Hati Yang Terpendam

Hati Yang Terpendam
BELAJAR II


__ADS_3

'Ayah...habis antar anak-anak nanti kita ketempat acil lagi ya. Belajar menganyam tikar' ucapku mengingatkan kegiatan hari ini yang masih melanjutkan belajar menganyam bersama acil purun.


'Iya. Paket yang mau dikirimkan mana? Sudah siap? Biar sekalian dikirim.'


Akupun beranjak masuk kedalam rumah dan mengambil paket-paket yang akan dikirimkan.


Sudah dua minggu ini kami rutin bolak balik ke tempat acil purun untuk belajar menganyam. Sebelum menganyam kami belajar proses mengolah rumput purun hingga siap untuk dijadikan bahan untuk menganyam.


Selain anyaman yang dibuat dari rumput purun, kami juga berencana untuk membawa anyaman rotan. Acil purun tidak terlalu bisa mengolah rotan, karena sudah terbiasa mengolah rumput purun. Tekstur bahan yang berbeda menjadikan tehnik menganyam pun berbeda.


Ada satu pengrajin rotan yang kami kenal cukup baik, karena memang selama ini aku selalu bolak balik memesan anyaman keranjang ke beliau.


Selesai belajar menganyam bersama acil purun, kami pun belajar menganyam rotan.


Memang lebih sulit dari rumput purun. Masalah pembiasaan dan kehati-hatian yang lebih ekstra. Karena buluh rotan, khususnya bagian kulitnya cukup tajam dan mudah melukai jari bila tidak berhati-hati.


'Cil...ini rotannya berwarna putih gini memang aslinya atau dikasih pemutih?'


'Dikasih pemutih Bu ai....di pabrik semua rotan dikasih pemutih, itulah pengawetnya. Supaya kada dimakan rayap'


'Ulun tinggal menganyam ja.'


'Kalau yang kulit gini?'


'Nah itu ulun olah sorang bu ai. Di serut pakai pisau silet khusus. Lain silet buat cukur itu.'


'Ooo Cutter ya?'


'Lain bu ai....'


'Kayak gini nah....' acil rotan menunjukkan mata pisau kecil yang terikat pada kayu dengan posisi bisa digunakan secara berdiri maupun digenggam.


Memang terbuat dari pisau, besi, bukan silet yang kecil dan tipis ataupun cutter yang mudah dipatahkan.


Peralatan yang dipakai acil dalam proses menganyam mirip dengan peralatan bertukang. Ada gunting bengkok yang biasa dipakai tukang kebun untuk memotong ranting kecil. Ada paku kecil, martil, tang hingga pisau silet tadi.


Kalau membuat keranjang yang cukup besar, maka paku dan martil akan digunakan untuk menahan anyaman agar tidak mudah lepas.


Aku melirik ke suamiku yang sedang sibuk berkutat dengan buluh rotan dan mencoba untuk menganyam keranjang.


'Bisa Yah?'


'Bisa dong....' jawab suamiku sambil tersenyum dan mengusap keringat di keningnya.


'Ga nyangka yang selama ini pegang keyboard bisa juga menganyam' sahutku sambil duduk diatas tikar disebelahnya.


'Kalau soal kerajinan begini dulu waktu Sekolah Dasar pernah belajar. Pelajaran Keterampilan di sekolah dulu, kami disuruh bikin anyaman keranjang rotan.'

__ADS_1


'Oya??'


Suamiku memang lahir dan besar di Kalimantan. Maka tak heran kerajinan khas Kalimantan cukup akrab dalam kesehariannya. Meskipun aslinya suamiku berdarah Jawa.


Namun karena sudah terbiasa melihat dan menggunakan barang-barang yang dianyam, maka suamiku tidak menganggap istimewa kerajinan khas daerah tempat kelahirannya ini.


Sementara aku, yang lahir dan besar di ibukota, justru memandang sebaliknya dengan aneka barang-barang anyaman. Terutama rotan.


Aku selalu antusias saat melihat ada anyaman. Dan makin antusias saat mendengar harga yang disebutkan oleh pengrajin yang menjualnya. Di Ibukota harganya bisa lima kali lipat.


'Cil....pesanan keranjang Gambung saya sudah pesan sudah kah?' aku beranjak menghampiri acil.


'Inggih sudah bu ai....satumat ulun ambilakan' acil pun beranjak masuk ke dalam dan tak lama datang dengan membawa dua gulungan keranjang yang saling berikatan.


Satu ikat gulungan keranjang berisi lima belas keranjang berbentuk batok kelapa yang terbuka dibagian atasnya.


Aku memesan tiga puluh keranjang, untuk memenuhi pesanan pelanggan di Semarang dan Bali yang akan menggunakannya sebagai lampion dan vas bunga di cafe-nya. Sisanya untuk stock dirumah. Biasanya akan aku hias dengan tehnik decoupage dan keranjang-keranjang anyaman itu akan semakin cantik untuk dijadikan vas bunga ataupun tempat aksesories di meja kamar rias.


'Sudah Yah?'


'Sudah nih.... alhamdulillah' suamiku menunjukkan hasil jadi keranjang yang sudah dibuatnya.


'Masih ingat rupanya pelajaran SD nih'


'Diajarin Acil jadi ingat lagi'


'Oooo....gampang bikinnya, Cil?'


'Tinggal diputar aja bu ai'


'Buat Acil gampang....buat Saya harus belajar dulu'


'Makasih banyak, Cil ai....kami pamit dulu'


'Assalamu'alaikum'


'Wa'alaikumussalam'


.


.


.


Persiapan pameran sudah 75% siap. Produk yang diunggulkan untuk diikutkan dalam perlombaan ini adalah Jam Dinding besar perpaduan antara rotan dan anyaman purun. Jarum jamnya pun dibuat dari ranting pohon yang kecil. Agar mesin jam kuat menggerakkan jarumnya, kami memilih ranting dari pohon belimbing air yang kecil dan kurus.


Beberapakali mencoba memakai jarum yang lain, mulai dari potongan rumput purun, kulit rotan, kayu, hingga ranting pohon belimbing air. Ternyata bentuk unik dari ranting pohon belimbing lebih kami pilih dibandingkan yang lainnya. Keunikan, originalitas dan seni yang tinggi menjadi standar dalam meraih poin untuk bisa menang.

__ADS_1


Jika tidak ada kendala maka akhir bulan ini suamiku akan mulai berangkat menuju Jakarta untuk melanjutkan penerbangan ke Turki.


.


.


.


Beberapa hari belakangan ini dalam mendampingi suamiku belajar menganyam, aku mulai merasa kurang sehat. Cepat lelah dan mengantuk seringkali mendera. Namun karena kesibukan aku belum terlalu memperhatikan.


'Yah....garis dua....'


Aku menunjukkan testpack yang sudah menunjukkan hasilnya. Inilah penyebab rasa lelah dan mudah capek belakangan ini.


'Ibu mual ga?'


'Belum ada terasa mual'


'Cuma rasanya cepet capek aja.'


Di kehamilan ketiga anakku sebelumnya, setiap hamil maka tiga bulan pertama aku akan mengalami gejala morning sickness, tidak suka bau-bauan dan tidak mau berlama-lama di dapur. Terutama saat sedang memasak nasi. Pasti akan muntah dan mual.


Namun kali ini belum ada rasa mual. Masih terasa ringan saja. Mungkin kali ini aku dapat jenis hamil yang ga terlalu merepotkan.


'Gimana nanti Ibu terbang naik pesawat?'


'InsyaAllah ga papa, Yah. Masih kecil juga. Pura-pura ga tau aja. Tapi tetap waspada' sahutku


Aku memang berencana menemani suami berangkat sampai Jakarta, agar barang-barang pameran bisa terangkut semua dengan pesawat. Free bagasi 20kg per penumpang menjadi alasan utamanya.


Untuk keperluan pameran pihak panitia memang memberikan ekstra bagasi ke seluruh peserta hingga 60kg. Tapi itu untuk bagasi dari Jakarta menuju Turki dan sebaliknya.


Untuk membawa barang pameran dari Kalimantan ke Jakarta, harus merogoh kocek sendiri. Dan kami tidak memiliki sponsor dari manapun. Semua memakai biaya sendiri, selain akomodasi dari panitia.


Kami sempat mengajukan ke Pemerintah Daerah, namun karena waktunya yang hanya berselang satu bulan saja, maka tidak ada yang dapat kami harapkan.


Bersambung......


Ulun \= Saya


Sorang \= Sendiri


satumat \= sebentar


ambilakan \= diambilkan.


Lajari \= ajarkan.

__ADS_1



__ADS_2