Haus Akan Hasrat

Haus Akan Hasrat
Gairah hasrat Keira


__ADS_3

Sesampainya di rumah aku turun dari motor Alva kulihat terparkir mobil di depan halaman rumahku pasti itu adalah Edo.


"Thanks ya." Ucapku.


"Santai."


"Mau mampir dulu? Tawarku.


"Gak usah deh, gua mau langsung cabut balik aja."


Apapun pergi meninggalkan halaman rumahku. Lalu aku pun masuk ke dalam rumah melihat ruang tamu ternyata memang benar ada Edo disana. Sepertinya dia sudah menungguku sedari tadi. Ibu pun datang menghampiriku.


"Nara baru pulang?" Tanya ibu.


"Iya Bu."


"Dari mana saja? Edo kasihan lo nungguin kamu, ibu telepon handphone mu mati."


"Iya bu, maaf, handphone Nara mati."


"Yasudah, ibu ke dalam dulu, kalian ngobrol aja dulu."


"Baik bu."


Aku belum berani menatap wajah Edo, ketika aku duduk di sebelahnya, namun aku memberi jarak pada dudukku.


Edo memulai pembicaraan terlebih dahulu, karena sedari tadi aku hanya diam.


"Laki-laki itu siapa?" Tanya Edo membuka pembicaraan."


"Dia temanku."


"Ya Siapa temanmu kan hanya Resa dan Dika." Ujar Edo.


"Yang pernah kamu temui di rumah sakit." Jawabku.


"Oh murid baru itu."


Aku hanya diam dan tak menghiraukan ucapan Edo barusan.


"Aku mau ganti baju dulu." Ucapku pada Edo.


Edo hanya mengangguk sepertinya Edo merasa serba salah memahami sikapku.


Aku pun pergi ke kamar untuk mengganti seragamku.


Lalu balik kembali menemui Edo.


"Boleh kita bicara di luar?" Tanya Edo.


"Kenapa tidak di sini saja."


"Tidak, kita harus membicarakan ini di luar."


Aku pun menuruti ajakan Edo kami duduk di taman belakang.


"Yasudah mau ngomong apa?" Tanyaku pada Edo.


"Aku minta maaf tentang kejadian waktu itu, semua di luar kendaliku. Aku tidak ada maksud untuk merusakmu." Ucap Edo menjelaskan.


Sungguh kata-kata itu membuatku benci, apalagi mengingat kejadian waktu itu. Tapi aku sadar itu juga bukan salah Edo sepenuhnya, kami terbawa napsu bersama oleh cinta yang membabi buta.


"Aku tidak ingin membahasnya, lebih baik untuk sementara kita berjarak dulu."


"Apa maksudmu Nara?"


"Ya lebih baik kita jaga jarak dulu, untuk sementara waktu."

__ADS_1


"Kamu mau putus dariku Nara?" Sontak Edo kaget.


"Aku hanya ingin berjarak dulu." Menegaskan.


"Kenapa? Kita tidak sampai melakukan hal itu, aku pun sudah minta maaf padamu." Ucap Edo memohon.


"Tetap saja Edo, aku perlu waktu. Sebaiknya sekarang kamu pergi?" Ucapku.


"Aku tidak mau berjarak dengamu."


"Edo ku bilang kamu pergi, atau aku tidak mau menemuimu kamu!" Ucapku mempertegas.


"Oke aku pergi."


Aku pun langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Edo seorang diri.


Segera Edo pun berpamitan kepada ibuku, lalu dia pun pergi menaiki mobilnya dan melaju kencang dengan perasaan berkecamuk,aku mengintipnya dari balik jendela kamarku. Apakah keputusanku ini benar ataukah sebaliknya, tapi aku masih belum bisa terima tentang apa yang dilakukannya. Semoga ini bisa menjadi pelajaran buat kita agar lebih hati-hati air mataku perlahan menetes. Kubaringkan tubuhku di tempat tidur, Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini tapi ini demi kebaikan kita.


...****************...


Segenggam harapan untuk memperoleh Kebahagiaan dari Nara terhalang oleh sikapku yang tercela.


Lalu Di manakah letak kebahagiaan itu.


Dalam diri Edo tumbuh semacam bunga yang tidak akan layu seumur hidup, bahwa cintanya terhadap Nara adalah sesuatu yang indah lembut dan semakin indah dalam kenangan. Tetapi Edo akan tetap menunggu sampai kapan pun hubungan mereka dapat kembali seperti semula.


Hingga menjelang jam 10.00 malam Edo tidak pulang kerumah dia memutuskan keluar untuk minum di bar.


Edo tak bisa minum terlalu banyak hanya karena diseret kesunyian, malam ini secara tak sengaja dia lebih banyak minum dari biasanya.


Pikiran yang merajai benak Edo sekarang adalah kesenduan perasaan rindu kepada Nara. Dia benar-benar seorang wanita dia benar-benar Kenangan dari sebuah potret dalam bingkai yang utuh dan sempurna.


Tetapi getaran-getaran dalam dada itu lebih kencang berdenyut dan hati Edo tiba-tiba seperti kena iris oleh pisau bila mengingat Nara.


Matanya yang bulat bening dengan bulu mata lentik begitu indahnya. Dagunya yang runcing selalu lembut, sering sekali Edo memegang dengan tangannya, bagi Edo Nara adalah seluruh kehidupannya.


"Seneng banget sih kamu melamun."


Suara itu pelan namun manja sekali, Edo menoleh ke kanan meneliti siapa gerangan yang datang menghampirinya di dalam kemenangan sinar lampu ruangan bar, Edo dapat menemukan wajah seorang wanita cantik dengan senyum genit, pakaian yang dikenakan wanita itu terlalu menantang di mata Edo.


Maka pemuda itu hanya dapat menghembuskan nafas berat menahan getaran jantungnya.


Wanita itu kemudian duduk di samping Edo sambil membelai lembut rambut Edo, senyumannya tak lepas di wajahnya wanita itu di mata Edo bagaikan Dewi yang memancarkan kehangatan perasaannya.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Wajahmu ganteng menawan hati setiap para wanita,termasuk aku. Kenapa kau kelihatan bersedih?"


Mencoba untuk tersenyum kepada wanita yang duduk di sebelahnya,


Senyuman Edo melegakan wanita penghibur tamu itu.


"Siapa namamu pemuda ganteng?" Tanya wanita itu dengan merajuk manja.


"Ayo Katakanlah." desakwanita itu pada Edo.


"Panggil saja Edo." Desis Edo pelan.


"Kau kesepian?" Tanya wanita itu.


Edo melirik wanita yang duduk di sebelahnya dengan gairah nafsu.


Bayangkan saja wanita itu menembakkan pipinya di wajah Edo.


Pertanyaan wanita itu dijawab oleh Edo dengan mengangguk lalu berbalik bertanya.


"Siapa namamu?"


"Keira." Sahut wanita itu.

__ADS_1


"Kau bekerja di sini sebagai hosstes?"


"Iya."


"Berapa usiamu?" Tanya Edo.


"Menurutmu berapa." Merajuk manja.


"Sudah menikah?"


Keira menggelengkan kepalanya.


"Yuk kita melantai." Ajak Keira.


Edo mula-mula agak ragu-ragu, namun Keira memaksanya dengan menarik tangannya. Akhirnya Edo tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut seperti anak kecil. Keira membawa Edo ke tengah arena melantai dengan memeluk tubuhnya mesra sekali. Sedangkan irama musik yang mengalun dengan syahdu semakin melelapkan kedua remaja dilanda hangatnya napsu dan cinta rasa.


Kepala Edo yang dirasakan dahulunya pening telah hilang karena hembusan nafas Keira yang berbau wangi dan merangsang.


Apalagi pipi gadis itu senantiasa ditempelkan di wajah Edo kemudian bibirnya ******* bibir Edo.


Dalam lilitan perasaan sepi kadang-kadanh manusia akan mudah lupa akan dirinya. Seperti halnya yang dialami oleh Edo saat ini, dalam dekapan hangat seorang wanita rasanya telah dapat melupakan kesepian yang menyiksa dirinya. Pinggang ramping Keira dipeluknya erat-erat.


Dalam setiap gerakan Keira yang bagaikan ular menggelinjang di pelukan Edo membuat diri lelaki ini tambah terangsang.


"Kau mau menemani aku tidur?" Bisik lirih Edo di telinga gadis itu. Keira hanya membalas dengan senyuman manja seraya mencubit mesra tangan Edo. Mata Keira tambah berseri.


"Mau kan" Desak Edo.


Tangan Edo menyusup di sela pakaian Keira bagian belakang. Merambat dikit-dikit hingga tubuh Keira menggelinjang.


"Tanpa kau pinga aku sudah bersedia menemani tidur."


"Kau sering menemani tidur tamu-tamumu Keira?"


"Tidak."


"Jangan berdusta."


"Aku berani bersumpah."


"Aaah." Sergah Edo.


"Kau bisa membuktikannya nanti."


Edo tertawa kalem kepada Keira seraya mencium kening gadis itu.


"Kau terlalu istimewa bagiku Edo."


"Kenapa bisa begitu?"


"Selama kukenal lelaki tak semesra engkau. Kalau kau mempunyai pacar, tentunya pacarmu akan bahagia sekali. Seperti aku detik ini bersamamu."


Musik syahdu masih saja mengalun di ruangan itu.


Edo dan Keira rasanya tak ingin melepaskan pelukan mereka sampai menjelang lagu-lagu syahdu beralih ke musik hot. Kurang lebih hampir delapan lagu syahdu Edo dan Keira melantai dengan mesra.


Begitu irama musik telah beralih ke irama musik hot. Keira menarik tangan Edo meninggalkan arena melantai membawa Edo ke sebuah kamar hotel yang bersatu dengan bar tersebut. Edo merenggut bahu Keira ketika mereka baru saja masuk ke dalam kamar. Edo membuat Keira terhenyak seperti sesak nafas, dan rengeknya membuat Edo semakin ganas menyerang.


Keira semakin agresif membangkitkan gelora napsu Edo, dengan dikecupnya Edo sejadi-jadinya. Kemudian dua insan dilanda amukan napsu setan itu terhempas di tempat tidur. Keira merintih lunglai.


"Edo aku kesepian. Aku membutuhkanmu Edo."


Tanpa memperdulikan keadaan lagi, terjadilah pergulatan di atas ranjang.


Segalanya berlangsung tanpa penolakan apapun dari Keira yang menggigit Edo karena hilang mahkotanya.


Keira masih perawan sekalipun terkenal sebagai hosstes. Gadis itu tak ubahnya seperti Edo yang tercengkam kesepian pada dirinya, dan membutuhkan pelampiasan tanpa memikirkan resiko.

__ADS_1


__ADS_2