Haus Akan Hasrat

Haus Akan Hasrat
Pertengkaran hebat


__ADS_3

Edo masih kesal terbawa emosi lalu tak bisa mengontrol dirinya. Wajahnya lebam bekas hantaman pukulan Alva. Kenapa Nara harus berkencan dengan lelaki itu, padahal aku kekasihnya, Edo tidak menghubungi Nara. Karena bukankah dia sendiri yang ingin kita berjarak tapi kenyataanya dia pergi bersama laki-laki lain.


"Edo gua obatin luka lo." Kata wanita itu.


Wanita itu mengobati luka Edo dengan kompresan air dingin.


"Ini bakal agak sakit lo tahan ya." Cetus wanita itu.


"Aww.."


"Sebenernya cewek tadi siapa?"


"Itu cewek gua." Jawab Edo.


"Oh itu Nara, cewek yang lo ceritain."


"Iya."


"Dia salah paham, padahal gua sepupu lo."


"Gua emang lagi jaga jarak sama dia, tapi ternyata dia jalan sama laki-laki lain."


"Jangan berasumsi buruk dulu, siapa tau temannya."


"Sudahlah, gua pergi dulu."


"Mau kemana Do?"


"Mau cari ketenangan."


Edo pun pergi meninggalkan rumah, suasana hatinya sangat kacau sekali mengingat kejadian tadi di cafe. Edo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Edo pergi kembali hanya sekedar minum di bar. Matanya seolah mencari keberadaan Keira. Bersama Keira telah menyeret Edo secara tak sadar, pada kenangan pelukan tanpa batas. Sungguh melelapkan. Hingga Keira bukan saja anggun dalam rohani bagi Edo, melainkan anggun juga dalam badani. Dari pengalaman hidup yang diceritakan Keira memberikan gambaran jika ia adalah wanita haus akan belaian dan kasih sayang. Pelarian ya ke night club hanya karena pelampiasannya akibat tekanan dari orang tuanya untuk menikah dengan pemuda yang jelas-jelas tidak ia cintai. Cara hidup Keira yang begini akhirnya mempunyai titik lelah tersendiri pula. Gadis itu menyadari, bahwa begini pun ada ujungya membosankan. Maka gadis itu dengan mudahnya sekali menherahkan mahkotanya kepada Edo secara ikhlas tanpa penyesalan. Prinsipnya dari pada di renggut orang yang tak dicintainya, lebih baik diserahkan kepada Edo yang baru pertama kali dikenalnya. Kesan yang terjali bersama Keira membangkitkan keinginan Edo untuk menjumpainya kembali gadis itu.


Malam itu Edo mendatangi Night Club di mana Keira bekerja.


Edo bertanya kepada Resepsionis Night club ingin membooking Keira.


Apa yang di jawab oleh resepsionis itu hanyalah sebuah keterangan, bahwa Keira sudah tidak bekerja lagi di Night club ini.


Edo benar-benar merasa kecewa mendengar keterangan resepsionis Night club.


"Keira sebenernya bukan hostess Night club ini. Melainkan gadis iseng yang membutuhkan hiburan."


"Saudara tau alamat rumahnya?" Tanya Edo mendesak.


"Saya tidak tahu." Jawab Resepsionis.


Jawaban resepsionis itu lebih mengecewakan hati Edo. Sebetulnya apa yang tengah di alami Edo merupakan ikatan batin yang tak mudah terlupakan begitu saja. Keira adalah gadis yang telah memberi sebagian arti hidup bagi Edo. Edo pun meninggalkan Night club dengan hatibyang resah. Kenangan yang di alami Edo seperti di ambang impian. Ketika dia sadar tak ditemuinya lagi kenyataan yang ada.


Malam itu disusuri oleh edo dengan perasaan hampa. Ingin saja Edo memekik pedih menghadapi hidupnya yang selalu sunyi dan sepi. Sebentar dia temukan cahaya kebahagiaan, tiba-tiba lantas berlalu tanpa akhiran.


Dalam suasana hati yang sedang rusuh Edo memasuki rumahnya. Di ruang tengah dia melihat mamahnya sedang menekuni kartu dengan lawan main sebanyak tiga orang dan semuanya lelaki.


Darah Edo berdesir naik ke ubun-ubun sedangkan emosinya hendak meluap, melihat mamanya yang sering sekali berjanji tidak akan bermain kartu lagi. Edo menghentikan langkahnya di hadapan mamahnya dengan mata ******!


Dia berdiri tegak laksana koboy yang sedang ingin berduet. Perempuan itu yang sedang memegang kartu itu menatap anaknya tak acuh. Edo jadi naik pitam, segera saja di angkatnya vas bunga dan dilemparkan ke tengah meja judi.


"Praanggg!" Persis di atas meja vas bunga itu pecah.


Mereka yang tengah bermain kartu menjadi panik mengurusi uang mereka masing-masing. Edo menyambar lagi kursi dengan sebuah amarah yang tak terkendalikan. Di hantamnya meja judi itu dengan kursi. Maka buyarlah permainan itu.


Meja judi porak poranda akibat amukan Edo yang bagaikan seolah tubuhnya kemasukan setan. Para pemainnya kalang pergi meninggalkan ruangan itu dengan ketakutan.

__ADS_1


Edo berteriak kencang sekali menggetarkan jantung.


"Kalian semua memang manusia iblis! Kubunuh kalian semua kalau masih berjudi di rumah ini! pergiii!!" Tegas Edo emosi.


Semua yang ada di ruangan itu pergi ngebirit ketakuan melihat Edo sudah bermata gelap. Tinggalah perempuan setengah tua seorang diri, duduk termenung dengan hati resah.


"Kapan lagi mamah mau berhenti bermain judi? Aku terlalu menderita, terlalu menderita karena perlakuan mamah!"


Nada perkataan Edo mulai bergetas di sela isak tangisnya. Kedua matanya merah menahan luapan perasaan yang mencekam. Terlalu berat. Terlalu berat untuk di rasakan oleh Edo.


Betapa pun dia tak bisa berbuat banyak karena perempuan itu adalah ibu kandungnya. Tak lain Edo hanya bisa menangis meratapi nasibnya.


"Mamah pernah ngerti perasaan Edo, sekian lama aku menderita. Sudah sekian waktu aku disekap oleh kepedihan hati. Tak taukah mamah aku membutuhkan kasih sayang dan perhatian? Yang seharusnya aku dapatkan dari mamah. Tak seharusnya mementingkan kepentingan pribadi yang terkutuk itu, tanpa mau memperhatikan Edo. Aku butuh perhatian dan kasih sayang mamah! Hidupku selalu dalam arus kembimbangan."


Perempuan itu masih saka terdiam di tempat duduknya dengan menitikan air mata, yang tersandar di tembok menahan tekanan perasaan pedih dan sengsara. Di dada perempuan itu bagaikan ditindih besi yang beratnya seperti ratusan kilo. Helaan nafasnya panjang membuktikan dirinya dililit keresahan berat. Ucap perempuan itu lirih.


"Mamah ngaku salah Edo, maafin mamah nak."


Edo menatap mamahnnya dengan pandangan kabur karena genangan air mata. Tangannya mengepal kaku bagai ingin memukul perempuan itu layaknya.


"Ketika aku butuh mamah saat terbaring di rumah sakit, mamah kemana? Asyik berkencan dengan pria sana-sini. Hanya bibi Boyem yang menemaniku!"


"Maafkan mamah Edo."


"Aku tidak butuh kata maaf saja! Tetapi sebuah bukti, bahwa mamah telah menghentikan bermain judi lagi. Dan mamah harus lihat anakmu ini yang senantias mendambakan kasih sayang serta perhatian!"


Edo mengungkapkan kata-katanya dengan disertai rintihan pedih. Mimik wajahnyalah yang banyak berbicara mengenai perasaannya jika dililit kepedihan. Melihat tuan muda bercucuran air mata, pembantu rumah yang selalu setia ini segera menghampiri asuhannya.


Bibi Boyem turut menitihkan air mata keharuan, sebab dia sangat paham terhadap isi perasaan yang tengah di rasakan Edo.


Kendati Edo mulai luluh ketika bibi Boyem menitikan air mata keharuan. Maka ketika bibi Boyem memapahnya menuju ke kamar, Edo tak menolak. Dia bagai anak kecil yang menurut sekali pada ibu guru. Sementara mamah Edo tertunduk bersedih.

__ADS_1


__ADS_2