Haus Akan Hasrat

Haus Akan Hasrat
Edo Selingkuh


__ADS_3

Satu bulan pun berlalu aku sudah tidak berhubungan dengan Edo bahkan Edo pun tidak menghubungiku sama sekali sampai Ibu bertanya kepadaku.


"Udah lama Edo nggak ke sini, kalian baik-baik aja kan?" Tanya ibu.


"Edo sedang sibuk. Dia kan melanjutkan kuliahnya."


"Oh begitu, tapi kalian nggak berantemkan?"


"Tidak bu."


Aku pun terpaksa berbohong ,dan yang sebenarnya terjadi adalah memang hubungan kami tidak baik-baik saja.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku, saat ku berjalan mendekati pintu, kubuka pintu itu dan ternyata yang datang adalah Alva.


"Mau ngapain lo kesini?" Tanyakku.


"Mau ngajak lo jalan." Jawab Alva spontan.


"Jalan? Gak ah males." Cetusku.


"Ayoklah."


Ibu menghampiriku dan bertanya.


"Siapa ini Nara?" Tanya ibu.


"Ini bu, kenalin Alva teman sekolahku."


Alva pun bersalaman dengan ibuku tanda perkenalan.


"Hallo tante saya Alva." Ucap Alva.


"Hallo." Jawab ibu.


"Ibu saya mau mengajak Nara, untuk jalan keluar?"


"Boleh, tapi sore harus sudah pulang." Ucap ibu.


"Baik tante."


"Kalau begitu tante pergi dulu."


Apa-apaan sih ibu kenapa mengizinkan aku pergi bersama Alva.


"Tuhkan ibu lo udah izinin." Ucap Alva.


"Lo mau ngajak gua ke mana?" Tanyakku.


"Kepo lo."


Jawaban apa sangat mengesalkan, aku pun pergi siap-siap.


"Yaudah lo tunggu diluar aja, gua ganti baju dulu." Ucapku.


"Tega banget lo, oke gua tunggu diluar."


Alva pun menurut untuk menungguku di luar, rasanya kasian namun biarlah sekali-kali aku menjahili dirinya. Dia pun duduk di teras menungguku.


Beberapa saat kemudian aku pun selesai berganti pakaian.


"Yuk pergi." Ucapku.


Alva terdiam melihat Nara yang begitu mempesona dan cantik.


"Heh lo kok diem?"


"Apa?"


"Lo ngapain diem?" Tanyakku.


"Siapa yang diem, gua nungguin lo lama banget."


"Rese ya lo, gak jadi pergi nih."


"Eh yaudah ayo."


Kami pun berjalan ke depan halaman rumah, aku menaiki motor Alva. Kami pun berjalan pergi.


"Pegangan." Ucap Alva.


"Heem."


Aku pun berpegangan melingkari tubuh Alva.

__ADS_1


"Lo mau ngajak gua kemana sih?" Tanyaku mendesak.


"Gua mau ajak lo makan, laper gua."


"Hah ngajak makan doang?"


"Iya, emang ada yang salah?"


"Gak sih."


Kalau tau cuman makan siang aku tidak akan repot-repot berdan-dan seperti ini. Aduh mikir apa aku ini, ingat aku masih pacar Edo.


Motor pun melaju kencang. Sampailah kami di suatu Cafe nuansa romantis.


"Ayo turun." Ucap Alva.


Aku pun turun dari motor Alva, dan kami berjalan masuk menuju cafe.


Setibanya di cafe kami pun duduk di meja nomer tiga. Nuansa cafe sangatlah indah lampu kerlap-kerlip dan alunan musik menghiasi kehangatan cafe ini.


"Mau pesan apa lo?" Tanya Alva.


"Samain aja kayak lo."


"Mbaakk." Alva memanggil pelayan.


"Iya Mas?"


"Saya pesan Sushi 2, minumnya Lemon tea 2."


"Baik mas, mohon di tunggu pesanannya."


Alva mengangguk.


"Lo suka tempat ini?" Tanya Alva


"Biasa aja."


Padahal aku suka nuansa tempat ini, hanya saja gengsi jika harus mengatakannya di depan Alva.


Tiba-tiba saat aku menoleh ke arah tangga. Aku sontak kaget melihat Edo berjalan dengan seorang wanita serta menggandengnya dengan mesra. Aku hanya terdiam apa yang Edo lakukan selama satu bulan ini tidak menghubungiku ternyata dia selingkuh. Memang cap playboy sudah melekat pada dirinya bodoh sekali aku sudah terlena pada cintanya.


"Eh lo kenapa diem?"


"Liat apaan sih."


Alva pun menoleh.


"Bukannya itu cowok lo?" Tanya Alva.


"Iya itu cowok gua."


"Kok mesra sama cewek lain gitu."


"Udahlah biarin."


"Lo mau diem aja gitu, liat cowok lu mesra sama cewek lain."


"Udahlah lo diem aja."


"Gak bisa gua harus samperin."


Alva pun berjalan menghampiri meja Edo, di pukulah meja Edo.


"Woy lu?" Ucap Alva.


Edo pun berdiri.


"Siapa lo?" Tanya Edo.


"Lo kurang ajar banget, udah selingkuhin Nara." Ucap Alva.


"Siapa yang selingkuh." Ucap Edo mengelak.


"Ini cewek siapa? Kalau bukan selingkuhan lo."


Aku pun segera menghampiri mereka berdua.


"Udah Alva."


Edo kaget melihatku bersama Alva.


"Nara." Ucap Edo.

__ADS_1


"Ngapain kamu disini?"


"Harusnya aku yang nanya kamu, ngapain kamu sama cewek ini?"


Alva pun emosinya meledak langsung menghajar Edo sampai ia terjatuh Edo pun langsung membalas tonjokkan Alva. Aku pun berusaha memisahkannya.


"Udah Alva, ayo kita pergi." Ucapku pada Alva.


"Tapi Nar, cowok lo ini brengsek."


"Udah ayo kita pergi."


Aku mengajak Alva pergi, perasaanku rasanya sakit sekali melihat Edo bermesraan dengan wanita lain. Aku dan Alva pergi meninggalkan cafe itu dan tidak jadi makan siang. Kami pun pergi meninggalkan cafe itu. Dan memilih pergi ke taman setiba di taman kami pun duduk. Aku pun mengambil tissue di dalam tasku. Melihat pipi Alva luka.


"Sini gua bersihin dulu."


"Aww sakit." Rengek Alva.


"Lo kenapa sih, padahal gua mau kasih pelajaran."


"Udah gak usah, itu bukan menyelesaikan masalah."


Alva pun kesal dengan ucapanku.


"Lo kenapa sih jadi cewek baik banget?"


"Gua emang sakit hati, mana ada sih cewek yang mau liat cowoknya sama orang lain."


"Harusnya gua tadi hajar aja tuh cowok!"


"Jangan sok jagoan deh."


"Awww."


"Tuhkan sakit makanya jangan sok jagoan."


Aku pun membersihkan luka di wajah Alva, bagaimana dengan keadaan Edo sekarang apa dia baik-baik saja. Sudahlah ngapain aku harus khawatir dengan Edo, sepertinya sudah ada perempuan itu yang bersama Edo.


"Lo hobi ngelamun ya?" Tanya Alva.


"Hah apaan sih lo."


"Jujur deh sama gua."


"Jujur apa."


"Gua tau apa yang lo rasain."


"Jangan sok tau deh."


"Udah ah balik yuk." Ucapku pada Alva.


"Balik? Makan aja belum."


"Terus lo mau kemana?" Tanyakku.


Alva pun menarik tanganku, kami pun pergi kembali ke suatu tempat yang aku pun gak tau mau di bawa kemana.


Kami pun tiba di sebuah danau. Alva pun memegangi tangaku dan kami berjalan beriringan.


"Ayo duduk sini."


"Oke."


Pemandangan danau itu sangat indah sunyi dan menenangkan.


"Lo bisa banget cari tempat yang sejuk kaya gini." Ucapku.


"Gua tau lo butuh tempat sunyi."


"Sok tau banget."


"Taulah, lo nikmatin aja suasana ini."


Tiba-tiba Alva pun merebahkan kepalanya di pahaku, aku kaget dan terdiam langsung menatap Alva.


"Bolehkan gua pinjem paha lo buat tidur?" Ucap Alva.


"Boleh karena hari ini lo udah bantuin gua."


"Okey, gua tidur dulu ya, kalau lo udah selesai melamun. Bangunin gua aja."


Memang menyebalkan sekali Alva, tapi walaupun menyebalkan dia sangat peduli terhadap orang lain. Ku biarkan dia tertidur di pangkuanku. Sementara aku menikmati suasana danau ini.

__ADS_1


__ADS_2