Hati Yang Terpendam

Hati Yang Terpendam
TAMU-TAMU


__ADS_3

'Baik kita foto dulu ya...bareng sama contoh produknya juga' salah satu dari ajudan Wakil Walikota mengarahkan kami semua untuk berfoto sebelum pamit.


'Ya...!' kamera handphone pun diturunkan dari posisi pengambilan gambar, tanda bahwa sessi berfoto telah selesai.


'Terimakasih telah berkunjung ke galeri mini kami' Ucapku kepada seluruh rombongan Wakil Walikota yang berjumlah empat orang.


'Sama-sama terimakasih, InsyaAllah nanti saya info lagi untuk persiapan acara pameran di sini ya, Pak Edo. Kami pamit .. terimakasih banyak' sahut salah satu ajudan yang pamit belakangan.


Cici Aisyah yang sedari awal ikut menemani kami, turut melambaikan tangannya ke rombongan tamu yang mulai bergerak menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah kami.


'emput A'a....' teriak Cici Aisyah senang. Mengingatkan Ayah untuk menjemput Mas Isa dari sekolahnya.


'Aisyah ambil jaket dulu sama kacamatanya ya, panas soalnya, biar ga silau duduk didepan motor nanti.' ujarku sambil merapikan barang-barang ke posisi semula.


Sementara suamiku masih mencari kunci motor didalam rumah. Dan bersiap untuk menjemput anakku yang bersekolah di TK.


Tak berapa lama selepas kepergian suamiku dan Aisyah, datanglah dua mobil hitam didepan halaman rumah kami.


Tampak beberapa ibu-ibu yang turun dari dalam mobil, beberapa ibu menggunakan seragam khas ASN, sama dengan warna seragam yang dipakai Bapak Wakil Walikota bersama rombongan yang belum lama pergi.


Di mobil hitam yang kedua turunlah ibu Walikota bersama ibu Wakil Walikota, keduanya berjalan beriringan dan melemparkan senyum ke arahku yang menyambutnya didepan pintu galeri mini kami.


'Assalamu'alaikum....'Ucap ibu Walikota bergantian dengan ibu Wakil Walikota.


'Wa'alaikumussalam, Mari masuk ibu-ibu..silakan' aku pun mempersilakan mereka untuk memasuki galeri mini kami.


Satu persatu tamu-tamu yang datang memasuki galeri mini dan mulai melihat-lihat produk yang telah aku pajang dan susun sedemikian rupa sejak kemarin dibantu suamiku.


Ragam pertanyaan mulai dilontarkan oleh mereka. Mulai dari proses pembuatannya, siapa yang membuat anyamannya dan menghiasnya menjadi cantik dengan sentuhan decoupage juga bunga-bunga yang terbuat dari pita dan kain perca. Tak segan mereka menanyakan harga-harga dari aneka produk yang dipajang.


Obrolan kami pun berlanjut cukup hangat, semua rasa penasaran mereka dapat aku jawab dengan jelas. Hal-hal yang selama ini tidak diketahui oleh mereka, para pemimpin daerah, bahwa produk lokal khas daerah ternyata sangat diminati di luar negeri. Keunikan produk dengan bahan alami sedang trend disana. Apalagi sekarang sedang memasuki awal musim panas. Dan kebiasaan diluar negeri saat musim panas adalah piknik, berkemah dan ke pantai. Produk yang aku pasarkan sangat mendukung untuk aktivitas di musim panas itu.


Cukup lama para tamu ini berada di Galeri Mini kami. Hingga salah satu ajudan mengingatkan berkali-kali bahwa masih ada jadwal kunjungan lainnya yang harus didatangi oleh ibu Walikota dan ibu Wakil Walikota.


Kembali ke sessi foto lagi sebelum pamitan. Meski saat mencoba produk dan bincang-bincang tadi sudah banyak foto yang diambil, namun masih belum cukup rasanya kalau tidak berfoto bersama menjelang pamitan.

__ADS_1


'Ibu jangan lupa pesanan saya yang tadi yah, nanti tim saya yang akan ambil kalau sudah selesai. Ira...Ira...' Ibu Wakil Walikota memanggil salah satu ajudannya.


'Iya, Bu..'seorang gadis muda dengan make-up kekinian yang tampak glowing langsung mendekati kami karena namanya dipanggil.


'Kamu nanti yang ambil pesanan saya ke Ibu Neti yah' ujar ibu Wakil Walikota sebelum berjalan pamit keluar halaman.


'ibu saya catat nomor handphonenya ya, supaya nanti bisa kasih kabar kalau sudah selesai.' Mba Ira segera mengeluarkan handphone dari tas kecilnya.


'o..iya boleh..' sahutku sambil mulai menyebutkan nomor handphoneku.


Saat rombongan ibu-ibu sedang berpamitan, suamiku bersama dua anakku pun tiba dihalaman rumah.


Kembali Aisyah sibuk ikut melambaikan tangannya ke mobil-mobil yang mulai bergerak menjauhi halaman rumah kami.


'Muter dulu tadi Ayah, melihat rumah lagi banyak tamu, belikan Aisyah permen ke ruko didepan' suamiku menjelaskan alasan kenapa lama sekali baru kembali dari menjemput Mas Isa.


Biasanya hanya memerlukan waktu setengah jam saja, namun kali ini sudah lebih dari satu jam masih belum kembali.


'Wah banyak juga yang dibeli ibu-ibu tadi ya?' Tanya suamiku saat melihat beberapa barang di rak terlihat kosong.


'Yah begitulah ibu-ibu kalau kunjungan. Beda dengan bapak-bapak tadi' ujarku masih sambil senyum-senyum.


Allah Maha Adil, di kala pembeli online sedang sepi, didatangkanNya pembeli langsung ke galeri mini kami. Alhamdulillah.


'Bu...kita harus siap-siap juga, habis 'Ashr ini ada wartawan yang mau wawancara' suamiku mengingatkan jadwal berikutnya.


'Eh iya ya...ibu susun lagi deh barang-barang yang masih dibelakang, yang tadi masih dijemur habis di decoupage.


'Iya, supaya terlihat banyak produknya. Soalnya ini sudah banyak yang kosong' sahut suamiku sambil kembali menunjuk rak-rak pajangan yang kosong.


.


.


Tim wartawan datang kerumah sebanyak dua orang saja. Yang satu bertugas untuk mewawancara dan satunya mengambil dokumentasi sambil sesekali ikut nimbrung dalam sessi wawancara.

__ADS_1


Kali ini yang banyak bicara dan menjawab pertanyaan adalah suamiku. Karena memang topik utama dalam wawancara itu adalah membahas perihal kemenangan suamiku dalam lomba pameran di Azerbaijan.


Aku lebih banyak diam dan menyimak penjelasan suamiku. Hanya sesekali menimpali untuk melengkapi jawaban dari pertanyaan wartawan.


'Baik terima kasih atas waktunya Pak Edo dan Ibu Neti' ucap Mas Dodi, wartawan yang mewawancara kami berdua.


'Sama-sama terimakasih juga.' sahut suamiku.


'Oiya ini ada oleh-oleh untuk Mas Dodi dan Mas Eko dari galeri kami' ujarku sambil menyerahkan bingkisan produk yang sudah kami siapkan.


'Wah....terimakasih banyak, MasyaAllah dapat oleh-oleh kami' sahut Mas Eko sambil tersenyum lebar.


Setelah kedua wartawan itu pamit, suamiku pun segera bersiap-siap untuk menjemput tiga anak kami yang bersekolah di SD dan SMP. Lokasi sekolah anak-anak berada dalam satu kawasan, mereka akan saling menunggu jika ada saudaranya masih ada yang belum keluar dari kelasnya.


Karena ada tiga anak yang akan dijemput, maka kali ini suamiku menggunakan mobil kijang kapsul tua kami untuk menjemput mereka.


'Aisyah sama Mas Isa mau ikut ga?' ajak suamiku


'Mauuuu.....auuuuu....' Jawab kompak dari Aisyah dan Isa berbarengan.


'Cici Aisyah kerudungnya.....Mas Isa nanti jagain cici Aisyah di mobil ya..' pesanku ke Mas Isa.


'Ayo salim dulu sama ibu..'perintah suamiku ke anak-anak.


'Assalamu'alaikum...ibu...'


'Sam ikum bu...' ujar Aisyah sambil menggendong salah satu bonekanya.


'Ayah....paket....sekalian kirimkan paket-paket ini Yah...hampir lupa.' teriakku saat mobil baru akan keluar dari halaman rumah.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2