
Namaku Doni Aditya. Sudah satu tahun ini aku menemani istriku jualan online. Pengurangan pegawai yang terjadi tahun lalu akhirnya mengenaiku. Sudah dua tahun belakangan perusahaan tempat aku bekerja mulai melakukan pengurangan pegawai secara besar-besaran.
Krisis ekonomi yang kali ini begitu memukul perusahaan kami tak sanggup bertahan tanpa melakukan pengurangan pegawai. Produksi yang menurun drastis karena pesanan banyak yang dibatalkan mau tidak mau pemimpin perusahaan mengambil langkah ekstrim. Hampir separuh tenaga produksi dirumahkan.
Posisiku sebagai penanggungjawab IT di perusahaan pada akhirnya pun terkena juga. Dan akhirnya setahun belakangan sibuk menjadi kurir dan juru antar untuk membantu pengiriman pesanan online yang dikelola istriku.
Aku sudah memiliki tiga orang anak, dengan jarak kelahiran hanya terpaut dua sampai tiga tahun saja. Anak nomor tiga kini berusia 3 tahun, bernama Nasya. Yang nomor dua baru saja masuk Sekolah Dasar kelas satu, usianya hampir 7 tahun, bernama Helmi. Dan anak pertamaku baru duduk di kelas lima Sekolah Dasar, usianya baru 10 tahun, bernama Mala.
Aku menikah dengan istriku, Tania Namira, dua belas tahun tahun lalu. Memasuki tahun kedua, istriku baru mulai mengandung anak pertama kami. Kami menikah Karena dijodohkan oleh guru ngajinya yang merupakan teman akrab kakakku. Aku yang lahir dan besar di Pulau Kalimantan, melamar dan bertemu pertama kalinya dengan perempuan yang akan menjadi istriku di Jakarta.
Aku langsung menerima perjodohan itu karena merasa sudah saatnya menikah, meski belum melihat wajah calon istriku, aku mempercayakan sepenuhnya ke kakakku. Dia juga yang selama beberapa tahun ini paling semangat mencarikan jodoh untukku. Adik laki-laki satu-satunya. Pekerjaan sudah ada, gaji cukup bahkan diatas UMR ukuran ibukota.
Pertama kali melihat secara langsung wajah istriku saat itu dirumahnya, aku merasa ya... dialah jodohku. Penampilannya yang sederhana tanpa make-up, gamis hijau tosca berpadu dengan kerudung motif salur bunga bernuansa coklat tua dan wajahnya yang teduh nan putih. Meski ada beberapa jerawat kecil di pipinya, namun itu tidak mengurangi kecantikan dan kesederhanaannya.
Istriku kelahiran Jakarta, meski demikian seleranya terhadap yang bernuansa alam dan unik sangat dominan. Bisnis online yang sudah ditekuninya selama tujuh tahun ini semakin berkembang. Lama hidup di Jakarta tampaknya istriku benar-benar menguasai selera orang Kota akan keunikan produk daerah yang alami dan unik.
Aku termasuk beruntung, dalam kondisi ekonomi yang sulit kala itu, masih ada bisnis kecil-kecilan yang dijalani istriku. Maka ketika aku tidak lagi bekerja, masih ada yang bisa kami lakukan bersama dalam mengupayakan agar dapur terus ngebul.
Hal inilah yang mendorongku berani untuk mengambil tawaran pameran dan lomba kerajinan rakyat di Turki. Aku belum pernah punya pengalaman keluar negeri, dan belum punya pengalaman mengikuti pameran di dalam negeri.
Kami hanya penjual online yang suka mengedukasi pelanggan-pelanggan kami dengan informasi seputar produk yang kami pasarkan. Mulai dari proses pembuatan, bahannya hingga cara perawatan produk alam yang kami jual.
Sebenarnya hal itu memang menjadi kesukaan kami berdua, untuk menggali informasi tentang produk dan menceritakannya ke pelanggan sebagai promo keunggulan produk kami. Layanan sebelum dan sesudah pembelian selalu kami pertahankan. Tak segan kami membagi tips agar produk yang telah dibeli menjadi lebih terawat dan awet digunakan lebih lama. Agar pelanggan puas dan berkenan mempromosikan toko online kami ke kenalan mereka.
Tak disangka informasi itu sampai juga ke Pak Bowo, seorang seniman ukiran dari Yogyakarta yang sering diundang untuk menghadiri pameran serta perlombaan kerajinan di luar negeri.
Tahun ini, rekanan seniman dan pengrajin yang biasa diajaknya berhalangan hadir. Akhirnya beliau harus mencari pengganti pengrajin lainnya yang layak untuk diajak pameran keluar negeri.
Pameran ini bukanlah pameran biasa. Pameran ini digagas oleh Mr. Najmudin, kelahiran Turki yang sangat menyukai seni dan kerajinan dari seluruh dunia, khususnya yang lahir dari kebudayaan Islam. Karena menurutnya, corak seni yang berasal dari kebudayaan Islam memiliki kesamaan yang unik di seluruh dunia, termasuk yang ada di Indonesia. Bersama rekanannya dari mancanegara yang memiliki selera sama, mereka membangun komunitas dan membuat kegiatan antar negara ini secara rutin setiap dua tahun sekali.
Penjelasan panjang dan rinci dari Pak Bowo sejak telpon pertamanya satu minggu yang lalu dan berlanjut setiap hari hingga aku siap dengan semua persyaratan yang diperlukan untuk bisa lolos dalam seleksi sebagai peserta. Pak Bowo sudah seperti mentor yang kukenal puluhan tahun. Beliau sangat ramah dan tak segan membantu memberikan masukan serta saran-saran yang sangat bermanfaat.
__ADS_1
Akupun bertekad untuk segera mempelajari tehnik menganyam agar bisa tampil sebagai pengrajin yang ahli di bidangnya pada acara pameran nanti.
.
.
.
'Cil...ini rumput yang habis dipetik trus diapakan?'
'Itu nanti dijemur dulu Pak ai....sambil ditaburi abu dapur. Dijemur sampai karing banar'
'Berapa lama dijemurnya, Cil?' aku ikut bertanya menimpali pertanyaan suamiku sambil memperhatikan cara Acil menyusun rumput purun untuk dijemur.
'Tergantung Bu ai....kalau lagi terik, sehari cukup haja. Kalau lagi banyak hujan, bisa sampai dua atau tiga hari hanyar karing'
'Setelah kering, Diapakan lagi, Cil?'
'Diikat, trus ditumbuk. Bisa pakai mesin, bisa pakai tongkat kayu itu....' Acil menunjukkan tongkat kayu yang lumayan besar setinggi satu setengah meter.
'Wah....olahraga nih....serius bisa gedein otot' komentarku saat melihat cara menumbuk yang diajarkan acil.
'Kalau pas banyak yang harus ditumbuk, kami pakai mesin. Ga capek, tapi harus banyak. Karena solarnya lumayan kalau hanya untuk numbuk sedikit' Acil membawa kami ke mesin penumbuk rumput purun yang sangat besar.
Ada empat sampai enam penumbuk kayu yang digerakkan menggunakan bantuan roda kincir besar yang berputar dengan bantuan mesin genset. Ukurannya sebesar rumah. Kincirnya besar dan kayu penumbuknya lima kali lebih besar daripada yang berbentuk tongkat sebelumnya.
'Asli besar banget yah....'
__ADS_1
'Trus setelah selesai ditumbuh sampai pipih gini baru bisa untuk dianyam ya, Cil?'
'Inggih...untuk yang warna asli rumput purun dan tidak diwarna, ini sudah selesai, bisa langsung dianyam. Untuk yang diwarnai, masih harus dimasak dulu di panci besar'
Acil pun berjalan lagi ke belakang rumahnya tempat memasak rumput purun yang sudah ditumbuk untuk diberi warna.
Disana tergantung aneka warna rumput purun yang telah dimasak. Ada warna merah, biru tua, dan hijau.
'Eh bagus lho warnanya ada yang ungu dan coklat gini....ini ada kuning juga...' aku mengamati satu persatu warna yang ada.
'Inggih bu ai, Itu warnanya masih tahap uji coba. Karena kami masih lupa berapa tetes dan apa aja campurannya sampai bisa menghasilkan warna itu.'
'Wah....harus pakai buku catatan, Cil'
'Kada bisa jua bu ai....kami pernah jua ukurannya sama persis, tapi hasilnya beda.'
'kok bisa?'
'Iya itu tergantung warna asli rumput purunnya juga Bu Ai...Kadang ada yang warnanya kehijauan, aslinya. Kadang ada yang kecoklatan dan kuning. Tergantung posisi tumbuh rumputnya. Makin banyak kena air, semakin hijau.'
'Ooo....rupanya yang alam punya memang ga mudah direkayasa yah.'
Karing \= Kering.
Banar \= Benar/Banget.
Haja \= saja/aja.
hanyar \= baru
Inggih \= iya (terkadang disingkat menjadi hi'ih)
__ADS_1