Haus Akan Hasrat

Haus Akan Hasrat
Merayakan hari kelulusan


__ADS_3

Hari ini tepat dimana aku lulus sekolah. Semua keluarga turut hadir di acara kelulusanku ini, aku mendapat peringkat juara umum seangkatan, begitu senangnya hatiku bisa membanggakan ayah dan ibu.


Kekasihku Edo turut hadir di acara sekolahku, ia membawakan setangkai bunga mawar untukku.


"Untuk kekasihku yang telah hebat menyelesaikan sekolahnya." Ucap Edo memuji.


"Terimakasih Edo."


Aku pun memeluknya dengan erat, tak lupa sahabatku Resa kami lulus bersama.


"Naraaa!" Panggil Resa.


"Resaaa!"


Kami pun berpelukan tanda kebahagiaan yang sedang dirasakan karena telah lulus.


"Ciee lulus." Ucap Resa.


"Lo juga kali."


"Hahaha. Gak nyangka udah lulus aja."


"Iyah, eh Dika gak kesini?" Tanyakku.


"Gak, kesel gua sama Dika padahal gua udah bilang dia harus dateng, eh malah enggak dateng." Ucap Resa kesal.


"Yang sabar mungkin dia sibuk."


"Nih buat lo dari gua." Ucap Edo.


"Bunga? Buat gua Do." Kata Resa tak percaya.


"Iya buat lo, karena udah jadi sahabat Nara yang baik."


"Aaaaa... Terimakasih Edo."


Resa pun ingin memeluk Edo, namun Nara mencegahnya.


"Eits tidak bisa, dia milikku." Ucap Nara.


"Tenang gua gak suka sama Edo, haha."


"Rese ya lo."


Aku dan Resa pun saling meledek sampai kami tertawa lepas.


Tiba-tiba ada seseorang yang berjalan menghampiri kami. Ternyata itu adalah Alva, muka Edo terlihat langsung berubah menatap lelaki yang sedang berjalan ke arah kami, rasa seolah tidak suka menelan benak Edo.


"Nar." Ucap Alva memanggil.


"Hai Alva." Ucap Nara.


"Selamat." Sambil uluran tangan.


Nara pun membalas uluran tangan Alva.


"Terimakasih, lo juga selamat." Ucap Nara tersenyum.


Lalu Edo melihat tangan kekasihnya bersalaman dengan lelaki itu rasanya api cemburu menghantam benak Edo, langsung ia melepaskan tangan keduanya.


"Gak usah lama-lama kali." Ucap Edo kesal.


"Eh.. Sorry." Jawab Alva.


"Oh iya Do, kamu masih ingat Alva?" Tanya Nara.


"Iya."


"Wehh apa cemburu nih." Cetus Resa meledek.


"Lo cemburu sama gua?" Tanya Alva melirik Edo.

__ADS_1


"Gaklah, ya kali gua cemburu sama cowok kayak lo."


"Lo tenang aja, gua sama Nara gak ada apa-apa. Paling kalau ada apa-apa sedikitlah."


"Apa maksud lo?"


Tampaknya nada emosi Edo seolah naik, namun Nara menahannya.


"Hahaha... Tenang bro, gua sama cewek lo kita temenan doang."


"Iya Do, aku sama Alva kita temenan sama halnya dengan Resa."


"Benar itu?" Tanya Edo memastikan.


"Benar."


"Awas lo ya, ambil Nara dari gua."


"Santai bro. Dahlah gua cabut dulu." Alva pun pamit.


"Kita jadi double date kan yaa, nanti malam?" Ucap Nara.


"Gua gak tau ah sebel sama Dika." Jawab Resa.


Resa pun seolah masih ngambek karena Dika tak bisa datang ke acara kelulusannya padahal ia sudah berjanji akan datang. Tiba-tiba ada seseorang datang menggunakan jas hitam membawa bucket bunga yang sangat besar sehingga wajahnya pun tak terlihat. Semua orang tertuju kepada pria itu langkahnya seolah mengarah menghampiri kami. Begitu terkejutnya Resa di balik bucket raksasa itu ternyata adalah Dika. Sontak semua orang melirik ke arah Resa dan Dika. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut Resa. Ia terdiam seperti mimpi.


"Dika." Ucap Resa.


"Hai sayang." Dika tersenyum.


"Kamu bohong ya?"


"Hehe... Sebenarnya aku sengaja buat kamu kesal, ini juga ide Nara." Dika melirik Nara.


"Ohh jadi lo udah tau Nar?" Tanya Resa.


"Sorry bestie, biar lo terkejut aja."


Sebenarnya aku sudah tau rencana Dika bahkan aku dan Edo membantunya untuk memberi kejutan kepada Resa. Pada akhirnya rencana itu berhasil.


"Maafin aku sayang, ini bunga untuk kamu."


Dika pun memberikan bunga raksasa kepada Resa lalu memeluk Resa dengan mesra. Semua yang melihat menjadi terbawa perasaan, Dika cowok kulkas akhirnya bisa membuat rencana romantis seperti ini. Bahkan Edo kekasihku yang di juluki si tampan kalah saing.


"Kamu mau bunga itu?" Tanya Edo.


"Memangnya harus bertanya dulu." Jawabku kesal.


"Akan aku belikan beserta tokonya."


"Untuk apa?" Tanyakku.


"Agar kamu selalu ingat aku mencintaimu."


"Gombal."


...****************...


Di malam hari mobil sport warna merah berhenti diperkarangan rumahku, ternyata ia adalah Edo.


"Tante aku ingin mengajak Nara berkencan malam ini?" Ucap Edo meminta izin.


"Tante izinkan."


"Terimakasih tante, kalau begitu aku dan Nara berangkat dulu."


"Hati-hati."


Kami pun berjalan menuju mobil, Edo membukakan pintu untukku.


Kami pun berangkat pergi kencan bersama Dika dan Resa, mereka sudah menunggu disana.

__ADS_1


Setibanya di restoran dengan nuansa romantis sepertinya sengaja di booking Edo untuk kencan bersama malam ini.


"Nara." Panggil Resa.


"Resa." Melambaikan tangan.


"Gilaa lo cantik banget." Resa memuji.


"Ah bisa aja, lo juga cantik banget hampir aja gua gak ngenalin lo."


"Ayo kita duduk."


Kami pun duduk berempat aku berhadapan dengan Edo dan Resa berhadapan dengan Dika. Suasana begitu sangat romantis ketika mendengar musik dari alunan biola yang sangat merdu.


"Gak nyangka gua bisa double-date kaya gini." Ucap Resa takjub.


"Gua juga."


Edo pun mengenggam tanganku tanpa ragu dan malu, aku pun tersenyum menatapnya.


"Beb pegang dong tanganku?" Ucap Resa.


"Memangnya kita mau nyebrang." Jawab Dika.


"Iii dasar ya tadi siang aja romantis kasih bunga, sekarang udah kaya kulkas lagi." Merajuk kesal.


Dika pun memeluk Resa yang tengah ngambek, suasana pun terasa lebih hangat, mengingat telah banyak tragedi yang kami alami.


Bahagisa sekali melihat orang-orang yang ku sayang bahagia. Rasanya seperti mimpi, tapi ini nyata.


"Dansa yuk sayang." Ajak Edo.


"Hah Dansa?" Merasa kaget.


"iya sayang."


"Aku gak bisa Do."


"Ayoklah."


Tangan Edo meraih tanganku dan mengajakku melantai, ku pegang pundak Edo dengan kedua tanganku. Tangan Edo memegang pinggangku. Pandangan kami saling bertatapan tajam mesra terasa hangat. Kaki kami bergerak mengikuti alunan musik.


"Kamu suka Nara?" Tanya Edo berbisik.


"Sangat." Tersenyum manis.


"Apakah sudah cukup romantis?"


"Tidak."


"Mengapa tidak?" Merasa heran.


"Tidak ada bunga raksasa."


Edo pun tertawa kecil tiba-tiba mengecup pipiku.


"Iii malu tau Do."


"Malu kenapa?"


"Tuh dilihat Resa dan Dika."


"Kenapa mesti malu, kitakan sudah lama tak melakukan hal itu, bukankah kamu sangat rindu."


Kulingkarkan tanganku pada leher Edo tatapan kami semakin berdekatan. Resa dan Dika pun menyusul kami dansa.


"Ikutan dong masa kalian doang." Ucap Resa meledek.


"Ayoo."


"Sayang dansa ayo." Ucap Resa.

__ADS_1


"Ayo sayang." Jawab Dika.


Akhirnya kami pun melantai bersama kami kalut dalam dunia cinta masing-masing, ternyata cinta tak seburuk itu jika menikmatinya dengan penuh rasa. Aku sangat bahagia telah bersanding kembali dengan Edo, walau nantinya aku akan berjarak jauh dengannya.


__ADS_2