
'Mas Doni...Ayo ikut keliling Turki' Pak Bowo yang sudah selesai sarapan mengajakku ikut rombongan untuk tur keliling kota sambil menunggu waktu penjurian selesai.
Hari ini pameran baru akan dibuka setelah dzuhur nanti. Maka pagi hari ini menjadi waktu bebas untuk seluruh peserta pameran menikmati waktu kosongnya.
Panitia menyediakan layanan tur keliling tempat wisata disekitar lokasi pameran diadakan. Dan semua peserta tidak ada yang mau melewatkan kesempatan itu, termasuk aku.
'Bang Ismail ayo gabung sama kami...' aku memanggil Bang Ismail, peserta dari Malaysia yang langsung akrab dengan kami. Karena kemiripan Bahasa sehari-hari, maka komunikasi kami bertiga sangat lancar. Pak Bowo dan Bang Ismail kurang lancar berbahasa Inggris, sementara aku, meskipun tidak lancar juga, namun aku memberanikan diri untuk selalu mencoba berkomunikasi dengan kata-kata yang simple dan mudah dipahami. Dan selama satu minggu disana, aku banyak memiliki kenalan dari peserta maupun pengunjung stand.
Salah satunya adalah Mr. Nur Pasha, pemilik cafe kecil yang ada didekat lokasi pameran. Saat berkenalan, Mr. Nur Pasha sangat gembira bisa menemui orang Indonesia. Beliau pernah berkunjung ke Indonesia, ke Jakarta dan Bali saat liburan bersama keluarganya. Dan Mr. Nur terheran-heran saat aku menceritakan tentang Kalimantan.
Beberapa kali Mr. Nur mengutus pegawainya untuk mengirimiku satu nampan teh bunga dan camilan khas Turki yang dijual di cafe miliknya. Sebagai ungkapan pertemanan dan persaudaraan.
Aku berencana akan mampir ke cafenya nanti malam bersama Pak Bowo dan Bang Ismail.
'Bang....Bang Ismail....waduh...matanya kemana-mana terus nih, ga fokus kita ajak ngobrol'
'Ha...ha...ha...Maklum Pak Bowo, anak muda. Diantara kita, hanya dia aja yang belum menikah'
'Mas Doni....ini saya lagi usaha, kali aja bisa bawa pulang satu untuk dijadikan istri'
'Ha...ha...ha...semoga ada yang mau ya Bang'
'Kalau Mas Doni kayaknya malah sudah biasa dengan wajah wanita Turki ya, Mas. Mirip sama keluarga isterinya semua...he..he..he..'
'Hah!! Masa sih Mas?' Bang Ismail seperti terkejut sekali mendengar kalimat Pak Bowo barusan.
'He..he..he..iya Pak Bowo. Kemana-mana Saya lihat wajah keluarga isteri saya semua.' sahutku menimpali dan semakin membuat Bang Ismail semakin penasaran.
'Pak Bowo ini waktu berangkat ke Turki bertemu dengan isteri dan ibu mertua saya, Bang.'
'Isteri saya itu orang Betawi, orang Jakarta yang keturunan arab. Jadi wajahnya ya kurang lebih saja dengan wanita-wanita disini'
'Ada fotonya mas? Beneran?'
'Ihhh ga percaya...nih coba lihat...' aku menunjukkan foto-foto kami saat di Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Sementara Bang Ismail melihat foto-foto dari handphoneku, aku dan Pak Bowo melanjutkan diskusi tentang gedung yang ada dihadapan kami, Istana Topkapi.
__ADS_1
Istana Topkapi berlokasi satu kompleks dengan Hagia Sophia. Bangunan ini merupakan tempat tinggal kekhalifahan Ottoman selama hampir 400 tahun.
Istana ini menyimpan berbagai peninggalan Nabi Muhammad SAW, sahabat dan keluarganya. Ada pula sejumlah barang penting yang melekat di Kakbah pada zaman dahulu. Saat musim semi, pemandangan bunga tulip terhampar di kanan dan kiri, membuat perjalanan wisatawan tak terlupakan.
'Sudah percaya Bang?'
'Iyah...beneran' Sambil nyengir Bang Ismail mengembalikan handphoneku.
'Gimana ketemunya, Mas? Kan isterinya orang Jakarta dan Mas tinggal di Kalimantan'
'Itulah rahasia Ilahi, Bang Ismail. Yang penting yakin dan terus melayakkan diri aja....jodoh akan datang sendiri, tak perlu dikejar-kejar, tapi diusahakan ke diri kita'
'Betul...setuju...' Pak Bowo ikut menimpali.
Bang Ismail tampak serius menyimak. Saat ini dibenaknya mungkin kisah perjodohanku lebih menarik daripada tempat wisata yang kami kunjungi saat ini.
Selesai dari Topkapi kami dibawa menuju Basilika Cistern.
Pada abad ke-6, Basilika Cistern merupakan tempat persediaan air. Dibangun oleh Kaisar Justinianus, kedalamannya mencapai 70 m dengan panjang 150 m. Tempat ini dikelilingi oleh dinding setebal 4 m. Air yang terdapat di bangunan ini berasal dari hutan Beogard yang letaknya 19 km dari kota Istanbul.
Berlokasi hanya sekitar 58 m dari Hagia Sophia, dari pintu masuk Basilica Cistern, wisatawan akan menuruni tangga dengan ruangan yang cukup gelap. Sesampainya di bawah, akan ada tiang-tiang penyangga dengan kolam penampungan air di sekitarnya.
'Pak Bowo kalau ke Turki ini yang pertama atau sudah yang kesekian?' tanyaku sambil berjalan disebelahnya.
'Ini yang kedua. Empat tahun lalu saya kesini pertama kali.'
'Saya sudah ikut Mr. Najmudin sudah 4 tahun ini, ke Turki sebelum ini itulah pertama kali saya ikut.'
'Hmmm....'
'Kalau Bang Ismail?'
'Saya baru tahun ini ikut, Mas'
__ADS_1
'Wah sama dong....junior berarti Kita berdua'
'Whuaaa...jadi berasa tua sendirian saya'
Dan pemandu tur kami yang berbahasa Inggris menjadi tidak terlalu kami perhatian. Kami bertiga asyik ngobrol sendiri. Aku pun sibuk mengambil foto untuk menyimpan kenangan dan keterangan dari tulisan-tulisan yang tersebar disana.
Kunjungan berikutnya ke Grand Bazaar Istanbul. Grand Bazaar Istanbul biasa menjadi tujuan saat berkunjung ke Turki. Grand Bazaar dinobatkan sebagai pasar tertua dan terluas di dunia.
Pasar ini telah dibangun sejak tahun 1461 atas perintah Sultan Mehmed II, Raja Turki yang kala itu berkuasa. Lokasinya di kompleks kota Istanbul yang juga tak jauh dengan Masjid Biru dan Hagia Sophia.
Disini aku berencana membelikan hadiah untuk isteriku. Bukan hadiah mahal, karena keterbatasan yang saku yang aku bawa. Dan aku paham selera isteriku yang tidak menyukai barang-barang mewah.
Aku pun sibuk memperhatikan dan mencari barang unik apa yang akan aku belikan untuk isteriku.
Aku berjalan agak lambat dari Pak Bowo dan Bang Ismail, karena aku agak lama memperhatikan barang-barang yang dijajakan disana.
'Mas....habis ini kita ke Menara Galata, nanti ditunggu di depan 30 menit lagi kata pemandu Tur tadi' Pak Bowo menghampiriku sambil menenteng plastik belanjaan di tangan kirinya.
'Wah...sudah belanja duluan, Pak Bowo'
'Iya...biasa oleh-oleh untuk isteri dan anak-anak'
Nah...ketemu...Sepertinya aku akan membelikan barang ini saja untuk isteriku. Dan aku mulai menanyakan harga ke penjualnya.
Kejutan untuk isteriku....
Kami pun dibawa menuju Menara Galata. Bangunan ini merupakan salah satu menara yang tertinggi di Istanbul. Selain indah, menara yang berlokasi 3,5 km dari Hagia Sophia ini pun menyimpan ribuan sejarah.
Memiliki tinggi 66.9 meter, Menara Galata sudah berdiri lebih dari 600 tahun yang lalu. Menara ini pertama kali beroperasi tahun 1348 pada masa kekaisaran Romawi, menguasai wilayah kota yang dahulu dinamai Konstantinopel.
Pada tahun 1965, pemerintah setempat merenovasi bangunan ini dan dibuka untuk wisatawan. Interior menara yang dahulu terbuat dari kayu diubah menjadi beton. Namun, tak banyak perubahan pada tampilan luar menara.
Bersambung......
__ADS_1