Haus Akan Hasrat

Haus Akan Hasrat
Alva


__ADS_3

Pulang sekolah aku langsung pergi ke rumah sakit menjumpai Edo, aku terlebih dahulu sudah mengabari ibu karena aku dari sekolah tidak pulang dulu. Kali ini aku ditemani Resa, kami berangkat menggunakan mobil Dika kekasih Resa yang menjemputnya di sekolah.


Kami bertiga pun menaiki mobil aku duduk di belakang sedangkan Resa duduk di depan samping Dika. Aku menghadapkan wajah ke jendela kaca mobil melihat pemandangan pohon di jalanan. Kali ini jalanan macet sekali banyak para pekerja yang sedang istirahat keluar berhamburan sekedar untuk mencari makan.


Rasanya aku tak sabar ingin segera sampai rumah sakit, sudah tak terbendung rasa rinduku terhadap Edo.


Selang beberapa waktu akhirnya kami sampai di rumah sakit aku turun persis di depan gerbang pintu masuk rumah sakit, sedangkan Resa menemani Dika untuk ikut ke parkiran mobil. Aku berjalan maju duluan tak sabar rasanya ingin bertemu Edo.


Aku tersenyum kepada perawat yang sedang menjaga, lalu aku masuk ke ruangan kamar Edo.


Di kamar sudah ada Bibi Boyem yang setia menemani majikannya.


"Hai bi." Sapaku."


Bibi Boyem tersenyum.


Aku menyuruh bibi Boyem agar pulang dulu ke rumah tampaknya bibi Boyem sangat kelelahan aku tau memang sudah menjadi tugasnya namun untuk kali ini karena ada aku yang menjaga Edo jadi aku suruh bibi Boyem pulang, setidaknya untuk memberitahu tante Sonya tentang keadaan Edo sekarang.


"Sebaiknya bibi pulang dulu, sekedar untuk beristirahat di rumah." Ucapku.


"Tapi Nara nanti kamu sendiri disini, inikan sudah menjadi tugas bibi."


"Gak apa-apa aku ditemani Resa, bibi harus pulang memberitahu tante Sonya tentang keadaan Edo."


"Yasudah kalau begitu, bibi pulang dulu nanti bibi balik lagi kesini."


"Iya bi, hati-hati."


Bibi Boyem pun pergi pulang. Aku menaruh tasku di atas kursi.


Aku duduk di samping kanan ranjang tempat Edo berbaring. Matanya masih terpejam sesekali dia sadar adalah selalu mengucap namaku.


"Hai Edo aku ada disini, aku kesini tidak sendiri bareng Resa."


Aku genggam tangan Edo dan ku tatap wajahnya begitu dalam.


Kesadaran Edo sesekali hilang-timbul persis apa yang dikatakan dokter Erwin. Resa pun masuk ke ruangan bersama Dika.


"Gimana Edo?" Tanya Resa.


"Setiap kali dia bangun, pasti selalu sebut nama gua."


"Bagus dong berarti lo emang satu-satunya." Ucap Resa bercanda.


"Apasih lo Res." Aku tersipu.


"Oh iya Nar, gua sama Resa gak akan lama disini." Sahut Dika.


"Mau kemana?"


"Biasalah anak muda." Mengernyitkan dahi.


"Beda yaa yang bucin akut." Kataku tertawa.


"Haha.. Yaudah gua pergi dulu ya."


"Iya hati-hati, jagain sahabat gua ya Dik. Awas kalau lo macem-macem."


"Siap komandan." Ucap Dika sambil meninggalkan tempat ini.


Kini tinggal aku dan Edo di ruangan ini, menatap wajahnya yang begitu sangat ku sayang. Setiap Edo sadar ia selalu menyebut namaku, setiap Edo menyebutkan namaku, kusuruh dia memejamkan mata dan beristirahat.

__ADS_1


Dokter Erwin masuk untuk memeriksa keadaan Edo. Mereka mengurangi dosis cairan infus lagi agar Edo bisa sadar untuk beberapa waktu yang lama.


"Nara kali ini saya bisa mengatakan bahwa sepertinya Edo memiliki tahap kemajuan yang cukup baik, tapi saya belum bisa memastikan kapan dia akan sadar sepenuhnya." Ucap dokter.


"Baik dok, saya berterimakasih sekali karena dokter sudah mau berusaha membantu kesembuhan Edo."


"Sudah menjadi tugas saya sebagai seorang dokter, kalau begitu saya permisi keluar."


"Silahkan."


Sekarang hampir jam tujuh malam. Aku baru melangkah keluar dari kamar mandi, ketika kulihat Edo akhirnya mengucapkan hal lain selain namaku.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Edo.


Kutarik sebuah kursi ke samping ranjangnya. Edo berguling memiringkan badannya, jadi kuhadapkan wajahku kepadanya dengan menempelkan dagu ke jeruji pagar tempat tidur sembari mengelus-elus tangannya.


"Apa yang terjadi." Tanya Edo kembali.


"Kita mengalami tabrakan."


Edo tampak bingung, dia belum bisa mengingat kejadian yang telah terjadi ekspresi ngeri membanjiri wajahnya.


"Kamu gak apa-apa Nara?" Ujar Edo khawatir.


"Aku gak apa-apa." Kataku menenangkannya.


Edo mengembuskan nafas lega.


"Kapan kejadiannya?"


"Sekarang hari Rabu, kejadiannya hari Minggu, apa yang kamu ingat Edo?"


Edo memejamkan mata. Kuulurkan tanganku ke atas lampu kabel di atas untuk mematikannya.


Dia membuka matanya kembali dan menatapku.


"Aku ingat."


"Apa." Ucapku.


"Aku mencintaimu Nara."


Aku tertawa.


"Yasudah Nara juga mencintaimu Edo."


Edo tersenyum.


"Akhirnya."


"Kamu terluka dan dokter melakukan operasi."


"Aku mendengar hal itu saat dokter mengatakannya."


Kubelai pipinya dengan punggung tanganku, mata Edo menatapku pandangannya terus tertuju padaku, aku jadi tersipu malu mengingat sudah hampir sepuluh hari Edo berbaring di rumah sakit.


"Kapan-kapan aku ceritakan apa yang terjadi, oke?"


Edo mengangguk seolah apa yang aku katakan selalu dia ikuti.


"Aku tidak bisa lama disini Do, aku harus pulang."

__ADS_1


"Kenapa pulang Nara?"


"Besok aku harus sekolah."


"Memangnya aku sudah berapa lama di rumah sakit?" Tanya Edo kaget.


"Hampir sepuluh hari." Jawabku.


"Sepuluh hari!"


"Sudah kamu jangan terlalu memikirkan banyak hal istirahatlah, besok pagi sepulang sekolah aku akan kembali kesini."


"Baiklah cantik."


"Ada bibi Boyem yang temani kamu."


"Bibi ada disini?"


Aku mengangguk, aku harus segera pulang hari semakin malam dan jam besuk akan segera berakhir. Aku senang bisa mengobrol lagi bersama Edo walau belum sepenuhnya namun itu suatu hal yang sangat baik.


"Aku pulang ya Edo."


Edo mengangguk sebelum memejamkan mata kembali. Ku berdiri dari kursi, kumajukan tubuh untuk mengecup pipinya.


"Aku mencintaimu Edo."


Ku ambil tasku di atas kursi.


"Lagi." berbisik


"Aku mencintaimu Edo."


Aku pun membuka pintu untuk meninggalkan ruangan itu, karena aku harus segera pulang. Bibi Boyem pun masuk ke dalam ruang rawat Edo. Aku berjalan pulang menelusuri lorong rumah sakit.


Sesampainya di depan gerbang rumah sakit ku sebrang jalan ketika langkahku persis berada di tengah ada motor melaju kencang dari arah kanan. Aku berteriak.


"Aaaaaaaa." Kututup wajahku.


Motor itu menginjak remnya pas berhenti dihadapanku, aku perlahan membuka tanganku.


"Tolong ya mas kalau bawa motor itu lihat-lihat." Merasa kesal.


Pria itu membuka helmnya.


"Nara?" Tanya pria itu mengucap namaku.


"Alva."


Aku sangat kaget lagi-lagi ulah Alva yang kesekiannya aku sial jika bertemu dengannya.


"Gilaaa."


"Apanya yang gila?" Tanyaku merasa heran.


"Gila cewek yang dibilang populer di sekolah, ternyata jam segini masih keluyuran pake seragam lagi." Spontan Alva


"Kalau lo gak tau apa-apa jangan sok tau." Katakku emosi.


"Kan memang begitu kenyataannya."


"Males gua ngobrol sama lo gak bakal ada habisnya, lebih baik gua pergi dari sini."

__ADS_1


Aku mulai emosi kenapa sih harus ketemu manusia macam Alva, sambil berjalan pulang aku memesan taxi online namun lagi-lagi di batalkan. Jalanan terasa sepi aku berjalan seorang diri hari semakin malam dan bulan telah menampakkan cahayanya.


__ADS_2