
Sekarang hari Minggu, dan meski di rumah sakit, itu tidak menghalangi Edo melakukan kebiasaannya setiap hari Minggu.
Aku masuk ke kamar perawatannya dengan membawa kantong-kantong berisi film dan junk food, lalu meletakkannya semua di kursi.
Edo sedang duduk di sisi ranjang sementara perawat sedang menangani jarum infusnya.
perawat itu mengatakan.
"Ah bagus Anda datang di waktu yang pas."Kata perawat itu.
"Kenapa?"
"Dia tidak mau mandi."
Perawat itu mencopot jarum infus, menjepit,lalu menyeroti ujungnya ke lengan Edo.
Aku dan Edo berpandangan.
"Apakah anda mau menemani dia mandi?" Ucap perawat itu.
Aku terkejut belum pernah melihat dia tanpa busana.
"Kamu mau aku bantu mandi?" Tanyaku kepada Edo.
Edo mengedipkan bahu.
"Kalau kamu berkenan ya silahkan."
Edo tertawa sendiri mendengar ucapannya barusan, sangat bahagia jika Nara bersedia.
Aku dan Edo saling pandang rasanya aneh jika aku memandikan Edo, tapi kalau Edo memaksa ya apa boleh buat, tangannya naik memegangi kepala.
Rupanya perawat itu bisa merasakan sikap kami yang risih
"Maaf kukira kalian berdua sudah menikah."
"Sepertinya hampir seperti itu suster." Jawab Edo.
"Tidak apa-apa kata perawat itu silahkan anda kembali saja dulu ke ruang tunggu, setelah kami selesai akan ku kabari."
"Tidak usah!" Kata Edo mencegah.
"Yang akan membantuku mandi dia."
Mengangkat tatapannya kepadaku, perawat itu menatapku dan aku pun mengangguk. Lalu dia mengambil beberapa benda dari baki di sebelah tempat tidur, terus keluar dari kamar.
"Kamu sudah sempat berjalan hari ini?"
Aku pegang tangan Edo dan membantunya turun dari tempat tidur. Edo mengangguk.
"Mereka sudah membimbingku berjalan di lorong, aku sudah merasa lebih enak ketimbang kemarin, hanya saja masih pusing."
Perawat tadi masuk lagi membawa sehelai handuk.
"Tolong di ingat kepalanya jangan sampai basah, di kamar mandi ada selang pancuran, yang bisa dilepas atau dia bisa mandi di bak rendam. Mungkin lebih baik bak rendam saja supaya dia bisa berbaring." Kata perawat itu.
Perawat itu meninggalkan handuk di kursi lalu beranjak keluar perlahan-lahan. Edo berdiri lalu kubimbing dia ke kamar mandi. Setelah kami masuk ku tutup pintunya.
"Memalukan banget." Komentar Edo.
"Kamu yang minta aku membantumu, kalau kamu mau biar ku panggil lagi perawat tadi." Jawabku.
"Bukan begitu, aku senang kamu mau membantuku."
__ADS_1
Aku maju ke hadapannya lalu memegang tangannya yang satu lagi. Sementara dia bergerak mundur Edo memegangi logam yang terpasang di dinding lalu berhenti.
"Balik badan sana."Katanya.
Aku menurut dan menghadap ke arah sebaliknya.
"Setelah itu, mungkin kamu mesti keluar dulu sebentar." Kata Edo. Aku menggeleng-geleng sambil keluar dari kamar mandi.
"Jangan mencoba berdiri sendiri ya"
Kubiarkan pintu kamar mandi terbuka beberapa senti, supaya bisa mendengar jika Edo memanggil.
Setelah ia selesai buang air kecil aku masuk lagi dan membantunya berdiri.
"Pancuran atau bak?"Tanyaku
"Pancuran."
Aku memastikan Edo sudah berpegangan pada palang logam sebelum melepaskan tangannya ku atur keran air, agar airnya berubah menjadi hangat setelah itu kubasahi waslap untuk mengelap badannya dan menaruhnya di pinggir bak.
"Terima kasih." kata Edo.
"Jangan berterimakasih dulu." Aku tersenyum.
Edo mengambil waslap dari tanganku dan mulai menggosok lengannya.
"Aneh rasanya harus mengerahkan begitu banyak tenaga untuk melakukan segala hal, tanganku beratnya seperti 90 kilo."Kata Edo.
Kubuka sabun batangan dan menyerahkannya pada Edo, sabun itu tergelincir dari tangannya. Ia pun berusaha mengambilnya ke bawah, namun ku ambilkan sabun itu dan digosokkannya ke waslap.
"Kamu tahu kapan mereka membolehkanku pulang?" Tanya Edo. "Katanya Rabu ini dokter bilang masa pemulihanmu bisa makan waktu antara beberapa hari. Sampai tergantung bagaimana kesembuhan cederamu, kelihatannya tingkat kesembuhan kamu cukup cepat."
Edo mengerutkan dahi.
"Yang jelas usahamu luar biasa."Kataku.
Edo tersenyum. Kulanjutkan tangan yang satunya Edo memejamkan mata, ia kelihatan sangat capek.Memar di punggung Edo begitu parah aku takut ia akan kesakitan.
"Benturan yang kamu alami parah sekali, punggungmu sakit tidak?" Tanyaku.
"Seluruh badanku sakit."
Aku bersihkan kulit Edo selembut mungkin. Aku tidak mau membuat rasa sakitnya Parah.Tiap kali selesai membasuh satu bagian, kumajukan wajah untuk mengecup punggungnya tepat di atas memarnya, ku kecup semua memar yang ada.
Kukecup setiap titik yang sakit di punggungnya, hal serupa kulakukan pada lengan yang satu lagi. Setelah selesai semuanya.
"Nah sudah seperti baru lagi kan." Kataku.
Aku peluk tubuhnya dan mengecup pipinya. Setelah selesai aku membawa Edo kembali ke ruangannya untuk beristirahat.
Aku duduk di samping Edo di dekat ranjangnya.
Tiba-tiba ada seseorang masuk ke ruangan ini dan ternyata itu adalah Resa.
"Hai Do." Sapa Resa.
Edo pun mejawab sapaan Resa dengan mengernyitkan dahinya.
"Gimana keadaan lo?"
"Seperti inilah bisa lo lihat."
"Ini gua bawain buah untuk lo biar si pangeran tampan ini cepat pulih." Kata Resa sambil bercanda.
__ADS_1
Kuletakkan buah itu di atas meja lalu ku menarik kursi ku letakkan di sampingku dekat ranjang Edo agar Rsa bisa duduk berdekatan dengan kami.
"Sekarang si tampan ini terbaring lemah ya." Ucap Resa.
Aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Resa.
" Tunggu saja lo Resa sebentar lagi si tampan ini bakal melaju di arena." Ucapnya sombong.
"Alaah sudahlah, lo fokus aja sama kesembuhan lo." Ujar Resa.
"Oh iya kemarin aku berhasil menyelesaikan urusan dengan perusahaan asuransi,mobil Edo hancur total kemarin gua sama Dika membawanya ke bengkel sampai mobil lo selesai diperbaiki."
Edo pun sangat berterima kasih karena Resa telah membantunya memang benar kata Nara dia memang sahabat yang baik.
" Wah hebat, Makasih ya. Salam juga buat Dika nanti kalau gua udah sembuh, gua traktir deh." Ucap Edo.
Aku tersenyum melihat Edo sudah kembali berinteraksi sampai aku teringat sesuatu.
"Oh ya, aku lupa harus mengambil obat di apotek." Ucapku .
"Aku tinggalkan kalian berdua tidak apa-apa?"
"Tenang kok Nara, gua pasti jaga Edo. Ya kali gue suka sama dia gua kan sudah punya Dika."
Aku pun meninggalkan Edo dan Resa untuk mengambil obat di apotek yang harus ditebus.
"Eh iya Res, baru ingat sebelum gua kecelakaan gua kan mau nemuin lo ya, waktu ditelepon lu bilang ada surat dari Alexa dan Betrand. Surat apa? gua penasaran."
Aku kaget mendengar ucapan Edo Aku kira dia tidak akan ingat dengan surat itu, aku menyimpannya di lemari namun aku juga belum tahu apa isi surat itu.
"Gu juga nggak tahu itu surat isinya apa, gue juga enggak berani ngebukanya.
Edo terdiam terdiam sejenak.
"Hello ngapain melamun?" Tanya Resa.
Edo hanya menggelengkan kepala dan terdiam beberapa saat.
"Setelah nanti gua pulang, lo bawa surat itu ke rumah gua." Ucap Edo.
"Edo dasar ya lo keras kepala banget, dibilang fokus aja dulu ke kesembuhan lo."
Jangan sampai Nara tau jika Edo dapat surat dari Alexa, itu bisa membuat Nara semakin khawatir. Dia sebaiknya tidak usah tahu karena ini takut membahayakan dirinya juga.
Nara pun datang kembali dan membawakan obat yang tadi sudah ditebusnya di apotek.
"Hei seru banget, lagi ngobrolin apa sih?" Tanya Nara.
"Enggak biasa si Edo pengen ngelawak sama gua." Jawab Resa.
Aku duduk kembali di dekat ranjang Edo.
"Gua lupa mau pergi nih."
"Kemana?"
"Mau jalan-jalan dong sama Dika." Ucapnya spontan.
"Dasar bucin." Edo menyela.
"Kaya lo gak aja." Jawab Resa.
"Yaudah gih hati-hati." Ucapku
__ADS_1
Resa pun pergi meninggalkan kami berdua, ini waktunya Edo minum obat ku ambil segelas air putih, untuk membantunya meminum obat.