Haus Akan Hasrat

Haus Akan Hasrat
Sungguh mencintainya


__ADS_3

Aku melangkah menyusuri jalanan kali ini jalanan terasa sepi, taxi online pun lagi-lagi di batalkan. Aku terus berjalan tanpa melihat sekelilingku pandanganku lurus ke depan gerakan langkahku semakin cepat. Tiba-tiba terdengar motor melintas suara klakson motor itu begitu menganggu.


"Woy, ayo naik." kata pengendara motor itu.


Aku menengok.


"Alva." kaget.


"Kenapa lo kaget?"


Mengapa dia masih ada disini bukannya tadi dia sudah pergi, apa diam-diam dia mengikutiku. Pikirku penuh tanda tanya.


"Ngapain lo masih disini, sengaja ikutin gua ya?" ucapku curiga.


"Percaya diri banget lo, ya gua sebagai manusia yang baik hati dan tidak sombong ini menolong secara atas dasar kemanusiaan."


Aku melipatkan tangankku.


"Gua bisa pulang sendiri!" Kataku tak menolehnya.


"Yakin mau pulang sendiri, jalanan udah sepi gini loh. Mana mungkin bakal ada taxi lewat."


Benar perkataan Alva sudah terlalu malam taxi pun dijalanan ini sangat sepi, bahkan taxi online pun berkali-kali membatalkan pesanan dengan sangat terpaksa aku harus ikut dengannya.


"Gimana malah diem."


"Oke gua ikut sama lo, tapi awas jangan macem-macem."


Aku pun tidak ada pilihan lain untuk menolak ajakan Alva karena hari sudah terlalu malam. Kuturunkan step motornya lalu aku naik kemotor Alva. Aku bingung harus berpegangan kemana, tapi kuputuskan pegangan ke belakang. Motor pun melaju pergi jalanan malam ini begitu sunyi teras sejuk sekali. Alva membawa motornya sangat santai, jadi aku tidak merasa takut di boncengnya.


Pandangan Alva sesekali melirikku lewat pantulan kaca spion, aku tak merespon tatapannya fokus terhadap apa yang aku lihat sekitarnya.


"Lo Ngapain sih suka banget ke rumah sakit?" Tanya Alva.


Karena sedari tadi kita saling diam tak berkutip sedikit pun sehingga dia memulai obrolan.


"Bukan urusan lo." Jawabku ketus.


"Pegangan nanti lo jatuh."


"Gak akan."


Tiba-tiba Alva membawa motornya dengan kecepatan tinggi lalu menginjak remnya secara mendadak sehingga tubuhku terdorong ke depan wajahku menempel di bahu Alva tanganku tanpa sadar memeluknya, saat aku ingin melepaskan tanganku. Alva menahan tanganku.


"Udah gini aja, nanti lo jatuh." Ucapnya santai.


"Gua gak akan jatuh, kalau lo gak tiba-tiba ngebut kaya tadi."


"Udah sih nurut aja pegangan."


Aku pun menuruti maunya ku peluk dirinya agar aku tidak jatuh, rasanya perasaanku tak karuan apa ini mengapa jantungku berdebar kencang seketika. Tangan Alva menyentuh tanganku di eluslah punggung tanganku. Sontak kulepaskan pelukanku. Ku cubit pingangnya.


"Awww." Teriaknya kesakitan.

__ADS_1


"Makanya jangan kurang ajar."


"Siapa yang kurang ajar sih."


"Lo kurang ajar elus-elus tangan gua."


"Santai aja kali, gua gak akan apa-apain lo kok."


Aku terdiam dan tak memeluknya lagi.


Setiba dirumah akupun segera turun dari motornya tak lupa ku ucapkan terimakasih. Aku pun langsung pergi masuk ke dalam rumah, mandi dan berganti pakaian. Lalu aku merebahkan badanku di tempat tidur untuk beristirahat.


...****************...


Besokknya disekolah ku ceritakan semua kejadian pada Resa.


"Hah serius lo di anterin anak baru itu?" Tanya Resa kaget.


"Iya."


"Kok bisa?"


"Terpaksa gak ada pilihan lain."


Pelajaran pertama dimulai pak guru pun masuk kelas, hari ini pelajarn Fisika yang mengajar dikelasku adalah Pak Rito.


"Baik anak-anak sebelum memulai pelajaran..."


"Permisi pak." Ketuknya pelan.


"Kenapa kamu terlambat?" Tanya pak Rito.


"Semalem saya habis dari luar pak mengantarkan seorang wanita berjalan sendirian di tengah sepinya jalan. Lalu saya antarkan wanita itu pulang, makanya saya kesiangan." Ucapnya nyeleneh.


"Memangnya mengantarkan kemana terlambat?"


"Ke Bali pak."


"Bali?" Merasa heran.


"Iya pak, Balik cililitan."


Semua murid yang ada dikelas pun tertawa mendengar jawaban Alva. Ada-ada saja kelakuan cowok ini. Aku pun berbeda dengan teman-temanku yang menertawakan jawaban Alva. Aku Mengernyitkan dahi pulpen yang ku pegang tidak sengaja ku tusuk-tusuk pada buku, menyebalkan sekali perkataannya.


"Yasudah kamu boleh duduk."


"Baik pak terimakasih."


Akhirnya dia pun di bolehkan duduk, Alva melirikku dan mengedipkan matanya ke arahku. Aku pun membalasnya dengan melotot.


Kami pun melanjutkan pelajaran.


Bel pulang berbunyi, aku langsung buru-buru pergi ke rumah sakit kembali.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit. Edo masih tertidur dan itu bagus untuknya beristirahat. Aku tak membangunkan Edo, namun ku tarik kursi dan duduk di samping ranjangnya.


Pada saat itu perawat datang membawa makanan sup untuk Edo. Dan ku bangunkan Edo pelan-pelan. Ia baru tersadar ada keberadaanku disini.


"Nara." Ucapnya.


"Iya, kamu makan dulu ya." Kataku


Aku pun menyuapi Edo perlahan, ternyata ia sangat pintar menghabiskan hampir semuanya. Inilah makanan pertama Edo sejak Minggu lalu.


Edo melontarkan lebih banyak pertanyaan tentang segala kejadian kecelakaan sore itu. Maka dari itu kuceritakan kepadanya semua yang telah terjadi, terus sedikit ku tambahi bagian-bagian yang kita bermesraan untuk memberikan penekanan. Entahlah aku pun bingung dengan diriku yang sekarang lebih berani untuk mengatakan hal itu.


"Kamu sudah bertemu ibuku Nara?"


Sontak aku kaget mendengar pertanyaannya apa yang harus aku jawab, bahwa tante Sonya tak pernah menjenguknya bahkan hanya menyuruh bibi Boyem untuk menjaganya.


"Kamu kok diem, kenapa?


"Aku sudah bertemu ibumu." jawabku.


"Apa dia sering mengunjungiku disini?"


Aku terdiam selang agak beberapa lama.


"Malah diem lagi, tidak ya?" Ucap Edo memastikan.


"Begini aku sudah bertemu tante Sonya, pada saat di hari kita kecelakaan, setelah itu tante Sonya pergi bersama laki-laki. Semenjak itu tante Sonya menyuruh bibi Boyem untuk mejagamu disini." Berusaha menjelaskan.


Raut wajah Edo berubah murung, aku mengerti perasaanya ibunya tidak memperdulikannya bahkan ketika ia sedang bertaruh nyawa antara hidup dan mati.


"Edo sudahlah tidak usah sedih." Ucapku.


"Tapi Nara, kamu taukan sekarang betapa aku sangat mencintaimu. Karena aku tidak mendapatkan cinta dari orangtuaku, peduli saja tidak."


Aku merasa tak tega melihat raut wajah Edo. Kupegang erat tangannya berusaha untuk memberi dukungan serta semangat, bahwa Edo tidak sendiri sekarang ada aku yang akan menemaniya.


"Jangan seperti itu Edo, mau sejahat apapun tante Sonya dia tetap ibumu, tenanglah sudah tidak usah banyak pikiran, sekarang fokuslah pada kesembuhanmu." Kataku sambil tersenyum.


"Terimakasih Nara, aku sangat mencintaimu."


"Aku juga."


Aku pun memeluk Edo kutempelkan pipiku ke dadanya begitu sangat aku mencintainya. Tangan Edo berusaha meraih kepalaku ia elus rambutku.


"Aku mencintaimu." Ucap Edo berbisik.


"Lagi." Kataku.


"Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu."


Kulepaskan kembali pelukannya menyuruhnya untuk istirahat kembali, Edo tidak boleh terlalu banyak gerak dahulu dia harus istirahat. Ku temani Edo sampai ia terlelap tidur, wajahnya begitu tampan sekali ku tatap dalam-dalam.

__ADS_1


__ADS_2