
'Utie perlu menginap disana gak klo Edo berangkat ke Azerbaijan nanti?' Mamaku di Jakarta menawarkan untuk menemani dirumah, mengingat kondisi anaknya yang sedang hamil muda dan anak-anak yang masih kecil.
'Ga usah, InsyaAllah bisa aja. Anak-anak diikutkan ke antar jemput mobil sekolahan dulu sementara, jadi ga terlalu repot mondar-mandir antar jemput' jelasku menolak secara halus dengan sedikit berbohong agar Mama tidak khawatir. Pastinya aku akan menyetir sendiri dengan mobil kijang kapsul tua yang setia menemani. Yang sudah setahun ini agak jarang dipakai, karena menghemat bensin. Kami lebih sering memakai motor untuk keseharian.
Aku harus benar-benar berhemat, uang tabungan yang aku kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil penjualan online, semuanya sudah terpakai untuk persiapan keberangkatan suamiku.
Biasanya aku hanya membelanjakan barang-barang yang rutin dipesan pelanggan-pelangganku. Sebagian keuntungan aku pakai untuk dapur, sebagian lagi aku putar ke stock barang untuk peluang mendapatkan pelanggan baru dan menjaga pelanggan lama agar selalu belanja ke tokoku.
Namun dengan adanya undangan menghadiri acara keluar negeri ini, aku tidak menyetok barang dulu. Semua dana pelan-pelan dipakai untuk menyiapkan keperluan pameran.
Mulai dari baju yang akan dikenakan saat seremonialnya, barang-barang pameran, tiket menuju Jakarta, hingga keperluan pendukung lainnya.
'Kapan Edo berangkat, Ti? tanya Mamaku.
'InsyaAllah minggu depan, Ma' jawabku sambil melihat tanggalan di dinding ruang tamu.
'Berapa kilo barang yang akan dibawa ke pameran?' tanya Mama lebih lanjut.
'Free bagasinya 20kg, tapi panitia menambahkan 30kg untuk masing-masing peserta membawa barang-barang pameran. Jadi ini lagi diatur supaya yang 30kg mau dikirim aja ke Jakarta atau diikutkan bareng pas berangkat. Mana yang lebih hemat dan murah aja. Nanti dari Jakarta ke Azerbaijan sudah ditanggung sama panitia. Kita nanggung sendiri yang 30kg dari Kalimantan ke Jakarta.' jelasku panjang lebar sambil memanggil Aisyah yang sedang main di halaman belakang.
'Utiee.....Aisy au pemen' ucap Aisyah saat menyapa eyang utienya lewat telepon.
'Ooo nanti Utie kasih yah...Tapi Aisy kesini dong nanti ambil sendiri di warung Utie nih' goda Mamaku yang direspon dengan ekspresi bingungnya Aisyah.
'Ga ica, Utie..auuhhh' kata Aisyah, mengingat kalau kerumah eyang utie harus naik pesawat seperti yang sering aku jelaskan.
Sewaktu melahirkan Aisyah, Mama dan Papaku datang ke Kalimantan, menjaga anak-anakku sementara aku ditunggui suamiku untuk melahirkan Aisyah.
__ADS_1
Meski demikian Aisyah hanya mengenal eyang utie dan akungnya dari videocall. Sejak belum bisa bicara hingga sudah mulai ceriwis begini.
'Utie..udah duyu yah, Aisy au emput tata' pamit Aisyah dengan eyang utienya.
.
.
'Ayah....baik-baik disana yah. Makanannya pasti beda banget, tapi ayah harus coba makan. Kalau ada buah, makan porsi dobel yah. Biar tetep sehat' pesanku ke suami.
Aku sangat mengkhawatirkan makannya suami, karena aku tahu persis kalau suami kurang suka makan macem-macem. Seleranya sangat sederhana dan simple banget.
Satu sisi hal itu membuatku tidak repot memasak, namun sisi lainnya justru selera sederhananya itu akan menyusahkannya saat disana nanti dan inilah yang membuatku khawatir.
'Iya, InsyaAllah pokoknya makan' jawab suamiku santai.
'Abang...abang anak yang paling besar. Abang harus jagain ibu dan adik-adik. Abang harus ngecek adik-adik disekolah dan bantu pelajaran adik-adik selama Ayah pergi.' Jelas suamiku sambil mengusap-usap kepala Abang Aditya, anakku yang nomor satu.
'Untuk A'a Doni, Mas Isa dan Cici Aisyah....pokoknya ikutin aja apa kata ibu yah. Jangan kelahi, harus saling mengalah dan bantu ibu. Jangan lupa pijitin ibu ya', ucap suamiku sambil memeluk ketiga anakku yang lainnya satu per satu.
Alhamdulillah ada dua kawan suami yang juga berangkat ke Jakarta di satu pesawat yang sama. Jadi bisa menitipkan beberapa barang-barang pameran untuk diikutkan ke jatah free bagasinya. Kawan-kawannya inilah yang nanti akan membantu suami pindah dari bandara domestik ke bandara international dan menyiapkan keberangkatan dari Jakarta menuju Azerbaijan.
Pinginnya aku bisa mendampingi suami ke Jakarta dan bertemu dengan Utie juga Akung. Harus bersabar dulu, ikat pinggang kencang-kencang. Kalau ke Jakarta tidak membawa cucu-cucunya pasti akan ditanya macam-macam. Dan cucunya ada lima, kebayang biaya tiket pesawatnya yang sangat lumayan. Simpan dulu uangnya untuk biaya melahirkan nanti.
.
.
__ADS_1
'Anak-anak....sepuluh menit lagi kita berangkat ya. Siapa yang masih belum pakai seragam sekolah? Bukunya sudah diperiksa lagi semuanya? Jangan sampai ada yang ketinggalan ya....ibu ga bisa bolak-balik hanya ngantar buku yang ketinggalan lho' Ujarku panjang lebar mengiringi persiapan anak-anak berangkat ke sekolah pagi ini.
Morning sickness sudah jauh berkurang, karena usia kandunganku sudah mulai memasuki trimester yang kedua.
Di pemeriksaan terakhir bulan lalu, ade bayi dalam kandunganku berkembang dengan sehat dan sempurna. Dokter kandungan cukup lama memperlihatkan ade bayi dalam perutku dan banyak menjelaskan karena saat pemeriksaan semua anak-anakku ikut masuk ke dalam ruangan untuk menyaksikan adiknya didalam perut ibunya.
Aku ijin dulu saat akan diperiksa, boleh tidak anak-anak ikut masuk dan melihat. Alhamdulillah dokternya baik dan malah ikut senang berinteraksi dengan anak-anakku yang banyak bertanya seputar adiknya yang masih didalam perut.
'Adik laki-laki atau perempuan, Dok?' tanya Isa yang penasaran.
'Belum ketahuan nih kalau sekarang, Nak. Adik bayinya masih kecil banget. InsyaAllah nanti sekitar dua bulan lagi kita baru bisa melihat adik kalian ini laki-laki atau perempuan' ibu Dokter Rose menjelaskan sambil mengukur panjang badan adik bayi lewat alat USG.
'Mas Isa ini penasaran, karena dia kepengen adiknya ini laki-laki, Dok. Kan dia sudah punya adik perempuan nih, namanya Aisyah', aku menjelaskan ke Dokter yang sudah bersiap pindah dari sudut pemeriksaan ke meja kerjanya.
'Mas Isa harus banyak-banyak berdoa sama Allah, supaya Allah kasih adiknya ini laki-laki. Nanti sampai rumah, setiap habis shalat dan menjelang tidur, Mas Isa berdoa yah....biar Allah kabulkan' ibu Dokter tampak asyik memberi saran ke Mas Isa yang dengan serius menyimak dengan wajah polosnya.
'Sekolahnya kelas berapa sih, Mas Isa?' tanya bu Dokter lebih lanjut.
'Kelas TK B' jawab Mas Isa mantap.
'Wah sudah mau SD ya....pantesan pinter banget' puji bu Dokter sambil menuliskan resep untuk aku tebus.
'Ibu, vitaminnya sudah tidak saya tambah obat anti mual ya, sepertinya sudah tidak mual lagi, karena wajahnya sudah lebih cerah dari bulan lalu. Saya tambahkan zat besinya saja untuk perkembangan si dede ya. Karena makannya sudah ga mual, makan yang banyak yah. Ga usah takut gemuk, karena orang hamil pasti gemuk kok. Yang dipantang itu tidak makan dan tidak istirahat sama stress, itu bisa menganggu perkembangan janin' bu Dokter memberikan wejangan yang aku sahuti dengan senyuman.
'Terima kasih, bu Dokter....Ayo anak-anak salim sama bu Dokter' ucapku sambil bersiap keluar ruangan Dokter kandungan.
Bersambung
__ADS_1