Hati Yang Terpendam

Hati Yang Terpendam
KESIBUKAN BARU


__ADS_3

'Anak-anak....nanti ayah pulang lho, Ayo mandi dulu semuanya. Siapa yang mau dicium ayah cepetan mandi." ujarku sambil mengelilingi ruangan tempat anak-anak sedang bermain.


Mas dan kakak sedang diruang tamu, asyik berkutat dengan kucing belang tiga yang dianggap peliharaan dirumah. Aku memang tidak mengijinkan ada kucing yang dipelihara di dalam rumah, kalau hanya dikasih makan didepan rumah, main-main dan dia tidur didepan rumah maka itu diperbolehkan.


Sementara abang dan A'a asyik bermain dihalaman belakang, yang satu asyik memanjat pohon mangga, dan yang satu asyik main tanah membuat jalur untuk permainan gundu dan mobil-mobilan.


Aisyah sedang sibuk bermain bersama bonekanya diteras belakang. Menyusun boneka dari yang besar sampai ke yang paling kecil. Tersusun sedang mengantri untuk disuapi dan diberi minum oleh Aisyah.


Aku sendiri masih menyalakan kompor dan menyelesaikan memasak sayur sop, menaburkan irisan daun seledri dan daun bawang setelah selesai menggoreng ayam dan tahu. Bersiap menyusunnya di meja makan untuk dimakan anak-anak selepas mandi sore.


Tanpa berlama-lama satu persatu anak-anak antri mandi. Bahkan Aisyah sudah menyusun baju yang akan dikenakannya setelah mandi nanti. Aisyah sudah terbiasa memilih pakaiannya sendiri dari lemari, menyusunnya diatas kasur dan menunggu antrian mandi.


Rasa rindu dengan ayahnya membuat anak-anak bersemangat untuk mandi dengan tertib. Biasanya ada saja satu-dua anak yang mogok mandi, terutama A'a Isa yang harus dibujuk dulu dan dirayu dengan jajanan baru mau masuk ke kamar mandi.


'Habis mandi ambil makan ya...makan yang baik, Kakak bantu adik-adiknya ambil lauk dan sayurnya nanti ya. Ibu mau merapikan paket yang akan dikirim besok pagi' aku menjelaskan sambil menunjuk meja makan dan beberapa piring yang sudah disiapkan.


.


.


'Assalamu'alaikum.......Aisyah ada ga?' sebuah suara di ruang tamu mengejutkan kami yang baru saja menyelesaikan shalat maghrib berjamaah.


Aisyah langsung berlari keruang tamu menyambut kepulangan ayahnya. Disusul dengan teriakan anak-anak lain yang berhamburan menuju ruang tamu.


'Ayah........yeee.. ayah pulang' Mas dan A'a berlomba susul menyusul saling mendahului untuk menyambut ayahnya.


'Nak...biarkan Ayah masuk dulu ke dalam, bantu ayah angkat barang-barang, Abang....Kakak...Mas...Ayo bantu' teriakku dari dalam rumah, sambil merapikan peralatan shalat yang ditinggalkan begitu saja oleh anak-anak setelah mendengar suara ayahnya datang.

__ADS_1


'Lancar berarti penerbangannya, Yah...ga ada delay, sesuai perhitungan' ucapku saat ayah sudah duduk diruang tengah sambil memangku Aisyah dan A'a Isa.


'Alhamdulillah lancar. Pas keluar dari ruang kedatangan tadi juga ga pakai antri untuk manggil taxi, biasanya kan harus antri lama nungguin taxi.' jelas suamiku sambil terus memeluk dan menciumi Aisyah yang bergelayut manja. Bergantian dengan A'a yang sering masih manja ke ayahnya.


Anak-anak bukan hanya membantu mengangkat tas ayahnya, namun juga langsung membongkar isi bawaan ayahnya. Mencari hadiah dan souvenir untuk mereka.


Aku biarkan mereka untuk segera membongkar isi tas dan barang bawaan lainnya karena sudah diijinkan ayahnya. Yang kini ikut duduk di lantai dan mulai menjelaskan satu persatu oleh-oleh yang dibawanya, termasuk piala yang berhasil dibawa pulang sebagai pemenang dari perlombaan internasional kali ini.


'Buat ibu apa?' tanyaku sambil ikut duduk di sebelah suamiku.


'Nah ini nih.....ada kok.' sahut suamiku sambil mengeluarkan bungkusan berisi pashmina berwarna merah muda.


'Ayah sempat bingung mau belikan apa...akhirnya beli pashmina aja deh, ingat kalau ibu sering pakai pashmina dari Utie yang dibelikan saat umrah dua tahun lalu' sambil membuka bungkusnya dan memakaikan pashmina itu langsung ke kepalaku dan mencium keningku dan mengusap perutku perlahan.


'Dede gimana disana? Sudah tumbuh sebesar apa? Ayah sudah pulang nih...' bisik suamiku perlahan sambil mengusap-usap perutku.


'Aisy nanti ikut lagi lihat dede di perut, ibu yah....kayak bulan kemarin. Aisy ikut naik di kasur trus duduk dekat kepala ibu.' sambil memeluk Aisyah yang sedang mengigit kuenya.


'Lusa ada Bapak Wakil Walikota yang mau berkunjung kerumah. Dan sorenya ada wartawan dari Media Banua yang mau wawancara' suamiku menjelaskan.


'Tadi pas di bandara Jakarta, ajudannya menelpon ayah. Kalau wartawan itu disuruh teman ayah. Teman ayah ijin untuk memasukkan berita kemenangan ayah di koran yang dikelolanya.' ujar suamiku sambil merapikan beberapa barang yang ditinggal anak-anak setelah bongkaran.


'Kita rapikan ruang tamu untuk sessi kunjungan dan wawancara berarti' sahutku.


'Iya. Kita bikin semacam galeri kecil aja. Supaya kalau ada tamu, mereka bisa langsung melihat produk-produk yang kita pasarkan dan kita buat sendiri.'


'Nanti ayah geser beberapa kursi sofa dari ruang tamu supaya jadi lebih lega. Sisakan sedikit Kursi aja. Karena galeri bukan untuk orang duduk lama, tapi hanya untuk melihat-lihat. Nanti ibu bisa susun-susun barang-barang yang akan dipajang menggunakan meja-meja itu.' tunjuk suamiku ke beberapa meja diruang tengah yang biasa aku pakai untuk mengerjakan tehnik decoupage ke media keranjang rotan dan tas purun.

__ADS_1


'Teras depan juga bisa dipakai sebagai show case, kita punya kayu-kayu bekas di halaman belakang. InsyaAllah nanti ayah buatkan semacam hanger yang bisa dilipat dan dibuka.'


'Supaya kalau sudah malam, bisa dimasukkan ke ruang tamu dan kalau pagi dikeluarkan.'


'Hmmm....oke.' sahutku antusias.


Sudah lama sebenarnya ingin punya ruangan sendiri untuk memajang barang-barang dagangan ini. Namun kesibukan dari hari ke hari menunda rencana itu. Momennya pas, untuk mewujudkan galeri mini yang aku inginkan.


Bisnis ini berawal dari seorang kawan di Jakarta yang minta dibelikan tikar. Kepopuleran tikar rotan di Kalimantan sangat terkenal di Kota besar, terutama Jakarta. Bahannya yang alami, mudah dibersihkan dan terlihat cantik serta unik saat dihamparkan diruang tamu maupun ruang keluarga.


Untuk memudahkan melihat barang-barang yang dipesan temanku itu, aku memajangnya di social media. Saat itu social media belum banyak dipakai untuk berjualan. Masih seputar postingan-postingan pribadi dan foto-foto pribadi saja.


Ternyata banyak yang melihat postinganku dan memberikan komentar ingin memesan juga. Jadilah sejak hari itu aku mulai menekuni bisnis online.


Berawal dari tikar, tas, dan aksesories yang banyak dipasarkan di toko oleh-oleh dekat tempat aku tinggal. Kemudian berlanjut customize memesan tas dengan hiasan dan ukuran panjang tali yang berbeda, yang pada akhirnya mempertemukanku dengan acil pengrajin purun yang bisa membuatkan tas sesuai keinginan pelanggan-pelangganku.


Dua tahun belakangan banyak yang mulai ikut terjun berjualan secara online. Bahkan pemilik-pemilik toko dimana biasa aku mengambil aksesories dan tas serta tikar pun mulai memiliki akun jualannya sendiri.


Aku mulai kesulitan karena jelas mereka bisa menjual lebih murah dari harga yang aku pasarkan.


Namun aku tetap meyakini bahwa setiap pedagang memiliki rezekinya masing-masing. Termasuk kami.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2