Hati Yang Terpendam

Hati Yang Terpendam
MORNING SICKNESS


__ADS_3

'Pa...kopinya jangan lupa dibawa.' aku menyerahkan botol minuman berisi kopi panas yang akan menjadi teman Papa dalam perjalanan mengantarku ke bandara.


'Mama duduk didepan aja, Tania di belakang' sambil menghitung jumlah tas dan bingkisan yang sudah masuk ke dalam mobil.


Awalnya Mama tidak mau ikut mengantar, mau dil rumah aja. Tapi Papa memaksa minta ditemani supaya tidak mengantuk kalau menyetir sendirian, sepulang mengantarku. Meski kopi sudah disiapkan, tetap saja, ditemani sambil menyetir lebih ampuh mengusir rasa kantuk.


'Doni sudah sampai Turki?' tanya Mama saat sudah duduk mania dikursi depan.


'Sudah, pas subuh tadi. Penerbangannya kan 9 jam. Tadi setelah landing udah ngobrol di pesan singkat, pakai wifi bandara. Jadi ga perlu beli kartu baru. Cukup pakai jaringan internet aja.'


'Iya...kalau dulu ga bisa gitu, tuh' Papa ikut bicara dan menjelaskan kerepotan saat harus gonta ganti kartu telepon semasa masih sering dinas keluar negeri, saat masih mengurusi perusahaannya yang bergerak dibidang kesehatan sebelum mengalami kebangkrutan karena pengkhiatan dari orang dalam.


'Jam berapa jadwal pesawatnya nanti, Tania?'


'Jam 9.40'


'Oleh-oleh untuk anak-anak ga ada yang ketinggalan kan?' Mama memastikan titipannya untuk cucu-cucu kesayangannya yang ada di seberang pulau.


'InsyaAllah Aman....semua sudah masuk tas' jawabku memastikan.


Paham kalau Mama dan Papa merindukan cucu-cucunya. Maka aku tak keberatan saat dititipi banyak mainan untuk anak-anak sebagai oleh-oleh.


Terakhir orangtuaku menemui anak-anakku adalah saat mendampingi proses kelahiran Nasya di Kalimantan, anakku yang nomor tiga, saat ini sudah berusia tiga tahun. Waktu yang cukup lama untuk tidak melihat langsung cucu-cucunya.


Ya, setahun setelah kelahiran Nasya, suamiku terkena pengurangan pegawai ditempatnya bekerja. Kehidupan kami memang berubah cukup drastis sejak itu. Bersyukur masih ada usaha online yang aku jalani, masih cukup untuk membuat dapur ngebul.


'Ma...Tania pamit ya...Pa' ucapku sambil mengambil tangan kedua orangtuaku dan mencium punggung tangannya bergantian.


'Salam untuk Eyang disana ya...' Mama menitipkan pesan sambil membantuku merapikan tas serta bingkisan yang akan aku bawa pulang.


'InsyaAllah...'


.


.


.


Aku sedang menikmati camilan kacang atom pedas sambil membaca pesan lewat handphone. Rasa mual sudah mulai terasa pagi tadi. Sambal bikinan Mama yang menemani saat sarapan, cukup menenangkan rasa mualku. Semoga mual ini tidak muncul lagi hingga aku sampai dirumah.


Berbekal camilan pedas didalam tas tanganku, untuk menemani sepanjang di pesawat nanti. Aku mulai mengatur nafasku agar tenang dan membayangkan hal-hal yang menyegarkan dan menyenangkan sambil memejamkan mata sejenak.


'Penumpang pesawat menuju Kalimantan dipersilakan memasuki gerbang lima.....'


Akhirnya.....


.

__ADS_1


.


.


'Assalamu'alaikum...!'


'Wa'alaikumussalam' terdengar suara Eyang dari dalam ruangan.


Sementara Nasya sudah berlari menyambutku dipintu.


'Eh jawab dulu dong salam ibu..'


'Wa...'


'Aikumsalam...'


'Wa'alaikumussalam....' sahutku meluruskan sambil menciumi pipi gembil Nasya dalam gendonganku.


'Anak-anak aman aja Eyang?' ucapku sambil mencium punggung tangan Eyang saat menemuiku diruang tamu.


'Alhamdulillah aman. Tadi pagi anak-anak berangkat bareng sama abang Hanif dan mba Karin ke sekolah.' Eyang menjelaskan. Abang Hanif dan Mba Karin adalah Kakak sepupunya anak-anak yang satu sekolah juga, hanya berbeda tingkat saja.


'Bagaimana kabarnya Mama sama Papa?'


'Alhamdulillah baik, Eyang. Mama sama Papa titip salam juga.'


'Eh iya...ibu ada oleh-oleh untuk Nasya nih...' ajakku ke Nasya untuk membuka tas dan bingkisan yang aku bawa.


'Tapi sebentar yah....' aku langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanan yang aku makan di pesawat tadi.


'Sudah mulai mualnya, Nia? Dari kapan?'


'Iya, Eyang. Baru tadi pagi pas mau ke bandara'


'Alhamdulillah di pesawat tadi aman aja karena Nia bawa tidur'


'Istirahat aja dulu...'


'Iyah. Habis kasihkan oleh-oleh ini Nia istirahat'


.


.


'Hueeekkk.....hueeekkk....' lagi-lagi aku muntah di kamar mandi.


Setiap kali selesai menggosok gigi, rasa mual selalu muncul. Tidak memandang pagi maupun malam hari.

__ADS_1


'Ibu ga papa?' tanya anak tertuaku, Mala, yang duduk di bangku sekolah dasar kelas 5.


'Ga papa...ini biasa kalau ibu lagi hamil. Kayak waktu hamil kamu juga.' ucapku sambil membelai kepala Kakak dan berjalan ke kamar.


'Kakak masak telur sama Mie ya...Bu'


'Boleh...tapi hati-hati ya, Nak'


'Tanyakan adik-adikmu mau juga dibuatkan telur sama Mie ga?


'Iya, Bu'


Sehari setelah kepulanganku dari Jakarta, Eyang kembali tinggal bersama anaknya di Banjarmasin. Sementara aku tinggal di Banjarbaru, jaraknya cukup jauh sekitar 30 km lebih, memakan waktu satu jam perjalanan.


Maka tinggallah aku dan anak-anak dirumah ini. Untungnya anakku sudah cukup besar untuk bisa membantuku dalam menyiapkan rutinitas keseharian kami. Sehingga saat aku mual dan muntah, masih ada yang bisa menghandle urusan rumah.


Aku tidak memiliki asisten rumah tangga. Sejak awal kami berkomitmen untuk mengurusi semuanya secara bersama. Termasuk kesepakatan kami adalah mendidik anak-anak untuk bertanggungjawab dengan dirinya sendiri saat dirumah.


Aku tidak mau anak-anakku tumbuh menjadi anak yang manja, yang selalu didampingi dan diurusi oleh asisten rumah tangga hingga tidak bisa mengurusi urusan rumah tangga sendiri. Seperti diriku.


Aku banyak gagap dalam urusan rumah tangga. Saat baru menikah dan pindah ke Kalimantan, aku berkali-kali menelpon Mama di Jakarta hanya untuk mengajari cara mencuci pakaian tanpa menggunakan mesin cuci. Selama aku hidup di Jakarta, aku belum pernah mencuci bajuku sendiri. Semua diurus oleh asisten rumah tangga.


Jangan tanya soal memasak. Sebelum menikah, aku tak pernah memasak. Semua sudah dimasakkan oleh asisten rumah tangga atau sesekali Mama yang memasak langsung.


Semua aku pelajari perlahan-lahan semenjak menikah. Kesulitanku dalam menyelesaikan urusan rumah tangga sempat menjadi masalah tersendiri saat di awal pernikahan.


Beruntung ibu mertuaku sabar sekali dalam mengajari menantunya. Tak ada bosan-bosannya beliau mengajari dan mencontohkan langsung. Tak segan beliau turun tangan langsung membantuku saat sedang mengunjungi rumah kami.


.


.


.


'Abang...nanti abang diantar sama ibu guru aja yah pulangnya. Ibu ga bisa jemput abang ke sekolah karena ibu tidak tahan melihat sinar matahari, ibu mual' ujarku menjelaskan.


'Iya, bu. Nanti abang ikut ibu guru pulang.'


Meskipun agak enggan, karena tidak terbiasa berkendara dengan selain kedua orangtuanya, akhirnya abang mau diantar pulang oleh ibu gurunya yang rumahnya satu jalur pulang dengan rumah kami.


Helmi, anakku yang nomor dua. Saat ini duduk di kelas 1 sekolah dasar. Waktu keluar sekolahnya berbeda dengan kakaknya dan kakak-kakak sepupunya, jadi tidak bisa pulang bersama. Biasanya akulah yang akan menjemputnya, ditemani Nasya.


Namun, beberapa hari ini morning sickness-ku semakin menjadi. Bukan hanya mual dan muntah, badanku langsung mengeluarkan keringat dingin setiap kali keluar rumah saat matahari bersinar terik. Dua hari lalu, saat menjemput abang pulang dari sekolah pukul 1 siang, nyaris saja aku pingsan di jalan. Bajuku sudah basah oleh keringat dingin dan wajahku pucat pasi. Nafasku pun menjadi berat dan pendek.


Saat tiba digarasi rumah, aku duduk dikursi depan rumah sekitar 15 menit, sebelum akhirnya berjalan perlahan-lahan masuk ke dalam rumah. Nasya bolak balik mengajakku masuk, namun aku hanya menjawab dengan senyum dan kode tangan saja untuk minta waktu sebentar beristirahat mengumpulkan tenaga.


Semoga periode ini segera berlalu....kalau dari kehamilanku sebelumnya, periode ini berlangsung selama tiga bulan penuh.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2