Hati Yang Terpendam

Hati Yang Terpendam
PULANG II


__ADS_3

'Bang Ismail sudah siap semua?'


'Siap Pak Bowo....'


'Ayo Mas Doni kita ke bandara'


Kami melangkah bersama keluar dari lobby hotel menuju pintu depan hotel menghampiri mobil travel yang sudah menanti.


'Mr. Edward jangan lupa nanti kabari saya kalau sudah tiba dirumah ya....kirimi foto Mouza dan Mouzi yang memakai topi anyaman purun itu ya' ucapku ke Mr. Edward saat bertemu di Bandara, sebelum berpisah ke gate yang berbeda.


'Tentu saja...tentu saja....mereka pasti akan sangat senang sekali' Mr. Edward pun memelukku sebelum berpisah.


'Mas Doni ini kenalannya banyak juga yah' Bang Ismail mengomentari.


'Ha..ha...ha...Mas Doni ini setiap hari selalu keliling menyapa semua stand artisan, makanya kenalannya banyak.' sahut Pak Bowo.


Ya aku memang membiasakan setiap hari sepanjang waktu perlombaan kemarin untuk menyapa semua peserta dan bincang-bincang sebentar sambil mengamati produk-produk kerajinan yang mereka tampilkan.


Hal itu sebenarnya aku lakukan untuk bisa mengenali dunia baru yang saat ini aku geluti, yaitu menjadi pengrajin kerajinan. Kapan lagi bisa belajar secara langsung dari pengrajin kerajinan kelas dunia, ini adalah kesempatan emas.


Dari hasil keliling itulah aku mengenali kekhasan masing-masing negara. Termasuk aku juga menanyakan sekilas tentang negara mereka masing-masing.


Tidak semua peserta dapat aku ajak bicara banyak, hanya yang bisa berbahasa Inggris saja. Diantara peserta artisan banyak juga yang tidak bisa berbahasa Inggris, mereka berbahasa Prancis, Arab dan bahkan Rusia.


Tak berapa lama panggilan untuk memasuki pesawat memanggil kami semua yang akan menuju ke Indonesia untuk mulai masuk ke dalam pesawat.


Hanya aku dan Pak Bowo yang berjalan menuju pesawat ini. Karena Bang Ismail masih menunggu panggilan untuk pesawat menuju ke Malaysia.


'Pak Bowo langsung menuju Yogyakarta dari Jakarta nanti?' tanyaku saat sudah selesai memasang seat belt di kursi pesawat.


'Oo tidak, Mas. Saya mau ke mampir ke kantor Kementerian Pariwisata dulu, ada kawan yang minta ketemu disana. Besoknya saya baru ke Yogyakarta. Mas Doni ke tempat mertua dulu?'


'Enggak, Saya langsung lanjut ke Kalimantan. Sudah dipesankan tiket onlinenya sama ibunya anak-anak' jawabku sambil tersenyum mengingat akan segera pulang kerumah.


'Udah pada kangen pastinya anak-anak ya, Mas'


'Iya. Ini waktu paling lama saya pisah dengan anak-anak. Biasanya hanya satu minggu paling lama saya pergi keluar kota'


Tak lama berselang kami pun terlelap. Kelelahan setelah membereskan persiapan pulang membuat kami tak bisa bertahan lama dalam obrolan di pesawat. Penerbangan yang cukup lama menjadikan pilihan tidur adalah pilihan terbaik.

__ADS_1


.


.


'Ayaaaaahhhh......' Nasya yang melihat tubuh yang dikenalinya dari jauh berteriak dan melompat kegirangan memanggil-manggil dari batas yang diperbolehkan bagi para penjemput penumpang pesawat.


Siang hari setelah shalat dzuhur aku menjemput suamiku di bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin. Ia kembali pulang setelah 12 hari mengikuti perlombaan di Turki. Anak-anak masih sekolah, hanya ada Nasya yang menyambut.


'Ibu...boleh Nasya masuk?'


'Jangan dulu, Nak. Ayah masih menunggu bagasi, sebentar lagi yah...Nasya disini aja sama ibu. Ayah sudah lihat Nasya tuh..'


Dari dalam ruangan terlihat suamiku sedang melambaikan tangannya dan tersenyum lebar ke arah Nasya.


'Aman aja tadi nyetir mobilnya, Bu? Ga mabuk?' tanya suamiku saat sudah berdiri di sampingku sambil menggendong Nasya di satu tangannya.


'Mabuk sih masih....apalagi panas begini. Tapi ibu bawa air es Jeruk di mobil, sama camilan pedas supaya ga mual banget' Aku pun mengambil kacamata hitam dari dalam tas dan segera memakainya saat mulai berjalan keluar bandara.


Kacamata hitam aku pakai untuk menghalau sinar matahari terik yang sedang bersinar siang itu. Selain untuk meredam rasa mual yang biasanya akan segera muncul setiap aku terkena sinar terik matahari. Bahkan dirumah saat menjemur pakaian dihalaman belakang pun aku memakai kacamata hitam, untuk mengurangi rasa mual.


'Mabuknya hilang ya...Ayah sudah pulang nih' sahut suamiku sambil mengusap lembut punggung belakangku.


'Ooohhh Nasya sedih ya....kasihan sama Ibu ya?'


'He..em..'


'Trus Nasya bantu ibu ga?


'Iyah...Asya kasih handuk, ambil tissu dan minum untuk ibu...'


'Pinter anak Ayah nih...sudah besar mau jadi Kakak yah' ucap suamiku sambil menciumi pipi Nasya yang gembil.


'Kakak, abang, Nasya...semuanya bantuin ibu kok Yah.' ucapku menyahuti cerita Nasya.


'Ibu Masuk mobilnya setelah AC nya dingin ya Yah....' aku diam di samping pintu mobil yang terbuka. Menunggu suamiku menyalakan mesin mobil dan AC terlebih dahulu.


'Nasya...kasihkan ibu es Jeruk ini dulu' suamiku memberikan tumbler berisi es Jeruk yang tadi aku letakkan di pintu dekat kursi pengemudi.


'Ini ibu...' Nasya pun berpindah dari kursi pengemudi selepas turun dari gendongan ayahnya menuju ke kursi penumpang di depan dan segera berpindah lagi ke kursi penumpang di belakang.

__ADS_1


'Terima kasih sayang....'


'Sayangnya buat Nasya nih....'sahut suamiku.


'Terimakasih Sayang Nasya dan Sayang Ayah....' aku masih berdiri di samping pintu mobil yang kini tertutup dengan jendela terbuka.


Setelah AC mobil mulai dingin aku pun masuk ke dalam mobil. Tidak ada pewangi mobil yang menggantung di kaca spion dalam, semua sudah aku copot sejak morning sickness ku beraksi. Namun ada beberapa buah mangga kweni di dekat kursi penumpang yang sengaja aku buka dari plastiknya.


Wangi dari buah mangga kweni itu menyegarkan dan bisa menghalau rasa mual di siang hari. Aku sengaja membelinya sebelum ke bandara tadi, tak lama setelah keluar dari rumah ada penjual buah yang mangkal dengan gerobaknya.


'Sekalian untuk dibuat cacapan kesukaan kakak' ujarku menjelaskan ke suamiku yang memegang buah kweni memindahkan dari dekat setiran mobil.


Cacapan itu semacam acar khas menu masakan Banjar. Irisan buah kweni, bawang merah dan Jeruk limo kuit yang disiram dengan sedikit air, ditaburi sejumput garam dan cabe rawit utuh diatasnya. Jika suka pedas, maka cabe rawit akan dipotong-potong menggunakan sendok atau dimakan langsung. Cacapan ini biasa disajikan untuk mendampingi hidangan bakaran, seperti ayam, ikan hingga aneka pais (pepesan).


'Kita makan dulu dijalan atau ibu sudah masak dirumah?' tanya suamiku saat keluar dari gerbang bandara.


'Ibu sudah beli ikan bakar tadi sebelum ke bandara. Tinggal dimakan aja dirumah. Makan dirumah aja yah...biar ibu ga mual kelamaan diluar rumah' sahutku.


'Ibu...Asya mau es kelapa....'


'Baiklah...Kita beli es kelapa dulu yah, yang di dekat rumah aja'


'Nasya ngidam juga ya kayak Ibu?'


'Ngidam itu apa?' Nasya balik bertanya ke ayahnya.


'Hayooo Ayah yang jelasin....'


'Ngidam itu kalau lagi ada dedek bayi di perut dan minta makanan macem-macem di waktu yang tidak menentu' jelas suamiku dengan seriusnya.


'Dedek bayi di pelut ibu...pelut Asya ga ada dedek bayi' Nasya menjawab tak kalah seriusnya.


'Jadi yang mau es kelapa itu Nasya, Ayah....bukan dedek bayi' aku menengahi sambil menahan tawa.


'Trus dedek bayinya mau juga ga?' tanya suamiku sambil melirikku.


'Mau juga dong...yang pake gula aren ya jangan lupa plus es yang banyak'


'Siaaappp.....'

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2