
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit akhirnya Edo diizinkan pulang hari ini aku dari sekolah langsung buru-buru pergi ke rumah sakit ditemani Resa.
Dokter Erwin sangat gembira melihat perkembangan Edo yang sangat begitu cepat pemulihannya.
Edo harus masih menemui dokter dua minggu lagi, selama itu dokter Erwin menyuruh Edo bed rest. Edo senang sekali karena itu berarti ia bisa tidur di tempat tidurnya lagi yang nyaman setiap malam.
Bibi Boyem menbantu merapihkan pakaian Edo selama di rumah sakit, sedangkan Resa berusaha memesankan Taxi online. Aku membantu Edo untuk berdiri walaupun langkah kakinya belum sehat sepenuhnya tapi ini adalah kabar baik serta kemajuan yang sangat bagus. Ku pegang lengan Edo untuk berjalan pelan keluar. Tak lupa berpamitan kepada dokter Erwin yang senantiasa sabar mengurusnya.
"Dokter terimakasih ya." Ucapku.
"Sama-sama tapi ingat jangan lupa untuk kontrol dan obatnya di minum." Kata dokter Erwin.
"Siap dok, kan ada gadis cantik ini." Edo menunjuk ke arahku.
Aku diam tersipu malu.
"Nar, taxi udah nunggu di depan." Ucap Resa.
"Ya, sudah dok kami permisi dulu." Kataku.
"Silahkan"
Aku dan Edo serta Resa juga bibi Boyem berjalan menyusuri lorong, untuk ke depan rumah sakit. Sesampainya kami di depan gerbang rumah sakit ada seseorang menyenggol bahu sebelah kiriku.
"Maaf saya tidak sengaja." Kata pemuda itu.
"Iya tidak apa-apa."
Saat aku mendongak ke atas lagi-lagi dia adalah Alva.
"Alva!" Panggilku kaget.
"Kamu kenal Nara?" Tanya Edo.
"Dia teman sekelasku anak baru."
"Hallo Resa." Alva menyapa Resa.
Resa pun hanya melambaikan tangan.
"Sial banget hidup gua selalu ketemu lo mulu!" Katakku kesal.
"Dih, siapa juga yang mau ketemu lo cewek trotoar."
Wajahnya sangat mengesalkan, aku malas melayaninya dan aku memutuskan pergi berjalan kembali, tanpa mempermasalah hal yang barusan terjadi."
Aku masuk ke dalam Taxi Edo duduk di tengah aku di samping kirinya dan Resa di samping kanannya. Sedangkan bibi Boyem di depan dengan pak supir.
__ADS_1
"Pak sesuai aplikasi yaa." Ucap Resa pada pak supir.
"Baik."
Mobil pun melaju pulang.
"Kamu kenapa gak cerita ada murid baru di sekolah?" Tanya Edo.
"Menurutku itu tidak penting."
"Dia ganteng ya, tapi lebih ganteng aku." Kata Edo nyeleneh.
"Dia itu menyebalkan selalu mengangguku." Katakku menjelaskan.
"Resa lo harus jagain cewek gua ya kalau di sekolah."
Edo melirik ke arah Resa.
"Udah gede dia bisa jaga diri sendiri." Jawab Resa.
Sepertinya Edo merasa cemburu melihat anak baru itu pasti ada niat untuk ingin mendekati Nara. Tapi aku tidak peduli mana mungkin aku jatuh cinta pada lelaki menyebalkan seperti itu, lagi pula cintaku sudah habis pada Edo.
Mobil berhenti di depan rumah Resa, ia tidak ikut mengantarkan sampai rumah Edo.
"Yaudah gua duluan ya Nar."
Resa pun turun, mobil pun melaju kembali menuju kediaman Edo.
Setiba di gerbang rumah Edo. Pak satpam membukakan pintu gerbang dan tersenyum kepada kami. Ku lihat ada tiga mobil berjejer apakah di rumahnya sedang ada tamu.
Kami pun akhirnya turun dan aku langsung membantu Edo untuk masuk ke dalam rumahnya.
Ketika masuk ke dalam rumah Edo, aku melihat ibunya yaitu tante Sonya tengah bermain kartu bersama tiga lelaki yang semuanya berbadan gemuk. Tapi aku tidak melihat lelaki yang waktu itu datang ke rumah sakit. Ketika aku dan Edo memasuki ruangan tengah ibunya hanya tersenyun melihat anaknya sudah pulang ke rumah.
"Edo, sudah pulang nak?" Sapa mamahnya.
"Ya." Jawab Edo pendek sambil melangkahkan kakinya ke trap tangga.
"Tante." Sapaku sambil tersenyum.
"Kamu Nara kan?"
"Iya tante."
"Terimakasih telah menemani Edo di rumah sakit."
"Sama-sama tante."
__ADS_1
Aku pun membantu membawa Edo ke kamarnya, sedangkan ibunya melanjutkan bermain kartu bersama ketiga lelaki itu. Setibanya di kamar Edo, ku rebahkan tubuh Edo di kasur. Terlihat raut wajah Edo sangat kesal serta emosi. Aku mencoba menenangkannya.
"Edo, aku mengerti perasaanmu."
Aku memegang tangannya berusaha untuk membuatnya tenang.
"Kamu lihat Nar, betapa aku tidak menyukai perlakuan ibuku, dia saja tak peduli anaknya sakit, malah asyik berlantai dengan banyak lelaki." Jawab Edo kesal.
"Aku tau kamu merasa kesal dengan hal itu, tapi dia tetap ibumu yang melahirkanmu. Tenanglah Edo aku akan selalu ada untukmu." Ucapku tersenyum.
Edo langsung memelukku dengan mesra sudah lama aku tidak merasakan pelukan hangat ini. Nara tak menolak, di biarkan saja Edo memeluknya.
"Terimakasih cantikku." Ucap Edo berbisik.
Aku hanya terdiam mendengar ucapan Edo. Edo melepaskan pelukannya, kemudian memegang dagunya yang mungil dan mengangkat ke atas perlahan. Edo melihat bibir merah merekah yang banyak mengandung magnet. Edo menggulum dengan mesra, lembut dan hangat. Dan Nara hanya pasrah. Yang hanya di rasakannya seperti terbang, seperti lupa segala-galanya.
Edo tiba-tiba merebahkanku di pembaringan. Lalu Edo mendekatkan wajahnya di atas tubuhku dan kembali menggulum bibirku dengan mesra. Tangan Edo perlahan memegang tali bajuku memasukannya ke sela-sela bajuku. Aku terdiam seperti melayang, belaianmya begitu lembut. Aku lalu bangkit dari pembaringan, apa yang akan kami lakukan barusan, aku langsung menarik bajuku. Hampir saja kami melakukan hal yang sangat tidak wajar.
"Maafkan aku Nara, aku..." Kata Edo.
Ku potong ucapannya.
"Aku pulang dulu Edo." Ucapku langsung merapihkan bajuku.
"Tapi Nara tunggu.." Memanggil namaku.
Aku mengambil tas dan langsung melangkah keluar dari kamar Edo segera berjalan pulang. Di bawah aku berpapasan dengan bibi Boyem.
"Mau pulang Nara?" Tanya bibi Boyem.
"Iya bi, obat Edo ku taro di dekat meja belajarnya."
"Buru-buru sekali."
"Ayah sudah menyuruhku pulang." Kataku berbohong.
Aku langsung berjalan keluar, Edo hendak mengejarku namun langkah kakinya tak mampu mengejar tubuhnya masih belum kuat berjalan jauh. Aku segera mencari taxi lalu segera pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan aku membayangkan hal tadi, apa yang tadi aku lakukan bersama Edo itu sangat menjijikan, aku bisa-bisanya terlena. Walaupun belum sampai pada akhir namun rasanya aku malu, mengapa aku jadi seperti ini. Benar cinta telah sangat membutakanku. Tanpa sadar air mataku menetes, ku seka air mata yang keluar.
Setiba di rumah ibu pun menyambutku, namun ibu terheran melihat raut wajahku yang terlihat sedang sedih.
"Nara mau langsung masuk ke kamar ya, bu." Ucapku.
"Yasudah, kamu istirahatlah dahulu."
Ibu pun mengerti dia tidak banyak melontarkan pertanyaan padaku. Aku langsung pergi ke kamar lalu menutup pintu dan aku kunci kamarku, biar tidak ada yang dapat masuk.
__ADS_1