Hati Yang Terpendam

Hati Yang Terpendam
PULANG


__ADS_3

Setelah suamiku rutin menelpon dan mengirimkan foto-fotonya, berangsur-angsur rasa mual di pagi hari dan keringat dingin saat terpapar sinar matahari yang terik sedikit berkurang.


'Bu...Kakak buat teh hangat, ibu mau juga ga?'


'Boleh, Kak.... Terimakasih ya sayang'


Mala, anak pertamaku semakin sering membantuku. Aku masih membatasi aktifitas terjun ke dapur, karena belum bisa berlama-lama disana. Rasa mual akan segera muncul, setiap kali aku mencium bau nasi yang sedang dimasak.


Aku sering beli masakan matang dari warung didekat sekolah anak-anak. Karena masih belum bisa memasak sering-sering. Untungnya anak-anak tidak keberatan dengan masakan warungan yang aku sajikan.


'Ibu...Ayah kapan pulang?' ini adalah pertanyaan rutin yang ditanyakan abang Helmi dan Nasya setiap hari. Mereka seperti berlomba-lomba saling mendahului bertanya ke ibunya.


Kalau Helmi sudah menanyakan di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, maka menjadi giliran Nasya untuk bertanya hal yang sama di sore hari saat kakak-kakaknya pulang sekolah.


'InsyaAllah lusa Ayah pulang, Nak. Tadi malam Ayah bilang acaranya sudah mau selesai, doakan Ayah ya, Nak. Supaya kegiatan Ayah disana lancar, Ayah bisa menang lomba dan pulang dengan selamat.'


'Aamiin' Kakak Mala menyahut dari dapur.


'Ayah ikut lomba ya, Bu? Lomba apa?' tanya Helmi dengan wajah polosnya.


'Lomba kerajinan anyaman. Itu lho, Bang...yang waktu Ayah mau berangkat abang kan bantu ibu bungkus jam yang besar dan dibuat dari rotan dan anyaman rumput purun kan..'


'Ooo.....iya abang ingat jam yang besar'


'Ayah menang ga, Bu?' Nasya ikut mendekatiku dan duduk di sebelahku.


'InsyaAllah, kita doakan ya....'


Hari sabtu anak-anak tidak sekolah. Sekolah mereka hanya sampai hari jumat saja. Sabtu dan minggu adalah waktunya anak-anak belajar dirumah bersama orangtuanya. Dan kegiatan bersama orangtua biasanya akan diberikan arahannya dari pihak sekolah, menyesuaikan dengan target yang harus dicapai.


Sesekali ada tugas untuk membantu orangtua dirumahnya memasak di dapur, membersihkan kamar dan lain-lain. Dan saat masuk sekolah di hari senin, murid-murid diminta untuk menceritakan kegiatan akhir pekannya dalam bentuk tulisan atau disampaikan langsung sambil bercerita di depan kelas.


Hal ini untuk melatih apakah anak bisa bertanggungjawab atas amanah yang diberikan kepadanya oleh gurunya sebelum akhir pekan, yaitu membantu orangtuanya dirumah.


Aku dan suamiku sepakat dengan konsep itu, Karena itulah kami memasukkan anak kami ke sekolah yang sama. Bukan sebatas hemat tenaga dalam mengantar dan menjemputnya saja. Namun agar anak-anak mendapat arahan yang sama antara dirumah dan disekolahnya hingga bisa memiliki karakter yang utuh dan kokoh.


'Assalamu'alaikum....'


'Wa'alaikumussalam....'


'Eyang datang Kak, Abang, Nasya...' anak-anak langsung berhamburan menyambut kedatangan Eyang dan budhe-nya.


Mertua dan kakak iparku dari Banjarmasin mampir kerumah siang itu. Serasa mendapatkan durian runtuh kedatangan Eyang bersama Kakak ipar memberikan bantuan tenaga untuk menghibur anak-anak.


Sepuluh hari penuh aku hanya sendirian mengurusi anak-anak dirumah. Dalam kondisi menahan dan menjaga untuk tetap bertahan meski dalam hantaman kesibukan yang lebih padat. Aku merasa sangat bahagia sekarang, dengan kedatangan mereka. Aku bisa istirahat sebentar dan membiarkan anakku yang sedang tumbuh didalam perut untuk istirahat juga.


'Gimana, Dek...masih mual?'

__ADS_1


'Alhamdulillah sudah agak berkurang, Mba'


'Anak-anak ga dibawa, mba?'


'Anak-anak lagi sama bapaknya dan Eyang Kakung ke Lapangan Murjani lihat pameran buku.'


'Oiya tanggal 20 ya sekarang, kemarin sempat ada orang Pemda datang ngajakin ikut ngisi bazaar disana juga. Saya bilang ga bisa karena kami sedang ada pameran di Turki. Barang-barang banyak yang dibawa kesana, disini hanya sedikit dan ini pesanan orang aja banyaknya. Belum dikirimkan karena masih mau di decoupage dulu' aku menjelaskan sambil menunjuk beberapa tumpukan tas dan keranjang yang baru selesai di beri cat putih untuk dasar decoupage.


'Nanti juga ada acara lagi, Banjarbaru kan sering mengadakan acara-acara di Lapangan Murjani dan Lapangan Gubernuran'.


'Nia...istirahat dulu saja, biar Eyang nemenin anak-anak sama mbakmu.' Eyang datang menghampiri kami yang sedang ngobrol di halaman belakang.


'Iya Eyang.' aku pun melangkah masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sejenak.


.


.


'Lagi ngapain, Sayang....' pesan singkat dari suamiku.


'Lagi tidur nih.....'


'Tadi mimpi ga?'


'Enggak sih...maaf ya ga sampe mimpiin ayah'


'Enggak...' jawabku sambil senyum-senyum dan mulai membuka mataku dengan sempurna, mengusir rasa kantuk yang masih tersisa.


'Padahal Ayah mimpiin ibu lho....sama anak-anak'


'Masa??....Kalo kangen pulang sini yuk'


'InsyaAllah besok pulang, sampai di Kalimantan mungkin lusa. Penerbangannya ke Kalimantan pesawat yang Pukul 8 pagi.'


'Hmmm...jadi sampai rumah kira-kira jam 11 siang yah' Karena ada selisih perbedaan waktu Jakarta dengan Kalimantan selama 1 jam.


'Iya...kira-kira'


'Bagaimana disana, Yah? Barang-barang masih banyak ga?'


'Alhamdulillah Ayah menang dapat juara dua'


'Alhamdulillah ....'


'Barang-barang hanya tersisa sedikit aja, sebagian Ayah berikan ke rekan artisan dan kenalan disini untuk kenang-kenangan. Mr. Najmudin juga Ayah kasih, senang betul beliau'


'Iya ga papa, sisa bazar di bagikan saja, sambil minta didoakan semoga makin berkah'

__ADS_1


'Anak-anak sehat semua kan?'


'Alhamdulillah anak-anak pinter dan sehat. Kakak yang rajin bantu ibu di dapur.'


'Kemarin siang Eyang dan budhe mampir kerumah. Mereka masak banyak banget, disimpan di kulkas sebagian. Paham kalau aku lagi mabuk dan ga bisa masak sering-sering'


'Alhamdulillah...'


'Ayah ga kasih kabar ke Eyang ya? Soalnya tadi pas datang Eyang banyak tanya kondisi Ayah gimana disana.'


'Ibu kasih lihat kiriman foto-foto Ayah ke Eyang dan budhe tadi'


'He..he...iya. Ga sempat kasih kabar ke Eyang memang. Cuma bisa kasih kabar ke ibu aja nih...jadwal kegiatan disini lumayan padat juga. Pameran juga rame sekali pengunjungnya. Banyak dari kalangan mahasiswa disana. Karena acaranya memang dekat kampus'


'Ayah hanya bisa pakai wifi kalau sudah di hotel atau bandara aja. Di tempat pameran tidak ada wifi karena kami di lapangan terbuka. Dan kalau sudah sampai hotel tinggal tidur aja, jadi memang beneran ga sempat kasih kabar.'


'Hmmm pantesan aja...Eyang sampai berkaca-kaca lho lihat Ayah berbaju melayu dan berdiri di depan stand Ayah. Terharu anaknya bisa bawa nama bangsa keluar negeri kayaknya.'


'Alhamdulillah'


'Oiya...menang juara dua dapat apa aja, Yah?'


'Dapat piala....'


'Piala aja?'


'Sama difoto'


'Kirim ke ibu dong foto-fotonya...kan mau lihat juga. Trus dapat apa lagi? Souvenir yah...'


'Enggak sih klo souvenir, tapi amplop. Dapat 800 US dollar'


'Alhamdulillah....lumayan untuk beli barang-barang lagi dan ngebazaar disini he..he..he..'


'Ada beberapa jadwal bazaar yang sudah masuk ke Kita nih, Yah.'


'Sepanjang Ayah disana, ibu ga terima tawaran bazaar disini. Barang-barang kan banyak dibawa kesana. Ibu mengiyakan untuk jadwal-jadwal setelah kepulangan Ayah. Ada lima jadwal kegiatan yang sudah Ibu catat'


'Iya...boleh juga.'


'Ayah udah ngantuk nih...besok harus rapikan stand bazaar dan ke bandara siangnya. Penerbangannya sendiri baru menjelang sore nanti'


'Mudah-mudahan lancar penerbangannya ya sayang....istirahat dulu deh'


'Ibu juga jangan kecapean yah...bilang aja kalau perlu ditemenin sama Eyang.'


'Iya....'

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2