yang mirip bubur Kacang Hijau, tapi dimakan bersama yogurt, bukan santan. Dan tampaknya memang bukan kacang hijau, hanya serupa dengan kacang hijau.


Foto makan siang dengan kuskus yang serupa dengan nasi namun lebih bulat dan pipih, namun ada bau khas yang berbeda, camilan kebab yang berbeda rasa dengan kebab ala Indonesia, lebih banyak daging dan tanpa bawang, hanya saus aneka warna, teh wangi bunga yang disajikan oleh teman baru, seorang pemilik resto kecil didekat lokasi pameran serta foto-foto para pengunjung yang antusias melihat, bertanya hingga berebutan untuk membeli produk pameran yang dibawa dan dipajang.


'Kemarin Mr. Edward datang bersama para juri lainnya. Mudah-mudahan beliau senang, keliatannya sih beliau puas. Karena semua juri yang bertanya bisa Ayah jawab dan jelaskan panjang lebar. Mereka juga selalu tersenyum dan mengangguk-angguk setiap kali Ayah selesai menjelaskan' ujar suamiku dalam voicecallnya.


'Alhamdulillah, produk apa yang paling membuat mereka penasaran, Yah?' tanyaku ingin tahu.


'Rumput Purun, mereka banyak sekali bertanya tentang prosesnya sampai minta diajari menganyam. Kalau rotan mereka sudah cukup familiar. Tapi mereka antusias juga, karena biasanya baru bisa beli rotan kalau mereka bepergian ke dearah Asia Timur dan susah bawa di pesawatnya. Makanya pas pameran gini mereka suka sekali. Ya sampe rebutan gitu' sahut suamiku sambil tertawa ringan.


Ahh...untunglah sudah mau selesai acara pamerannya. Karena ini adalah periode paling lama kami berpisah. Sewaktu masih kerja dulu, paling hanya tiga hari saja kami berpisah. Kalau acaranya berurutan, biasanya di akhir tahun, itupun hanya 6-7 hari saja. Berat juga ternyata berpisah lama-lama gini. Bukan hanya lelah soal rindunya, soal kerepotan mengurusi anak-anak sendirian pun tak kalah melelahkan.


.


.

__ADS_1


'And for second position categories of craft and weaving....the winner is.....Mr. Edo Handoyo from Indonesia, congratulation!' serempak seluruh peserta yang hadir bertepuk tangan dan mengalihkan pandangan ke arah Edo yang berjalan dari posisi duduknya di salah satu meja peserta menuju ke panggung utama dengan senyum ramah khasnya.


Sessi foto dan penyerahan piala beserta hadiah uang secara berurutan dilakukan bersama Mr. Edward, selalu ketua assosiasi pameran ini, dan beberapa perwakilan juri lainnya.


Tak berselang lama, nama Pak Iwan pun disebut sebagai juara pertama untuk kategori yang berbeda. Mr. Edward secara khusus meminta untuk berfoto bersama Edo dan Pak Iwan, dua utusan dari Indonesia yang berhasil memenangkan lomba pameran kali ini.


'I really love your bags, Mr. Edo, it's so beautiful, made from what?' tanya Mr Edward yang lupa dengan nama bahan pembuat tas anyaman yang diperlombakan oleh Edo saat makan malam bersama seluruh tim, peserta dan panitia.


'Lepironia, in Indonesia we called it Mendong, and in my town it called Purun' Edo menjelaskan dengan bahasa Inggris yang sederhana.


'Ahh....Purun. Oke I see. Lepironia is Purun' sahut Mr. Edward memastikan.


Edo yang telah merapikan sejak sore, malam hari hanya tinggal merapikan sedikit barang yang tersisa dan setelah selesai, ia pun beranjak ke restoran kecil yang terletak dekat lokasi pameran. Edo ingin menemui Abdullah, pemilik resto yang menjadi kenalan barunya. Ia ingin memberikan topi anyaman rotan untuk kenang-kenangan dan mengucapkan salam perpisahan dengan Abdullah.


Abdullah pernah beberapa kali ke Indonesia, namun belum pernah ke Kalimantan. Abdullah sangat menyukai menu masakan di Indonesia. Ia banyak membeli bumbu masakan khas Indonesia saat kunjungan terakhirnya setahun yang lalu. Menu unik yang disukai Abdullah di Indonesia adalah gado-gado. Dia sangat menyukai bumbu kacangnya yang kaya akan rasa.


Restoran Abdullah cukup sederhana namun apik. Menu yang ditawarkan termasuk simple dan cukup ramah dilidah. Banyak pilihan menu daging kambing, domba dan sapi disana. Dengan perpaduan gaya mesir dan Timur tengah mulai dari interiornya, peralatan makannya, hingga menu makanannya. Live music yang ada di restoran Abdullah menampilkan pemain alat Musik yang terdiri dari empat orang di sudut ruangan yang akan langsung terlihat saat memasuki pintu restoran.


Sesekali ada penyanyi laki-laki yang akan tampil dan menyanyikan lagu berbahasa Turki. Di Azerbaijan, Bahasa Turki menjadi Bahasa kedua.

__ADS_1


Edo tidak menemukan Abdullah di restonya. Salah satu pelayan yang ditanya Edo mengatakan kalau Abdullah sedang pergi ke Kota sejak sore tadi. Akhirnya Edo hanya bisa menitipkan topi rotannya kepada pelayan tersebut. Menunggunya kembali dari kota rasanya tak mungkin dilakukan, mengingat harus segera istirahat dan berangkat pagi-pagi menuju bandara besok.


'InsyaAllah lusa kita ketemu lagi, Ayah kangen' ujar suamiku sesaat setelah tiba di hotel dan langsung menelponku.


'Kangen sama anak-anak? Sama istrinya kangen juga ga?' sahutku diujung telepon.


'Paling dikangenin justru sama istrinya' ucap suamiku merayu.


'Ha..ha...bisa aja jawabannya. Good night...sleep well and flight safe for tomorrow, see you at home' jawabku mengakhiri hubungan telepon via online.


Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari di Kalimantan. Dan di Azerbaijan baru menunjukkan pukul 10 malam.


Aku yang baru saja bangun tidur ditengah malam beranjak turun dari tempat tidur.


Sejak mulai mengandung anak pertama, aku menjadi akrab dengan jam malam. Karena biasanya selepas maghrib aku sudah mengantuk dan kelelahan. Biasanya aku akan tertidur dulu dan bangun sekitar pukul 10 atau 11 malam. Menyelesaikan tugas rumah tangga yang aku tunda selepas maghrib dan akan kembali tidur lagi saat jarum jam mulai menunjukkan angka dua atau tiga. Dan suamiku-lah yang biasanya menemani anak-anak tidur malam.


Namun saat suamiku sedang diluar Kota dan luar negeri saat ini, aku harus menahan rasa kantuk hingga pukul 8 malam. Karena harus menjaga anak-anak menyelesaikan shalat Isya' terlebih dulu, mendampinginya tidur dan barulah aku bisa terlelap hingga pukul 1 atau 2 dini hari terbangun lagi untuk menyiapkan semua keperluan pagi hari.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2