
Langsung saja Nara memeluk tubuh Edo setelah di letakan pada aspal jalanan.
Nara menangisi kemalangan kekasihnya yang tak mau menuruti apa kata dirinya.
"Edo...Edo... Kenapa kamu gak nurut, apa yang aku ucapkan, pasti semua ini tidak akan terjadi."
Begitulah rintihan hati Nara yang di ucapkan di sela-sela isak tangisnya. Di peluklah Edo dengan erat.
Seluruh penonton berusaha menolong pengemudi mobil yang telah mengalami mala petaka itu. Seketika di malam tempat kejadian suasna berubah menjadi sangat mengerikan.
Mobil Alexa terbakar habis, dan tubuh Alexa pun terbakar pula bersama mobilnya.
Sungguh tragis kematian Alexa, gadis cantik yang selalu hidup dengan dalam kesiksaan kesepian mengalami hal yang tak terduga malapetaka yang sangat mengerikan.
Beginilah akibat dari sebuah permainan dengan maut.
Bukan mendapat kesenangan namun mendapatkan malapetaka kematian.
Tidak lama kemudian sebuah ambulance datang menghampiri tempat kejadian.
Rupanya salah satu di antara penonton ada yang menghubungi rumah sakit terdekat untuk meminta bantuan.
Tanpa di tunggu lama lagi ambulance itu segera membawa korban ke rumah sakit. Nara selalu mengawali Edo di saat Edo menuju rumah sakit dengan ambulance. Di sepanjang jalan menuju ke rumah sakit Nara terus saja meneteskan air mata kesedihan.
Untungnya saja Edo masih bisa tertolong karena tidak mengalami luka-luka yang parah. Hati Nara merasa sedikit lega. Ternyata Tuhan masih melindungi nyawa Edo kekasihnya.
Setibanya di rumah sakit langsung saja Edo di bawa masuk untuk cepat segera di tangani oleh dokter.
...****************...
Dari celah ventilasi, sinar matahari masuk dengan leluasa ke dalam kamar Edo. Matahari pagi terasa memberikan kesegaran kepada tubuh Edo yang tengah berbaring di tempat tidur sebuah rumah sakit. Nara masih mengawasi lelaki yang berbaring di tempat tidur itu dengan perasaan setengah gelisah. Dari semalam suntuk Nara tak memejamkan matanya, hanya karena rasa setianya terhadap lelaki yang sangat dicintainya itu.
Nara hanya ingin Edo segera siuman dari pingsannya karena rasanya cukup trauma jika melihat keadaan Edo, baru saja sembuh dari kecelakaan waktu itu.
Karena menurut keterangan dokter, Edo hanya mengalami luka di bagian dada yang dibilang agak parah jika di kepala dan tangannya dikatakan oleh dokter luka-luka ringan. Mengenai kabar tentang kecelakaan Edo belum ada yang memberitahukan kepada mamanya Edo tentang hal ini.
Resa dan Alva menemani Nara di kamar itu sambil menunggu Edo sadar dari pingsannya. Ketiga remaja itu semalam tak ada yang dapat memejamkan matanya .semua menanti kesadaran perasaan cemas .
Ketika Edo yang berbaring di tempat tidur itu sudah mulai menggerakkan tangannya pelan-pelan, hati ketiga remaja ini sedikit gembira melihat perlahan-lahan mata Edo terbuka lebar. Dipandangnya seluruh ruangan itu yang dirasakan oleh Edo terasa aneh seperti asing.
"Di mana aku sekarang." Ucap Edo lirih.
__ADS_1
"Kamu sekarang sedang berada di rumah sakit." Jawab Nara.
Mata Edo menangkap ke sebelah samping ternyata yang duduk adalah seorang gadis yang sangat dikenalinya.
Edo menatap gadis itu dihadapannya lalu berlinang air matanya, walaupun gadis itu tersenyum padanya secara cerah dan mempesona.
"Kamu Nara?" Tanya Edo pelan.
"Aku Nara. Kekasihmu yang sangat kamu cintai."
"Nara." Keluh Edo.
Edo dan Nara pun saling berpelukan erat-erat. Dan sama-sama menitikkan air mata keharuan. Resa dan Alva ada di situ juga, mereka juga tanpa sadar menitikkan air mata. Suasana di dalam ruangan itu menjadi sangat sendu genangan tangisan menghiasi ruangan itu.
"Andai aja kamu nurut, apa yang aku bilang Do. Gak akan terjadi kaya gini. Untung saja kamu selamat. Tuhan masih melindungi kamu sayang" Ucap Nara.
"Semuakan sudah terjadi, aku sekarang baik-baik saja." Jawab Edo tersenyum.
"Masih terbaring seperti ini kamu bilang baik-baik saja."
"Bagaimana keadaan Betran dan Alexa?" Tanya Edo ingin tau keadaan Betran dan Alexa.
"Alexa meninggal dunia di bakar api mobilnya yang terbakar, sedangkan keadaan Betran mengalami luka cukup parah di bagian kepala."
Rasa penyesalan dirasakan oleh Edo. Detik itu sesungguhnya di hati sanubari Edo sangat menyayangi kedua temannya yang mengalami musibah. Namun sekarang semuanya sudah terlanjur terjadi dan tidak akan kembali seperti semula mau dibilang apa lagi.
"Sekarang kamu gak usah banyak pikiran dulu Edo. Kamu perlu ketenangan pikiran, agar kamu cepat sembuh. Jangan terlalu lama aku bosan menemanimu di rumah sakit terus." Ucap Nara.
"Ya Do, lo perlu istirahat." Sambung Resa.
"Thanks yaa." Ucap Edo.
Edo merebahkan dirinya kembali ke tempat tidur. Wajah Nara kelihatan cerah sekali walaupun dia tak tidur semalaman namun terlihat dari kantung matanya dia setengah menahan kantuk, walaupun demikian semua itu karena pengaruh kelegaan hatinya melihat Edo telah kembali sehat meski belum sempurna keseluruhannya.
"Resa lo mau nolongin gua gak?" Kata Nara kepada Resa.
"Lo mau minta tolong apa?"
"Tolong kabarin tante Sonya tentang keadaan Edo. Setelah itu sampaikan pula kepada ayah dan ibu bahwa gua sedang ada di rumah sakit menunggu Edo yang sedang mengalami kecelakaan." Ucap Nara.
"Yaudah kalau gitu gua berangkat sekarang aja." Jawab Resa.
__ADS_1
"Res, lo gua anter ya?" Ucap Alva.
"Boleh." Jawab Resa singkat.
"Lo jagain Resa ya." Ucap Nara kepada Alva.
"Tenang Nara gua jaga dia kok."
"Thanks ya, lo udah mau nolong gua sama Edo." Ucap Nara.
"Santai, teraktir aja di sekolah selama sebulan lunas deh."
"Rese yaa lo. Oke nanti gua teraktir bakso."
"Udah ah ayo berangkat."
"Hati-hati."
Maka tanpa menunggu waktu lagi Resa dan Alva meninggalkan rumah sakit. Berjalan pulang untuk menyampaikan pesan dari Nara.
Nara dengan setia sekali merawat Edo di tempat tidur. Sama halnya seperti waktu saat Edo mengalami koma dahulu. Nara sangat setia menemani kekasihnya itu.
Di genggamlah tangan kekasihnya itu, sudah sebulan lamanya ia tidak merasakan genggaman hangat dari kekasihnya itu. Sungguh bahagianya hati Nara, bisa merasakan genggaman tangan Edo kembali.
"Kamu kenapa menangis lagi Nara?" Tanya Edo.
"Edo." Mengelap air matanya.
"Kamu belum tidur Edo."
Edo hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa?" Tanya Edo kembali.
"Aku rindu kamu Edo." Ucap Nara pelan.
"Aku juga merindukanmu Nara, aku minta maaf untuk waktu itu, sungguh di luar kendaliku." Edo pun meneteskan air mata.
"Sudahlah, aku sudah memaafkanmu. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhanmu."
"Aku mencintaimu Nara."
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu Edo."
Nara pun memeluk Edo dengan erat lalu mengecup pipi Edo dengan mesra dan lembut. Akhirnya Nara bisa kembali bersama dengan Edo. Walaupun harus merasakan pahit dahulu namun semuanya kembali normal. Nara dan Edo tak terpisahkan.