
Perjalanan tur masih berlanjut, kami dibawa menuju Masjid Biru untuk shalat dzuhur berjamaah disana.
Masjid Sultan Ahmed juga berada satu komplek dengan Hagia Sophia dan Istana Topkapi, seringkali bangunan indah ini disebut Masjid Biru. Dekorasi berwarna biru mendominasi atap kubah raksasa masjid dengan 6 menara yang menjulang tinggi..
Masjid Biru tampak mencolok dari tepi dermaga yang memisahkan antara Turki di Benua Asia dan Benua Eropa. Setiap sisi halaman masjid meninggalkan kisah sejarah yang tak ada habisnya, berbagai acara keagamaan dan kekaisaran digelar di sini.
Turis yang masuk ke masjid tidak akan mengganggu rumah ibadah umat islam ini. Ada pembatas yang dikhususkan bagi pendatang yang ingin shalat. Rasa saling menghormati terjaga dengan baik di masjid ini.
Hampir satu jam kami berada di Masjid Biru. Berkeliling dan memperbanyak koleksi foto selama di Turki. Aku bertemu dengan Mr. Nur Pasha disana, dan beliau mengajak untuk mampir ke cafenya. Namun karena kami harus bersegera kembali ke ruang utama pameran maka kami hanya bisa berjanji malam hari akan mampir ke cafenya.
Sebenarnya aku masih ingin masuk kembali ke Hagia Sofia. Belum puas rasanya untuk melihat lebih dekat bangunan ini. Namun apa daya, rangkaian kegiatan acara sudah menanti.
InsyaAllah suatu hari nanti aku akan kembali lagi kesini bersama isteri dan anak-anakku. Untuk saat ini aku akan merekam semua kenangan di Turki kedalam ingatanku dan koleksi foto di dalam handphoneku.
'Bang...acara puncak kita sudah mau mulai, Abang sudah siap?' Aku mengetuk pintu kamar Bang Ismail mengingatkan. Biasanya dia yang lebih dulu mengetuk pintu kamarku.
'Mas Doni...Ayo kita berangkat' Pak Bowo datang menghampiri lengkap dengan pakaian khas Yogyakarta.
'Iya, Pak. Ini masih manggil Bang Ismail, tadi minta berangkat bareng'
'Wahhh....Bang Ismail sudah di lobby tuh....' tunjuk Pak Bowo ke arah lobby yang melihat Bang Ismail sedang berbicara dengan beberapa rekan artisan lainnya.
'Saya kira masih di kamar' aku pun berjalan bersama Pak Bowo menuju lobby hotel.
__ADS_1
.
.
'Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh peserta dari berbagai negara yang telah hadir dan berperan dalam pameran kerajinan rakyat yang kelima ini.'
'Kita telah menyimak bersama berjalannya pameran ini selama sepuluh hari telah berjalan dengan baik. Hal ini adalah karena kerjasama kita semuanya.Sekali lagi kami sampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya.'
'Dan kita akan beranjak kepada pengumuman para pemenang dari berbagai jenis kerajinan yang terbagi dalam dua puluh kategori.'
Semua artisan (pengrajin) menghadiri acara puncak pameran ini. Malam ini acara terakhir dalam rangkaian kegiatan pameran di Turki. Besok kami diberikan waktu setengah hari untuk membereskan stand, check out dari hotel dan langsung menuju bandara kembali ke Indonesia.
'Dan pemenang kedua untuk kategori anyaman adalah......Mr. Doni Aditya from Indonesia!'
Aku tersentak mendengar namaku dipanggil. Bang Ismail langsung memelukku bersama dengan Pak Bowo dan beberapa rekan artisan lainnya.
'Selamat Mr. Doni...Saya sangat menyukai produk yang anda ikutkan dalam lomba ini. Dan semua juri memiliki pendapat yang sama dengan saya. Saya bangga dengan anda.' Mr Najmudin turut menyambutku di atas panggung bersama panitia lainnya.
'Terimakasih banyak atas kesempatan yang bapak berikan kepada saya, ini adalah pertama kalinya saya mengikuti kegiatan ini. Dan saya berterimakasih lagi untuk penghargaan anda atas kerajinan yang saya ikutkan dalam perlombaan ini.'
Tak lama aku juga mendengar nama Pak Bowo dipanggil sebagai juara pertama dalam kategori yang berbeda. Alhamdulillah semua perwakilan dari Indonesia memenangkan perlombaan ini.
Namun aku tidak mendengar nama Bang Ismail dipanggil. Tampaknya dia berada di kategori yang cukup berat pesaingnya dari negara lain. Bang Ismail berada di kategori aksesories. Dan memang aksesories dari negara lain luar biasa bagus-bagus. Ukiran pada perak dan emas pada kalung, gelang dan cincin dibuat secara manual dengan design yang sangat unik.
Selesai acara puncak, kami bertiga memenuhi undangan dari Mr. Nur Pasha untuk mengunjungi cafenya.
Cafenya sangat nyaman. Meski tidak terlalu besar, namun sangat apik dan penuh hiasan khas Turki. Ada sudut khusus yang memajang seluruh pemberian dari para artisan yang akrab dengan Mr. Nur.
__ADS_1
Aku memberikan topi anyaman yang terbuat dari kulit rotan halus dengan motif khas suku Dayak asli Kalimantan. Mr. Nur sangat senang sekali dengan hadiah yang aku berikan.
Mendengar bahwa dua diantara kami memenangkan perlombaan, Mr. Nur langsung melarang kami untuk membayar. Beliau ingin ikut merayakan kemenangan kami.
Selesai makan malam, berfoto dan ngobrol kesana kemari akhirnya kami berpamitan untuk mempersiapkan kepulangan di esok hari.
Bang Ismail yang sudah kembali ceria dan tidak lagi bersedih berjalan dengan semangat menuju hotel tempat kami menginap.
.
.
'Mr. Edu kapan-kapan kalau liburan ke Indonesia jangan lupa kunjungi juga Kalimantan Selatan dan mampir ke kota Banjarbaru ya, saya akan ajak Mr. ke pasar terapung, kita makan soto banjar di bawah jembatan.'
'Ha..ha..ha..tentu saja Mr. Doni...aku sudah menyimpan nomor kontakmu dan kalau saatnya liburan nanti, aku pasti menghubungimu' jawab Mr. Edward dengan antusias.
Mr. Edu adalah artisan dari Afrika yang standnya berada tepat dibelakang standku. Beliau adalah pengrajin kulit hewan. Produknya mulai dari tas, jaket, topi dan lainnya. Semuanya dibuat secara manual. Padanan kulit dan besi menjadi ciri khasnya.
Mr. Edu memberikan satu tas kulit kecil untuk anak. Sebagai kenang-kenangan aku pun memberikan satu keranjang anyaman rotan dengan ukuran yang cukup besar kepadanya.
Tak lama beberapa pelangganku datang dan mengambil produk yang telah dipesannya. Karena sepanjang pameran, pembeli hanya boleh membeli barang dan memberikan tanda saja tanpa membawa barang yang dibelinya. Semua produk yang terjual, hanya boleh diambil saat pameran telah selesai. Dan masing-masing pembeli meninggalkan nomor yang bisa dihubungi ke pihak panitia. Pihak panitia-lah yang akan mengingatkan pembeli untuk datang lagi ke pameran dan mengambil barang yang telah dibelinya.
Tak jarang mereka pun menambah belanjaannya karena aku memberikan diskon besar untuk barang-barang yang masih tersisa belum terjual.
Khusus untuk yang membeli dalam jumlah banyak, aku memberikan satu produk secara cuma-cuma, sebagai ucapan terimakasih dan kenang-kenangan untuk mereka. Beberapa pembeli yang membawa anaknya aku berikan juga topi anyaman dari purun yang telah ditambah hiasan bunga dan pita oleh isteriku hingga menjadi produk anyaman yang unik dan sangat cantik.
Saat aku membereskan barang-barang yang masih tersisa, hanya tinggal dua kardus saja yang akan aku bawa pulang. Kardus pertama berisi peralatan pendukung untuk menganyam, dan kardus satunya lagi separuhnya adalah pemberian dari artisan lain sebagai kenang-kenangan. Kami saling bertukar kenang-kenangan yang akan dibawa pulang ke negara masing-masing.
__ADS_1
Bersambung.....