Haus Akan Hasrat

Haus Akan Hasrat
Murid baru


__ADS_3

Aku senang melihat Edo memanggil namaku.


"Nara saya akan izinkan kamu kembali masuk ke dalam, tapi kamu harus membiarkan dia beristirahat." Ucap dokter Erwin.


"Oke, aku janji."


"Saya percaya. Sana, masuklah." Kata dokter Erwin.


Ketika aku membuka pintu wajah Edo menghadap ke arahku. Dia mengulas senyum kesakitan yang tampak menyedihkan.


"Hai." Bisikku.


"Hai." Dia balas berbisik.


Aku berjalan menuju ranjangnya dan kuturunkan jeruji pagar tempat tidur dan naik lagi ke sebelahnya. Kugenggam tangan Edo dalam tanganku, kubenamkan wajahku di lekuk antara bahu dan lehernya.


Seketika air mataku tiba-tiba turun melihat Edo yang terbaring tak berdaya namun seketika aku pun lega Edo telah bisa memejamkan matanya.


Seseorang masuk ke dalam ruangan ini saat aku melihat ke arah pintu ternyata itu adalah bibi Boyem. Segeralah aku mengangkat tubuhku dan turun dari ranjang.


"Eh bibi." Sahutku.


"Kamu perlu pulang Nara, biar bibi saja yang menjaga tuan Edo."


Aku mengangguk bibi Boyem benar aku harus pulang, karena lagi pula aku juga mesti sekolah. Aku alihkan pandanganku untuk menatap Edo ku genggam tangannya.


"Edo aku harus pulang, esok ku kembali." Ucapku berbisik.


Aku elus pipinya dan ku kecup dahinya, lekas sembuh pangeran tampanku, aku merindukanmu.


"Bi aku pulang ya, jika ada kabar terbaru kabari segera."


"Baik." Jawab bibi Boyem.


Aku pun melangkah pergi keluar dari pintu ruangan ICU melewati lorong-lorong rumah sakit berjalan hingga pintu gerbang utama. Pertengahan perjalanan seseorang menabrakku mengenai bahuku.


"Aww..."


Aku meraup kesakitan hantamannya begitu keras.


"Sorry... Sorry." Ucap cowok itu meminta maaf.


Saat aku meneggakan badanku lalu menatap cowok itu. Ternyata dia orang yang sama yang menyipratkan baju seragamku hingga basah.


"Lo." Kataku kaget sambil menunjuknya.


"Emang kita kenal?" Tanya cowok itu.


"Lo yang buat baju gua basah tadi siang."


"Ohh... Lo gadis trotoar tadikan?" Ucap cowok itu mengejek.


"Apa lo bilang gadis trotoar!"


Aku merasa kesal dengan ucapannya pertama dia sudah membasahi seragam sekolahku, kedua dia sekarang menyenggolku. Apa mau cowok itu, tingkahnya seperti manusia yang sangat sombong bukan meminta maaf malah memasang wajah tanpa dosa.


"Iya, lo yang tadi jalan di trotoarkan?" Tanya dia memastikan.


"Sial banget gua ketemu lo, bukannya minta maaf malah menghina seenaknya." Ucapku emosi.

__ADS_1


"Gua gak sengaja, lagi pula gua tadi udah minta maafkan. Gadis trotoar!" Berlagak santai.


"Gua punya nama yaa." Ucapku kesal.


Apa yang dia lakukan tiba-tiba menyodorkan tangannya kepadaku.


"Yaudah siapa nama lo?" Meminta kenalan.


"Apasih kepo banget."


"Yaudah gua bakal panggil lo gadis trotoar."


Cowok itu pergi tanpa rasa bersalah, aku merasa kesal sekali bisa-bisanya bertemu manusia macam itu. Aku pun pergi melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, hari tampaknya sudah sangat larut malam.


...****************...


Pagi yang cerah seperti biasa aku pergi berangkat ke sekolah, tampaknya hari ini wajahku cukup ceria mengingat Edo sudah bisa memanggilku walaupun ingatannya belum seratus persen pulih, setidaknya aku sudah bisa melihat perubahan pada Edo.


Aku pun masuk ke ruangan kelas dan menyapa Resa.


"Hallo Resa." Sapaku tersenyum.


"Waah, sepertinya Nara si gadis cantik ini sudah tidak murung lagi." Resa meledek.


"Haha... bisa aja lo Res."


Aku pun duduk di samping Resa, kami duduk satu bangku. Aku letakan tas gendongku di belakang kursi.


Pelajaran pertama pun di mulai hari ini pelajaran bu Tami namun dia tidak datang sendiri dia berjalan dengan kepala sekolah yang beriringan masuk ke kelas kami. Sepertinya kepala sekolah ingin memberikan sebuah pengumuman.


"Selamat pagi anak-anak." Sapa kepala sekolah.


"Anak-anak di kelas ini kita akan kedatangan murid baru."


Serentak semua saling berbisik membicarakan murid baru. Apa dia seorang laki-laki ada juga yang berucap dia seorang perempuan. Semua saling riuh membicarakannya. Sedangkan aku dan Resa hanya diam menanggapi dengan santai.


"Mari masuk." Ucap kepala sekolah menunjuk ke arah pintu kelas.


Perlahan murid baru itu masuk langkah kakinya terhenti di depan papan tulis berdiri tegak bersama kepala sekolah.


Aku kaget ternyata murid baru itu adalah cowok ngeselin yang membuatku kesal kemarin.


"Cowok itu." Sontak kaget.


Resa melirikku.


"Lo kenal Res?" Tanya Resa heran.


"Gak kok." Aku terdiam.


Bisa-bisanya dia satu kelas denganku, rasanya merusak hariku saja.


Cowok itu pun memperkenalkan dirinya.


"Hallo guys! Nama gua Alva Fahrezi, panggil aja alva."


Semua murid tercengang membicarakan alva parasnya sangat ganteng memikat hati para murid wanita yang ada di kelas kecuali, aku dan Resa.


"Alva silahkan kamu duduk di bangku yang kosong." Ucap kepala sekolah.

__ADS_1


"Baik pak."


Cowok itu berjalan mencari tempat duduk yang kosong ternyata tempat duduk itu persis di belakang samping mejaku. Sial sekali mengapa harus bertemu cowok ngeselin itu.


Bel istirahat pun berbunyi semua murid keluar berhamburan menuju kantin.


"Lo mau ke kantin Nar? Tanya Resa.


"Ayok."


Aku merapihkan bukuku lalu berdiri berjalan menuju kantin bersama Resa. Kita berdua duduk di kantin sekolah saling berhadapan. Resa memesankan makanan sementara aku menunggunya.


"Plakk..." Bunyi meja.


Aku kaget ada yang memukul meja di tempatku duduk, pas aku mendongak ke atas ternyata dia adalah Alva manusia ngeselin yang seketika dia duduk di hadapanku wajahnya sangat menyebalkan.


"Ngapain lo disini?" Tatapanku tajam.


"Emang gak boleh ya?"


Dia Membalikan pertanyaaanku memang menyebalkan kutu air ini. sebutanku padanya karena mirip sekali kutu air.


"Gak!" Ucapku tegas.


"Lah inikan kantin bebas dong mau duduk dimana aja."


Aku mulai geram.


"Mau lo apasih, ganggu gua mulu."


"Percaya diri banget lo."


Alva malah terlihat santai melihatku yang tengah amat marah padanya rasanya ingin ku tendang.


"Kalau lo gak pergi gua yang pergi."


Aku berdiri dan menatapnya dengan melotot saat aku membalikan badan untuk pergi Alva menarik tanganku, aku kehilangan keseimbangan lalu terjatuh di pangkuan Alva. Mataku saling pandang dengannya untuk beberapa saat aku terdiam dalam pandangannya.


"Jangan kurang ajar ya lo." Ucapku sambil berdiri.


"Siapa yang kurang ajar, lo mau jatuh gua tolongin."


"Kalau lo gak tarik tangan gua, gak akan juga jatuh."


"Dasar cewek trotoar, udah lo duduk lagi biar gua yang pergi."


Alva pun pergi seperti biasa sikapnya yang tidak merasa bersalah. Menganggu ketengangan orang lain saja, satu kantin semua pandangannya tertuju kepada kami. Aku pun duduk kembali.


Resa datang membawa siomay dan minuman.


"Lo kenapa sama anak baru itu? Tanya Resa penasaran.


"Dia kutu air yang selalu bikin gua emosi."


"Emangnya lo udah pernah ketemu sebelumnya?"


"Nanti deh gua jelasin."


Kami pun menyantap makanan yang tadi sudah di pesan amarah yang sedang kini aku rasakan ku lampiaskan dengan memakan siomay dan seteguk es jeruk.

__ADS_1


__ADS_2