Hati Yang Terpendam

Hati Yang Terpendam
MORNING SICKNESS


__ADS_3

Hari-hari berikutnya aktifitas kami banyak disibukkan dengan persiapan menyiapkan foto-foto proses pembuatan anyaman. Mulai dari mencari bahan, menjemur, menumbuk, mewarnai hingga menganyamnya.


Suamiku harus segera mempelajari hal baru diluar dari rutinitasnya selama ini yang hanya berkutat di balik meja dengan tombol-tombol keyboard dan layar komputer yang setia menemani saat masih bekerja dulu. Beralih ke tanah berair untuk mengambil bahan, tanah lapang untuk menjemur hingga tanah dengan rumput kecil tempat menumbuk dan mewarnai rumput purun yang siap dianyam.


'Jadi purun-purun ini dijemur sambil ditaburi abu dapur supaya kenapa, Cil?' tanya suamiku ke salah satu pengrajin yang sedang menaburi abu dapur ke atas rumput purun yang mulai mengering.


Acil adalah bahasa banjar, kalimantan, artinya ibu, panggilan acil ditujukan ke orang-orang yang usianya lebih muda dari usia ibu kita.


Sudah satu mingguan ini aku menemani suamiku belajar menganyam. Para pengrajin anyaman pun antusias mengajari. Masing-masing saling bergantian menjelaskan tiap prosesnya. Dan suamiku tampak serius memperhatikan setiap penjelasannya. Mengulang dan mencoba melakukannya sendiri.


'Itu supaya awet, kada gabuk dan dimakan binatang kecil-kecil yang hidup didalam sela-sela purun ini nah' jelas Acil ke suamiku.


Sementara aku sebagai juru foto yang mengabadikan momen-momen itu untuk dikirimkan ke panitia perlombaan nanti. Mengambil sudut yang pas dan jelas agar dapat mewakili proses pembuatan anyaman-anyaman ini. Sesekali sambil menanyakan ke para pengrajin kapan pesananku yang sebelumnya selesai.


Cuaca yang sering hujan beberapa hari kemarin membuat proses pengeringan rumput purun jadi melambat. Karena proses ini sangat mengandalkan sinar matahari yang terik supaya lekas kering dan bisa diproses ke tahap berikutnya yaitu penumbukan rumput purun agar menjadi pipih dan siap dijadikan bahan menganyam.


Suamiku harus menyimak secara serius karena nanti dialah yang akan menjelaskan semua proses itu dihadapan dewan juri dengan bahasa Inggris. Soal kata-kata dan kalimat dalam bahasa Inggris menjadi fokus nomor dua, fokus nomor satu adalah menguasai semua hal yang berkaitan dengan anyaman. Apa yang akan dijelaskan kalau tidak memahami prosesnya?

__ADS_1


Kami bukan lagi hanya sebatas menjual produk anyaman, dengan belajar seperti ini kami jadi makin memahami semua hal terkait anyaman.


Belajar bahasa Inggris lewat pembelajaran online dua kali dalam sepekan di malam hari untuk persiapan keberangkatan kami lakukan juga. Meski yang berangkat hanya satu orang, yaitu suami saja dan aku tidak ikut, namun untuk menyemangatinya dan mendampinginya dalam tiap prosesnya, akupun ikut belajar bahasa Inggris juga.


'So Mr. Handoyo, please eksplain to us about your product, what is the materials name and steps to make these beautiful bag' aku mencoba berpura-pura menjadi juri untuk melatih bahasa Inggris suamiku.


Latihan dialog seperti ini sering kami lakukan setiap hari dalam berbagai suasana, sejak suamiku memutuskan akan menerima undangan acara di Azerbaijan. Berharap dengan begini tidak akan ada kendala berarti untuk suamiku di luar negeri nanti sepanjang acara berlangsung selama 14 hari.


Rencana keberangkatan sudah semakin dekat, kurang dari tiga bulan lagi suamiku harus berangkat ke Azerbaijan untuk menghadiri acara pameran insternasional dari seluruh dunia. Selain suamiku, ada satu orang partisipan lainnya yang berasal dari Yogyakarta. Beliau bernama Pak Andika, yang akan membawakan kerajinan dari kayu bekas yang dirubah menjadi jam, radio hingga lampu hias.


.


.


Aku mulai menjauhi dapur, karena tiba-tiba saja semua bau dari dapur membuatku mual. Aku pun tak bisa mencium bau nasi yang baru masak, segera menjauh dan menyalakan kipas angin dengan kecepatan angin paling besar. Wangi pakaian yang disetrika, wangi pelembut pakaian yang aku sukai tiba-tiba semuanya jadi tidak enak sama sekali.


Muntah dipagi hari menjadi rutinitasku, setiap kali selesai menyikat gigi pasti perutku langsung mual dan muntah berkali-kali. Sinar mentari yang biasanya aku sukai, kini aku jauhi. Tubuhku menjadi lemas tak berenergi setiap terkena sinar matahari yang terik agak lama. Mataku tak bisa kena silau teriknya matahari. Bulir-bulir keringat keluar dari ujung kepala hingga ke ujung kaki yang dengan segera membasahi pakaian yang aku kenakan, setiap kali aku beraktifitas diluar rumah dan terpapar sinar matahari yang mulai terik diatas pukul 09.00 pagi.

__ADS_1


Jadilah aku beraktifitas diluar rumah pagi-pagi sekali dan sore hingga malam hari. Sementara sepanjang siang, aku lebih banyak diam didalam rumah, melayani pembeli secara online dan menyiapkan paket-paket untuk dikirimkan suamiku.


Merapikan dan membuat tambahan hiasan pada produk-produk anyaman menjadi hal yang aku sukai. Seni decoupage pun aku pelajari secara online dan konsultasi dengan temanku di Jakarta untuk mempercantik produk-produk hasil anyaman. Yang terlihat natural menjadi semakin cantik dan unik dengan tambahan tissue decoupage pada beberapa bagian anyaman.


Semua urusan anak-anak sementara menjadi tanggung jawab suamiku. Termasuk anakku yang nomor lima. Karena hanya dia yang belum sekolah dirumah, maka setiap kali suamiku mengirimkan barang, pasti diajaknya. Untuk menghiburnya dikala ibunya sedang mabuk berat karena kehamilannya.


'Ayah, jangan lupa nanti pulangnya belikan sayur bening bayam, sayur sop dan ayam goreng tepung di warung biasanya ya' pesanku sebelum menutup pintu depan rumah.


Karena masih belum bisa masuk dapur, maka membeli masakan matang menjadi solusi keseharian kami. Alhamdulillah banyak penjaja masakan rumahan didekat tempat kami tinggal. Dan yang paling kami sukai karena cocok masakannya adalah penjual masakan matang yang warungnya terletak di sebelah tempat mengirim paket. Sambalnya tidak terlalu pedas, bumbunya lebih terasa, dan porsi bungkusannya lebih banyak daripada penjual lainnya. Penjualnya bisa menjual lebih murah karena tidak perlu membayar uang sewa tempat. Beliau menjajakan masakannya didepan rumahnya sendiri. Hanya menyediakan meja panjang saja dan beberapa kursi untuk yang mau makan ditempat. Tempatnya bersih, meski sederhana.


'Cici Ai mau beli roti Gambung?' tanyaku ke Aisyah, anak terkecil yang sekarang menempel ke ayahnya. Ayahnya sudah menunggu diatas motor beserta paket-paket yang akan dikirimkan, menunggu Aisyah untuk keluar rumah.


'Nanti bilang sama Ayah untuk belikan Roti Gambung juga yah' jelasku padanya sambil memberikan uang selembar sepuluh ribuan dan merapikan kerudung kecil yang dipakainya sendiri. Aisyah memang sudah semakin mandiri semenjak aku mulai mengalami morning sickness. Dia sudah bisa memakai kerudung sendiri, mengancing bajunya dan memakai sepatunya sendiri.


'Ayah.....oti ambung uat Ai' ujarnya dengan lidah cadelnya setelah dia selesai memakai sepatunya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2