Hati Yang Terpendam

Hati Yang Terpendam
GUNCANGAN KECIL


__ADS_3

Selepas kepulangan suamiku dari perlombaan di Azerbaijan, banyak tamu yang datang kerumah. Rata-rata dari instansi yang berada dibawah Walikota.


Tawaran mengisi acara bazaar di lokal daerah pun seringkali berdatangan. Dan produk yang terbuat dari purun, selama ini hanya dijadikan tempat cucian beras dan wadah untuk menangkap ikan Serta meletakkan hasil panen Jeruk untuk dijual dipasarkan, kini mulai banyak dijadikan souvenir, dipakai dalam keseharian dan dijadikan ikon dari Kota dimana kami tinggal.


Pamornya menjadi naik karena pernah dibawa dalam perlombaan di luar negeri dan banyak diminati di luar Indonesia.


Seringkali aku harus meninggalkan anak-anak di rumah mertuaku karena harus mengikuti acara dari Pemko yang memakan waktu seharian.


Di tengah kesibukan mengikuti ragam acara Pemko, aku masih tetap berusaha melayani para pelangganku dalam memenuhi pesanan mereka.


'Ayah...nanti ibu ijin keluar untuk ngambil pesanan dari acil rotan yah. Biar naik motor aja supaya cepat. Ayah kan harus jemput anak-anak dan langsung ke kantor Gubernuran untuk nyiapin bazaar di acara besok.'


'Ga ke Acilnya bareng aja, Bu?' suamiku menawarkan opsi lain.


'Waktunya ga cukup, kan Ibu harus sekalian packing untuk kirim pesanan pelanggan' ujarku menolak opsi yang ditawarkan.


'Nanti habis jemput anak-anak kita baru berangkat barengan ke Gubernuran'


'Cici Ayu ikut Ayah ya.... Mas juga' lanjutku memberi perintah ke dua anakku yang sedang asyik bermain.


'Okeh.....' jawab Mas Isa sambil membawa serta mobil-mobilan kesukaannya untuk dimainkan di dalam mobil nanti.


Akupun bersegera mengambil kunci motor dan memakai jaket untuk menghalau angin saat mengendarai motor.


'Hati-hati ya, Bu. Jangan ngebut-ngebut....' pesan suamiku saat aku akan keluar rumah.


'Iya.... kalau 80km/jam masih boleh ya...buru-buru nih' tawarku.


'Ga usahlah....pelan-pelan aja' suamiku tetap melarang.


'75 deh....'sahutku sambil memakai helm.


'Hati-hati dede di perut itu lho....' pesan suamiku.


Aku memang terbiasa membawa motor dengan kecepatan sampai 100km/jam. Jalanan yang lengang dan lebar di Kalimantan, sangat berbeda dengan jalanan di Jakarta yang nyaris tidak bisa sering ngebut, karena kepadatan kendaraan di jalan.

__ADS_1


Jalanan yang mulus, tidak ada 'jaglukan' atau polisi tidur, jarang kendaraan lewat, jauh dari rumah penduduk sungguh menggoda untuk menaikkan gas motor hingga full.


10 menit pertama membawa motor, kecepatan masih standar. Namun kembali teringat waktu yang mepet, akupun mulai menaikkan gas motor dan melaju lebih cepat.


Aku tidak lagi memperhatikan berapa sudah kecepatannya, hanya melihat ke arah jalanan dan mengingat-ingat berapa belokan lagi yang harus ditempuh untuk bisa sampai kerumah acil rotan dan bersegera mengambil pesananku yang diolahkannya.


Semua jalan nyaris mulus, hingga di satu tikungan ada jembatan yang dibawahnya mengalir sungai kecil. Inilah ciri khas Kalimantan, banyak sekali jembatan-jembatan yang agak tinggi dengan sungai yang masih aktif dibawahnya.


Perahu jukung yang menggunakan dayung maupun yang menggunakan mesin, masih sering melewati sungai-sungai ini untuk aktifitas mereka.


'Brukkk!!!'


'Astaghfirullah.....'


'Ya Allah....lupa kalau jembatan itu aspalnya turun.... astaghfirullah...de...dede baik-baik aja di dalam ya...ibu lagi buru-buru.' ucapku lirih saat baru saja melewati jembatan dengan aspal yang turun dengan kecepatan yang cukup tinggi.


Sangat terasa 'jaglukan' tadi, karena aku tidak ada persiapan. Dan cukup mengagetkan.


Motorku tetap berdiri dan berjalan biasa....tidak sampai jatuh atau hilang keseimbangan. Namun melewati 'jaglukan' tanpa bersiap sebelumnya, cukup mengejutkan dan membuat tubuh agak terhentak.


Baru teringat lagi kalau aku sedang hamil 7 bulan. Karena perutku langsung mengeras secara perlahan-lahan.


'Assalamu'alaikum.....'


'Wa'alaikumussalam, Masuk, Bu..'


'Sudah tuntung kah, Cil?


'Sudah Bu ai...'


Saat menanti acil rotan mengambilkan anyaman rotan yang sudah selesai, aku merasakan dede di dalam perutku berputar secara ekstrim.


'Aduh...berasa banget de....maafin ibu ya....kamu atur aja posisi yang nyaman untuk kamu ya.' bisikku pada dede didalam perut sambil mengusap-usapnya.


'Kenapa, Bu? tanya acil rotan yang melihatku meringis sambil mengusap perut.

__ADS_1


'Ga papa, dede didalam perut lagi berputar kayaknya nih, berasa banget' aku menjelaskan sambil tersenyum kecut mengingat jaglukan di jembatan tadi.


'Oooh....iya anak-anak klo di perut suka begitu' ujar acil menenangkan.


'Jadi berapa semuanya yang sudah tuntung, Cil?' tanyaku mengalihkan.


'Sudah 50 keranjang nih'


'Wah mudah-mudahan muat di motor, soalnya saya lagi ga bawa mobil.'


'Diikat di belakang aja, Bu sebagian. Supaya ga penuh didepan' sahut acil sambil membantu mengikatkan.


'Oiya juga yah...' aku mengiyakan, masih belum fokus karena masih mengingat gerakan si dede yang sangat berbeda dari sebelumnya.


Tak berapa lama, semua keranjang telah menempel di motorku. Di depan dan belakang motor. Persis pedagang rotan keliling jadinya. Mau ga mau deh.


'Ulun langsung lah, Cil. Makasih banyak. Assalamu'alaikum'


'Wa'alaikumussalam'


Akupun kembali mengendarai motor menuju pulang kerumah. Kali ini dengan kecepatan setengah dari kecepatan saat berangkat tadi.


Kembali melewati jembatan yang sama, ternyata antara sudut yang sekarang aku lewati dengan sudut saat aku berangkat tadi memang berbeda.


Di sudut jalan pulang ini, tidak ada jaglukan, jalannya rata saja. Namun diujung satunya, yang aku lewati saat berangkat menuju rumah acil tadi, terlihat aspal yang menurun dan membuat perbedaan cukup jauh antara jembatan dengan jalanan berikutnya.


Ada penurunan kontur tanah tampaknya disudut sana. Dan memang jadinya agak sulit terlihat, apalagi saat sedang ngebut. Sama sekali tidak terlihat, namun tiba-tiba kaget dengan motor yang seolah melayang sesaat dan terhempas keras saat menyentuh aspal jalanan berikutnya.


Aku kembali menarik napas panjang, mengingat peristiwa tadi. Ada kekhawatiran di dalam benak kalau dede didalam perut kenapa-kenapa.


Sambil berjalan mengendarai motor secara perlahan, aku mengingat-ingat kapan jadwal periksa dede berikutnya? Rasanya sudah hampir satu bulan dari pemeriksaan terakhir ke bidan, yang saat diperiksa dede sangat lincah menghindari tangan bidan dan bergerak-gerak terus, sampai bidannya tertawa dan terdiam mengusap-usap perutku menunggu dede diam dulu baru melanjutkan pemeriksaan.


Ya...aku baru dua kali periksa ke Dokter kandungan. Di Awal kehamilan dan saat menjelang suamiku berangkat ke Azerbaijan untuk mengikuti perlombaan anyaman. Selebihnya setiap bulan aku memeriksakan diri ke bidan terdekat saja.


Alasan utamanya agar lebih murah aja. Karena biaya periksa ke Dokter dengan ke Bidan sangat jauh berbeda. Resep vitamin yang diberikan dan harus aku tebus pun relatif lebih murah.

__ADS_1


Rencanaku ke Dokter kandungan hanya kalau ada apa-apa saja. Sepanjang pemeriksaan biasa, aku memilih ke bidan dulu saja.


'Minggu depan InsyaAllah kita periksa ke bidan ya, De' bisikku ke dede di dalam perut.


__ADS_2