Hati Yang Terpendam

Hati Yang Terpendam
JARAK JAUH


__ADS_3

'Bagaimana mualnya, Bu?'


'Lumayan....sama seperti yang sebelumnya, cuma kali ini lebih berat'


'Beratnya?'


'Ga ada Ayah disini....'ucapku sambil merajuk


'Oooh....sabar yah....'


'Bagaimana disana, Yah?'


'Alhamdulillah semua lancar'


'Bisa makan makanan disana?'


'Bisa....tenang aja'


Hal yang paling mengkhawatirkan bagiku adalah asupan makanan suamiku disana. Selama ini suamiku sangat pemilih dalam makan. Sebenarnya seleranya simple saja, namun yang simple itu seringkali tidak selalu tersedia, apalagi di luar negeri.


Aku yang tidak pandai memasak bertemu dengan suami yang selera makannya sederhana, cocok sekali. Sayur bening, ikan atau ayam digoreng, sambal, itulah menu favoritnya.


Sementara aku, aku suka yang banyak bumbu untuk masakan Nusantara dan banyak keju untuk masakan Barat.


Sekilas kami terlihat seperti dua kutub yang saling berbeda. Namun, seperti yang terjadi, dua kutub yang berbeda itulah yang selalu tarik menarik.


'Kemarin para juri keliling untuk menanyakan masing-masing artisan (pengrajin) tentang produk unggulannya.'


'Trus Ayah gimana? Bisa jawab?'


'Iya dong.... alhamdulillah para juri terlihat cukup puas dengan penjelasan ayah.'


'Tahu dari mana, Ayah?'


'Dari ekspresi wajahnya saat Ayah menjawab satu persatu pertanyaan mereka. Dan dari lamanya mereka mengunjungi stand Ayah. Yang lain hanya dikunjungi sekitar 10-15 menit aja. Tapi di stand Ayah, mereka hampir satu jam melihat satu persatu produk yang Ayah pajang.'


'Oya....'


'Dan mereka kan ada 6 orang, masing-masing mengajukan pertanyaan yang berbeda, dan setiap Ayah jelaskan, semua juri turut menyimak. Termasuk Mr. Najmudin, wajahnya senyum terus.'


'Memang aslinya ramah atau gimana?'


'Aslinya orangnya serius dan jarang tersenyum'


'Di stand sebelah Ayah, Mr. Najmudin sempat agak marah, karena artisan (pengrajin) nya ga ditempat. Entah keliling kemana dia, pas juri datang dia ga ada. Mr. Najmudin lah yang menjelaskan produk unggulannya sambil membacakan dari kertas yang dibawanya. Sepertinya itu info produk yang masing-masing artisan (pengrajin) kirimkan di awal persyaratan ikut pameran ini'


'Kalau standnya Pak Bowo dekat dari stand Ayah ga?'


'Enggak, Karena beda kriteria, makanya stand Pak Bowo agak jauh dari Ayah.'


'Ayah ada ngunjungin standnya waktu pameran belum mulai'


'Standnya isinya simple banget. Hanya kayu ukiran setengah jadi, yang dikerjakan sisanya sepanjang pameran, beberapa hasil karyanya, dengan ukuran yang lebih kecil dan satu produk unggulannya berupa pahatan dari pemandangan pedesaan lengkap dengan sawah dan aliran airnya, bagus banget.'

__ADS_1


'Asli artisan (pengrajin) ya Pak Bowo'


'Iyalah...'


'Beda dengan Ayah, artisan (pengrajin) dadakan'


'Ha...ha..ha...ha...bener juga'


Saat jauh begini kami malah jadi semakin terasa dekat. Memang setiap kali suamiku dinas luar Kota saat masih bekerja dulu, kami malah jadi makin sering komunikasi dan saling cerita banyak. Meski hanya via pesan singkat saja.


Hal ini berbeda saat suami ada dirumah. Kami jarang ngobrol santai, yang sering terjadi adalah kelelahan bareng. Sibuk masing-masing mengurusi anak dan bisnis online.


Fase saat Kakak masih kecil dan mulai lahir adik-adiknya, maka berikutnya selalu ada anak kecil yang akan membuat kami kelelahan saat Jelang tidur malam. Lelah dengan senyuman. Karena tingkah polah anak-anak di saat usianya masih balita sanggup mengusir lelah seketika.


'Ayah berapa lama lagi disana?'


'Sekitar tiga hari lagi. Ayah langsung pesan tiket sambung ke Kalimantan, jadi tidak mampir lagi kerumah Mama. Ga papa ya, supaya Ayah cepat pulang kerumah.'


'Ga papa, Ayah. Kemarin sudah bilang juga ke Mama dan Papa, mereka tidak mempermasalahkan.'


'Jam berapa disana sekarang?'


'Jam 2 malam'


'Wah...disini baru jam 10 malam.'


'Ya sudah, ibu tidur ya....biar besok ga kesiangan, ga mabuk dan sehat.'


'Iya Ayah.... banyak-banyak doakan ibu ya, supaya ibu kuat dan ga kelelahan'


'Sama-sama suamiku, selamat istirahat juga....'


Obrolan malam itupun akhirnya disudahi. Selepas obrolan itu kondisi mualku agak berkurang. Mudah-mudahan esok hari tubuhku sudah lebih fit untuk bisa mengantar anak-anak sekolah dan menjemputnya.


.


.


.


'Nak...Ayo berfoto dulu didepan pintu, ibu mau kirim foto ke Ayah.'


'Judulnya Aktifitas pagi tanpa ayah' Kakak menanggapi perkataanku.


'Kalau Idul ibu foto kami juga ga?' tanya Nasya sambil memeluk boneka kesayangannya yang Alan diajak serta berfoto.


'Foto dong...kan kalian semua imut-imut banget kalau lagi tidur.' ujarku sambil menggoda anak-anak.


'Ih ibu...ada-ada aja...' Anakku yang nomor dua ikut menimpali.


'Biar jadi obat kangen untuk Ayah kalau lihat kalian di foto dan sehat-sehat aja, Ayah kan jadi senang.' sahutku menjelaskan.


'Memangnya kalian kangen ga sih sama Ayah?'

__ADS_1


'Kangeeennnnnnnnn bangettt!!!!!!' jawab mereka kompak.


Dengan segera anak-anak mulai beraksi dengan gayanya masing-masing.


'Yuk Kita berangkat sekolah dulu' ajakku setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul 6.50, Itu berarti 10 menit lagi Bel sekolah akan berbunyi.


.


.


'Anak-anak sudah diantar sekolah, Bu?' tanya suamiku tidak lama setelah menerima kiriman foto anak-anak tadi pagi.


'Sudah, ini ibu baru aja sampai rumah, habis dari pasar. Sekalian setelah antar anak-anak tadi.'


'Hmmm....'


'Disana kan masih jam 4 pagi ya?'


'Iya'


'Kok sudah bangun?'


'Setiap hari disini selalu bangun jam 4 kok...'


'Ooo....'


'Biar bisa nanyain kabar anak-anak dan ngecek kondisi istri tercinta'


'Hmmm.....gitu ya...'


'Ayah....ibu itu Ayah ya...Asya mau omong...'


'Ooh iya...Ayah...ini Nasya nih mau ngobrol sama Ayah katanya' aku pun memberikan handphoneku ke Nasya.


Dan Nasya langsung asyik berceloteh menceritakan adegan foto-foto tadi pagi, perjalanan mengantar kakak-kakaknya ke sekolah, juga keseruan berbelanja secara kilat bersamaku. Karena aku tidak mau kena sinar matahari yang terik, jadi ke pasarnya cepat-cepat. Biar ga pingsan di jalan.


Aku mulai merapikan belanjaanku ke dalam kulkas, memisahkan yang akan dimasak pagi ini dengan yang akan dimasak nanti.


Beruntung di jaman sekarang ada banyak video online yang mengajarkan cara memasak dengan mudah dan cepat. Hal itu sangat membantu ibu-ibu sepertiku yang sering kehabisan ide mau masak apa, tapi belum berani mencoba memasak masakan dengan banyak bumbu.


'Ibu....ini cudah'


'Oke... terimakasih sayang, sekarang tolong simpankan handphone ibu di meja makan dulu yah, ibu mau masak dulu.'


'Iya, bu...' Nasya pun berlari menuju meja makan dan beralih ke boneka kesayangannya.


Tak lama handphoneku berbunyi menandakan chat masuk ke jalur pribadi.


Sambil senyum sendiri aku melihat kiriman foto-foto yang dikirimkan suamiku, mulai dari aktifitas disana hingga semua menu makanan yang dimakannya. Mulai dari sarapan, snack, makan siang hingga makan malam.


Melihat kiriman foto suamiku yang tampak segar dan sehat, aku pun menjadi lebih tenang dan tidak terlalu mengkhawatirkan lagi perihal makanan yang bisa dimakan suamiku selama berada disana. Di negara yang sangat berbeda menu masakannya dengan Indonesia.


Bersambung.....

__ADS_1




__ADS_2