
Di sekolah aku duduk di bangku taman, aku tidak ada semangat belajar. Hari ini Resa pun tidak masuk karena ia harus mengantarkan ibunya pergi ke rumah sakit. Rasanya sekolah sepi tanpa Resa walaupun sebenarnya aku bisa saja bergabung dengan yang lain, tapi aku sedang malas melakukan banyak hal terlebih aku masih memikirkan kejadian waktu itu. Aku terdiam dalam lamunan kurasakan ada yang menggelitik di telingaku rasanya geli sekali.
"Siapa sih yang iseng."
Aku tengok ke belakang tidak ada orang, aku pun menoleh lagi ke depan.
Lagi-lagi telinga aku menggelitik kupegang daun telingaku dan aku menengok kembali ke belakang tetap tidak ada orang.
Ketika aku kembali menengok ke depan. Aku kaget di depanku sudah ada Alva dia menyodorkan minuman kepadaku lalu duduk di sampingku.
"Bisa nggak sih lo sekali gak isengin gue." Ucapku.
"Gua nggak ngerasa isengin lo kok." Jawab Alva.
"Terus ngapain Lo tiba-tiba duduk di sini?" Tanyakku.
"Gua kasihan sama lo." Jawabnya spontan.
"Kasihan?"
Alva pun mengangguk.
"Gua nggak perlu lo kasihanin, lagian gue baik-baik aja."
"Jangan dusta deh." Ucapnya berlagak sok tahu.
Menyodorkan minuman kepadaku.
"Apa ini ?" Tanyakku.
"Ya lihat aja ini apa? Tenang nggak gua racunin kok."
Akhirnya minuman itu aku ambil dari tangan Alva. Kusedot minuman itu memang ternyata sangat menyegarkan di tenggorokan.
"Thanks." Ucapku.
"Lo ngapain sih ngelamun sendirian di sini? Tanya Alva.
"Kepo banget sih lo." Cetusku.
"Oke kalau lo nggak mau ngasih tau, pulang sekolah gua anterin ya." Ucapnya.
Aku pun terheran kenapa Alva bersikap baik seperti ini sedangkan dia manusia yang sangat paling rese dan menyebalkan memang ya susah ditebak. Dia tiba-tiba pergi.
...****************...
Bel pulang pun berbunyi semua siswa berhamburan keluar untuk segera pulang termasuk aku yang berjalan pulang. Kulangkahkan kakiku menuruni anak tangga.
Edo datang menghampiriku di sekolah sepertinya dia sudah lama menungguku, karena semenjak kejadian itu aku tidak membalas teleponnya atau sekedar membaca chatnya pu tidak.
"Nara tunggu." Edo meraih tanganku.
Aku lepaskan tanganku lalu berjalan kembali pergi.
"Nara kita harus selesaiin ini baik-baik."
Aku hanya terdiam aku belum bisa berbicara banyak hal dengan Edo. Rasanya untuk menatap wajahnya pun aku tidak sanggup."
"Kasih waktu aku untuk sendiri Do." Ucapku.
"Tapi, Nar." Edo memaksa.
"Jangan paksa aku Do."
Tiba-tiba sebuha motor melintas di depan kami dan ternyata itu motor Alva.
"Ayo naik." Ajak Alva.
Tanpa basa-basi aku langsung menghampiri Alva, menaiki motornya. Edo terdiam tak mengejarku, Edo di situ kesal melihat sikapku yang dingin padanya, tapi dia tahu alasannya mengapa aku bersikap demikian motor pun pun melaju, di perjalanan aku hanya terdiam. Apakah yang kulakukan ini salah,tapi aku belum siap harus bertemu Edo.
__ADS_1
"Lo kenapa?" Tanya Alva.
"Gak apa-apa."
Aku pun terdiam kembali sedangkan Alva fokus menyetir motornya. Laju motor berhenti kulihat sekelilingku.
"Ini di mana?" Ini bukan jalan ke rumah gua."
"Emang bukan."
"Lo mau bawa gua ke mana?"
Aku pun merasa takut tiba-tiba entah dibawa ke mana aku oleh Alva.
"Udah lo turun dulu, gua nggak akan apa-apain lo kok."
Aku pun menuruti katanya lalu turun dari motornya. Alva membuka helmnya aku pun melakukan hal yang sama melepaskan helmku. Namun tangan Alva meraih helmku mencoba untuk melepaskannya. Wajah kami saling berhadapan jantungku berdegup kencang. Buru- buru kujauhkan pandanganku dari Alva.
"Ayo ikut gua." Ajaknya.
Aku pun mengikuti langkahnya dari belakang. Langkah kaki kami berhenti tepat di depan danau yang indah.
"Lo tunggu disini." Ucapnya.
"Lo mau kemana?"
"Tunggu aja nggak lama kok."
Aku pun duduk merasa heran mau ke mana Alva sebenarnya, apa dia menjailiku lalu meninggalkanku sendiri. Alvadatang kembali dia membawa sebuah tiga batu lalu duduk kembali di sebelahku.
Lalu menyerahkan tiga batu itu kepadaku.
"Buat apa ini?" Tanyaku
"Gua kalau lagi sedih, pasti datang ke sini. Tiga batu ini adalah sebuah harapan."
Aku tak mengerti apa yang alva katakan, ku coba untuk memahaminya.
"Ya gua tau sekarang lo lagi sedih, cowok tadi itu pacar lo kan?"
Aku tak bisa berkata-kata hanya terdiam lalu menunduk menatap ujung sepatuku.
"Nah batu pertama ini lo lempar, tapi sebelum lo melemparnya, harus ucapin apa yang lagi di pikirin dalam hati lo setelah itu lempar batu itu ke danau."
Aku menurutinya kupegang batu itu dan kutempelkan pada dadaku aku berkata pada hatiku "Semoga yang terjadi antara aku dan Edo tidak akan pernah terulang . Karena aku mencintainya tapi tidak untuk mengorbankan hal yang berharga."
Aku lemparkan batu itu ke danau.
."Aarghhh!" Kulepaskan semua yang ada di pikiranku.
Batu kedua ku lemparkan berharap semua akan baik-baik saja.
Kulemparkan batu itu kembali ke danau.
Terakhir yang ketiga semoga aku menjadi manusia yang lebih baik dan orang-orang di sekelilingku merasa bahagia bersamaku.
Ku lemparkan kembali batu yang ketiga.
Setelah ketiga batu itu kulemparkan rasanya aku sedikit lega.
Aku mengalah nafas.
"Bagaimana udah enakkan?" Tanya Alva.
"Sepertinya cukup." Jawabku
"Nah gitu dong, kan kalau senyum enak dilihatnya."
Ternyata Alva tidak seburuk yang aku kira. Cowok nyebelin yang selama ini aku kira jahat ternyata hatinya bisa selembut malaikat.
__ADS_1
"Woi lo kenapa bengong?"
"Enggak, gua mau bilang makasih sama lo."
"Buat apa?"
"Buat apa aja."
"Santai aja." Kata Alva singkat.
Dia meraih ponselku.
"Passwordnya?" Tanya Alva.
Aku pun mengetikkan password ku untuk membuka kunci layar handphone ku.
"Ini nomer handphone gua, Alva!"
"Buat apa?"
"Siapa tahu lo butuh."
"Sebentar, gua mau pergi dulu."
"Mau ke mana lagi?"
"Tunggu dulu."
Alva pun pergi kembali entah dia mau ke mana, lagi-lagi aku ditinggal sendiri seketika handphone-ku berdering ternyata panggilan masuk dari Edo. Aku tak ingin mengangkatnya dahulu akhirnya ku matikan ponselku rasanya aku tak ingin berbicara dulu kepada Edo.
Dua buah es krim digenggamnya lalu Alva memberikannya kepadaku.
"Sebelum lo ambil es krim ini, ada syaratnya loh." Ucap Alva.
"Apa syaratnya? Lo gak ikhlas ya ngasih gua?"
"Lo suka yang mana coklat apa strawberry?"
"Coklat" Jawabku spontan.
"Yah payah, kalau gitu tadi gua beli aja dua es krim rasa coklat."
"Memangnya kenapa? Merasa heran.
"Gua kira cewek itu sukanya es krim rasa strawberry, makanya gua milih eskrim strawberry buat lo, ternyata lo suka yang coklat. Gua kasih yang coklat buat lo dan strawberry ini buat gua."
"Yaudah deh karena lo udah bantu gua dan baik sama gua, hari ini makan es krim yang strawberry aja." Ucapku.
"Yakin nih nggak mau yang coklat?"
Aku hanya mengangguk dan meraih eskrim rasa strawberry itu.
Aku pun duduk berdua dengan alva menikmati es krim strawberry dan coklat
Keisengan terjadi saat aku sedang menikmati eskrim, ia mencolekan eskrimnya ke pipiku membuat wajahku kotor aku pun membalasnya demikian ku tempelkan ke muka Alva kami pun saling melempar es krim sampai muka kami pun belepotan. Dan kami tertawa melihat wajah kami yang begitu lengket akibat eskrim. Aku merasa senang tertawa lepas tidak ada beban apapun bersama Alva kini ku kembali ceria.
"Udah-udah, lihat wajah gua udah kotor banget."
Alva hanya tertawa mendengar ucapanku.
"Kok malah ketawa sih?
"Mukanya lucu kalau lagi marah."
"Rese ya lo."
"Sini gua bersihin belepotan banget."
Dia membersihkan wajahku menggunakan tissue dan mata kita saling menatap kembali, setelah itu aku mengambil tisunya dari Alva untuk membersihkan kotoran di wajah Alva, setelah kami selesai memakan es krim langit pun tampak mulai sore. Kami memutuskan untuk kembali pulang ke rumah dan Alva mengantarku pulang sampai rumah.
__ADS_1