Haus Akan Hasrat

Haus Akan Hasrat
Detik malam pertandingan


__ADS_3

Resa segera pergi meninggalkan rumah Edo langsung segera menemui Nara. Walaupun Edo melarangnya untuk memberitahu Nara, namun bagi Resa, Nara berhak tau. Namun bagaimana pun Resa tetap berpihak pada Nara dan Edo.


Resa pun segera memasan taxi online untuk segera ke rumah Nara. Namun taxi online tak kunjung datang bahkan di batalkan beberapa kali. Tiba-tiba ada motor yang melintas di hadapan Resa. Ternyata itu motor Alva.


"Resa." Ucap Alva.


"Kebetulan banget lo ada disini." Cetus Resa.


"Kenapa? Lo panik gitu." Tanya Alva penasaran.


"Lo harus anterin gua ke rumah Nara. Penting!" Tegas Resa.


"Ia ada apa?" Tanya Alva.


"Udah sih, lo nurut aja. Ayo anter gua ke rumah Nara."


Resa pun segera menaiki motor Alva. Menuju rumah Nara.


Sesampainya di halaman rumah Nara. Resa pun langsung bergegas masuk.


Maka berita itu langsung saja disampaikan oleh Resa kepada Nara.


"Ada apa Resa?" Tanya Nara.


"Lo harus tau sesuatu." Ucap Resa.


"Tau apa?"


"Edo, Nar."


"Iya Edo kenapa?"


"Lo perlu menanggapi ini secara serius hal ini Nara. Bukannya lo gak mau kalau ada sesuatu hal yang terjadi dengan Edo?"


Laporan yang di sampaikan Resa membikin perasaan Nara jadi tak menentu.


"Sorry, kalau gua baru kasih tau lo sekarang."


"Emang ada apa Res. Jangan buat gua panik."


"Gua waktu itu dititipin surat dari Alexa untuk Edo. Sebelum kecelakaan itu terjadi dan tadi gua baru sempat kasih ke Edo."


"Apa isi suratnya?" Tanya Nara.


"Gua emang gak buka surat itu. Ketika gua kasih ke Edo. Ternyata surat itu adalah undangan untuk menyerang Edo."


"Menyerang gimana?"


"Alexa dan Betran menantang Edo untuk balapan. Dan Edo menerima tantangan itu."


Aku kaget. Sekujur tubuh Nara mendadak diserang rasa dingin. Peluhnya keluar dari pori-pori tubuh karena dicengkam kekhawatiran. Wajah Nara berubah pucat sekali. Resa bisa menangkap perasaan yang tengah dikandung Nara.


"Kapan mereka mau tanding Resa?" Tanyakku.


"Mereka akan melakukan balapan besok malam Nara."


"Lo harus ajak gua kesana!"


"Jangan Nar."


"Gua harus ikut kesana."


"Bahaya, Edo sebenarnya gak izinin gua buat kasih tau lo."


"Lo besok harus ajak gua kesana."

__ADS_1


"Buat apa Nara?"


"Mencoba untuk mendamaikan mereka. Karena gua tau di balik itu semuanya mereka sama-sama menyimpan rasa dendam. Dan gua baru sadar itu terjadi karena penyebabnya adalah gua. Andai gua gak masuk ke kehidupan Edo. Gak akan jadi kaya gini."


Jawaban Nara sangat mudah di mengerti oleh Resa. Dan Resa merasa setuju jika memang harus Nara yang dapat mendamaikan kekeruhan dan perusahan antara mereka semua.


Tak lain penyebab persoalan ini adalah karena perasaan cinta, cemburu dan dendam.


Setidaknya Resa sedikit lega, dan ia akan menemani Nara ketika pertandingan itu akan dilaksanakan.


"Yaudah Nar, gua bakal ajak lo nanti." Ucap Resa.


Aku hanya mengangguk.


"Oh iya Nara."


"Kenapa Res?"


"Gua lupa, Alva nunggu di bawah." Sambil menepuk jidat.


"Lo kesini bareng Alva?"


"Iya, tadi gua gak sengaja ketemu dia di jalan. Langsung gua ajak kesini, karena gua panik."


"Yaudah kalau gitu, kita ke sana temuin dia."


Resa dan Nara pun keluar dari kamar, lalu berjalan menuju ruang tamu.


Terlihat Alva sedang duduk sendirian di ruang tamu. Kami pun duduk bersamanya.


"Ngapain sih lo pada lama banget." Ucap Alva kesal.


"Sorry Alva tadi gua panik." Jawab Resa.


"Emang ada apa sih?" Tanya Alva.


"Iya pacar lo kan Nar."


Aku mengangguk.


"Jadi Edo besok malam, akan bertanding balapan."


"Balapan." Alva kaget.


"Iya makanya gua kasih tau Nara buru-buru."


"Atas dasar apa?"


"Panjang ceritanya."


"Gua bakal anter kalian berdua."


"Serius?"


"Iyaa."


"Tumben lo baik." Kata Nara.


"Lo aja gak pernah sadar."


...****************...


Tak ada sementara perasaan yang bimbang di saat menjelang sore hari. Dimana Nara mesti datang ke tempat pertandingan yang sudah ditentukan oleh Edo dan kedua lawannya itu. Nara tidak sendirian ia bersama Resa dan Alva.


Perasaan yang menyelimuti tak menentu. Ngeri bercampur kekhawatiran. Kenapa itu harus terjadi karena mereka hanya karena persoalan cinta. Yang sekarang akan di tentukan antara hidup dan mati. Nara sore itu berhias diri secantik mungkin.

__ADS_1


Tetapi tidak terlalu menyolok. Kesan pribadinya masih nampak anggun, dengan penuh kegelisahan Nara berangkat ke rumah Resa.


Lantas ketika Nara sampai di rumah Resa. Melihat mobil sport kuning gading berhenti di depan rumah Resa. Ternyata mobil itu adalah milik pacar Resa yang sudah parkir dicolling oleh Resa untuk datang kemudian mengantarkan ke tempat pertandingan. Lalu datanglah Alva yang menyusul menggunakan motornya.


"Loh ternyata udah pada kumpul." Ucap Alva.


"Lo yang telat." Ejek Resa.


"Ini siapa?" Sambil menunjuk cowok itu.


"Oh kenalin cowok gua."


"Hallo bro. Gua Alva."


"Gua Dika, pacarnya Resa."


"Jadi kita berangkat Nara?" Tanya Resa.


"Tentu."


"Kalau gitu naik mobil gua aja semuanya."


"Terus motor gua." Ucap Alva.


"Tenang taro aja disini, aman." Jawab Resa.


"Oke."


"Makanya gua sengaja ajak Dika ke tempat itu biar kita gak kesulitan kesana."


Dika tersenyum ramah kepada Nara dan Alva. Kemudian mereka meninggalkan rumah dan menuju tempat pertandingan. Di kala itu perasaan gemetar menjalar di sekujur tubuh Nara. Nara memberi petunjuk jalan kepada Dika agar tidak tersesat sampai di tempat. Mengingat tempat itu sangat tersembunyi dan tak mungkin ada orang yang tahu.


Ketika mobil mereka baru saja sampai, ternyata di tempat itu sudah kelihatan sangat ramai. Mobil sedan banyak yang berhenti di jalanan aspal lapangan terbang yang sudah tidak terpakai lagi.


Nara segera turun dari mobil dan berjalan mencari Edo di antara orang-orang bergerombol. Sementara Alva, Resa dan Dika ikut bergerombol sebagai penonton. Angin malam di alam yang terbuka terasa dingin menusuk tulang-tulang. Tubuh Nara menggigil menahan dingin.


Dicarinya Edo ke seluruh tempat itu, namun tak ditemuinya. Karena keadaan tempat itu sangat gelap tanpa ada penerangan lampu.


Akhirnya Nara mendapat suatu firasat agar mencarinya ke mobil Edo.


Benar saja firasat Nara untuk mencari Edo di dalam mobil. Segera saja Nara membuka pintu mobil dan duduk di sebelahnya.


Edo terlihat menjadi sangat kaget melihat Nara sudah duduk di sebelahnya dengan tatapan mata gelisah.


"Nara? Dengan siapa kamu kesini?"


"Dengan Resa. Kenapa kamu lakuin ini Edo? Apa gunanya semua ini?"


Mata Edo menatap lurus ke depan dengan hampa.


Edo terdiam tanpa tak memberikan jawaban.


"Jawab Edo? Kamu tau ini sangat berbahaya."


"Aku ingin membuktikan, bahwa aku bukanlah seorang pengecut!" Ucap Edo penuh emosi. Wajah Edo nampak demikian tegang.


Begitupun Nara semakin ditekan perasaan gelisah melihat tekad Edo yang rupanya tak mampu di cegah lagi.


"Edo tatap mata aku. Ingatlah aku! Karena aku tak akan menghendaki kamu mengalami musibah. Kamu lupa sama cinta kita berdua?"


Nara mengucapkan kata-katanya dengan kelopak mata yang dibasahi air bening berkilauan. Tutur katanya pun sudah bergetar karena dicengkam kegelisahan. Tangan Nara memegang lengan Edo yang kukuh dengan lembut. Air mata Nara menitik di pipinya.


"Kamu gak kasian lihat aku sengsara? Sadarlah tentang bahaya yang mengancam kamu. Aku yakin Alexa dan Betran bakal nyelakain kamu. Mereka berdua menyimpan dendam."


"Kalau niat mereka seperti itu. Aku sudah siap menghadapinya. Aku gak takut mati! Toh hidupku sudah tak berarti."

__ADS_1


"Edo!" Pekin Nara tertahan.


Edo hanya menggeleng pelan namun mantap. Semakin memuncak kegelisahan di hati Nara.


__ADS_2