Hati Yang Terpendam

Hati Yang Terpendam
PERSIAPAN MENERIMA TAMU


__ADS_3

Setelah istirahat, mandi, dan shalat 'ashr berjamaah dirumah, suamiku langsung bersiap untuk menjemput anak-anak dari sekolah.


Waktu sudah menunjukkan pukul 16.15 Wita, lima belas menit lagi anak-anak akan keluar dari kelas dan berlarian menuju parkiran sekolah menanti jemputan.


'Nasya....mau ikut Ayah jemput Kakak ga?'


'Mau dong...' Nasya terlihat bersiap dan memakai sendiri kerudungnya.


Tak lupa membawa serta boneka kucing yang baru didapatkannya.


'Ibu mau ikut juga ga?' tanya suamiku sebelum keluar rumah.


'Iya dong...ibu mau sekalian belanja gula sama tepung terigu, mau bikin pisang goreng untuk camilan malam nanti.'


'Wah mantap tuh, jangan lupa sama teh hangatnya ya. Ayah udah lama ga makan Pisang goreng. Di Turki ga ada Pisang goreng.'


'Bisa jadi ladang bisnis tuh, Yah. Jualan Pisang Goreng Kampoeng di Turki' sahutku sambil berjalan keluar rumah dan mengunci pintu.


'Yah kapan-kapanlah kita jualan Pisang goreng di Turki, sambil nemenin anak sekolah disana.'


'Aamiin untuk lanjut sekolah di luar negeri'


Mobil kijang kapsul kesayangan kami pun mulai beranjak meninggalkan pekarangan rumah menuju sekolah anak-anak yang berjarak kurang lebih 7km dari rumah.


'Nasya ayo ikut turun, kita cari Kakak sama Abang' ajak suamiku setelah selesai memarkirkan mobil di halaman parkiran sekolah.


'Boneka kucingnya taruh di mobil aja, ibu khawatir jatuh nanti.'


Nasya menunjukkan wajah keberatan untuk melepaskan bonekanya dari dekapannya.


'Bawa aja....Ayah yang jagain nanti supaya jangan sampai jatuh. Ayo....dipakai sandalnya'


Nasya pun langsung berwajah ceria dan menampakkan senyum lebarnya.


'Pegang yang kuat ya, Nak. Hati-hati' pesanku sebelum Nasya menutup pintu mobil di bantu suamiku.


Sementara suamiku dan Nasya mencari dua anakku yang bersekolah di sekolah ini, aku mulai membuka whatsapp dan mengecek chat yang masuk.


Sebelum menjemput anak-anak tadi aku sempat memposting beberapa model terbaru yang sudah ready di rumah ke akun Sosial media khusus untuk jualan. Dan sejak lima menit yang lalu ada bunyi notifikasi dari handphoneku menandakan adanya chat secara personal.


Aku memang belum memiliki asisten untuk usaha onlineku ini, semua masih aku kerjakan sendiri. Termasuk menjawab semua tanya yang masuk lewat chat maupun komentar di Sosial media.


'Ibu minggu depan Kakak ada marketday, Kakak mau jualan es kelapa aja' ujar anak tertuaku yang sudah memasuki mobil.


'Oke....' jawabku sambil masih sibuk menjawab beberapa chat sahutan sebelumnya.

__ADS_1


'Abang belum boleh jualan yah...abang jadi pembelinya'


'Iya abang boleh bawa uang 20 ribu untuk jajan'


'Asya...nanti ikut jualan boleh?'


'Nasya nanti temenin Kakak jualan yah...nanti Kakak traktir ice cream deh kalau dagangan Kakak laku semuanya.'


'Asyiiikkkk.....'


Disekolah anak-anak memang ada kegiatan bazaar yang diadakan setiap enam bulan sekali, setelah selesai ujian semesteran. Namun tujuan diadakannya kegiatan itu adalah untuk melatih kemandirian anak-anak dan membangun jiwa pengusaha. Maka penjualnya adalah anak-anak yang sudah di tingkat 3 hingga 5. Pembelinya juga anak-anak di tingkat rendah dan paling tinggi, juga dari tingkat lanjut dan menengah yang masih dalam satu lingkungan sekolah ini. Orangtua murid boleh menjadi pembeli juga, bahkan lebih sering sebagai pemborong dagangan anak-anak.


'Ayah...hadiah untuk kami berdua ada kan?' tanya Kakak mengingatkan suamiku.


'Iya....abang juga kan, Yah'


'InsyaAllah ada...nanti dirumah ya'


Mobil pun mulai beranjak keluar dari halaman sekolah dan kembali menuju kerumah. Sebelumnya mampir dulu ke mini market dan toko material untuk membeli persiapan membuat display dari kayu.


'Pakai cat tembok aja yang aman untuk bumil ya, Yah. Atau yang water based deh...soalnya ada bumil dirumah. Jangan pakai cat minyak, bau' pesanku saat tiba di toko material.


'Iya ibu sayang.....' sahut suamiku sambil menutup pintu mobil.


'Anak-anak kayu-kayu ini jangan di naikin ya, Ayah memerlukan dalam bentuk panjang seperti ini, bukan patahan-patahan. Jadi...jangan di buat main yah.' pesan suamiku saat memasukkan kayu ke dalam mobil.


'Abang, jagain ya'


'Iya Ayah, siap'


.


.


Sesampainya dirumah, suamiku tampak langsung sibuk di halaman belakang rumah untuk membuatkan gantungan tas dan produk lainnya. Ditemani Nasya yang masih asyik bermain dengan boneka kucingnya.


'Langsung mandi ya, Nak. Ga pakai main dulu.' Aku menyeru kepada Kakak dan abang yang sudah masuk ke dalam kamar anak.


'Iya, Bu....'


'Kakak duluan mandi ya....'


Aku pun mulai sibuk di dapur membuat Pisang goreng dan teh hangat.


Menjelang adzan maghrib berkumandang, suamiku sudah memamerkan hasil karyanya.

__ADS_1



'Nah...bagaimana, Bu? Lumayan kan hasil karya Ayah!'


'Ini untuk flip chart atau untuk gantungan tas?'


'Multifungsi, Bu....biar bisa dipakai sama ibu dan ayah' ujar suamiku sambil tersenyum lebar.


'Nanti menggantung tasnya pakai apa?' tanyaku sejurus kemudian.


'Pakai ini dong...'



'Hmmm....kreatif dan unik idenya. Good job! Terimakasih Ayah sayang....' sahutku sambil menyodorkan teh hangat dan sepiring Pisang goreng.


'Wah mirip sama yang ada di sekolah kakak'


'Di sekolah Kakak biasa dipakai untuk belajar qiroaty massal, sebelum satu per satu menghadap untuk baca di depan Ustadz atau Ustadzah. Ada kertasnya digantung di atas sini' tunjuk Kakak ke batang kayu bagian atas.


'Ini juga nanti bisa kita pakai untuk belajar, Kak. Kertasnya pakai bekas kalender dinding aja, bagian belakangnya. Iya ga, Kak?' sahut suamiku sambil menyesap tehnya.


'Ayah hebat lho bisa bikin sendiri.....' puji Kakak dan abang bersamaan.


'Kepepet aja ini...kalau ada uangnya ga bakalan bikin sendiri kayaknya, beli yang sudah jadi aja di toko. Hemat aja bikin sendiri' bisik suamiku sambil senyum dan mengambil pisang goreng dari piring.


'Jadi inilah hikmah ga punya uang banyak ya, Yah. Jadi kreatif.' sahutku sambil ikut mengambil pisang goreng dan memandangi hasil karya suamiku.


'Banyak-banyak bersyukur saja dalam segala keadaan. InsyaAllah nikmat dari Allah akan bertambah, bukan begitu.....'


'Betul.....betul....betul......'


Kami pun tertawa bersama-sama sambil menikmati sore menjelang malam bersama lagi. Saling bergantian bercerita kejadian-kejadian yang di alami masing-masing.


Anak-anak menceritakan kegiatannya selama di sekolah dan suamiku menceritakan sedikit pengalamannya selama keluar negeri kemarin ke anak-anak.


Bahagia Itu sederhana....asalkan bersama dan ada rasa syukur disana, maka yang sederhana menjadi penuh kesan tersendiri yang tak kan mudah dilupakan. Membekas hingga nanti.


Tak lama berselang sayup-sayup suara adzan mulai terdengar.


Suamiku dan Abang beranjak menuju mushala dekat rumah untuk menjalankan shalat berjamaah.


Sementara aku berjamaah bersama Kakak dan Nasya dirumah. Karena harus segera menyiapkan makan malam setelah suamiku dan Abang kembali dari mushala nanti.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2